
Lucas memicingkan matanya melihat wajah Vivian yang tiba-tiba menjadi murung, padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Lucas yang penasaran pun segera menepikan mobilnya dan bertanya pada Vivian.
"Kau kenapa? Kenapa wajahmu murung begitu? Apa ada yang membuatmu tidak senang?" Tanya Lucas memastikan. Vivian menggeleng."Lantas?!"
"Tatto," Ucapnya.
Lucas memicingkan mata kanannya mendengar satu kata yang keluar dari bibir Vivian. "Kau ingin membuat tatto?" Tanya pria itu memastikan. Tapi Vivian menggeleng, membuat Lucas kebingungan.
"Bukan aku, tapi kau. Ge, aku ingin kau membuat Tatto di lengan kananmu, kau adalah King Mafia, pasti akan sangat keren jika kau memiliki sebuah Tatto, ditambah lagi jika kau mengganti perban Dimata kiri mu itu dengan eyepacht ini. Uhh, pasti lebih keren." Ujar Vivian sambil menunjukkan sebuah benda hitam bertali pada Lucas.
Lucas memijit pelipisnya yang terasa pening."Vivian, kenapa kau semakin aneh saja dari hari ke hari. Bukankah wanita lebih menyukai pria yang tubuhnya bersih tanpa terhiasi tinta sama sekali?!"
Vivian menatap Lucas dan berdecak sebal."Aku berbeda dari mereka. Apa kau tau, apa impianku saat masih duduk di bangku SMP?" Lucas menggeleng. Vivian tersenyum geli mengingat keinginan konyolnya saat itu.
"Memangnya apa impianmu?"
"Saat aku dewasa. Aku ingin memiliki kekasih seorang gangster, pria dingin dan urakan tapi penyayang. Karena pria yang terlihat buruk diluar, justru dialah yang bisa mencintai pasangannya dengan tulus dan sepenuh hati."
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
Vivian mengangkat bahunya. "Entah, intinya aku hanya berpikir saja. Dan bagaimana, Ge? Kau mau mengabulkan permintaanku itu bukan? Kau, mau membuat Tatto di lengan kananmu kan?" Vivian menatap Lucas penuh harap.
Pria itu tak lantas menjawab dan hanya memandang Vivian dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Lucas mengambil napas panjang dan menghelanya perlahan. "Aku tidak bisa berjanji, tapi akan aku pikirkan. Dan berikan aku sedikit waktu untuk memikirkannya."
Vivian tersenyum. "Tidak masalah, setidaknya kau tidak mengatakan kalimat penolakan. "Ge, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang?" Usul Vivian sambil memegangi perutnya.
"Sepertinya bukan ide yang buruk. Baiklah, kita berhenti dan makan dulu." Vivian tersenyum kemudian mengangguk.
Sejak pagi Vivian memang belum memakan apapun. Bahkan dia tidak ikut sarapan bersama yang lainnya. Kabar tentang kematian Adela yang tiba-tiba begitu mengejutkannya. Dan itulah yang membuat Vivian tak memiliki nafsu untuk makan.
-
__ADS_1
Di siang yang teriak, terlihat seorang pria berpakaian formal memasuki sebuah bangunan megah nan mewah yang memiliki dua lantai. Dibelakangnya, sedikitnya adalah 4 pria berpakaian formal juga berjalan mengekor dibelakangnya.
Beberapa pria yang berjaga langsung membungkuk ketika pria itu melewatinya. Seorang pria berlari dan membukakan pintu untuknya.
"Bos Ronald?!" Dan kedatangannya yang tiba-tiba mengejutkan beberapa pria yang sedang duduk dan berkumpul di satu titik. Dan pria-pria itu pun langsung berdiri.
"Sepertinya aku kembali diwaktu yang kurang tepat, apa diriku mengganggu kesenangan kalian?" Tanya pria bernama Ronald tersebut.
Mereka menggeleng. "Tidak, Bos. Sama sekali tidak. Justru kami sangat senang melihat Anda akhirnya kembali lagi."
"Bos Ronald ,selamat datang kembali!!!"
Ronald menatap mereka dan tertawa keras."Kenapa kalian masih begitu sungkan padaku. Dan bagus sekali, karena kalian menyambut kepulangan ku dengan sangat baik. Dan apakah kalian bisa memberikan informasi yang aku butuhkan?!" Tanya Ronald pada keempat pria tersebut.
Salah satu dari keempatnya maju dan menghampiri Ronald. Pria itu mengangguk."Ya, kami memiliki sebuah informasi yang sangat penting untuk Anda tentang dia."
"Katakan!!"
"Saya rasa tidak perlu mengatakan apapun pada Anda, Bos. Karena semua informasi yang kau butuhkan ada di sini." Ucap pria itu lalu menyerahkan sebuah dokumen pada Ronald.
"Jadi dia juga sudah kembali. Bagus, karena dengan begitu aku bisa lebih muda menemukannya dan membalas dendam atas kematian adikku!!"
"Anda bisa memikirkan dan melakukannya nanti, Bos. Anda pasti lelah setelah melakukan perjalan panjang dan melelahkan. Akan lebih baik jika Anda pergi istirahat sekarang."
"Ah, kau benar juga. Nanti saja kita membahasnya. Aku akan pergi untuk istirahat. Sebaiknya persiapkan diri kalian dengan matang, karena pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai!!!"
"Baik, Bos!!"
-
"Bos, dia sudah kembali!!!"
__ADS_1
Trang...
Lucas meletakkan cangkirnya di atas tatakan lalu mengangkat wajahnya dan menatap Alex yang tampak cemas dan gelisah. "Siapa? Dan kenapa mukamu terlihat tegang dan cemas begitu? Apa dia orang yang berbahaya?" Tanya Lucas penasaran.
Alex tak menjawab, dan sebagai gantinya pria itu menganggukkan kepala. "Dia memang berbahaya, Bos. Karena orang itu kembali untuk balas dendam pada, Anda. Anda telah melenyapkan adik perempuannya. Bukan, tapi karena Anda dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya!!"
"Hn, aku tau siapa orang yang kau maksud itu. Tapi apa yang kau cemaskan dan kau khawatirkan. Karena itu bukanlah masalah besar untukku. Selama kartu As itu masih ada ditangan kita, dia pun tak akan bisa berbuat apa-apa!!"
"Tapi tetap saja saya merasa cemas, Tuan. Apalagi dia kembali dengan dendam yang membara, dan saya takut dia akan membahayakan hidup dan nyawa, Tuan!!"
Lucas menyeringai. "Apa kau meremehkan kemampuanku, aku tidaklah selemah yang kau pikirkan. Dan kita lihat saja nanti, aku atau mereka mampu bertahan sampai akhir!!!"
"Bos!!"
"Aku lelah, ini sudah malam, sebaiknya kau segera pergi tidur!!" Perintah Lucas seolah-olah apa yang dia katakan itu adalah sebuah hal mutlak yang harus Alex lakukan.
"Baik, Bos."
.
Lucas membuka pintu kamarnya dan mendapati Vivian yang telah tertidur pulas. Pria itu tersenyum tipis. Lucas menghampiri Vivian kemudian duduk di samping wanita itu berbaring.
Jari-jari besarnya mengusap helaian coklat Vivian penuh sayang. "Bagaimana bisa aku mengabaikan. Tanpa kau harus merengek dan memohon pun, aku pasti akan melakukan apapun yang kau inginkan." Ucap Lucas lalu mengecup singkat kening Vivian.
Dan tanpa Lucas sadari. Bibir Vivian mengurai senyum tipis. Sepertinya dia mendengar semua yang Lucas katakan, mungkin Vivian hanya berpura-pura tidur saja?! Entah, hanya Vivian yang tau jawabannya.
"Vivian, kau tau, kau adalah harta paling berharga yang aku miliki dalam hidupku. Aku gila dan hilang arah saat kau pergi dari sisiku. Sungguh, aku tidak menyangka jika aku akan memiliki perasaan sedalam ini padamu."
"Kau, adalah wanita pertama yang mampu membuatku jatuh cinta, sejak pertama kali menatap matamu 20 tahun yang lalu."
"Dan impianku untuk memilikimu dan selalu berada di sisimu, akhirnya menjadi kenyataan. Meskipun jalanya tidak mudah. Tapi aku sungguh merasa bahagia, Vivian aku mencintaimu!! Teruslah berada di sisiku hingga ujung hidupku!!"
__ADS_1
-
Bersambung.