CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Peternakan


__ADS_3

Seperti janjinya tadi. Lucas membawa Vivian pergi ke peternakan untuk memeras susu. Wanita itu terlihat begitu antusias, bahkan ketika diperjalanan. Begitu banyak hal yang Vivian tanyakan pada Lucas, sampai membuat dia bingung harus menjawab apa.


Sama seperti Lucas, Vivian seperti memiliki dua sisi wajah. Ketika sedang serius, mimik wajahnya sangat datar dan sorot matanya terkesan dingin. Tapi ketika dalam mode manja, tingkahnya bisa seperti bocah.


"Ayo, kita sudah sampai." Ucap Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.


"Ge, bisakah kita membawa susu itu pulang juga jika memeras sendiri?" Tanya Vivian Antusias.


Lucas mengangguk. "Tentu saja bisa. Kau ingin membawa pulang berapa ribu liter juga bisa."


Vivian memukul pelan lengan terbuka Lucas sambil mengerutkan bibirnya. "Berlebihan, paling banyak satu sampai dua liter saja. Untuk apa membawa pulang sebanyak itu? Untuk mandi? Sudahlah, ayo kita masuk. Aku ingin sekali merasakan bagaimana rasanya minum susu segar hasil perasan sendiri."


Lucas mendengus geli. Pria itu mengikuti langkah Vivian yang sudah semakin menjauh. Istrinya itu memang begitu antusias dalam segala hal.


"Ge, cepat." Seru Vivian sambil melambaikan tangan.


Dia menghampiri seorang paman yang sedang memeras susu, dengan antusias Vivian bertanya apakah dia boleh ikut melakukannya juga. Dan pria setengah baya itu mengangguk sambil tersenyum.


"Sungguh, Paman mengijinkan aku melakukannya?"


Pria itu mengangguk masih dengan senyum yang sama. "Tentu, Nona. Jika Anda ingin mencoba, silahkan saja. Disini bebas melakukannya."


Vivian melepas jas putihnya yang melekat pas ditubuh rampingnya, dan menyisakan sebuah blus berenda lengan panjang. Vivian menggulung lengan bajunya sampai sebatas siku dan menaikkan bagian bawah celana putihnya supaya tidak kotor.


"Aaahh.. Kenapa rasanya aneh begini?!" Histeris Vivian saat jari-jari lentiknya mulai memeras susu itu. "Uhh, aku geli. Ge, aku tidak mau meneruskannya." Vivian bangkit dari posisinya dan menghampiri Lucas yang sedang mendengus berat.


Padahal tadi Vivian begitu bersemangat. Dan sementara itu, Paman pemilik peternakan malah tertawa geli melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita itu. Si Paman beranjak dan kemudian menghampiri pasangan suami istri tersebut.


"Nak, sudah hampir petang. Sebaiknya kalian menginap saja. Kebetulan di peternakan ini Paman hanya tinggal sendiri. Ada beberapa kamar kosong yang bisa kalian tempati, karena sangat berbahaya jika melakukan perjalanan di malam hari. Ini adalah kawasan pegunungan, dan sering sekali terjadi pembegalan."


"Tapi, apa tidak terlalu merepotkan, Anda?"


Paman itu menggeleng. "Sama sekali tidak, dan Paman justru merasa senang karena memiliki teman mengobrol. Mari kita masuk, Paman akan menyiapkan susu segar untuk kalian berdua."


"Terimakasih, Paman. Dan maaf sudah merepotkan."

__ADS_1


-


Sejak kedatangan Lucas dan Vivian beberapa jam yang lalu. Paman pemilik peternakan tidak lagi merasa kesepian, dia memiliki teman untuk mengobrol. Dan sejak kepergian istri dan anaknya, dia kini hidup sebatang kara.


Istri dan anaknya meninggal karena dibunuh, seluruh keluarganya di bantai dan hanya dia yang masih bisa bertahan hidup setelah mengalami koma selama hampir satu bulan. Insiden itu tidak hanya merenggut keluarga kecilnya, tapi juga membuat kaki kirinya mengalami cacat permanen.


"Paman, apa kau hanya tinggal sendiri di sini? Kenapa aku tidak melihat istri atau anakmu," ucap Vivian membuka perbincangan.


Pria itu mengangguk. "Istri dan kedua putri Paman meninggal karena di bunuh orang. Mereka dibantai secara keji. Dan sebelum dibunuh, mereka diset*buhi terlebih dulu. Paman yang mencoba menyelamatkan mereka juga di serang dengan brutal."


"Selama hampir satu bulan Paman terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Dan saat bangun, Paman telah kehilangan mereka. Dan kaki kiri Paman mengalami kecacatan permanen."


"Apa Paman tau siapa mereka?"


Pria itu mengangguk. "Mereka adalah preman daerah sini. Mereka hobi menculik gadis-gadis desa kemudian meny*tubuhi mereka. Jika yang beruntung dibiarkan tetap hidup."


"Tapi tak sedikit pula yang harus kehilangan nyawa. Itulah kenapa banyak warga desa yang memutuskan pindah ke kota, karena mereka takut ketenangan dan ketentraman keluarganya sampai terancam. Apalagi mereka yang memiliki anak gadis."


Lucas menatap pria itu dengan serius. "Apa mungkin orang-orang yang Paman sebutkan ini adalah mereka yang suka membegal pendatang?" Lucas memastikan.


"Bagus dong." Sahut Vivian dan membuat dua pasang mata itu menatap padanya penuh tanya. "Karena dengan begitu kita bisa memancing mereka keluar dari sarangnya. Karena jika tidak ditumpas dari akarnya, akan sangat fatal akibatnya." Tutur Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Lucas.


"Aku setuju denganmu. Dan aku sudah memikirkan cara untuk memancing mereka datang."


"Tuan Xi, saya tidak setuju. Itu sangat berbahaya dan beresiko. Nona Vivian, bisa dalam masalah besar jika kalian sampai berani menantang mereka."


Lucas menepuk bahu pria itu. "Paman, kau tenang saja. Jika hanya menghadapi mereka, itu bukanlah masalah bagi kami. Dan Paman tenang saja, kami pasti bisa menjaga diri."


Pria itu menatap Lucas dan Vivian penuh keraguan. Sebelum akhirnya mengangguk, dia percaya jika pasangan muda ini pasti bisa mengatasi mereka.


"Baiklah, tapi hati-hati." Keduanya mengangguk dengan kompak.


-


Seorang wanita dalam balutan Gaun merah di atas lutut berjalan seorang diri di tengah kegelapan malam.

__ADS_1


Sebuah selendang merah melingkari lehernya. Wanita itu berjalan dengan tenang melewati sebuah bangunan tua dimana sekelompok pria yang sedang berpesta minuman keras. Wajahnya terlihat pucat, persis seperti mayat hidup.


Dan sementara itu...


Salah satu dari pria-pria itu melihat keberadaan si wanita. Dia pun segera memberitahu temannya yang lain jika ada mangsa yang lewat. Mereka pun beramai-ramai menghampiri wanita tersebut.


Tatapan super dingin diberikan oleh wanita bergaun merah berwajah pucat itu, pada sekelompok pria yang sedang mencoba untuk menggodanya. "Hai, Nona cantik. Kenapa jalan sendirian saja, bagaimana kalau kami temani saja? Sangat berbahaya loh jalan sendirian." Ucap salah satu dari kesebelas pria itu.


Hampa...


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir wanita berbaju merah tersebut. Dia hanya menatap datar dan dingin pria-pria itu. Wajah pucat dan mimik muka tanpa ekspresi membuat mereka merinding sendiri. Ada yang berpikir jika dia adalah hantu, tapi segera mereka tepis pikiran gila itu.


"Memangnya dimana kau tinggal, Cantik?" Wanita itu menunjuk sebuah bangunan tua yang berada di tengah kebun teh.


"A-Apa? Kau tinggal di sana? Apa tidak salah? Itu adalah tempat yang seram, bagaimana mungkin kau tinggal di sana?" Pria-pria itu mulai ketakutan.


"Ihihihi!!!"


Alih-alih menjawab, wanita itu malah tertawa menyeramkan membuat kesebelas pria itu sadar jika yang ada dihadapannya ini bukanlah manusia melainkan arwah gentayangan.


"Ha...Han...Hantu!!!"


"Hihihi!!! Tampan, kalian mau kemana? Sini temani Suketi bermain sebentar. Suketi haus pelukan dan dekapan hangat pria, Hihihi." Baru saja mereka hendak melarikan diri. Malah muncul hantu lain. Bukan hanya satu, tapi tiga sekaligus.


Mereka adalah Suketi, Mr.Wowo dan Mr.Poci. Entah bagaimana Hantu di Hot Daddy malah nyasar ke novel ini? Otornya juga bingung, hehehe.


Melihat mereka pingsan karena ketakutan. Lucas dan Paman pemilik peternakan serta beberapa warga pun berdatangan. Tidak perlu menggunakan kekerasan dan adu jotos untuk mengatasi biang masalah seperti mereka.


"Para pembuat onar ini kami serahkan pada kalian. Entah bagaimana kalian akan mengurusnya." Ucap Lucas pada para warga. Kemudian sosok berbaju merah itu menghampiri Lucas. Dan dia adalah Vivian.


"Memerankan karakter hantu ternyata sulit juga ya. Ge, aku lelah. Bisakah kita kembali ke tempat Paman Ayin. Aku sangat-sangat mengantuk."


Lucas menatap Paman Ayin, dan pria itu mengangguk. Keduanya pun meninggalkan keramaian dan kembali ke peternakan. Sedangkan trio hantu itu entah sudah menghilang kemana.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2