
"Pilihlah salah satu, aku akan memberikannya secara gratis untukmu!!!"
Pria itu mengeluarkan semua senjata api hasil koleksi terbaiknya. Dan berniat memberikannya satu pada Lucas, karena dia tau, tujuan pria itu datang menemuinya adalah karena senjata api tersebut.
"Tidak satu pun, karena aku ingin yang kau simpan di etalase kaca itu!!!"
Lucas menunjuk sebuah Colt M1911A1 yang tersimpan di sebuah etalase kaca dengan sebuah pengaman sensor infrared. Yang artinya tidak semua semua orang bisa mengambilnya kecuali si pemilik.
Sontak saja kedua mata pria itu membelalak melihat senjata yang Lucas maksud. "Kau sudah tidak waras ya, aku sudah menunjukkan semua senjata terbaik yang aku miliki, tapi kau malah mengincar yang sangat-sangat berharga. Tidak bisa!! Sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkan senjata itu pada siapapun, kecuali jika aku mati!!!"
Lucas menyeringai. "Apa itu artinya aku harus membunuhmu dulu, baru kau akan mewariskannya padaku?!" Ucapnya dengan seringai yang sama.
"Yakk!!! Dasar Iblis, kau pikir nyawaku adalah sebuah mainan. Yang bisa kau ambil dan Kau permainkan dengan sesuka hatimu!!!"
"Hahaha!!!" Lucas tertawa keras. Membuat pria itu semakin kesal saja. "Ayolah, Paman. Bukankah kau sudah menganggap ku sebagai putra kandungmu sendiri, memangnya apa susahnya sih menyerahkan benda itu padaku?! Itung-itung sebagai bentuk kasih sayangmu padaku!!!" Lucas kembali menyeringai.
"Sekali tidak, tetap tidak!!!"
"Ayolah, Paman. Jika kau mau memberikannya padaku, aku akan mengingat kebaikanmu ini sepanjang hidupku, bagaimana? Dan anggap saja sebagai ucapan maaf karena anak buah mu tidak ada yang memperlakukanku dengan hormat!!!"
"Bocah iblis sepertimu memang tidak pantas untuk dihormati, dan apa kau lupa dua anak buah ku sudah meregang nyawa di tanganmu!!!"
"Jika masalah anak buah, itu tidak perlu diributkan, kau tenang saja karena aku memiliki banyak anak buah yang bisa diandalkan. Kau ingin berapa biji? 10, 20 atau mungkin 100, aku bisa memberikannya secara cuma-cuma padamu."
"Bocah kurang ajar, jika bukan kau yang meminta dan merengek padaku, aku tidak Sudi memberikannya padamu!!!" Dan akhirnya pria itu menyerah. Dia memberikan senjata kesayangannya meskipun dengan sangat berat hati pada Lucas. "Sebaiknya jaga baik-baik, karena hanya tersisa satu ini di dunia!!!"
Lucas tersenyum kemudian mencium senjata api tersebut. "Kau tenang saja, dia akan menjadi benda kesayanganku. Kau memang yang terbaik, Paman. Baiklah, aku pergi dulu!!!"
"Dasar bocah tak tau di untung, setelah mendapatkan yang diinginkan malah pergi begitu saja!!" Pria itu mendengus dan menggelengkan kepala.
"Aku akan membalasnya!!!"
Lucas meninggalkan bangunan megah tersebut dengan penuh kemenangan. Dia masih harus kembali ke kantor untuk menjemput Vivian.
__ADS_1
-
Mencari tau tentang siapa Vivian tentu saja bukan masalah yang sulit. Maya bisa menemukan segala informasi tentang Vivian dari internet dan sebagainya. Dia adalah seorang Bos di sebuah perusahaan besar, jadi tidak sulit menemukan apapun yang berhubungan dengannya.
Maya menghentikan mobilnya di sebuah perusahaan besar yang memiliki puluhan lantai. Wanita itu dibuat terkagum-kagum dengan besar dan megahnya perusahaan tersebut.
Dengan langkah pasti, Maya berjalan memasuki perusahaan tersebut. Tapi untuk bisa masuk ke perusahaan tersebut tidaklah mudah dan bisa terbilang sulit. Mengingat jika penjagaannya sangat ketat, jika bukan orang yang berkepentingan maka tidak diijinkan untuk masuk ke dalam.
"Maaf, Nona. Tapi Anda tidak bisa masuk dan menemui Presdir, sebelum membuat janji dengan beliau."
"Aku adalah adik iparnya. Jadi untuk apa harus membuat janji?! Sebaiknya minggir dan jangan halangi jalanku!!!"
"Maaf, Nona. Anda tetap tidak bisa masuk. Ini sudah menjadi kebijakan perusahaan."
"Brengsek kalian semua, kalian menantang ku ya?! Minggir, aku mau lewat!!!" Teriak Maya tapi tak digubris oleh orang-orang yang menghalanginya.
"Jika dia tidak bisa bisa disuruh pergi secara baik-baik. Sebaiknya seret saja dan buang ke jalanan!!!" Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak saja Maya menoleh setelah mendengar suara yang begitu familiar itu.
"Perusahaan ini memiliki aturannya sendiri, dan tidak semua orang bisa masuk seenaknya. Dan jika kau tidak memiliki urusan disini, sebaiknya pergi saja. Vivian sedang sibuk dan tidak bisa diganggu!!! Seret saja jika dia tetap tidak mau keluar."
"Baik, Tuan!!!"
"Kakak!!! Kau sangat keterlaluan!!!" Teriak Maya tapi tetap tak diindahkan oleh Lucas. Pria itu melanjutkan langkahnya dan pergi ke ruangan Vivian yang ada di lantai paling atas.
-
"Baiklah, rapat cukup sampai di sini untuk hari ini."
Vivian mengakhiri pertemuannya dengan beberapa dewan direksi saat melihat kedatangan suaminya. Sebuah ciuman mendarat mulus pada bibir merah wanita berparas ayu tersebut.
"Kau sudah selesai?" Tanya Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian. "Kita pulang sama-sama. Sebaiknya kau siap-siap sekarang."
"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap Vivian seraya beranjak dari hadapan suaminya.
__ADS_1
Kemudian keduanya berjalan beriringan meninggalkan ruangan besar itu, sebelum pulang, Vivian berencana untuk mampir sebentar di pusat perbelanjaan. Ada beberapa barang yang hendak dibelinya.
-
Sepasang suami-istri terlihat berjalan beriringan di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Seoul. Mereka adalah Lucas dan Vivian. Lucas sedang menemani Vivian berkeliling pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan.
Saat ini keduanya berada di rak sayur mayur dan buah-buahan segar. Lucas membantu Vivian memilih buah jeruk dan apel serta anggur, meskipun ia suka melon dan semangka, tapi Lucas tidak memasukkan kedua buah itu ke dalam daftar belanjaan karena Vivian tidak menyukainya.
Tapi sepertinya kali ini Vivian yang mengalah untuk Lucas. Buktinya Vivian memasukkan dua buah semangka dan melon ke dalam troli belanja mereka. Dan Lucas hanya tersenyum kecil menyikapinya.
"Apa lagi yang ingin kau beli selain buah dan sayur?"
"Aku belum memikirkannya, mungkin daging kalengan dan beberapa makanan siap saji lainnya." Jawab Vivian. Lucas hanya mengangguk.
Sebenarnya berada di keramaian seperti ini adalah hal yang paling Lucas benci, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mungkin membiarkan Vivian berbelanja sendiri.
"Vivian!!!"
Perhatian mereka teralihkan oleh teriakan seorang perempuan. Sontak Vivian menoleh dan mendapati Bianca tengah melambaikan tangan padanya. Wanita itu tak hanya sendiri, ada sosok lain yang menemaninya.
Bianca menarik pria itu untuk menghampiri Lucas dan Vivian. "Vi, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bagaimana kalau kita pergi berbelanja bersama?!" Usul Bianca sambil memeluk lengan Vivian.
"Mana hutangmu!!!" Alih-alih menjawab Iya, baiklah. Vivian malah mengulurkan tangannya dan menagih hutang pada Bianca. "Kau janji Minggu lalu bukan. Sekarang bayar."
"Yak!! Wanita bar-bar, kenapa kau menagih ku di tempat umum seperti ini!! Dasar sahabat tak punya hati, iya iya aku bayar. Pasti aku bayar, kau tenang saja, aku akan memberikan dua kali lipat padamu tapi bulan depan oke."
Vivian berdecak sebal. Selalu saja seperti ini. Jika bukan Bianca, pasti Vivian sudah menggantungnya hidup-hidup. Sedangkan Lucas dan pria yang datang bersama Bianca hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
"Sudahlah, ayo kita berbelanja saja!!!"
-
Bersambung.
__ADS_1