
Kabar tentang meninggalnya Adela telah sampai ke telinga Vivian. Bersama Lucas dan si kembar, wanita itu datang ke acara pemakaman. Tapi sayangnya kedatangan mereka tidak diterima dengan baik oleh Andien, apalagi kedatangan Vivian.
Andien mengusir dan memaki Vivian habis-habisan. Parahnya lagi dia melakukannya di depan para pelayat. Vivian tak peduli dan tak mau ambil pusing. Dia menghiraukannya dan membiarkan Andien berkata sesuka hatinya.
"Aku bilang pergi dari sini, kehadiran kalian tidak diharapkan sama sekali. Kau terutama, Vivian Valerie, kau pasti senang kan mengetahui jika Mamaku telah tiada?!"
"Atas apa aku harus merasa senang?" Vivian berkata dingin.
"Karena tidak ada lagi orang yang bisa mengganggu dan mengancam posisimu sebagai CEO."
Vivian menyeringai dingin. "Untuk apa aku harus terancam dengan orang tanpa kemampuan seperti mendiang Ibumu? Sudahlah, dia juga sudah mati, untuk apa dibahas lagi. Sia-sia aku datang, ternyata kedatanganku tidak diterima dengan baik!! Ge, Mark, Vincent, sebaiknya kita pergi saja dari sini!!!"
Vivian, Lucas dan si kembar akhirnya meninggalkan pemakaman. Meskipun melihat Vivian tersudutkan, tapi Lucas tidak mengambil tindakan apapun karena itu bukan urusannya. Selama Vivian bisa mengatasinya dan tidak dalam bahaya, maka Lucas tidak perlu untuk ikut campur dan turun tangan langsung.
Lucas menatap wanita disampingnya. Dari mimik wajahnya terlihat jelas jika Vivian sangat kesal setengah mati. "Kau kesal karena ucapan wanita itu?" Tanya Lucas di tengah kesibukannya mengemudi.
"Wanita tak tau terimakasih itu membuatku baik darah. Jika itu bukan tempat umum, pasti aku sudah memberinya pelajaran. Tapi sayangnya itu adalah tempat umum, aku tidak mau mencorong nama baikku di depan orang lain hanya karena wanita seperti Andien."
"Kau semakin dewasa dalam menghadapi masalah, kau sudah banyak berubah, Vi." Lucas mengusap kepala Vivian dengan sebelah tangannya. Bibirnya mengurai senyum tipis.
Blus...
Hingga muncul rona merah dikedua pipi Vivian karena ucapan Lucas. Wanita itu tersipu malu. "Jangan memujiku seperti itu, Ge. Kau membuatku malu." Vivian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sedangkan Lucas hanya terkekeh geli melihat wajah merona Vivian.
"Kau mau pergi kemana setalah ini? Langsung pulang atau kau ingin jalan-jalan dulu?"
"Jalan-jalan dulu aku rasa tidak ada masalah. Aku malas untuk pulang, lagipula ini masih siang."
__ADS_1
"Baiklah, terserah kau saja." Ucapnya.
Kemudian Lucas menambah kecepatan pada mobilnya. Mobil mewah itu menyalip beberapa kendaraan yang melaju di depan.
Vivian tak merasa terganggu sedikit pun dengan cara Lucas mengemudi. Karena dia sendiri terbiasa mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Mobil Lucas terus menyalip semua kendaraan yang melaju di depannya, tak jarang dia menerima cacian dan makian dari pengendara lain. Tapi Lucas tak peduli dan tak mau ambil pusing.
Tapi sayangnya ada satu mobil yang tak terima karena sudah disalip oleh Lucas, mobil itu menambah kecepatan mobilnya dan menghadang Lucas dengan berhenti tiba-tiba, membuat Lucas harus melakukan rem dadakan.
"Ge, sepertinya ada yang berusaha mencari masalah denganmu." Ucap Vivian sambil menunjuk orang yang keluar dari mobil tersebut.
"Kau tetaplah di dalam mobil, aku akan menyelesaikan masalah ini dengan segera." Vivian mengangguk.
Dia tidak akan membantah Lucas, dan Vivian yakin jika suaminya itu pasti bisa menyelesaikannya dengan segera. Lagipula Lucas bukanlah seorang yang lemah, yang mudah untuk di tumbangkan.
Lucas menghampiri kedua pria itu. Sorot matanya terlihat dingin dan tajam. Dia sungguh tidak suka ada yang menghalangi perjalanannya. "Apa yang kalian inginkan?" Tanya Lucas tanpa basa-basi.
"Apa kalian pikir, jalanan ini adalah milik nenek moyangmu?!"
"Bangsat, berani sekali kau bicara seperti itu pada kami. Apa kau tidak tau siapa kami? Kami adalah raja jalanan, dan jalanan ini adalah milikku dan dia!!!"
"Oh, begitulah?! Kalian terlalu mengada-ada!!" Lucas menyeringai.
"Jangan banyak bicara lagi. Sebaiknya kita beri pelajaran pada si cacat ini. Jika kau tidak ingin mata kananmu bernasib seperti mata kiri mu, sebaiknya jangan cari masalah dengan kami!!"
Dan perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Lucas yang hanya sendiri dikeroyok dua orang. Tapi tentu hal itu bukanlah sesuatu yang harus dia cemaskan, karena bagaimana pun juga mereka bukanlah lawan yang sepadan baginya. Perbedaan kemampuan mereka terlalu jauh.
__ADS_1
Lucas bukanlah orang yang lemah. Dia adalah Bos Mafia, jadi sudah bisa diperkirakan seberapa besar kemampuan yang dia miliki dalam hal perkelahian. Dan menghadapi kedua orang itu, tentu bukanlah perkara yang sulit baginya.
Brakkk...
Tubuh pria itu terhempas dan tersungkur di tahan setelah mendapatkan tendangan telak pada dadanya. Lucas menendang pria itu sebelum dia melancarkan serangannya, hal yang sama juga dia lakukan pada rekan pria tersebut. Kali ini Lucas memukul ulu hati dan kepalanya.
Lucas begitu bringas dalam menghadapi kedua lawannya. Dan dia mampu menumbangkan keduanya kurang dari 5 menit. "Bagaimana, ingin dilanjutkan?" Tanya Lucas meremehkan.
"Si...Siapa kau sebenarnya?" Tanya pria itu terbata-bata.
"Jadi kau ingin tau siapa aku? Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku dengan lengkap. Xi Lucas, pemimpin dari organisasi Black Devil!!!"
Sontak kedua mata pria itu membelalak saking kagetnya. "A...Apa?! Ka..Kau, pemimpin dari Black Devil?! Sial, kita membuat masalah dengan orang yang salah. Sebaiknya kita pergi." Rekannya mengangguk. Mereka pun segera pergi dengan mimik wajah ketakutan.
Tak ada niat bagi Lucas untuk menghentikan kepergian mereka. Kemudian Lucas berbalik, dia terkejut saat mendapati Vivian sedang berdiri bersandar pada bagian samping mobilnya. Wanita itu tersenyum lebar, membuat Lucas ikut tersenyum juga.
Lucas menghampiri Vivian. Lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Kau sudah menyaksikannya, apa kau tidak ingin memberikan penghargaan pada suamimu yang hebat ini?" Ucap Lucas kemudian mengecup singkat bibir Vivian.
"Bagaimana aku harus memberikannya, sedangkan kau sudah mengambil sendiri penghargaan mu. Setidaknya aku bisa membuatmu merasa sedikit lega."
Kemudian Vivian memeluk leher Lucas dan mengarahkan bibir merahnya pada bibir pria di depannya. Vivian mencium bibir Lucas dan sedikit melum*tnya. Tapi sayangnya ciuman itu tidak berlangsung lama, dan Vivian sudah mengakhirinya.
"Kita bisa melanjutkannya nanti malam. Aku tidak ingin dipandang rendah orang lain, karena mencium pria di tempat umum. Ya, meskipun pria itu adalah suamiku sendiri!!!"
Lucas mencubit gemas hidung Vivian. "Dasar kau ini, cepat masuk. Kita harus melanjutkan perjalanan." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
"Siap, Bos!!"
__ADS_1
-
Bersambung.