
Lampu dalam kamar itu sudah dimatikan sejak beberapa waktu yang lalu. Di depan sebuah layar monitor yang menyala terang, terlihat sosok jelita bersurai coklat panjang yang sedang duduk dengan tenang di depan monitor tersebut.
Jari-jari lentiknya menari dengan lincah diatas keyboard dan sesekali tangannya berpindah pada mouse yang ada disebelah keyboardnya.
Wajah cantik itu menunjukkan keseriusan ketika melihat rentetan kata yang hampir memenuhi layar monitornya.
Wanita itu kembali beraksi dengan segala kemampuan dan pengetahuannya di bidang Informasi dan teknologi, yang sudah menjadi salah satu keahliannya. Jari-jari lentiknya kembali menari di atas keyboard laptop-nya.
"Objective complete!" serunya, setelah menekan tombol enter dengan cukup keras.
"Ternyata mereka hanya kumpulan orang-orang bodoh!" ujar wanita itu di iringi seringai meremehkan.
Tidak ada virus, mata-mata, penyidik atau apa pun itu yang bisa Ia temukan di dalam sistem perusahaan yang sedang Ia retas datanya. Dan hal itu tentu semakin mempermudah pekerjaannya.
Melirik jam yang menggantung didinding kamarnya, dan jarum pendek berada diangka 11 sedangkan jarum panjang berada diangka 12. Itu artinya sudah satu jam Ia duduk di ruangan gelap itu.
Mematikan layar monitornya, kemudian dia bangkit dari duduknya dan menyalahkan penerangan didalam ruangan itu. "Kenapa sampai jam segini Lucas masih belum pulang!" gumamnya entah pada siapa.
Srekkk...!
Segera Marisa berbalik badan saat mendengar adanya sebuah pergerakan dari arah balkon kamarnya. "Siapa?" serunya lantang "Lucas, jangan bermain-main, itu tidak lucu!" kata wanita itu dengan suara sedikit meninggi.
"....."
Hampa. Tidak ada sahutan, Marisa menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri saat pergerakan mencurigakan itu kembali terdengar. Saat membalikkan badannya, wanita itu kembali melihat sekelebat bayangan yang bergerak cepat di balkon kamarnya.
Berjalan perlahan menuju laci kecil yang ada disamping tempat tidurnya, kemudian Marisa mengambil senjata milik Lucas yang tersimpan di sana.
Wanita itu sangat yakin, jika ada penyusup yang masuk ke kediaman suaminya. Tapi dia yakin jika itu bukan orang luar, mengingat betapa ketatnya penjagaan di luar sana.
Marisa melirik kebelakang menggunakan ekor matanya, dan memasang baik-baik indera pendengarannya. Samar-samar dia mendengar derap kaki seseorang yang bergerak mendekatinya.
Dorrr!!!
Marisa melepaskan satu tembakan pada penyusup itu. Namun tembakannya meleset karena orang itu berhasil menghindari tembakannya dengan cepat. Hingga perkelahian antara Marisa dan penyusup tersebut pun tidak dapat terhindarkan.
Mereka saling memukul, menangkis, menghindar dan menendang. Meskipun Marisa adalah seorang wanita, namun kemampuannya dalam hal beladiri memang sudah tidak bisa diragukan lagi.
Marisa pernah mempelajari bela diri saat masih di luar negeri. Dan hal itu semata-mata dia lakukan untuk melindungi dirinya dari ancaman orang jahat.
__ADS_1
Marisa bukanlah wanita yang bisa diremehkan apalagi hanya dipandang dengan sebelah mata. Karena apa yang tidak dimiliki oleh kebanyakan wanita di dunia ini justru ada pada dirinya.
"Siapa kau? Memiliki masalah apa kau denganku sampai-sampai kau menyusup kemari dan ingin membunuhku?" tanya Marisa ditengah perkelahiannya.
"Bukan aku, tapi orang yang benci padamu!"
Marisa menaikkan alisnya. "Orang yang benci padaku? Oh, jadi maksudmu adalah salah satu orang yang ada di sini?" hardik Marisa, setelah satu tendangan telak Ia daratkan pada tulang rusuk pria yang menjadi lawannya hingga orang itu terhuyung kebelakang.
Dan keadaan itu tak lantas Marisa sia-siakan begitu saja, dia mengunci tubuh pria itu dilantai dengan menggunakan lengannya.
"Katakan, selain menghabisi ku. Apa lagi yang orang itu inginkan dariku?" cerca Marisa dengan penuh tuntutan.
Laki-laki itu menyeringai dibalik masker yang menutupi sebagian wajahnya. "Kau pikir aku akan membuka mulut dan memberitahumu?! Jangan bermimpi nona!" jawabnya.
"Itu artinya kau memilih mati, hu!" ujung pistol ditangan wanita itu menempel dikening pria tersebut, hanya dengan satu tarikan saja, satu buah peluru perak bisa saja menembus kepala laki-laki itu.
"Tidak akan semudah itu , nona!"
Brugggg!!!
"Aaahhhh," keadaan kini berbalik.
Satu tangannya mencekik leher Marisa sedangkan satu tangan lain memegang revolver yang ujungnya dia arahkan pada kening wanita itu. "Katakan permintaan terakhirmu!" pinta laki-laki itu menyeringai
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Marisa terbatuk-batuk karena tidak bisa bernafas, Ia berusaha melepaskan cekikan orang itu dari lehernya, tapi tenaga lawan terlalu kuat.
Memang tidak sebanding dengan dirinya, sehebat dan sekuat apa pun Marisa. Tapi tetap saja dia seorang wanita.
Dorrr!!!!
Marisa menutup matanya saat merasakan sesuatu yang basah menciprati wajahnya, setelah sat timah panas menembus lengan kiri penyusup itu dan situasi tersebut Marisa manfaatkan untuk melepaskan diri darinya.
Ditendangnya punggung laki-laki itu dan segera Ia berhambur ke dalam pelukan pria yang baru saja melepaskan tembakan itu."Kau tidak apa-apa?" tanya Lucas memastikan.
Marisa menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Lu. Hanya saja punggungku sedikit sakit!" ujarnya memaparkan.
Pyarrr!!
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, penyusup itu melarikan diri dengan cara menghancurkan jendela kaca yang berada di kamar tersebut. "Jangan kabur, bajingan!" teriak Tao dan berlari mengejar penyusup itu.
__ADS_1
Tapi segera dihentikan oleh Lucas. "Tidak perlu dikejar, Tao!" kata Lucas.
"Tapi, Bos?!!"
"Aku sudah tau siapa bajingan itu. Kita bisa mengurusnya nanti." Tao mengangguk paham. Kemudian dia meninggalkan kamar Bosnya.
"Apa bajingan itu menyakitimu?" Tanya Lucas memastikan.
Lagi-lagi Marisa mengangguk. "Dia mencekikku dan berusaha untuk membunuhku. Tapi kau tidak perlu cemas, aku baik-baik saja!" ujarnya, meyakinkan pada Lucas jika dia baik-baik saja.
Lucas menghela nafas berat, kemudian dia membawa Marisa ke dalam pelukannya, dan mendekapnya dengan erat. "Syukurlah kalau kau baik-baik saja, dan apa kau tau betapa paniknya aku tadi!" Lucas mengeratkan pelukannya pada tubuh Marisa.
Wanita itu tersenyum tipis. "Sudah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja!" Marisa melepaskan pelukan Lucas, dan sekali lagi dia meyakinkan pada suaminya jika Ia baik-baik saja.
Beranjak dari hadapan Lucas, Marisa berjalan menuju pintu. "Akan ku siapkan air hangat untukmu mandi!" Ucapnya dan berlalu begitu saja.
Sampai sebuah tangan besar menghentikan langkahnya. Lucas menggeleng. "Tidak usah, sebaiknya kau Istirahat saja. Aku bisa menyiapkannya sendiri!" Lucas melepas jasnya dan menyampirkan di sandaran kursi kayu didekat tempat tidur.
Marisa memandang suaminya itu dengan senyum lebar yang tercetak di bibirnya. Betapa beruntungnya dia karena dimiliki oleh pria yang begitu mencintai serta menyayanginya.
-
Lucas meninggalkan kamarnya setelah memastikan Marisa telah benar-benar tidur. Dia menghampiri salah seorang anak buahnya yang sedang berbincang dengan rekan satu perjuangannya.
Menyadari kedatangan Lucas, kedua pria itu langsung membungkuk.
Salah satu dari kedua pria itu berkeringat dingin melihat tatapan Lucas yang penuh dengan intimidasi. Lucas menyeringai tajam melihat wajah ketakutan pria tersebut.
"Kenapa kau berkeringat, apa kau baru saja melakukan sebuah kesalahan fatal?" Tanya Lucas masih dengan seringai yang sama. Buru-buru pria itu menggeleng.
"Ti...Tidak Bos, saya hanya merasa gugup Anda tatap seperti itu." Jawabnya.
Lucas mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Luka di lengan dan lehernya. "Luka itu sepertinya baru, aku tidak tau bagaimana kau bisa terluka. Tapi sebaiknya segera obati sebelum luka itu semakin parah."
"Ba..Baik Bos!!"
Kemudian Lucas berbalik dan pergi begitu saja. Seringai kembali terpatri di wajah tampannya. "Nikmati hidupmu selagi kau bisa, karena tak lama lagi kau akan ku jadikan santapan Singa dan Harimauku yang sedang kelaparan!!"
-
__ADS_1
Bersambung.