
"Ge, bangun."
Vivian mengguncang lengan Lucas sambil merengek dan memintanya untuk bangun. Dengan enggan, Lucas membuka matanya yang masih terasa berat. "Ada apa, Vi? Kenapa kau membangunkan ku malam-malam begini?" Tanya Lucas dengan mata setengah terbuka.
Alih-alih menjawab. Vivian malah menekuk mukanya sambil memegangi perutnya yang masih rata. "Kenapa? Apa perutmu sakit?" Tanya Lucas namun dibalas gelengan oleh Vivian. "Lantas?" Pria itu memicingkan matanya.
"Icecreamkacangmerah!!" Ucap Vivian setengah bergumam.
Lucas memicingkan matanya. Pria itu tak mengerti apa yang Vivian katakan. Karena kalimat yang dia ucapkan tanpa jeda, apalagi titik koma. "Kau bilang apa, aku tidak mengerti apa yang kau katakan!!!"
"ICE CREAM KACANG MERAH!!!"
"Yakk!!! Tidak usah berteriak di telingaku juga!!!" Protes Lucas sambil mengusap telinganya yang terasa sakit karena teriakan Vivian yang memekarkan.
"Siapa suruh kau tidak mendengarnya!!!" Jawab Vivian tak mau kalah. "Ge, ayo kita keluar. Aku ingin makan ice cream kacang merah."
Lalu pandangan Lucas bergulir pada jam yang menggantung di dinding dan waktu menunjuk angka 01.00 dini hari. "Memangnya dimana kita bisa menemukan kedai ice yang masih buka di jam segini?" Ucap Lucas.
Vivian menggeleng. "Pokoknya aku tidak mau tau!! Ayo kita keluar, aku ingin makan ice cream kacang merah, bukan keinginanku tapi keinginan baby di dalam perutku ini!!!" Vivian mengusap perutnya. "Ini adalah ngidam pertamaku, dan harus dituruti, karena jika tidak bisa-bisa anak kita ngiler nanti!!!"
Lucas mendengus berat. Dengan kesal dia menyibak selimutnya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Lucas meninggalkan kamar mandi dan mendapati Vivian yang sedang duduk di atas ranjang mereka sambil memegang sebuah Vest berwarna hijau lumut.
"Di luar sangat dingin, aku pakai Mantel saja."
"Tidak boleh, pokoknya kau tidak boleh menyembunyikan tribal itu dariku!!!"
Lucas mendengus untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak tau apa orang hamil semuanya seribet istrinya ini, dan Lucas merasa semakin hari tingkah Vivian semakin aneh saja.
Meskipun setengah tak berminat, akhirnya Lucas mengambil Vest berkerah itu dari tangan Vivian lalu memakainya sebagai luaran tank top putihnya. Senyum dibibir Vivian mengembang lebar. "Nah, ini baru suamiku!!"
"Ayo,"
"Siap, Bos!!"
.
__ADS_1
Sudah lebih dari satu jam mereka berkeliling kota. Tapi sayangnya tak satu pun ada kedai ice cream ada yang masih buka. Lucas menjadi frustasi sendiri, pasalnya Vivian terus saja merengek dan menolak untuk pulang sebelum mendapatkan makanan yang dia inginkan.
Tak kehabisan akal, Lucas pun menghubungi anak buahnya dan meminta bantuan mereka. Lucas menyebar setengah dari anak buahnya untuk mencari ice cream yang diinginkan oleh Vivian.
"Aku sudah mengerahkan anak buah ku, sebaiknya kita menunggu. Aku lelah dan kita istirahat saja di sini." Ucap Lucas yang hanya dibalas anggukan oleh Vivian.
Dalam hatinya Lucas terus berdoa semoga mereka mendapatkan ice cream itu. Sebenarnya dia tidak tega jika harus melihat Vivian yang terus merengek seperti anak kecil, jika saja itu siang hari, pasti dia tidak akan seribet ini.
Ponsel dalam saku celana Lucas tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk, rupanya dari salah satu anak buah Lucas. Dia mengabarkan jika sudah mendapatkan apa yang Vivian inginkan.
"Salah satu anak buah ku berhasil mendapatkan ice cream itu. Tapi saat ini dia masih ada di Busan, kita masih harus menunggu."
"Tapi ice cream nya bisa meleleh jika terlalu lama."
"Dia membawa kotaknya supaya ice cream nya tidak meleleh. Sebaiknya sekarang kau tidur dulu, setelah dia sampai aku akan membangunkan mu." Ucap Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.
"Aku memang sudah mengantuk."
"Kemari lah."
Brokk.. Brokk... Brokk...
Baru saja Lucas hendak menutup matanya. Tapi gedoran pada pintu mobilnya membuat matanya terbuka kembali. Sedikitnya empat orang bersenjata berteriak dan memintanya untuk turun.
Lalu pandangan Lucas bergulir pada Vivian yang masih tertidur pulas, sepertinya wanitanya ini tidak terusik sama sekali. Itu sangat bagus, karena dia tidak perlu menyaksikan hal yang seharusnya memang tak dia saksikan.
Setelah memindahkan kepala Vivian dan memastikan sang istri tidur dengan nyaman. Lucas pun keluar dari mobilnya untuk menghadapi mereka semua. "Apa mau kalian?" Tanya Lucas tanpa basa basi.
"Serahkan semua harta benda mu, termasuk mobil dan wanita yang ada di dalam itu." Pinta salah satu dari keempat pria itu.
"Jika aku menolak bagaimana?!"
"Itu artinya kau memilih untuk mati!!!"
"Jika kalian memang merasa mampu, sebaiknya ambil saja sendiri!!" Pinta Lucas menantang.
__ADS_1
Perkelahian pun tak bisa terelakkan lagi. Lucas yang hanya sendiri dikeroyok sedikitnya empat orang. Meskipun demikian Lucas tak merasa kesulitan sama sekali. Mereka bukanlah lawan yang perlu dia khawatirkan.
Lucas menangkis semua pukulan dan tendangan yang mengarah pada tubuhnya. Dia meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri menghindari setiap serangan lawan, sejauh ini dia hanya menghindari saja, masih belum ada perlawanan yang berarti.
"Sial!! Bagaimana si cacat ini bisa menghindari semua serangan ku!!" Geram salah seorang dari keempat pria itu.
"Karena serangan kalian terlalu lemah!!!"
"Brengsek!! Berani sekali kau meremehkan kami!! Habisi bocah sombong ini!!" Mereka menggunakan senjata dan tidak dengan tangan kosong lagi. Serangan mereka semakin membabi buta dan suasananya pun semakin panas.
Lucas menyeringai. Dia menahan dua senjata yang mengarah padanya lalu mematahkan salah satu dari belati panjang dengan dua jarinya. Dan tentu saja itu mengejutkan keempat pria itu. Mereka mulai ragu untuk melayangkan serangan lagi.
Lucas menyeka darah di tulang pipinya sambil menyeringai sinis. "Sekarang giliran ku!!!" Ucap Lucas mulai serius. Dia bosan bermain-main dengan mereka. Dan tak sampai 10 menit, empat orang itu berhasil dia tumbangkan.
"Inikah akibatnya jika kalian berani mencari masalah dengan, Leader Black Devil!!!"
Lucas melemparkan senjata mereka lalu pergi begitu saja. Dia kembali ke mobilnya dan mendapati Vivian masih tertidur pulas di dalam mobilnya. Lucas mendengus, bagaimana bisa Vivian tak terusik sedikit pun dengan keributan yang baru saja terjadi.
Dan sentuhan Lucas pada kepalanya membuat kelopak mata itu kembali terbuka."Apa ice cream nya sudah tiba?" Tanya Vivian masih setengah mengantuk. Lucas mengangguk, dia menunjuk sebuah mobil yang baru saja berhenti di samping mobilnya.
"Mereka sudah tiba, kau tunggu di sini saja." Lucas meninggalkan Vivian di dalam mobilnya. Seorang pria memberikan kotak ice cream berukuran mini pada Lucas, yang di dalamnya berisi ice cream yang Vivian inginkan.
Setelah orang itu pergi. Lucas kembali pada Vivian lalu memberikan ice cream itu padanya. Vivian langsung memakannya, dia terlihat sangat menyukainya.
Sudut bibir Lucas tertarik ke atas melihat bagaimana lahapnya Vivian memakan ice cream tersebut. "Ge, kau mau?" Tawar Vivian, Lucas menggeleng.
"Kau makan saja, aku tidak suka makanan manis. Aku akan tidur sebentar. Setelah ice cream mu habis, bangunkan aku." Pinta Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
"Baiklah."
Pria itu menyandarkan punggungnya pada jok mobil, perkelahian yang baru saja terjadi lebih dari cukup untuk menguras tenaganya. Dan untuk sejenak saja Lucas ingin menutup matanya.
-
Bersambung.
__ADS_1