
Pria itu terkulai di tanah setelah mendapatkan pukulan dan tendangan telak pada sekujur tubuhnya. Dia adalah orang yang mencoba menyerang Marisa malam itu, atas suruhan pelayan yang sempat ribut dengan Marisa pagi ini.
Bukan Lucas yang memberi pelajaran padanya. Tapi Marisa sendiri. Kai dan Tao yang memberitahunya jika dialah orang yang telah menyerangnya malam itu.
Marisa sendiri tidak tau apa rencana Lucas, sehingga dia membiarkan pria itu tetap berkeliaran bebas, seolah-olah tidak memiliki beban apa-apa. Tapi ia bukan Lucas, yang penuh dengan rencana. Dan Marisa bukanlah tipe orang yang suka basa-basi.
"Katakan, apa yang wanita itu inginkan dariku?!" Tanya Marisa menuntut.
"Di..Dia meminta supaya saya membunuh, Nyonya. Dia memberikan imbalan yang sangat besar."
"Berapa besar imbalan yang kau terima dari wanita itu untuk menghabisi ku?!"
"10 juta won."
"Aku akan memberimu 100 juta won. Tapi kau harus bekerja padaku dan menjalankan perintah dariku, bagaimana?"
"Memangnya Nyonya ingin saya melakukan apa?"
"Bunuh wanita itu, aku tidak hanya menginginkan kematiannya, tapi aku juga ingin jasadnya menghilang selamanya dari bumi ini untuk selama-lamanya. Apa kau bisa melakukannya?!"
Pria itu mengangguk. "Bisa, saya akan melakukannya malam ini juga. Dan Anda akan segera mendengar kabar terbaik dari saya."
Marisa menyeringai sambil melemparkan 100 won yang dia janjikan pada pria itu. "Ini upahmu. Setelah membunuhnya, tinggalkan negeri ini dan jangan pernah kembali. Satu hal lagi, jangan coba-coba berkhianat padaku. Atau kau akan tau akibatnya?!"
"Sa-saya mengerti, Nyonya." Kemudian Marisa memberi kode pada Kai dan Tao supaya melepaskan pria itu.
"Ini hanya akan menjadi rahasia kita berempat. Jika diantara kalian bertiga ada yang membocorkannya, maka habis kalian!!"
Glukk...
Susah payah mereka bertiga menelan Saliva nya. Ternyata Lucas dan Marisa tidak ada bedanya. Mereka sama-sama menyeramkannya. Bahkan bulu kuduk Kai dan Tao langsung berdiri setelah melihat sorot tajam mata Marisa.
__ADS_1
Dirasa urusannya di sana telah selesai. Marisa beranjak dari ruangan tersebut dan pergi begitu saja. Diikuti Kai dan Tao yang berjalan mengekor dibelakangnya.
-
Deru suara mobil yang memasuki halaman menyita perhatian seorang wanita yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Wanita itu memicingkan matanya saat melihat seorang wanita muda keluar dari mobil tersebut.
Dan wanita itu disambut oleh dua pelayan yang hampir setiap hari selalu mencari masalah dengannya.
"Siapa wanita itu? Kenapa mereka begitu baik dan hormat padanya? Seperti nyonya besar saja?" Ucap Marisa penuh kebingungan.
Marisa meninggalkan kamarnya dan pergi keluar untuk mengetahui siapa wanita itu. Dia menuruni tangga dan berpapasan dengan wanita asing itu di sana.
"Kau pasti pelayan baru di rumah ini. Minggir, jangan menghalangi jalanku!!"
Marisa melipat tangannya dan menatap wanita itu dengan dahi menyenyit. "Pelayan? Sepertinya kau sudah salah mengenali orang. Aku bukan pelayan di sini, tapi Nyonya!! Lucas dan aku sudah menikah, dan dia menjadikanku sebagai Nyonya besar di sini!!"
"Apa? Lucas menikahi mu?!" Marisa mengangguk. "Bagaimana mungkin, kau pasti bercanda?! Jangan mengatakan omong kosong di depanku!!"
Marisa menyeringai sinis. "Omong kosong?! Bahkan aku mengatakan yang sebenarnya, terserah jika kau memang tidak percaya, itu bukan urusanku. Atau kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada kedua pelayan bodoh ini!!"
Kedua pelayan itu hanya menunduk dan tidak berani menjawab apalagi menatap wanita yang sedang marah tersebut. "Kau pikir aku akan membiarkanmu berkuasa di tempat ini?! Aku.. Aku lah yang seharusnya menjadi Nyonya, bukan kau?!"
"Siapa yang mengatakannya?!" Sahut seseorang dari arah belakang. Keempat wanita itu sontak menoleh. Terlihat Lucas menghampiri mereka.
Marisa menuruni tangga dan menghampiri Lucas lalu mengadu padanya. "Wanita ini siapa sih? Dia mencoba untuk menindas ku, dia bilang aku ini tidak layak menjadi istrimu, bahkan dia meminta aku untuk meninggalkanmu. Dan..dan.. kedua pelayanmu ini ternyata bersekongkol dengannya." Ujar Marisa sambil berhambur ke dalam pelukan Lucas.
Marisa berlagak seperti dia yang paling tersakiti di sini. Sementara bibirnya mengurai seringai penuh kemenangan saat menatap wanita itu yang tampak emosi.
"Brengsek, berani sekali kau memfitnahku?!" Bentak wanita itu penuh emosi. "Kalian, kenapa diam saja?! Seharusnya kalian membelaku, dia juga memfitnah kalian berdua!!"
"Pergi kau dari sini!! Memangnya siapa yang mengijinkan mu untuk menginjakkan kaki di rumah ini?! Keluar, sebelum aku hilang kesabaran dan melempar mu ke jalanan!!"
__ADS_1
"Lucas, kau!!" Dengan emosi wanita itu pergi begitu saja. Dia bersumpah akan membalas penghinaan yang dia peroleh hari ini.
Dan sementara itu. Diam-diam Marisa mengurai senyum penuh kemenangan. Mereka telah mencari masalah dan gara-gara dengan orang yang salah.
"Apa dia menyakitimu?" Tanya Lucas memastikan. Marisa menggeleng, meyakinkan pada Lucas jika dia baik-baik saja. Kemudian Lucas mengajak Marisa kembali ke kamar mereka.
.
Marisa menghampiri Lucas yang sedang duduk di sofa sambil membawa dua minuman dingin, yang salah satunya kemudian dia berikan pada Lucas.
"Siapa sebenarnya wanita itu, Lu? Dan apa hubungannya dia denganmu?" Tanya Marisa penasaran.
"Rebecca, mantan kekasihku. Kami putus sekitar 11 tahun yang lalu. Dia pergi ke luar negeri, dan siapa yang menduga jika dia akan kembali."
"Sepertinya dia wanita yang tidak tau malu. Buktinya dia sudah meninggalkanmu, lalu sekarang kembali lagi. Bukankah itu sangat menggelikan?!"
Lucas menarik lengan Marisa dan menempatkan wanita itu dipangkuan nya."Aku tidak ingin membahas apapun lagi tentang dia. Bisakah sekarang kita membahas hanya tentang kita berdua saja." Ucap Lucas kemudian mengecup singkat bibir Marisa.
Wanita itu tersenyum. Marisa mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Lucas. Dia mendekatkan wajahnya dan balik mencium bibir pria itu.
"Kau menginginkannya, eh?" Marisa menyeringai.
"Jika iya bagaimana? Apa kau tidak mau melayaniku?"
"Dengan senang hati aku akan melayaniku, suamiku!!"
Lucas menjatuhkan tubuh Marisa pada sofa dengan dia berada di atas tubuhnya. Jari-jari lentik Marisa menyusuri setiap inci dada bidang dan lengan berotot Lucas yang terbuka. Pria itu hanya memakai singlet putih.
Kedua mata Marisa tertutup perlahan saat merasakan lembut dan basahnya bibir Lucas mulai menginvasi bibirnya. Des*han demi des*han berkali-kali lolos dari bibir ranumnya.
Sebelah tangan Lucas meremas p@yud@ra Marisa yang masih tersembunyi di balik dress dan br@ hitamnya, yang membalut tubuhnya. Suasana siang yang panas semakin panas karena kegiatan mereka ini. Mereka hanya berusaha saling menghangatkan dan memiliki.
__ADS_1
-
Bersambung.