
Lucas mengikuti kemana pun kaki Vivian melangkah. Pria itu berjalan dibelakang Vivian dalam jarak yang sangat dekat. Wanita itu sesekali berhenti untuk melihat-lihat berbagai aksesoris yang di jual di kedai pinggir jalan.
Saat ini keduanya sedang berada di pusat kota, sedang ada bazar murah yang selalu diadakan setiap tahunnya. Lucas tidak bisa menolak ketika Vivian mengajaknya.
Lucas ikut berhenti di kedai tersebut, dan berdiri di samping Vivian. Wanita itu sedang memilih beberapa hiasan rambut dan anting, meskipun kedai pinggir jalan, tapi barang-barang yang dijual di sana sangat bagus dan berkualitas.
"Kau ingin membelinya?" Tanya Lucas, Vivian kemudian menunjukkan beberapa hiasan cantik berbahan Tiara berhiaskan manik-manik cantik dengan berbagai warna.
"Ge, menurutmu lebih bagus yang mana diantara kelima jepit rambut ini? Aku bingung memilihnya, apalagi tiga tusuk konde ini, sangat cantik."
"Kenapa harus memilih, jika memang suka, kau bisa mengambil semuanya." Kemudian Lucas menyerahkan hiasan rambut itu pada Bibi pemilik kedai. "Yang ini tolong dibungkus semua."
"Baik, Tuan."
Selain hiasan rambut, masih banyak aksesoris cantik yang menyita perhatian Vivian, terutama anting. Banyak anting-anting cantik yang membuat Vivian tidak bisa mengalihkan perhatiannya.
Dan lagi-lagi Lucas meminta Bibi pemilik kedai untuk membungkus semua anting yang sempat Vivian sentuh. Meskipun merasa tidak enak pada Lucas, tapi dia tidak bisa menolaknya, lagi pula Aksesoris itu terlalu berharga untuk ditolak.
Setelah mendapatkan aksesoris yang Vivian inginkan. Mereka lanjut lagi, dan kali ini singgah di sebuah kedai yang menjual makanan ringan, Vivian merengek supaya Lucas membelikannya makanan di kedai itu.
Vivian akui, meskipun hanya kedai pinggir jalan. Tapi rasanya tidak kalah dari makanan yang dijual di hotel dan restoran bintang lima.
"Ge, ini sangat enak. Kau mau mencobanya?" Tanya Vivian menawarkan.
Lucas menggeleng. "Kau makan sendiri saja. Aku masih kenyang," jawab pria itu sambil menepuk kepala Coklat Vivian.
Mereka singgah dan duduk bersama beberapa pengunjung yang lain. Dan kebanyakan adalah pria, karena selain menjual makanan ringan, kedai itu juga menjual minuman beralkohol seperti Soju.
Beberapa pasang mata terus menatap Vivian dengan pandangan lapar. Mereka memperhatikan bentuk tubuh wanita itu dengan pandangan meniti, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan parahnya hal itu disadari oleh Lucas.
Krakk...
__ADS_1
Vivian dan beberapa orang yang ada di kedai itu terkejut melihat apa yang Lucas lakukan. Pandangannya menajam dan auranya menggelap.
Membuat orang-orang yang tadi memandang Vivian langsung ketakutan melihat tatapan tajam Lucas yang begitu mengintimidasi. Dan mereka tidak sadar jika baru saja membangunkan Singa yang sedang kelaparan.
"Ge, apa yang kau lakukan? Lihatlah, tanganmu sampai terluka begini." Panik Vivian setengah memekik. Kemudian wanita itu menghampiri Bibi pemilik kedai. "Bibi, kau punya perban dan obat luka? Bisakah memberikannya sedikit pada daya?"
"Tentu, Nona. Tunggu sebentar."
Sambil menunggu Bibi pemilik kedai mengambilkan Perban dan obat yang dia minta. Vivian kembali pada Lucas, dia menggunakan beberapa lembar tisu untuk menghentikan pendarahannya.
"Ge, kenapa kau sampai melukai dirimu seperti ini? Lihatlah, tanganmu terluka parah." Ujar Vivian, dari suaranya terlihat jelas jika dia sangat cemas.
Lantas pria itu mengangkat kepalanya. "Aku paling benci jika milikku di lihat oleh orang lain. Dan aku tidak rela jika mereka menatapmu seolah-olah kau adalah makanan yang bisa memuaskan rasa lapar!!"
Vivian mendesah berat. "Jangan berlebihan, Ge. Lagipula siapa yang berani macam-macam padaku, saat aku bersama denganmu. Mencari masalah denganmu sama saja menghantarkan nyawa secara suka rela."
"Dan aku sebagai Bos Mafia Black Devil, tidak akan memaafkan apalagi melepaskan siapa pun yang berani mengusik dirimu!!"
"Nona, ini obat dan perban yang Anda minta."
Vivian tersenyum. "Terimakasih, Bibi."
"Tunggu!!" Seru Lucas dan menghentikan langkah wanita setengah baya itu. Wanita itu menoleh dan menatap Lucas dengan pandangan bertanya. "Aku cuma mau membayar semua makanan dan minuman yang aku terima."
"Tapi ini terlalu banyak, Tuan."
"Ambil saja, Vivian ayo pergi." Lucas bangkit dari duduknya dan menarik Vivian meninggalkan kedai. Terlalu lama di sana membuat Lucas meradang, dia kesal setengah mati pada orang-orang itu.
Langkah kakinya kembali terhenti karena suara dering pada ponselnya. Tanpa membuang banyak waktu, Lucas menerima panggilan tersebut.
"Ada apa kau menghubungiku?" Tanya Lucas tanpa basa basi.
__ADS_1
"Tuan Muda, kondisi Tuan Besar kembali menurun. Tadi sempat sadarkan diri, tapi hanya beberapa saat dan sekarang pingsan lagi. Kata dokter keadaannya semakin kritis."
"Apa?! Baiklah aku akan pulang sekarang."
"Ada apa, Ge?" Tanya Vivian penasaran.
"Vi, maaf tapi aku harus pergi sekarang. Kondisi Kakek memburuk lagi. Aku akan mencarikan taksi untukmu. Sebaiknya kau langsung pulang saja, secepatnya aku akan menemui mu lagi. Maaf, aku harus pergi." Lucas mengecup kening Vivian dan memeluknya selama beberapa saat.
"Kenapa harus secepat ini, Ge? Padahal kita baru saja bertemu, dan kau sudah janji akan menginap malam ini."
Lucas mengeratkan pelukannya sambil menutup matanya. "Maafkan aku, Sayang. Karena tidak bisa menepati janji padamu. Keadaan benar-benar tidak memungkinkan aku untuk menginap malam ini."
"Aku mengerti, kau pergilah. Aku tidak apa-apa." Vivian melepaskan pelukan Lucas dan pergi begitu saja. Kecewa terlihat jelas dari sorot matanya, tapi dia juga tidak bisa memaksa Lucas untuk tetap tinggal.
Lucas mendesah berat. Pria itu menyusul Vivian dan langsung memeluknya. Kedua tangannya melingkari perutnya, sedangkan dagunya bersandar pada bahu kanannya.
"Jangan marah, Sayang. Sekali lagi aku minta maaf." Bisik Lucas penuh rasa penyesalan.
Vivian menutup matanya. Kemudian dia melepaskan pelukan Lucas lalu berbalik badan. Ia dan Lucas saling berhadapan. Wanita itu menggeleng. "Tidak perlu minta maaf lagi, aku bisa mengerti. Pergilah, Ge. Mungkin Kakek membutuhkanmu."
Lucas menangkup wajah Vivian kemudian mengecup singkat bibirnya. "Baiklah, Sayang. Aku akan pergi sekarang." Lucas mengusap pipi Vivian dan pergi begitu saja.
Vivian mendesah berat. Wanita itu tidak bisa bersikap egois. Lucas memang suaminya, tapi dia juga memiliki keluarga yang harus diperhatikan. Vivian mencoba mengerti pria itu, meskipun kecewa karena Lucas tidak menepati janji.
Brugg...
Karena tidak fokus berjalan. Tanpa sengaja Vivian bertabrakan dengan seseorang. Beruntung orang itu langsung menahannya, sebelum tubuhnya menghantam aspal dengan keras.
"Nona, kau tidak apa-apa?" Tanya orang itu memastikan. Vivian menggeleng, meyakinkan jika dia baik-baik saja. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung pergi begitu saja. Pria itu tersenyum penuh arti. "Semoga kita bisa bertemu kembali, Nona. Aku harap kita berjodoh!!"
-
__ADS_1
Bersambung. -