CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Flashback Kematian Kevin


__ADS_3

Seorang pria yang memakai setelan rapi terlihat baru saja meninggalkan rumah sakit tempat dia bekerja. Dia bukan hanya bekerja di rumah sakit tersebut, tapi dia juga pemilik dari rumah sakit tersebut.


Pria berdarah China itu berhenti sejenak saat ponsel dalam saku celananya berdering yang menandakan ada sebuah panggilan masuk. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat nama yang tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


Tak ingin membuat si pujaan hati menunggu terlalu lama. Dia pun segera menerima panggilan tersebut.


"Halo Vivian, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Tunggu, aku akan segera menjemputmu." Kemudian pria itu memutuskan sambungan telfonnya dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di tempat khusus.


Mobil sedan berwarna silver itu kemudian melaju meninggalkan bangunan yang memiliki puluhan lantai tersebut, dan melaju menuju jalan raya yang padat dengan kendaraan.


Si pengemudi sesekali menoleh ke belakang dan mendapati sebuah Van hitam mengikuti mobilnya. Tapi dia tidak terlalu peduli. Mungkin Van itu juga satu arah dengannya. Begitulah yang dia pikirkan.


15 menit berkendara. Dia tiba di bandara. Pria itu keluar dari mobilnya dan segera memasuki bandara. Rencananya hari ini dia akan menjemput kekasihnya yang baru saja kembali dari luar negeri.


"Vivian." Orang yang dipanggil tersenyum lebar. Dia berlari menghampiri pria itu dan langsung memeluknya. Bukan hanya sekedar memeluknya. Karena kedua kakinya melingkari pinggulnya.


"Kevin, aku merindukanmu."


"Aku juga, terimakasih karena telah kembali untukku." Gadis itu tersenyum lebar. Dia semakin mengeratkan pelukannya dari sang kekasih.


Kevin menurunkan Vivian stelah sadar kini mereka menjadi pusat perhatian. Kemudian pasangan muda itu pergi meninggalkan bandara dan berjalan menuju tempat Kevin memarkirkan mobilnya.


Namun setibanya di luar bandara. Sedikitnya 10 pria telah menunggu mereka dan semua bersenjata. Vivian panik begitu pula dengan Kevin. Kevin tidak kenal siapa mereka, dan kenapa mereka sampai menunggunya.


"Lucas Xi, akhirnya kita bertemu lagi. Kau masih mengingat aku? Atau mungkin mata ini bisa membuatmu teringat padaku?!" Ucap salah seorang dari mereka sambil menunjuk salah satu matanya yang memutih di bagian bolanya.


"Kalian salah orang, aku bukan Lucas, tapi Kevin. Dan aku juga tidak mengenal siapa kalian."


"Bedebah. Banyak omong, cepat habisi pria sialan ini!!"


"Baik Boss."


Perkelahian pun tidak bisa terhindarkan. Kevin yang hanya seorang diri di keroyok sedikitnya 9 orang. Sejauh ini dia masih bisa mengatasi mereka, tapi bagaimana pun dia kalah jumlah, belum lagi dia tidak terlalu pandai dalam hal bela diri.


Sedangkan Vivian. Meskipun menyaksikannya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa bela diri, dan yang bisa dia lakukan hanya menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan.


Melihat Kevin yang semakin terpojok membuat Vivian menjadi sangat ketakutan. Dia mencoba untuk membantu semampunya. Vivian mengambil sebuah besi dan memukulkan pada salah satu dari mereka. Dan apa yang Vivian lakukan tentu saja mengundang marah mereka semua.


"Vivian, cepat masuk mobil dan pergi dari sini!!" Teriak Kevin melihat gadis itu dalam bahaya.


Vivian menggeleng. "Tidak, aku tidak akan pergi. Kevin, aku tidak bisa meninggalkanmu!!"


"Bagus, kalau begitu kalian harus mati di sini!!"

__ADS_1


Di lokasi berbeda. Seorang pria yang baru saja mendapatkan kabar jika kakaknya berada dalam bahaya langsung membawa anak buahnya untuk menuju lokasi.


Salah satu anak buahnya yang kebetulan baru kembali dari luar negeri, mengabarinya jika saat ini kakaknya berada dalam bahaya. Karena orang yang menyerangnya salah mengenali orang.


Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak jarang dia hampir bertabrakan dengan pengendara lain. Cacian dan makian dari orang-orang yang hampir celaka karena ulahnya pun, tak dia hiraukan.


Entah sudah berapa banyak lampu merah yang dia terobos. Polisi lalu lintas yang mengejarnya pun tak dia hiraukan. Dan perjalanan mereka harus terhenti karena ulah anak buahnya. Mereka tidak membiarkan para polisi itu mengejar Bosnya.


-


"Kevin!!"


Setibanya di sana dia mendapati Kevin telah terkapar dengan luka tembak di tubuhnya. Pria itu menghampiri sang kakak lalu memindahkan kepalanya ke atas pangkuannya.


"Kevin, bertahanlah aku mohon."


"Lu..Lucas. A..aku mohon selamatkan Vivian, waktuku sudah tidak banyak lagi. Saat dia sadar nanti. Tolong berikan cincin ini padanya. Katakan jika aku sangat menyayanginya, dan satu lagi, jaga dia untukku."


"Jangan banyak bicara. Kau banyak mengeluarkan darah, aku harus segera membawamu ke rumah sakit. Kau harus selamat dan berikan sendiri cincin ini padanya."


"Jaga Kakek juga, jangan biarkan dia tau jika aku sudah ti~!!"


Lucas membelalakkan matanya. Dia mengguncang tubuh Kevin, berharap pria itu mau membuka matanya. Tapi apa yang dia lakukan justru sia-sia. Karena Kevin telah tiada.


-


Vivian membuka matanya, dan mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Ruangan itu hanya di dominasi warna putih dengan aroma khas yang menyengat, Rumah Sakit. Vivian tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, dan bagaimana dia bisa terbaring di tempat ini.


Lalu perhatiannya teralihkan oleh kedatangan seorang wanita paruh baya. Wanita itu terkejut saat mendapati Vivian telah sadar setelah mengalami koma selama hampir satu tahun.


"Vivian?!"


"Bibi,"


"Sayang, kau sudah sadar? Coba tebak ini angka berapa, dan aku siapa?"


"Jangan bercanda, itu adalah angka tiga dan kau Bibi Rossa. Apa lagi sekarang?"


Rossa menatap Vivian dengan tatapan bingung. Bagaimana dia tidak membahas apapun mengenai Kevin, apakah dia hanya berpura-pura atau Vivian memang benar-benar tidak mengingatnya seperti yang dikatakan oleh dokter?!


Jika Vivian mengalami Transient Global Amnesia. Dan Amnesia jenis ini biasanya pasien akan mengalami hilang ingatan pada kejadian tertentu secara total. Untuk memastikannya. Rossa mencoba untuk bertanya langsung pada Vivian.


"Vi, mengenai Kevin, dia~"

__ADS_1


"Kevin? Siapa dia, Bibi? Aku tidak pernah mengingat jika pernah mengenal pria bernama Kevin."


Benar dugaan Rossa, jika Vivian memang mengalami Transient Global Amnesia. Dia bisa mengingat semuanya, tapi hanya Kevin yang tidak bisa dia ingat. Mungkinkah hal ini terjadi karena Vivian terlalu terpukul atas kepergian Kevin? Dan ada baiknya jika dia tidak pernah membahas mengenai pria itu.


Rossa menggenggam erat cincin ditangannya. Dia mengurungkan niatnya untuk memberikan cincin itu pada Vivian. "Vi, kau istirahat saja. Bibi keluar dulu." Vivian mengangguk.


Rossa terkejut dengan kemunculan sosok pria yang wajahnya bak pinang di belah dua dengan Kevin. Jika saja dia tidak pernah bertemu dengan Lucas sebelumnya, pasti Rossa akan sangat terkejut.


"Cincin ini aku kembalikan padamu, Vivian kehilangan sebagian ingatannya dan dia tidak mengingat apapun tentang Kevin. Jadi aku pikir tidak ada gunanya aku memberikan cincin ini padanya."


"Aku mengerti."


"Apa kau tidak ingin menemuinya? Dia harus tau siapa orang yang menjaganya selama terbaring koma."


Lucas menggeleng. "Tidak, ini belum saatnya aku muncul dihadapannya. Aku harus kembali ke Seoul. Tolong jaga dia baik-baik." Rossa menatap pria di depannya kemudian mengangguk.


"Pasti."


Flashback End:


Lucas membuka matanya, jari-jari besarnya mengusap pipinya yang basah.


Meskipun 10 tahun telah berlalu, tapi dia tidak bisa melupakan kejadian hari itu. Dan Lucas telah memenuhi janjinya pada Kevin untuk selalu menjaga Vivian, yang tak lain dan tak bukan adalah Marisa.


Dan pertemuan mereka malam itu tentu saja bukan sebuah kebetulan semata. Melainkan hal yang telah direncanakan oleh Lucas, karena selama ini dia selalu mengawasi dan menjaganya dari kejauhan.


Dan sudah hampir 5 tahun ia dan Marisa bersama, dan ingatan wanita itu akan Kevin belum pulih sama sekali. Marisa tidak pernah mengingat jika pernah berhubungan dengan pria bernama Kevin dimasa lalunya.


Sejak kepergian Kevin. Lucas memutuskan untuk meninggalkan dunia lamanya, dia mulai menjalani kehidupan normal sebagai pria biasa meskipun itu tidaklah muda.


Dan karena sebuah kesalahpahaman, titel Gig*lo kini malah melekat pada dirinya. Dan anehnya Lucas justru menikmatinya, terlebih setelah dia memiliki hubungan intim dengan Marisa.


"Kenapa kau menangis?" Lucas tersentak saat merasakan jari-jari lentik Marisa menghapus jejak air mata di pipinya. "Kau bermimpi buruk?"


"Kapan kau datang?"


"Baru saja, aku datang karena mencemaskan mu, Bocah. Dari semalam ponselmu tidak bisa di hubungi, jadi aku pikir kau sedang sakit." Ujar Marisa.


"Aku tidak apa-apa. Hanya kurang enak badan sedikit saja. Tunggu sebentar, aku mandi dulu. Setelah ini temani aku sarapan di luar."


Marisa mendesah berat. "Baiklah."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2