
Seorang pemuda terbaring di rumah sakit dengan perban melingkari keningnya, bercak merah darah tepat di atas alis kirinya, ada juga luka di bawah mata kirinya yang di tutup dengan plester.
Disampingnya, seorang wanita menunggunya dengan cemas. Pasalnya pemuda itu belum juga sadarkan diri meskipun 3 jam telah berlalu sejak operasi kecil di bahunya selesai.
Wanita itu yang pastinya adalah Marisa tidak tau apa yang terjadi pada Lucas, karena saat tiba di apartemen pemuda itu. Dia mendapati Lucas sudah terkapar dalam keadaan terluka dan berdarah.
"Bocah, sampai kapan kau akan pingsan dan membuatku duduk di sini seperti orang bodoh!! Lucas, bangun dan katakan pada Noona jika kau baik-baik saja." Marisa meraih tangan Lucas, jari-jari lentiknya menggenggam tangan pemuda itu yang terasa dingin.
"Noona, tenanglah. Aku belum mati, aku sudah sadar dan hanya malas saja membuka mata!!"
"Kau!! Yakk!! Bocah, dari tadi ternyata kau membohongiku?!"
"Uhhh, jangan marah-marah. Kau membuat kepalaku semakin pusing!!" Lucas memegangi kepalanya yang rasanya ingin pecah.
"Salah sendiri, siapa suruh kau membohongiku!! Ngomong-ngomong apa yang terjadi padamu dan siapa yang membuatmu sampai seperti ini?!" Marisa menatap Lucas penasaran.
"Begini ceritanya."
Flashback!!
Lucas mengendari motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan kota yang legang membuatnya bisa lebih leluasa. Sesekali dia menengok ke belakang, ada sebuah Van hitam yang melaju tepat di belakangnya.
Pemuda itu mencoba menambah kecepatan pada motornya. Untuk memastikan apakah mobil itu benar mengikutinya atau tidak. Dan ternyata memang benar. Mobil itu benar-benar mengikutinya.
Ckittt...
Lucas menghentikan motornya dan Van itu pun ikut berhenti juga. Beberapa pria yang terlihat seperti Mafia keluar dari mobil tersebut, mereka bersenjata.
"Apa mau kalian?"
"Menghabisi mu!!"
Lucas mundur beberapa langkah kebelakang, saat beberapa orang itu menyerangnya secara bersamaan. Salah satu dari mereka menyerang kan serangannya dari arah belakang. Tapi Lucas menahan pukulan itu dengan telapak tangannya tanpa menoleh.
"Sial, rupanya kau berisi juga heh, bocah" Pria jangkung itu kaget. Bagaimana tidak, Lucas bisa menahan pukulannya tanpa melihatnya sama sekali.
"Kenapa kalian malah diam?! Ayo serang!!" Serunya pada rekan-rekannya.
__ADS_1
"Heh!! Dasar sampah, beraninya main keroyokan!" lagi-lagi Lucas hanya mendengus.
Lucas langsung mendorong pria jangkung itu lalu menendang perutnya, sementara yang lainnya datang menyerang Lucas dari empat arah secara bersamaan.
Dengan gerakan yang indah, Lucas menggerakkan tubuhnya menghindari satu serangan yang mengarah ke ulu hatinya.
Tidak sampai di situ saja, muncul lagi serangan lainnya juga ingin menghajar Lucas. Namun pemuda itu dengan lincah berkelit ke sana kemari menghindari serangan yang serentak itu.
Sepertinya mereka tidak tau siapa lawannya ini, karena yang harus dihadapi kali ini adalah pemuda yang melewati latihan fisik dan keras selama bertahun-tahun. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk dapat melukainya.
Serangan-serangan anak buah pria jangkung yang berjumlah kurang lebih delapan itu, dapat dihadapi Lucas dengan mudah. Sampai sejauh ini, pemuda itu sama sekali belum membalas serangan mereka secara penuh.
Dia masih saja mengelak ke sana dan kemari untuk menghindari serangan lawannya. Tentu saja hal ini membuat para pengeroyoknya menjadi semakin marah, bahkan makin mempercepat serangan-serangannya.
Melihat kelincahan Lucas dalam berkelahi, pria jangkung yang berdiri di luar arena menjadi geram sekali.
Dengan satu teriakan nyaring, ia segera melayangkan serangan ke arah Lucas. Pemuda itu segera memalingkan wajahnya ketika ada serangan yang mengarah kepadanya. Sambil menundukkan tubuhnya, tangan Lucas berbalik menapak serangan itu.
"Ughhh.."
Pria itu terjungkal kebelakang setelah kepalan tangan Lucas menghantam perutnya. "Sialan kau bocah!!"
DOR!!
Lucas sedikit terhuyung ke belakang. Sebelah tangannya mencengkram bahunya yang terasa sakit. Darah segar seketika merembes dan mengotori pakaian yang dipakainya.
Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari saku Leather Vest yang dipakainya lalu melemparkan pada orang-orang itu. Mata mereka membelalak, itu adalah sebuah granat.
"BOCAH SIALAN!!"
DUAARR...
Tubuh Lucas ikut terpental dan berakhir di aspal. Darah segar tampak mengalir dari keningnya yang terluka, ada juga luka di bawah mata kirinya. Dengan sisa tenaga yang dia miliki. Lucas naik ke atas motor besarnya dan meninggalkan lokasi.
Itu adalah jalanan sepi yang jarang di lewati pengguna lain. Jalan itu merupakan jalan alternatif. Dan hanya Lucas yang selamat, sementara para penyerangnya tewas dalam ledakan tersebut.
Flashback End!!
__ADS_1
"Begitulah yang terjadi. Siapa dalangnya, aku tidak tau. Karena mereka mati sebelum aku mengetahui siapa yang menyuruh mereka."
"Aku akan mencari tahunya. Akan ku buat orang itu membayar mahal apa yang telah dia perbuat padamu!!"
Lucas menggeleng. "Tidak perlu Noona, kau tidak perlu melakukan itu. Biar teman-temanku saja yang melakukannya." Jawabnya.
Mata Marisa membelalak melihat Lucas mencabut infusnya. "Yakk!! Bocah, apa yang kau lakukan?! Kau ini pasien, harus tetap berbaring dan tidak boleh banyak gerak!!" Pekik Marisa.
"Kau berbaringlah di sini. Jika kau tidur dalam posisi duduk. Punggungmu bisa sakit, ini sudah lewat tengah malam. Aku tidak mungkin mengijinkan mu pulang!!"
Marisa mendengus geli. "Sejak kapan berandalan dingin dan mirip patung es sepertimu bisa berbicara dengan hangat dan perhatian seperti ini?! Menggelikan. Kau berbaringlah lagi, aku bisa tidur di sofa. Aku akan memanggil suster untuk memperbaiki infus mu!!"
Marisa hendak pergi dari sana, namun pergelangan tangannya di tahan oleh Lucas. Pemuda itu menarik lengan Marisa lalu menyatukan bibir mereka.
Wanita itu mengangkat kedua tangannya lalu melingkarkan pada leher Lucas. Ciuman mereka yang semula biasa saja, berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.
Lucas melepaskan ciumannya dan meminta Marisa untuk mengunci pintunya. Ini sudah hampir tengah malam, jadi tidak mungkin ada petugas rumah sakit yang datang.
"Lucas, apa yang kau lakukan?! Kau masih sakit!!"
"Aku tidak peduli!!" Sekali lagi Lucas mencium dan mel*mat bibir Marisa. Atas dan bawah bergantian.
Wanita itu memberikan respon yang luar biasa terhadap segala macam sentuhan bibir dan tangan Lucas pada wajah dan sekitar lehernya.
Sambil menahan sakit di bahunya. Lucas menanggalkan semua kain yang melekat di tubuh Marisa dan membuangnya begitu saja. Marisa tidak menolak, bagaimana dia bisa menolak kenikmatan yang akan Lucas berikan padanya.
"Aku yang akan memanjakan mu!!" Ucap Marisa lalu mencium bibir Lucas singkat.
"Soo, tunggu apa lagi?! Lakukan sekarang juga!!" Pinta Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Marisa.
Pemuda itu mengeram merasakan kenikmatan, sebelah tangannya meremas salah satu bukit kembar wanita itu.
Setelah puas. Marisa memasukkan sosis berurat itu ke dalam Miss nya, dan mulai menggerakkannya dengan gerakan cepat. Lucas yang berada di bawah Marisa benar-benar terlihat puas dengan permainan wanita nya ini.
Dan Lucas akui jika Marisa memang seorang pemain yang hebat. Dan berapa bodohnya mantan suaminya karena sudah melepaskan wanita seperti Marisa.
-
__ADS_1
Bersambung.