CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Hanya Mimpi


__ADS_3

"VIVIAN!!!"


Lucas bangun dengan nafas terengah-engah. Dia baru saja tertidur sebentar, tapi sudah mimpi seburuk itu. Dan teriakan Lucas mengejutkan Vivian yang sedang asik membaca novel disampingnya.


Pandangan Lucas lalu bergulir pada wanita disampingnya. Matanya membelalak melihat Vivian baik-baik saja. Tanpa mengatakan apapun Lucas langsung membawa Vivian ke dalam pelukannya.


"Ada apa, Ge? Apa kau bermimpi buruk?" Ucap Vivian sambil membalas pelukan Lucas.


Lucas mengangguk. "Ya, aku memang bermimpi buruk. Mimpi yang sangat-sangat buruk. Saking buruknya sampai-sampai membuatku sangat ketakutan." Ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.


Vivian tidak tau mimpi apa yang telah Lucas alami sampai-sampai tubuhnya gemetar seperti ini. Apakah seburuk itu? Vivian ikut memejamkan matanya dan memeluk Lucas semakin erat.


"Memangnya mimpi apa yang telah kau alami, sampai-sampai kau begitu ketakutan seperti ini?"


"Aku mimpi kehilanganmu, jangan membahasnya lagi. Aku mohon, mimpi itu terlalu menyakitkan untuk diingat." Ujar Lucas sambil menutup matanya.


Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Biner matanya menatap Vivian yang juga menatap padanya, sendu. "Tidak perlu cemas, itu hanya mimpi. Dan mimpi hanya bunga tidur," ucap Vivian sambil menangkup wajah Lucas, jari-jarinya menyentuh perban yang menutup luka di pipi suaminya.


"Ya, semoga saja mimpi itu tidak pernah menjadi kenyataan. Luka kehilangan Kevin saja belum sembuh, dan aku tidak ingin hal serupa terjadi untuk kedua kalinya."


"Aku akan menjaga diriku dengan baik, agar mimpi buruk mu tidak pernah menjadi kenyataan. Ge, ayo pulang. Aku sangat lelah dan mengantuk." Ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Lucas.


Kemudian Lucas menghidupkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik saja mobil sport keluaran terbaru itu melaju kencang membelalak jalanan malam yang legang. Bukan hanya Vivian yang lelah dan mengantuk, tapi dirinya juga.


.


Mereka tiba di rumah setelah 30 menit berkendara. Vivian langsung menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur setelah di kamarnya. Sedangkan Lucas masih tetap terjaga.


Lucas terus kepikiran dengan mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Mimpi itu begitu nyata, dan tragedi menyakitkan dalam mimpi itu terjadi karena ia tidak bisa menjaga Vivian dengan baik.

__ADS_1


Lucas tidak bisa membayangkan bagaimana jika mimpi buruk itu benar-benar menjadi kenyataan. Terlalu menyakitkan untuk diingat, tapi sulit rasanya untuk melupakannya. Lalu pandangan Lucas bergulir pada Vivian yang sudah tertidur pulas disampingnya.


"Aku pasti akan selalu melindungi mu, dan tidak akan kubiarkan mimpi buruk itu sampai menjadi kenyataan."


Jari-jari besarnya mengusap kepala coklat Vivian dengan lembut. Betapa Lucas sangat mencintai Vivian, dan berapa dia tidak ingin kehilangan wanita yang telah menemaninya selama beberapa tahun ini. Vivian adalah segalanya bagi Lucas.


-


Sinar mentari yang hangat telah menelusup masuk ke dalam kamar bernuansa putih gold itu melalui sela-sela kecil pada jendela yang terbuka. Seorang wanita masih terlelap dalam tidurnya, padahal waktu sudah menunjuk angka 06.00 pagi.


Bahkan sinar matahari pagi yang menerpa wajahnya pun tidak membuatnya terusik sama sekali. Sampai suara alarm yang dia pasang pada ponselnya berbunyi, membuat sepasang biner Hazel itu langsung terbuka sepenuh nya.


"Sial, aku kesiangan. Aku kan harus menjemput paman Dastan di bandara!!!"


Dengan cepat Vivian melesat masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak boleh terlambat, atau Pamannya itu akan mengeluh dan ngomel panjang lebar yang membuat telinganya sakit. Dastan sebenarnya adalah orang luar, tapi dia sudah seperti ayah kedua bagi Vivian.


Dastan sendiri adalah putra angkat nenek dan kakeknya. Dia adalah pria yang baik dan hangat, dari Dastan dia mendapatkan kasih sayang dan kehangatan seorang ayah. Dia juga yang mengajarinya tentang bisnis.


"Aku pikir kau belum bangun, Vi." Ucap Lucas setibanya dia di dalam. Lucas Baru saja selesai olah raga.


"Ge, kenapa kau tidak membangunkan ku dari tadi? Hari ini kita harus pergi ke bandara untuk menjemput Pamanku. Dia akan tiba setengah delapan kurang seperempat. Sebaiknya kau segera mandi dan setelah kita kita sarapan. Aku tidak kau diomeli habis-habisan oleh Pamanku yang cerewet itu."


"Kau punya, Paman?" Lucas memicingkan matanya. Vivian mengangguk. "Lalu kenapa kai tidak pernah bilang padaku?"


"Karena kau tidak menanyakannya. Lagipula dia ada di luar negeri, jadi aku kasih tau pun percuma. Kalian tidak mungkin ketemu kecuali dia kembali ke Seoul."


"Ya sudah, aku mandi dulu." Kemudian Lucas beranjak dari hadapan Vivian dan pergi begitu saja. Sedangkan Vivian memutuskan untuk menunggu Lucas di meja makan.


-

__ADS_1


Seorang pria baru saja menginjakkan kakinya di bandara Internasional Seoul. Pria itu menyapukan pandangannya seperti sedang mencari seseorang, mungkin saja orang yang akan datang menjemputnya.


Tapi sayangnya yang dia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya, sampai akhirnya dia merasakan tepukan pada bahunya. "Aku di sini, Paman." Mata pria itu pun lantas berbinar melihat siapa yang datang.


"VIVIAN!! Keponakanku yang cantik, akhirnya Paman bisa memelukmu lagi. Paman pikir kau tidak jadi datang menjemput, Paman. Paman sudah mencari mu tapi sosok mu tidak ketemu juga. Ternyata kau ada di sini. Vivian, my little princess ku yang cantik."


"Uh, Paman. Berhenti memanggilku dengan sebutan menggelikan itu. Kau membuatku malu di depan suamiku,"


"Oh, depan suamimu ya. WHAT, DEPAN SUAMIMU!!!" Vivian menutup telinganya. Lalu dia menyapukan pandangannya. Wanita itu merasa malu melihat kini mereka menjadi pusat perhatian karena ulah Dastan. "Vivian, mana suamimu. Cepat perkenalkan dia pada, Paman."


"Aku ada di sini, Tuan Dastan Robert!!" Sahut seseorang dari arah belakang.


Glukk...


Dastan menelan saliva nya mendengar suara yang terdengar begitu familiar itu. Suara itu membuatnya teringat pada seseorang. Satu-satunya orang yang mampu membuatnya terlihat seperti orang paling bodoh di dunia.


Dengan kaku Dastan menoleh. Dunia seperti berhenti berputar detik ini juga, ternyata benar dia, memang orang itu. "Tu...Tuan Xi." Ucapnya setengah terbata-bata.


Vivian yang tidak tau apa-apa hanya bisa memicingkan matanya dan menatap keduanya bergantian. Jadi mereka sudah saling mengenal? Pikir Vivian. Tapi ada yang aneh, kenapa Pamannya terlihat takut pada Lucas, apakah ada something di antara mereka.


"Jadi kalian sudah saling mengenal? Kenapa suasananya jadi canggung dan tidak enak begini? Paman, bagaimana kau bisa mengenal Lu Ge? Dan kenapa kau terlihat seperti sedang tertekan begitu?" Tanya Vivian penasaran.


"Karena suamimu lah orang yang dulu membuat Paman babak belur ketika masih menjadi preman, padahal saat itu usianya baru 20 tahun, dan paman 30 tahun. Tapi Paman kalah telak darinya. Dia menghajar Paman karena memalak seorang turis Asing." Tutur Dastan sambil menundukkan kepala.


"Aku ingat, saat itu Paman pulang dalam keadaan babak belur dan menangis seperti bocah. Hahaha, seharusnya aku berterimakasih pada Lu Ge, karena telah merubah Pamanku menjadi orang yang lebih baik."


"Nanti lagi saja mengobrol nya. Sebaiknya sekarang kita pulang, Paman Dastan pasti juga sudah sangat lelah."


Vivian mengangguk. "Kau benar, Ge. Ya sudah, ayo kita pulang sekarang."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2