
Setelah lebih dari satu Minggu tak sadarkan diri. Akhirnya Kakek Xi benar-benar membuka kembali matanya.
Dia sangat terkejut saat jari-jari besar menggenggam tangannya. Dengan sebelah tangan yang bebas, dia mencoba meraba wajah orang yang saat ini menggenggam tangannya.
Gerakan jari-jarinya terhenti pada sebuah bekas luka di pelipis kirinya. Dan bekas luka itu membuat Kakek Xi tau betul siapa yang memegang tangannya saat ini. Karena diantara kedua Cucunya, hanya satu yang memiliki bekas luka seperti itu.
"Lucas, apalah ini dirimu, Nak?" Tanya Kakek Xi memastikan.
Lucas mengangguk, meskipun anggukannya tidak bisa terlihat oleh pria tua itu. Dan kemudian sebuah suara masuk dan berkaur di telinga Kakek Xi, saat orang itu menjawab pertanyaannya.
"Ya, Kakek. Ini aku." Jawab orang itu yang memang Lucas.
Kakek Xi menyeka air matanya. Dia menarik lengan Lucas dan kemudian memeluknya. Dalam pelukan itu tangis Kakek Xi akhirnya pecah, dan membuat Lucas ikut menangis juga.
Berkali-kali Kakek Xi meminta maaf pada Lucas dan mengaku salah padanya. Dia telah menyadari semua yang telah dilakukannya pada cucu bungsunya itu.
Dan Kakek Xi baru sadar, jika Kevin telah lama tiada, dan Lucas lah yang selama ini selalu berusaha menggantikannya hanya untuk menghibur dirinya.
Kakek Xi melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Pria tua itu kembali meraba wajah Lucas sambil mengurai senyum tipis.
"Lu, andaikan saja mata Kakek masih baik-baik saja, pasti Kakek akan menjadi orang pertama yang bangga pada ketampanan mu setelah dewasa."
"Apa yang Kakek bicarakan, aku tidak tampan sama sekali. Bahkan hampir tidak ada yang menyebutku, tampan. Semua orang menganggap jika aku ini cantik."
"Hahaha. Pria cantik namun dingin seperti kutub Utara. Kakek ingat saat masih kecil kau sangat dingin dan tertutup. Apakah sekarang sifat mu masih sama dengan dulu?"
Lucas menggeleng. "Sekarang aku lebih bisa membuka diri untuk orang lain, Kek. Bahkan aku juga memiliki banyak teman dan orang-orang yang dekat serta peduli padaku. Mereka selalu ada di saat aku suka maupun duka, jadi Kakek tidak usah khawatir."
"Lucas, mengenai Kevin~"
Deg...
Lucas tersentak saat mendengar Kakek Xi yang mulai membahas mengenai Kevin. Jika Kakek Xi menanyakannya, lalu bagaimana Lucas harus mengatakannya? Mungkinkah dia harus mengatakan yang sebenarnya jika Kevin telah tiada?
Pria itu menggeleng. Tidak, dia tidak boleh mengambil resiko. Bisa saja kondisi Kakek Xi akan semakin memburuk jika dia tau apa yang sebenarnya terjadi pada saudara kembarnya itu.
"Kakek, mengenai Kevin, dia~"
__ADS_1
"Kakek, sudah mengetahuinya!!" Kakek Xi menyela cepat, dan membuat kedua mata Lucas membelalak saking kagetnya. "Lucas, sejak awal Kakek sudah tau jika Kevin telah tiada. Dan selama ini kau kan yang berpura-pura menjadi dia untuk membuat Kakek tidak khawatir."
"Kakek, aku~"
"Itu bukan salahmu, Nak. Kevin pergi bukan karena dirimu. Tapi karena takdir, Kakek tidak tau seberapa berat beban yang kau pikul selama 10 tahun ini."
"Maafkan Kakek, Lucas. Seharusnya, Kakek, ada bersamamu saat kau melewati masa-masa sulit. Kau adalah satu-satunya keluarga yang, Kakek, miliki. Dan, Kakek, tidak ingin sampai kehilanganmu juga."
"Kakek, sudah kehilangan semua orang yang aku sayangi. Pertama Nenekmu, kemudian orang tuamu dan terakhir Kakakmu. Sudah cukup tiga kali Kakek kehilangan, dan sekarang tidak ingin hal menyakitkan itu terulang kembali."
Lucas terdiam untuk beberapa saat, kemudian dia menatap Kakek Xi dengan pandangan bertanya. "Jika Kakek memang mengetahuinya sejak awal, lalu kenapa tidak memberitahuku? Kenapa Kakek selalu mencari Kevin, jelas-jelas dia telah tiada."
"Karena Kakek tidak ingin memberikan beban padamu. Dan semuanya sudah berlalu, bisakah kita tidak usah mengungkit luka lama? Kita tutup cerita lama dan buka lembaran baru."
Lucas tersenyum, dia memeluk Kakek Xi. Kakek Xi membalas pelukan Lucas, kemudian dia teringat sesuatu. Kakek Xi melepaskan pelukan Lucas.
"Oya, Lu. Ada satu hal yang ingin Kakek sampaikan padamu, dan ini mengenai gadis yang Kevin tinggalkan. Dia adalah gadis yang dulu ingin Kevin nikahi, dan Kakek mengenal gadis itu dengan baik. Bisakah kau menemukannya? Kakek ingin dia menjadi menantu keluarga ini."
"Apa maksud Kakek dia adalah, Vivian?"
Lucas mengangguk. "Ya, aku memang mengenalnya, dan dia adalah perempuan yang aku nikahi dua bulan yang lalu. Tapi maaf, Kakek. Aku tidak bisa membawanya ke rumah ini sekarang? Vivian kehilangan ingatannya, dan dia belum mengingat apa yang terjadi hari itu."
"Kakek, bisa mengerti, Nak. Kau tidak perlu khawatir, apapun keputusanmu, Kakek pasti akan selalu mendukungnya."
"Terimakasih, Kakek." Ucap Lucas tersenyum.
"Sama-sama, Lucas."
-
"VIVIAN VALERIE, KELUAR KAU!! WANITA SOMBONG, JIKA KAU MEMANG MERASA HEBAT, KELUARLAH DAN HADAPI ANAK BUAH KU!! KUMPULKAN SEMUA ORANG-ORANG HEBAT MU, DAN HADAPI ANAK BUAH KU!!"
Teriakan keras itu sampai ke telinga Vivian. Karena orang gila itu teriak menggunakan alat pengeras suara.
Vivian pergi ke balkon untuk melihat apa yang terjadi. Di bawah sana, sedikitnya dua puluh orang mencoba mendesak masuk ke dalam mansion mewahnya.
Wanita itu mendecih, dia tidak tau dari mana Albert mendapatkan alamat rumahnya. Vivian beranjak dari balkon dan pergi keluar untuk menghadapi Albert secara langsung. Ternyata selain kurang ajar, dia juga sangat kekanakan.
__ADS_1
Di luar, beberapa bodyguard sewaannya tengah berusaha untuk menghalau mereka tapi kalah jumlah. Dibelakang Vivian juga tampak si kembar.
"Vivian Valerie, akhirnya kau keluar juga. Lihatlah siapa yang aku bawah. Mereka adalah anggota dari Black Devil, dan malam ini kau akan habis!!"
Dengan santainya Vivian menghampiri mereka. Wanita itu membuka gerbang itu dan sebuah senjata api langsung menempel pada keningnya.
Vivian menarik lengan Albert lalu membanting pria itu ke tanah. Membuat rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibirnya. Tidak hanya membantingnya, tapi Vivian juga menginjak punggung Albert dengan sepatu hak tingginya yang runcing.
"Brengsek, kenapa kalian semua malah diam saja?! Cepat habisi wanita ini!!" Teriak Albert marah.
"Ma..Maaf, Bos. Kami tidak berani, kami tidak ingin mendapatkan masalah dari Bos besar. Karena Nona Vivian adalah istri dari Bos Lucas." Jawab salah seorang dari orang-orang yang Albert bawah.
Sontak saja kedua mata Albert membelalak saking kagetnya. "Apa?!" Istri Kakak sepupu?!" Pekiknya tak percaya.
"Kenapa? Kau terkejut? Kau sudah membuat masalah dengan orang yang salah, Albert Moela. Jika kau tidak ingin mendapatkan masalah, sebaiknya angkat kaki dari sini, atau kau akan menerima akibatnya!!" Ucap Vivian memperingatkan.
Albert yang tidak ingin mendapatkan masalah besar segera membawa anak buahnya meninggalkan kediaman Vivian. Siapa yang menduga jika dia telah mencari masalah dengan orang yang salah.
"Huuu, tadi saja berlagak. Setelah tau siapa suami Bibi Vivian, langsung kabur."
"Dasar pengecut!!"
"Sudah kalian berdua, sebaiknya kalian cepat masuk dan segera tidur. Ini sudah larut malam."
"Baik, Bibi."
Baru saja Vivian hendak melenggang masuk. Sebuah deru suara mobil dan sinar terang dari lampu yang menyilaukan menghentikan langkahnya. Vivian menoleh, matanya berbinar-binar melihat siapa yang datang.
Tampak pria tampan turun dari balik kemudi. Dan kemudian menghampiri Vivian yang berlari menghampirinya. "Ge," tubuh orang itu 'Lucas' terhuyung kebelakang karena ulah Vivian.
"Akhirnya kau pulang juga, aku sangat merindukanmu." Ucap Vivian sambil mengeratkan pelukannya. Wanita itu menutup rapat-rapat kedua matanya.
Lucas menggeleng. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Vivian. "Tidak, kali ini aku tidak akan meninggalkanmu lagi."
-
Bersambung.
__ADS_1