CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Kau Tidak Akan Kehilanganku


__ADS_3

Marisa menghampiri Lucas sambil membawa dua gelas orange jus di tangannya, yang satunya kemudian dia berikan pada pria itu. Marisa memicingkan matanya melihat Lucas yang hari ini lebih banyak diam.


Marisa tau jika Lucas adalah tipe pria memang tidak banyak bicara, tapi tidak sampai separah ini. Marisa tidak tau apa yang sebenarnya pria itu pikirkan saat ini.


"Kau baik-baik saja, aku perhatikan hari ini kau lebih banyak diam dan melamun. Apa kau ada masalah?" Tanya Marisa memastikan.


Lucas menggeleng. "Aku tidak apa-apa, hanya saja ada hal yang sangat aku takutkan." Jawab pria itu sambil mengunci sepasang manik mata milik Marisa.


Wanita itu menatap Lucas penasaran. "Apa?"


"Kehilanganmu!!" Marisa terdiam.


Wanita itu membisu, satu kata penuh dengan makna yang Lucas katakan membuat setetes kristal bening mengalir dari sudut matanya. Marisa menangis. Marisa sangat terharu, apa sebesar itu arti hadirnya bagi Lucas?


Marisa meletakkan orange jusnya kemudian berhambur ke dalam pelukan Lucas. "Kau tidak akan kehilanganku, Lu. Tidak akan pernah." Bisik Marisa sambil mengeratkan pelukannya.


Lucas menutup matanya. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Marisa. "Aku harap juga begitu. Tapi jika suatu saat nanti kau meninggalkanku, aku akan tetap menunggumu hingga akhirnya kau kembali lagi padaku."


"Apa yang kau bicarakan? Kau membuatku ingin menangis." Suara Marisa semakin serak. Wanita itu mulai berlinangan air mata.


"Dasar cengeng." Lucas melepaskan pelukan Marisa. Jari-jari besarnya kemudian menghapus jejak air mata di pipi Marisa. Bibirnya mengurai senyum tipis. "Lihatlah betapa jeleknya dirimu saat menangis." Cibir Nathan sambil terkekeh.


"Ck, dasar menyebalkan!!"


Sekali lagi Lucas mengurai senyum tipis. Dengan gemas Lucas menjitak kepala coklat Marisa sebelum akhirnya membawa bibir wanita itu dalam sebuah ciuman panjang yang memabukkan.


Sebelah tangan Lucas berada di tengkuk Marisa, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang wanita itu. Menariknya lebih dekat hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.


Tubuh Marisa memberikan respon yang luar biasa terhadap segala macam sentuhan Lucas pada bibir dan sekitar wajahnya, posisi mereka tidak lagi duduk, mereka berbaring dengan Lucas berada di atas tubuh Marisa.


Tangan Lucas beralih untuk menggenggam jari-jari lentik Marisa, menggenggamnya dengan erat dan bibir mereka saling bergulat panas.


"Aaahhh..."

__ADS_1


Des*han dan erangan panjang keluar dari sela-sela bibir Marisa, saat Lucas menurunkan ciumannya menuju leher jenjangnya.


Kemudian Lucas mengangkat tubuh Marisa dan membawanya ke kamar. Lucas menurunkan tubuh Marisa dan membaringkan nya dengan hati-hati, tanpa melepaskan tautan bibirnya.


Bibir Lucas terus menginvasi bibir Marisa dan mel*mat nya seperti tadi. Sebelah tangan Lucas meremas pay*dar* Marisa dan sesekali memainkan ujung put*ng nya. Marisa kembali mend*sah. Dan des*han kali ini lebih panjang.


"Lucas, ahhh.. Jangan berhenti!! Iya, iya disitu, disitu... Aaahh, ini sangat nikmat, ahhh.."


"Kau menikmatinya, hm?" Lucas menyeringai. Kemudian pria itu bangkit dari posisinya, jari-jarinya menarik keluar tank top putih yang melekat di tubuh kekarnya. Lucas bert*lanj*ng dada.


Marisa bangkit dari posisinya. Kemudian dia membanting Lucas dan balik menindih pria itu. Jari-jari lentiknya dengan lihai melepas celana panjang yang masih menggantung di pinggul Lucas.


Mata Marisa bergerak liar melihat sosis berurat milik Lucas yang terpampang jelas di depan matanya. Marisa menundukkan kepalanya, tanpa ragu sedikit pun dia mulai meng*lum sosis berurat itu dan membuat Lucas mendesah kenikmatan.


Sebelah tangan Lucas menekan kepala Marisa, supaya wanita itu lebih memperdalam kul*man pada sosis berurat nya.


"Marisa, cukup!!" Lucas menarik lengan Marisa. Pria itu kembali menindihnya.


Dan Lucas tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Pria itu menempatkan ujung sosis berurat nya di bibir Miss Marisa. Lalu mendorongnya perlahan. Sebelum akhirnya sosis berurat itu masuk sepenuhnya ke dalam Miss Marisa yang telah mengeluarkan cairan kental sejak Lucas pertama kali mencumbunya.


"YAKK!! BOCAH, MINGGIR DAN BIARKAN KAMI MASUK!!"


Adela tidak bisa menahan emosinya karena ulah si kembar. Mark dan Vincent melarang mereka untuk masuk ke dalam. Ibu dan anak itu baru saja pulang dari luar negeri.


"Apa Bibi buta dan tidak bisa melihat tulisan sebesar itu. Lihat dan baca baik-baik, orang gila dilarang masuk!!" Mark menunjuk tulisan besar di depan pintu.


Sontak saja kedua mata Adela dan Andien membelalak saking kagetnya. "YAKK!! BOCAH SETAN, JADI MAKSUDMU KAMI BERDUA INI ORANG GILA?!" bentak Adela di depan muka Vincent dan Mark.


"Bibi, ludah mu yang bau naga itu muncrat kemana-mana. Berapa lama kau tidak menggosok gigimu?! Mulutmu bau!!" Vincent menutup hidungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya.


Adela dan Andien benar-benar terkena mental menghadapi mereka berdua. Rasanya mereka ingin menggantung Mark dan Vincent hidup-hidup.


Adela memutar otaknya, dia berpikir keras supaya bisa masuk ke dalam. Kemudian Adela dan Andien saling bertukar pandang dan memberi kode. Setelah menghitung satu sampai 3 dengan isyarat tangan, mereka berdua melayangkan serangannya.

__ADS_1


"Ada cicak!!" Teriak Andien sambil melemparkan cicak mainan ke kaki dan pakaian si kembar.


Untung ia sudah menyiapkan cicak mainan itu untuk menghadapi mereka berdua, karena Andien dan Adela sudah hapal betul dengan tabiat kedua bocah itu.


Mark dan Vincent melompat sambil berteriak histeris, dan hal itu Adela dan Andien untuk masuk ke dalam. Keduanya tertawa terbahak-bahak, mereka merasa menang karena bisa mengerjai biang kerok.


"### KALIAN BERDUA, TUNGGU PEMBALASAN KAMI!!!"


Marisa meringis saat merasakan nyeri pada paha dalamnya. Ia dan Lucas baru saja menghentikan kegiatan panasnya sekitar 20 menit yang lalu. Marisa akui jika Lucas memang sangat gila ketika di atas ranjang. Tapi anehnya Marisa malah menyukainya.


Sudut bibir Marisa tertarik ke atas ketika melihat keberadaan Lucas di ruang keluarga. Pria itu sedang telponan dengan seseorang tapi Marisa tidak tau siapa itu.


Rencananya Marisa ingin memberikan sedikit kejutan pada Lucas dengan memeluknya dari belakang. Tapi gerakan tangannya terhenti saat dia mendengar satu nama yang terucap dari bibir pria itu.


"Sekarang aku masih sibuk. Minggu depan baru bisa pulang. Bilang pada Kakek supaya dia bersabar, karena Kevin pasti pulang."


Tiba-tiba Marisa merasakan jika kepalanya seperti dihantam batu besar setelah mendengar satu nama yang di sebutkan oleh Lucas, 'Kevin'. Nama itu terdengar tidak asing.


"Kevin.."


"Kevin.."


"Kevin.."


Nama itu, kenapa terdengar sangat familiar. Tapi kenapa Marisa tidak ingat kapan dia pernah mendengar nama itu? Kapan dan dimana? Marisa benar-benar tidak bisa mengingatnya.


"Aaahh."


Sontak Lucas menoleh setelah mendengar rintihan Marisa. Matanya membelalak melihat Marisa yang tampak kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Marisa!!" Seru Lucas segera menghampiri wanita itu. "Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja? Duduklah dulu, aku ambilkan minum untukmu." Lucas beranjak dari hadapan Marisa.


Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum yang kemudian dia berikan pada wanita itu. Dan setelah wanita itu merasa lebih baik. Kemudian Kevin membawanya ke kamar, dan meminta Marisa untuk istirahat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2