CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Rubah Licik


__ADS_3

Sang Dewi malam telah meninggalkan peraduannya sejak beberapa jam yang lalu. Dia telah kehabisan waktu untuk menemani para manusia kelelahan, dan posisinya telah digantikan oleh sang Raja siang.


Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui sela-sela tirai jendela kamar itu sedikit mengusik tidurnya. Marisa menggeliat nyaman di atas tempat tidurnya.


Perlahan-lahan ia mengerjakan matanya, berusaha menyesuaikan dengan sinar yang masuk ke retinanya. Lalu pandangannya bergulir pada sosok tampan yang masih tertidur pulas disampingnya.


Sudut bibir Marisa tertarik ke atas, membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Kemudian Marisa merubah posisinya. Ia dan Lucas berbaring saling berhadapan.


Jari-jari lentik Marisa menyusuri setiap inci wajah Lucas, mulai dari mata, hidung, dan terakhir bibirnya. Sungguh betapa beruntungnya Marisa memiliki suami seperti Lucas, yang bisa dikatakan nyaris sempurna.


Dan apa yang Marisa lakukan membuat ketenangan Lucas sedikit terganggu. "Vivian, apa yang kau lakukan? Hentikan, aku masih ngantuk dan biarkan aku tidur lagi!!" Pinta Lucas dengan suara parau nya.


"Tapi ini sudah siang, Lu. Ayolah cepat bangun." Rengek Marisa.


"Lima menit lagi, Sayang. Sebaiknya sekarang kau diam, dan biarkan aku memelukmu seperti ini!!"


Marisa mendengus berat. Dia tidak memiliki pilihan lain, selain mengijinkan Lucas memeluknya. Karena jika dilarang, dia akan tetap memaksa.


"Ini sudah lima menit, sampai kapan kau akan memelukku seperti ini?! Lucas, ayo cepat lepaskan aku!!" Rengek Marisa memohon.


"Tidak bisa, kau sendiri yang melemparkan dirimu padaku untuk di peluk!!"


Marisa mendengus berat. Kenapa sih, dia harus menikahi pria keras kepala dan selalu ingin menang sendiri seperti Lucas?! Terkadang suaminya ini sangatlah menyebalkan.


"Lepaskan aku sekarang, atau aku akan menendang biji mu?!" Ancam Marisa bersungguh-sungguh.


Lucas berdecak sebal. Dengan terpaksa dia melepaskan Marisa dari pada harus berakhir menyakitkan miliknya.


"Nah, begini kan lebih baik. Ya sudah. Aku mandi dulu," Marisa mengecup singkat bibir Lucas dan pergi begitu saja. Sementara Lucas hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.

__ADS_1


"Dasar bocah!!"


Lucas merubah posisinya menjadi terlentang. Sepasang mutiara keabuan miliknya menatap langit-langit kamarnya. Helaan nafas panjang berkali-kali keluar dari sela-sela bibirnya. Lucas mendesah berat.


Kebahagiaan yang dia rasakan saat ini tidak mungkin selamanya. Mungkin semua akan berakhir dalam sekejap mata setelah Marisa mendapatkan kembali ingatan masa lalunya yang hilang. Tentang siapa Kevin, dan apa penyebab kematiannya.


Lucas menutup matanya. Sebelah tangannya mencengkram dadanya yang terasa sesak. Rasanya begitu sesak, seperti ada batu besar yang menghimpitnya. Dan akankah Lucas telah siap jika harus kehilangan Marisa, maka jawabannya tentu saja tidak.


Perasaan yang Lucas miliki untuk Marisa terlalu dalam. Dan akan sulit bagi dia untuk menerima jika harus kehilangannya. Tapi tidak mungkin Marisa bisa memaafkannya, setelah seluruh ingatannya kembali dan dia mengetahui siapa penyebab kematian kekasihnya.


"Lu, apa yang kau pikirkan?" Tegur Marisa sekembalinya dia dari kamar mandi.


Lucas mengangkat wajahnya dan melihat Marisa berjalan menghampirinya. Pria itu bangkit dari berbaringnya kemudian menghampiri Marisa dan langsung memeluknya.


Awalnya Marisa kebingungan, tapi akhirnya dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Lucas. "Ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini." Ucap Marisa sambil membalas pelukan suaminya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu saja." Jawab Lucas sambil mengeratkan pelukannya.


"Ya, tapi aku tidak yakin. Karena pagi sampai sore kau bekerja, jadi bagaimana mungkin aku bisa memelukmu sepanjang waktu?"


Marisa terkekeh. "Dasar kau ini, kenapa terkadang kau malah seperti bocah. Bukankah kau masih bisa datang ke kantor jika merindukanku?" Marisa mengangkat wajahnya dan menatap Lucas yang juga menatapnya.


Lucas mengangguk. "Ya."


"Kalau begitu bisakah kau melepaskan ku? Sebaiknya kau segera mandi, setelah ini kita sarapan dan antar kan aku ke kantor." Pinta Marisa yang kemudian di balas anggukan oleh Lucas.


"Baiklah." Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Mengecup kening Marisa dan pergi begitu saja.


Setelah bersiap-siap. Marisa meninggalkan kamarnya. Beberapa pelayan membungkuk ketika Marisa melewatinya.

__ADS_1


Diantara semua pelayan, hanya ada dua pelayan yang menunjukkan sikap tak sukanya pada Marisa, meskipun tau dan melihatnya, tapi dia tetap bersikap dingin dan acuh.


"Nyonya Muda, silahkan, sarapan sudah siap." Ucap salah seorang pelayan dan mempersilahkan Marisa untuk duduk.


Dua pelayan itu mendecih sebal. Kenapa mereka harus memperlakukan Marisa seperti ratu? Padahal dia kan hanya orang baru. Mereka hendak pergi dari sana, tapi segera dihentikan oleh Marisa.


"Kalian berdua, berhenti!!" Dan semua mata kini tertuju pada kedua pelayan itu. "Kalian mau kemana? Bagaimana kalian bisa pergi sebelum melayaniku? Kalian tau aku adalah Nyonya di rumah ini. Jadi bersikaplah sopan. Yang lain bisa pergi, cukup mereka berdua saja yang melayaniku!!"


Beberapa pelayan itu langsung membungkuk setelah mendapatkan perintah dari Marisa. Sementara kedua pelayan itu masih tetap stay karena perintah Marisa.


"Aku tau apa yang ada di otak kalian. Jika kalian berpikir bisa menyingkirkan ku dari rumah ini, maka kalian salah besar. Sebaiknya kalian jangan macam-macam jika tidak ingin berakhir dengan hanya tinggal nama saja!!"


Salah satu dari kedua pelayan itu hendak memukul Marisa, tapi ditahan oleh temannya. Dia memberi kode, ternyata Lucas sedang menuruni tangga. Dia tetap menghampiri Marisa, tapi berpura-pura menuangkan air untuknya.


"Ingat, kau belum menang. Aku pasti akan menyingkirkan mu dari rumah ini, bagaimana pun caranya!!"


Marisa menyeringai sinis. "Baiklah, kita lihat saja. Kau atau aku yang akhirnya akan terdepak dari rumah ini." Marisa menyentak air yang ada di tangan wanita itu hingga membuat pakaiannya basah.


Sontak dia langsung berdiri dan berpura-pura membersihkan tumpahan air di pakaiannya. Padahal dia sengaja.


"Astaga, hati-hati dong kalau bekerja. Lihatlah, pakaianku jadi basah semua." Ujar Marisa. Marisa mendekatkan bibirnya pada telinga pelayan itu. "Sebaiknya jangan macam-macam jika tidak ingin berakhir mengenaskan!!!"


Lucas menghampiri mereka bertiga dan bertanya apa yang terjadi. "Ada apa ini? Marisa, kenapa pakaianku bisa basah begitu?" Tanya Lucas penasaran.


Marisa menggeleng. "Tidak apa-apa, pelayan ini hanya kurang hati-hati saja." Jawabnya tersenyum.


Kemudian pandangan Lucas beralih pada mereka berdua. "Jika kalian masih ingin bekerja di sini. Sebaiknya bekerja dengan serius!! Kalian boleh pergi." Keduanya mengangguk. Kemudian dia beranjak dari hadapan Lucas dan Marisa.


Marisa menoleh dan menatap mereka dengan seringai tajam andalannya. Pelayan itu bicara tanpa suara. "Dasar rubah betina, lihat saja aku pasti akan menyingkirkan mu!!"

__ADS_1


Marisa mengarahkan jarinya pada lehernya sendiri. Seolah-olah memberi isyarat pada mereka berdua. Mereka telah membuat kesalahan yang sangat besar karena sudah mencari masalah dengan Marisa.


Bersambung.


__ADS_2