
Lucas menghentikan mobil Marisa di sebuah toko bunga yang letaknya tidak terlalu jauh dari pemakaman kota. Hanya Marisa sendiri yang turun, sedangkan Lucas menunggu di dalam mobil.
Tak berapa lama, Marisa kembali dengan sebuah mawar dan Lilly di tangannya. Rencananya Marisa mau mengunjungi makam saudarinya.
"Memangnya makan siapa yang mau kau kunjungi? Bukankah kau bilang jika makam keluargamu di luar negeri?!" Ucap Lucas sambil menatap Marisa penasaran.
"Makam kakak perempuanku, dia meninggal beberapa tahun yang lalu karena dibunuh."
"Dibunuh?" Lucas mengulang ucapan Marisa, dan wanita itu mengangguk.
"Tapi bukan dalam arti sebenarnya. Awalnya dia dikhianati oleh suami dan keluarganya. Dia selalu diperlakukan seperti sampa!!"
"Dan hampir setiap hari bajingan itu selalu membawa pulang wanita lain ke rumah mereka. Memperlakukan kakakku sebagai babu di rumahnya sendiri. Padahal rumah itu adalah miliknya, itu warisan dari orang tua kami."
"Jujur saja, Lucas. Aku sangat menyesal karena membiarkan dia menderita sendirian selama ini. Jika saja aku tidak datang terlambat, pasti saat ini dia masih ada."
Lucas memicingkan matanya, dan menatap Marisa dengan tatapan menyelidik. "Kalian berdua, kakak beradik tapi memiliki kisah hidup yang sama. Atau jangan-jangan pria yang kau nikahi adalah orang yang sama seperti yang dinikahi oleh Kakakmu?"
Marisa menjitak kepala Lucas dengan keras dan membuat pemuda itu memekik serta meringis kesakitan.
"Sembarangan!! Tentu saja tidak!!" Jawab Marisa tegar.
"Tapi tidak perlu menjitak ku juga. Kau pikir kepalaku ini apa, selalu saja kau pakai sebagai landasan tanganmu!!"
Marisa mendengus berat. "Salah sendiri kau asal bicara. Jika kau ingin tau alasannya. Kau bisa melihat dan membaca dua identitas ini."
"Sebenarnya aku ingin merahasiakan hal ini dari semua orang, termasuk. Tapi kita sudah terlanjur membahasnya, dan tidak ada alasan bagiku untuk menutupinya lagi darimu!!"
Lucas menerima dua identitas (KTP) yang Marisa berikan padanya. Wajah serupa tapi nama tak sama. Yang satu Marisa Valerie, dan yang satu Vivian Valerie.
"Noona, apa maksudnya ini? Jadi kau memiliki dua identitas? Tapi kenapa penampilanmu di kedua identitas ini berbeda, yang satu memang agak ketinggalan jaman, sedangkan yang satu wujud dari wanita modern. Jika kau merubah identitas mu, kenapa kau masih memakai nama Marisa bukan Vivian?"
Marisa menatap Lucas dan sebuah jitakan kembali mendarat mulus pada kepala pemuda itu.
__ADS_1
"Dasar bodoh, jelas-jelas ini bukan orang yang sama!! Sebenarnya aku adalah Vivian, sedangkan Marisa adalah saudari kembar ku. Sejak kecil kami terpisah. Aku tinggal di America bersama nenek dan kakekku, sedangkan dia di Korea bersama orang tua kami." Tuturnya.
Marisa, atau mungkin kita harus memanggilnya Vivian? Sesuai di identitasnya. Tapi sayangnya saat ini dia sedang memerankan karakter Marisa demi balas dendam.
"Kau ingat dengan pertemuan pertama di bar. Malam itu aku sangat kacau, aku mengatakan jika aku baru saja dikhianati oleh suami dan keluarganya, tapi sebenarnya tidak."
"Hari itu aku kehilangan Marisa, dia meninggal karena depresi. Dan sejak hari itu aku memutuskan untuk menjadi dirinya, karena dengan begitu aku bisa membalaskan dendam Saudari kembar ku pada keluarga mantan suaminya itu." Tutur wanita itu panjang lebar.
"Lalu bagaimana aku harus memanggilmu? Marisa atau Vivian?"
"Tetap saja panggil aku dengan nama Marisa, karena selama ini yang orang-orang tau aku adalah Marisa, bukan Vivian!!"
"Terserahlah."
Lucas diam selama beberapa saat. Dia menatap Marisa atau Vivian dengan tatapan tak terbaca. Dia teringat di saat pertama melakukannya dengan wanita itu. Miliknya masih sangat sempit dan keluar cairan merah dari lubang Miss nya.
Pemuda itu sudah pernah bertanya, tapi dia berdalih jika itu bukan darah dan kenapa miliknya sempit karena sang suami jarang memakainya, padahal malam itu dia masih perawan, dan Lucas lah yang mengambilnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tegur Marisa melihat kediaman Lucas.
Wanita itu memicingkan matanya melihat perubahan sikap Lucas, entah kenapa Marisa berpikir jika pemuda itu menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Apakah Lucas marah? Marisa tidak tau.
.
Setelah mengunjungi makam Marisa yang asli. Mereka berdua memutuskan untuk singgah sejenak di kedai ice cream, cuaca hari ini sangat terik, dan tidak asa salahnya menyantap sesuatu yang dingin.
Lucas terus saja diam, dan hal itu membuat Marisa terus bertanya-tanya. Dia benar-benar dibuat bingung dengan perubahan sikap Lucas yang menjadi dingin.
Marisa menahan lengan Lucas ketika pemuda itu hendak membuka pintu di samping kirinya."Tunggu dulu. Lucas, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau jadi sedingin ini? Apa ucapan ku ada yang menyinggung mu?" Ucap Marisa sambil menatap penasaran pemuda itu.
"Kenapa kau membohongiku?!"
"Jadi kau marah karena aku merahasiakan padamu jika aku bukan Marisa yang asli, tapi Vivian?!"
__ADS_1
"Kenapa kau merahasiakan padaku, jika sebenarnya kau ini masih per*wan?! Kenapa kau harus membohongiku dengan mengatakan jika itu bukan darah keper*wanan mu?!"
"Apakah sekarang itu penting?! Dengar Lucas, aku tidak peduli diriku seperti apa, bagaimana orang akan memandangku. Atau kau merasa cemas, jika suamiku tidak bisa menerimaku karena aku sudah tidak Vir*n lagi?"
Marisa tersenyum simpul. "Lucas, dengar apa yang aku katakan. Jika orang itu mencintaiku dengan tulus, pasti dia bisa menerimaku apa adanya, bukan ada apanya. Baik itu kelebihan ku, maupun kekuranganku!! Sekarang aku paham, kan?"
"Kau tidak perlu merasa bersalah karena telah mengambil keper*wanan ku!! Lagipula aku tidak menyesal Karana telah memberikannya padamu!!"
Lucas mendesah berat. "Aku hanya tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari." Ucap Lucas tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka
Marisa menggeleng. "Tidak akan ada penyesalan."
"Kau bilang ingin makan ice cream, ayo turun." Marisa mengangguk.
Mereka terlihat seperti adik kakak. Karena usia mereka memang terpaut beberapa tahun. Marisa lebih tua dari Lucas.
Meskipun Lucas lebih muda darinya, tapi Marisa selalu merasa nyaman ketika bersamanya, karena Lucas tau bagaimana harus memperlakukannya.
Alan dan Diana baru saja meninggalkan pusat perbelanjaan. Ditangan keduanya menenteng paper bag yang penuh dengan barang belanjaan masing-masing, sejak kejadian hari itu. Alan menjadi semakin sayang pada Diana dan selalu memberikan apa yang dia inginkan.
Semua itu Alan lakukan demi menebus rasa bersalahnya pada Diana, karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak, bahkan sempat mencaci dan memakinya.
"Sayang, aku haus, bagaimana kalau kita pergi ke kedai ice cream itu?"
"Kedengarannya tidak buruk. Ya sudah, ayo ke sana."
Lonceng di atas pintu kedai berbunyi yang menandakan ada pengunjung yang datang. Sepasang suami istri memasuki kedai itu sambil bergandengan tangan. Siapa lagi mereka jika bukan Alan dan Diana.
Dan sementara itu. Marisa yang melihat kedatangan mereka menjadi tidak berselera. Dia mengajak Lucas untuk pergi dari sana. Tapi sepertinya keberadaan mereka di sadari oleh Alan.
"Marisa?! Kau kah itu?!"
-
__ADS_1
Bersambung.