CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Selalu Bersama


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, tapi Vivian dan Lucas masih tetap terjaga. Keduanya sama-sama enggan untuk menutup matanya. Meskipun rasa kantuk mulai mendera. Lucas bangkit dari duduknya dan menghampiri Vivian yang berdiri diambang jendela.


Wanita itu menoleh saat merasakan sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Sudut bibir Vivian tertarik ke atas. Kemudian dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Lucas yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya.


Langit malam ini terlihat lebih cerah dari malam-malam sebelumnya. Jutaan manik-manik langit terus memainkan sinarnya. Berkerlipan layaknya jutaan intan berlian.


"Ini sudah larut malam, kenapa kau tidak tidur dan malah berdiri di sini?" Ucap Lucas sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Vivian.


"Aku tidak bisa tidur, mungkin karena tadi siang sempat tidur sebentar." Jawabnya. Kemudian Vivian melepaskan pelukannya, dia berbalik dan posisinya dengan Lucas saling berhadapan. "Ge, apa setelah ini kau tidak akan pergi lagi? Jujur, aku sangat kesepian saat kau tidak ada."


Lucas menggeleng. "Aku tidak akan pergi kemana pun lagi, mulai sekarang kita akan selalu bersama apapun keadaannya."


"Sungguh?" Lucas mengangguk.


Kemudian Vivian menyandarkan kepalanya pada dada bidang Lucas, memeluk pria itu dengan erat. Sepasang Hazel nya tertutup rapat. Begitupun dengan Lucas, Lucas memeluk Vivian dan menyandarkan dagunya di atas kepala coklat wanitanya.


Jujur saja Lucas merasa cemas, apakah perasaan Vivian padanya akan tetap sama jika dia telah mendapatkan kembali ingatannya yang hilang? Jujur saja Lucas tidak ingin kehilangan Vivian.


Perasaan yang Lucas miliki padanya terlalu dalam. Dan itulah yang membuat dia takut akan kehilangan. Vivian bukan sekedar pendamping bagi Lucas, tapi juga separuh dari jiwanya.


"Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Bukankah besok kau harus ke luar kota untuk pekerjaan?" Lucas melepaskan pelukannya, Iris matanya mengunci sepasang Hazel milik Vivian.


Wanita itu mengangguk. "Kau benar, Ge. Baiklah ayo kita tidur, aku juga sudah mulai mengantuk." Vivian menguap karena rasa kantuk yang tidak tertahankan.


-


Hidup Alan benar-benar berakhir semenjak perusahaannya mengalami kebangkrutan dan Diana meninggalkan dirinya. Wanita mata duitan seperti Diana tentu saja tidak mau hidup susah bersamanya.


Jangankan untuk membeli hunian yang layak, untuk makan saja dia sangat kesulitan, dan Alan hanya mengandalkan uang yang dia dapatkan dari hasil mengemis di lampu merah.


Dia sungguh tidak menduga jika hidupnya akan berakhir seperti ini. Dan mungkin saja jika dia tetap setia dan mencintai Marisa seperti saat masih kuliah dulu, mungkin hidupnya tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini.

__ADS_1


"Alan, berikan Mama uang. Mama, mau pergi ke salon."


Sontak saja Akan mengangkat wajahnya dan menatap sang ibu dengan tajam. "Pergi ke salon? Dimana hati nurani, Mama?! Kita sedang kesulitan dan Mama mengatakan ingin pergi ke salon? Mama, sudah gila ya?!"


"Dasar anak kurang ajar, berani sekali kau menyebut ibumu sendiri gila?! Apa kau ingin, Mama, masukkan kembali ke dalam perut. Sebaiknya jangan banyak bicara. Berikan uang pada, Mama, sekarang juga!!"


"Aku tidak ada uang, sebaiknya Mama minta saja pada Papa. Dia kan suami Mama, seharusnya dia yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan gila Mama. Bukan aku!!"


"Alan, kau?! Dasar anak kurang ajar, tidak tau di untung. Awas saja kau!! Lihat setelah Mama kembali kaya, Mama akan membuang kalian berdua!!"


"Terserah!!"


Blam..


Nyaris saja Nyonya Jimmy terkena serangan jantung karena ulah Alan. Alan membanting pintu kamarnya hingga menimbulkan suara dentuman yang begitu keras.


-


Grep...


Sudut bibir Vivian tertarik ke atas. Dia sangat menyukai suaminya yang manja seperti ini. Dan sejak mereka menikah, hampir setiap hari Lucas memeluknya seperti ini.


"Kau bangun lebih awal?" Ucap Lucas setengah berbisik.


"Hm." Vivian mengangguk.


Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Lucas maupun Vivian, keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Lucas dan Vivian mencoba meresapi kebersamaan mereka saat ini. Saling melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.


Kemudian Vivian melepaskan pelukannya. Ia berbalik, posisinya dan Lucas saling berhadapan. Vivian mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher suaminya. Bibirnya bergerak menuju bibir Kiss able itu.


Selanjutnya yang terjadi adalah dua bibir yang saling bertemu. Bibir Lucas bergerak perlahan untuk mel*mat bibir Vivian. Kedua tangan Lucas memeluk tubuh Vivian dengan erat, dan membunuh jarak diantara mereka.

__ADS_1


Ciuman yang awalnya begitu lembut berubah menuntut. Kepala mereka saling berputar dengan bibir saling *******. Dan ciuman mereka baru berakhir saat Lucas melihat Vivian yang mulai kehabisan napasnya.


"Mandilah dulu, kita bisa terlambat nanti." Ucap Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.


Ponsel milik Lucas tiba-tiba berdering. Pria itu beranjak dari balkon dan masuk ke dalam. Panggilan dari Tao. Lucas tidak tau ada masalah apa lagi sampai-sampai harus menghubunginya sepagi ini.


"Ada apa, Tao?" Tanya Lucas to the poin.


"Bos, kita dalam masalah besar. Gudang senjata rahasia kita semalam di bobol orang. Aku dan Kai masih menyelidikinya dan kami belum menemukan dalangnya."


"Apa?! Bagaimana bisa, apa saja yang kalian lakukan sampai-sampai hal seperti ini bisa terjadi? Aku tidak kau tau, kalian harus mengusut masalah ini sampai selesai, temukan orang itu dalam keadaan hidup-hidup dan seret dia ke hadapanku!!"


"Baik, Bos."


Tangan Lucas terkepal kuat. Sepertinya ada orang yang sengaja ingin membuat masalah dengannya.


Baiklah, Lucas akan melayaninya dan dia akan melihat, sejauh mana orang itu bisa bertahan. Karena setelah menemukannya, Lucas tidak akan membiarkannya tetap hidup.


Perhatian Lucas teralihkan oleh suara decitan pada pintu. Terlihat sosok Vivian keluar dari dalam sana hanya berbalik handuk yang menutupi setengah tubuhnya.


Meskipun ada sepasang mata yang terus menatapnya. Tapi Vivian tidak merasa risih. Karena pria itu bukan orang lain melainkan suaminya sendiri.


"Ge, mandilah dulu. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu." Ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Lucas.


Setelah berpakaian lengkap. Vivian kemudian mengambil baju ganti untuk suaminya. Sebuah celana panjang hitam, tank top hitam dan long Vest berleher tinggi berwarna hitam pula.


Lucas tidak turut hadir dalam pertemuan itu. Dia hanya sekedar mengantarkannya, jadi tidak ada salahnya jika dia memakai pakaian casual.


Lagi pula Lucas terlihat lebih tampan dengan pakaian lengan terbuka yang selalu memperlihatkan otot-otot lengannya. Yang tidak terlalu besar, tapi terlihat kuat ketika disentuh.


Jukir saja. Terkadang Vivian merindukan penampilan serampangan Lucas yang sekarang jarang sekali dia perlihatkan. Dia sekarang selalu berpakaian lebih rapi dibandingkan dahulu.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2