CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Selalu Mempercayaimu


__ADS_3

"Lihatlah dirimu, sudah seperti ini masih berani bicara dengan nada menggelikan seperti itu. Dasar wanita sombong, bagaimana jika aku membantumu pergi ke surga dengan cepat?!" Robert menyeringai.


"Sayangnya tidak semudah itu kau bisa menyentuh istriku?!"


Sontak saja Robert dan Marisa menoleh pada sumber suara. Sudut bibir Marisa tertarik ke atas. Sementara Robert membelalakkan mata saking kagetnya.


"Bo..Bos, Lucas?!"


Robert sangat terkejut dengan kemunculan Lucas di sana. Bagaimana tidak, Lucas menyebut Marisa dengan sebutan 'Istriku' yang artinya dia adalah istri dari pria dihadapannya.


Marisa menyeringai sinis. "Kenapa kau tampak sangat terkejut, Kakak?!" Tanya wanita itu sambil menekan di setiap kalimatnya.


"Bagaimana bisa kalian menjadi suami-istri? Bos, saya harap Anda tidak tertipu dengan wanita ini. Dia bukan wanita baik-baik. Dia tidak sebaik yang Anda kenal selama ini, karena wanita ini menyimpan rahasia dari Anda. Dia bukan Marisa, tapi dia..."


"Vivian?!" Lucas menyela cepat.


"A..Anda sudah tau?!" Robert terkejut. "Kenapa Anda tidak marah, padahal wanita ini sudah membohongi Anda." Ucapnya.


"Membohongi bagaimana? Dia dan aku saling terbuka dan tidak ada yang kami rahasiakan, jadi bagaimana dia bisa membohongiku?"


Robert menggeleng. Dia masih tidak percaya jika Marisa dan Lucas sudah menikah. Pria itu tertawa sinis. Lalu meminta bukti jika mereka memang pasangan suami istri. Kemudian Lucas menunjukkan sepasang cincin yang melingkari jari manis mereka berdua.


Bukan hanya sepasang cincin, tapi juga surat pernikahan yang sengaja dia potret dengan ponselnya. Dan di situ tertulis nama mereka berdua. Surat itu membuktikan jika mereka adalah sepasang suami-istri.


"Bagaimana, apakah masih belum jelas?" Marisa menyeringai.


"Bos, saya masih ada urusan. Kalau begitu saya permisi dulu." Robert pamit pergi, tapi ditahan oleh Kai dan Tao yang sekarang berdiri di pintu dan memblokir jalan bagi Robert.


"Kau tidak bisa pergi tanpa melewati kami." Tao menyeringai.


Tao dan Kai mengangguk saat melihat kode dari Lucas. Keduanya membuat Robert tak sadarkan diri. Agar tidak ada yang curiga. Tao dan Kai mendudukkan dia di kursi roda, lalu mendorong meninggalkan ruang inap Marisa.


Marisa tersenyum lebar. "Kau memang suami yang luar biasa, Lucas Xi. Untung kau datang tepat waktu. Jika tidak, entah apa yang akan dia lakukan padaku."

__ADS_1


"Aku tidak mungkin membiarkanmu terluka dan tersakiti. Aku pasti akan selalu melindungi mu, bahkan jika harus menggunakan nyawaku!!" Lucas membawa Marisa ke dalam pelukannya, dan mendekap wanita itu dengan erat.


Marisa mengangkat wajahnya, menatap Lucas yang juga menatap padanya dengan senyum yang tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Lucas meraih dagu Marisa kemudian mengecup singkat bibirnya.


"Jika lelah dan ingin tidur, tidurlah, aku akan memelukmu seperti ini sepanjang hari."


"Apa kau tidak lelah jika terus memelukku?"


Lucas menggeleng. "Aku tidak peduli meskipun harus merasa lelah. Aku hanya ingin memberikan kehangatan padamu." Jawab Lucas dengan senyum yang sama.


Kali ini Marisa yang mencium Lucas terlebih dulu, dan ciuman itu lebih lama dari ciuman Lucas sebelumnya.


Lucas yang tidak suka didominasi mengambil alih ciuman tersebut. Salah satu tangan Lucas menekan tengkuk Marisa, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang rampingnya.


Ciuman mereka berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut, kedua lengan Marisa kini mengalung pada leher Lucas saat pria itu semakin memperdalam ciumannya. Dan ciuman mereka berakhir, saat Lucas merasakan pukulan Marisa pada dadanya.


"Sudah tidak kuat, eh? Payah!!"


Marisa mempoutkan bibirnya, kesal dengan cibiran Lucas. Lucas terkekeh geli, dengan gemas dia menjitak kepala coklat istri cantiknya ini.


"Aku sangat mencintaimu, Vivian Valerie, dan aku tidak ingin sampai kehilanganmu."


Marisa membalas pelukan Lucas sambil mengurai senyum tipis. "Tenanglah, kau tidak akan pernah kehilanganku. Karena aku hanya milikmu." Jawab Marisa sambil mengeratkan pelukannya.


Lucas menutup matanya. Kedua tangannya memeluk Marisa dengan erat. Dia masih belum bisa merasa tenang karena Marisa masih dalam keadaan hilang ingatan. Mungkin perasaan wanita itu akan berubah menjadi benci setelah ingatannya kembali.


Lucas melepaskan pelukannya. Bibirnya mengurai senyum tipis. "Ya, aku memang tidak akan pernah kehilanganmu. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu."


Tiba-tiba Marisa terkekeh. Dia merasa geli sendiri dengan setiap kalimat yang keluar dari bibir Lucas, menurutnya itu sangat lucu. Bagaimana tidak, pria dingin seperti Lucas ternyata bisa menggombal juga.


"Aku percaya, dan aku akan selalu mempercayaimu." Lucas mengangguk. Dia mengecup kening Marisa dan kembali membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Akhirnya hari ini Marisa diijinkan untuk pulang. Wanita itu dalam keadaan baik, karena luka diperutnya hampir sepenuhnya kering.

__ADS_1


Mereka tidak pulang ke rumah Lucas, tapi ke mansion Marisa sendiri. Wanita itu mengatakan merindukan tempat tinggalnya.


Bukannya ketenangan yang Marisa dapatkan ketika tiba di sana. Justru emosi, bagaimana tidak, si kembar mengadakan pesta bebas dengan mengundang semua teman-temannya. Mansion mewah milik Marisa di sulap menjadi club' malam dadakan oleh mereka berdua.


"MARK, VINCENT!!"


Musik yang awalnya di putar keras, seketika dihentikan setelah mendengar teriakan marah Marisa. Kedua pemuda itu membelalakkan mata, sementara pada tamu yang datang tampak sangat kebingungan.


Sambil menahan emosi dalam dirinya yang berapi-api. Marisa berjalan diantara kerumunan orang yang sedang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Di tangannya menggenggam sebuah tongkat besi.


"Bibi, mau apa?" Tanya Mark was-was. Marisa tidak menjawab dan hanya menatap dia tajam.


Mark dan Vincent mulai berkeringat dingin melihat tatapan Marisa yang seperti penyihir, tajam dan mengerikan. Dan mereka tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini.


"Paman, cepat lakukan sesuatu? Semua bisa hancur jika Bibi Marisa sampai marah." Ucap Vincent panik.


"Paman, jangan diam saja. Ayo lakukan sesuatu. Kami mohon," ucap Mark memohon.


"Kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kalian lakukan ini. Sebagai pria, kalian jangan menjadi pengecut dan pecundang yang tidak tau apa artinya sebuah tanggung jawab!!"


Bukannya membela. Lucas malah memberi ceramah pada mereka berdua. Karena menurutnya apa yang Marisa lakukan adalah hal yang benar. Karena tidak mungkin ada api jika tidak ada bara.


"Kalian berdua sangat keterlaluan?! Jadi ini yang kalian lakukan selama Bibi tidak ada?! Kalian pikir ini dimana? Jangan samakan disini dengan negara yang kalian tinggali dulu!!"


Dengan brutal Marisa menghancurkan alat DJ yang mereka sewa, botol-botol minuman keras dengan berbagai jenis dan merk ternama. Yang tentu saja tidak sedikit harganya.


"BIBI, JANGAN!!" keduanya berteriak histeris.


"Apa yang kalian lihat?! Bubar, rumah ini bukan diskotik ataupun club' malam yang bisa kalian pakai untuk bersenang-senang. Dan aku tidak suka jika rumahku di jadikan tempat percintaan bebas seperti ini!!"


Orang-orang pun berhamburan keluar. Mereka sangat ketakutan melihat kebrutalan Marisa. Mereka masih menyayangi nyawa mereka, dan tidak ingin berakhir sia-sia ditangan wanita itu yang sedang hilang akal.


"Dan untuk kalian berdua, Bibi pasti akan membuat perhitungan dengan kalian setelah ini!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2