CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Lucas Ngambek


__ADS_3

Vivian bangun pagi-pagi sekali. Paman Ayin memberitahunya jika dibelakang peternakan ada sebuah bukit, dimana dia bisa melihat matahari terbit, selain itu juga banyak ditumbuhi bunga-bunga cantik dengan berbagai warna, Daisy salah satunya.


Setelah berjalan sejauh 30 meter. Akhirnya Vivian tiba di Pucak bukit. Dan benar apa yang Paman Ayin katakan, dari sana dia bisa melihat matahari terbit.


Matahari mulai menampakkan diri menggantikan bulan. Cahayanya tampak indah diujung timur. Vivian mulai merasakan hangatnya cahaya sang matahari menyentuh kulitnya.


Vivian pergi sendiri tanpa Lucas, karena ketika dia berangkat, Lucas masih tidur dan Vivian tidak tega untuk membangunkannya. Lucas terlihat lelah, itulah kenapa Vivian memutuskan untuk membiarkannya tetap tidur dan dia pergi sendiri.


Disaat Vivian tengah asik menikmati semilir pagi yang sejuk. Tiba-tiba ada seorang pria yang datang menghampirinya dan menyapanya. Dan tentu saja kedatangan pria itu membuat Vivian sedikit terkejut, pasalnya dia tidak menyadari hal tersebut.


"Halo, Nona. Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di desa ini. Apa kau adalah keluarga Paman Ayin? Aku tidak sengaja melihatmu keluar dari halaman belakang rumahnya."


Vivian menggeleng. "Bukan, aku hanya pendatang. Karena kemalaman jadi beliau meminta aku dan suami ku untuk menginap." Jawabnya.


Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jadi Nona telah bersuami ya? Padahal aku ingin sekali kenalan. Tapi tidak apa-apa, bukankah menambah teman itu baik ya? Aku Leo, rumahku hanya berjarak satu rumah dengan Paman Ayin." Ucap pria itu Leo memperkenalkan diri.


"Tapi sayangnya aku tidak mengijinkan mu mengenal istriku!!" Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak keduanya menoleh, sudut bibir Vivian tertarik ke atas melihat siapa yang datang.


Meninggalkan Leo, Vivian berlari menghampiri Lucas dan langsung memeluk lengan terbukanya. "Ge," seru Vivian dengan senyum yang tak pudar sedikit pun dari bibir tipisnya.


"Kenapa tidak membangunkan ku dan malah pergi sendiri?" Tanya Leo dengan suara dan nada bicara yang terdengar datar.


"Kau terlihat sangat lelah, makanya aku tidak tega untuk membangunkan mu. Dan aku berpesan pada Paman Ayin, jika kau mencari ku, aku ada di sini." Tutur Vivian.


"Paman Ayin, sudah menunggu kita untuk sarapan. Sebaiknya kita turun, dan lagipula kita harus segera kembali ke Kota. Masih banyak hal yang harus aku urus dan selesaikan." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


"Baiklah, aku tau. Ayo," keduanya meninggalkan bukit dan kembali ke peternakan milik Paman Ayin, meninggalkan Leo yang masih belum beranjak dari posisinya saat ini.

__ADS_1


Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia selalu saja sial, setiap kali ingin mengenal perempuan, pasti mereka telah memiliki pasangan. Dan hal itu terjadi lagi hari ini. Lebih parahnya lagi, itu sudah yang ke 10 kalinya.


"Tuhan, sebaiknya jangan pelit padaku. Segera kirimkan jodoh untukku, tidak perlu banyak-banyak. Dua saja cukup, asal yang cantik dan berbodi seperti gitar Spanyol. Tolong Tuhan, kabulkan permintaanku ini."


Memang tidak banyak yang Leo minta. Tapi itu terlalu muluk-muluk. Pasalnya dia meminta dua jodoh yang cantik dan berbodi seperti gitar Spanyol. Satu saja belum tentu dapat, dan dia malah meminta dua, sungguh hal yang konyol.


Leo berjalan tenang menuruni bukit. Daripada meratapi hatinya yang kembali terbelah. Lebih baik memeras susu sapi lalu menjualnya. Dan uangnya bisa dia kumpulkan, lalu untuk menikahi calonnya jika sudah dapat nanti.


-


"Hati-hati dijalan dan jangan sungkan-sungkan untuk datang kemari lagi. Pintu rumah Paman selalu terbuka untuk kalian berdua."


Vivian menghampiri Paman Ayin dan langsung memeluknya. Dan apa yang Vivian lakukan tentu saja membuat pria itu terkejut. Sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan di bibirnya.


Paman Ayin mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Vivian. Air mata jatuh dari pelupuk matanya. Dia terharu dan juga sedih, andaikan saja keluarganya masih ada. Dia pasti tidak akan kesepian seperti ini, dan setiap hari bisa memeluk putrinya.


"Terimakasih, Nona."


"Kalau begitu kami permisi dulu." Vivian tersenyum.


Wanita itu beranjak dari hadapan Paman Ayin, Lucas berkata pada pria itu jika dia bukan lagi sebatang kara sekarang. Dia masih memiliki keluarga, ia dan Vivian kini adalah keluarganya.


Dan Lucas tidak keberatan untuk menganggap Paman Ayin sebagai Ayahnya. Dia begitu baik dan penuh kehangatan.


.


Sepanjang perjalanan pulang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Lucas. Pria itu terus saja diam 1000 bahasa. Bahkan dia tidak menjawab ataupun menyahut setiap kata yang keluar dari bibir Vivian.

__ADS_1


Wajahnya cemberut dan sorot matanya dingin. Vivian sungguh tidak tau apa yang terjadi pada suaminya ini. Kemudian dia teringat sesuatu, mungkinkah jika Lucas sedang cemburu padanya karena pria bernama Leo tadi?


"Ge, sebenarnya ada apa denganmu ini? Kenapa kau diam saja? Lalu sampai kapan kau akan terus diam dan mengabaikan ku seperti ini?!" Vivian mulai hilang kesabaran.


"Memangnya ada apa denganku? Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Berhentilah bicara dan biarkan aku fokus mengemudi jika tidak ingin terjadi hal tidak diinginkan!!"


Vivian mendengus. Dia tau jika saat ini Lucas sedang kesal dan marah padanya. Dan itu terlihat jelas sekali. Lucas selalu mengelak saat dia bertanya ada apa dan kenapa. Dan hal tersebut membuat Vivian semakin yakin jika Lucas memang sedang marah padanya.


"Baiklah jika kau tidak mau bicara, aku juga tidak akan bicara denganmu!! Kita lihat saja, aku atau kau yang mampu bertahan dalam perang dingin ini!!" Vivian membuang muka.


"Terserah!!" Jawab dingin Lucas.


Vivian mempoutkan bibirnya. Sepertinya Lucas benar-benar marah padanya. Dia semakin yakin jika itu ada hubungannya dengan Leo, Lucas cemburu karena ada pria lain yang mencoba mendekatinya.


"Huh, dasar menyebalkan. Begitu saja ngambek, bocah!!"


Lucas menoleh, menatap Vivian yang sedang bersidekap dada sambil mengembangkan pipinya. Wanita itu membuang muka ke arah lain, Lucas mendengus. Niatnya mau marah karena kesal, tapi melihat ekspresi wajah Vivian justru membuatnya gemas sendiri.


Lucas menepikan mobilnya. Tanpa berkata apa-apa dia menarik tengkuk wanita itu dan langsung mel*mat kasar bibirnya. Dan apa yang Lucas lakukan tentu saja membuat mata Vivian membelalak. Dia tidak siap, tapi sedetik kemudian senyum tipis muncul di bibirnya.


Wanita itu memeluk leher suaminya dan mulai mengimbangi ciuman Lucas. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Dan melalui ciuman tersebut, Lucas ingin melepaskan semua rasa kesalnya pada Vivian. Dan memangnya suami mana yang tidak akan kesal dan cemburu melihat wanitanya di dekati pria lain.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2