CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Pernikahan Dadakan


__ADS_3

Jari-jari lentiknya meremas sprei yang ada di bawahnya saat merasakan tusukan Lucas yang semakin dalam dengan tempo cepat. Tubuh Marisa terhentak-hentak, jari-jarinya meremas sprei semakin erat.


Diatasnya Lucas sedang memanjakan dirinya. Menggiring Marisa menuju lembah kenikmatan yang tiada duanya. Bibirnya kembali pada bibir Marisa dan mel*matnya seperti tadi.


"Aahh... Lucas, jangan berhenti.. Aaahh, semakin dalam lagi.."


Lucas menyeringai. "Kau menikmatinya, Sayang? Ayo, Vivian, keluarkan semuanya dan jangan ada yang ditahan." Bisik Lucas sebelum membawa bibir Marisa ke dalam ciuman panjang lagi seperti tadi.


Dan setelah lebih dari 1 jam. Akhirnya mereka mencapai puncaknya. Untuk yang kesekian kalinya, Lucas menumpahkan cairannya di dalam rahim Marisa. Pria itu mencium singkat bibir ranum Marisa yang sudah sedikit membengkak, kemudian bangkit dari atas tubuhnya.


"Kau sangat luar biasa, Sayang. Kau selalu membuatku puas." Ucap Lucas lalu mengecup kening Marisa. "Mandilah dulu, setelah ini kita makan siang sama-sama. Aku akan memesannya dari luar saja."


Marisa mengangguk. "Baiklah."


.


Usai makan siang. Lucas dan Marisa menghabiskan waktunya untuk bersantai di kamar hotel.


Mereka tidak berniat keluar, cuaca hari ini sangat tidak bersahabat, diluar cukup terik. Itulah kenapa mereka memilih berdiam diri di kamar saja.


Marisa memeriksa luka di kening, tulang pipi dan bawah mata kiri Lucas. Jujur saja Marisa sangat penasaran dengan seberapa parah luka yang pria itu dapatkan di wajahnya. Ada juga luka lain di lengan atas dan bahu kirinya.


"Astaga, jadi lukanya separah ini?! Lu, kenapa lukanya bisa sampai seperti ini?" Tanya Marisa penasaran.


"Ini karena hantaman batu, itulah kenapa lukanya lumayan lebar dan kulitnya mengelupas."


"Memangnya siapa yang melakukannya? Beri tahu aku, biar aku sunat Pisang Rajanya sampai sebatas telor, supaya dia tidak bisa berulah lagi!!"


Lucas mendengus geli. Jika sudah marah, Marisa memang sangat mengerikan. Dia akan mengomel terus, dan itu bisa sampai berjam-jam jika tidak dihentikan.


"Tidak perlu, aku sudah memberinya pelajaran. Lupakan kejadian hari ini. Dan masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi, oke."

__ADS_1


Marisa menggeleng. Dia tidak setuju dengan Lucas, bagaimana bisa pria itu mengatakan supaya dia melupakan apa yang dialami olehnya? Marisa tidak mungkin tinggal diam, dia pasti akan mencari dan menemukan orang itu.


"Tidak bisa!! Dia sudah membuatmu jadi seperti ini. Dia harus mendapatkan hukuman dariku!! Diam dan jangan ikut campur. Berani sekali dia membuat suamiku jadi seperti ini!!"


"Bahkan kita belum menikah, bagaimana bisa kau menyebut aku sebagai suamimu?!"


"Aku tidak amnesia, kalau begitu cepat nikahi aku supaya kita bisa jadi suami-istri!!"


"Kau ingin menikah denganku?" Marisa mengangguk. "Sekembalinya kita dari sini, aku akan langsung menikahi mu. Kau ingin pernikahan yang seperti apa? Pernikahan mewah yang dihadiri ribuan tamu undangan atau..."


"Sederhana saja!!" Marisa menjawab cepat.


"Kau yakin?"


Marisa mengangguk. "Percuma kita menggelar pesta yang meriah, sementara tidak ada keluarga besar yang turut hadir. Jadi lebih baik pernikahan sederhana tapi tetap sakral. Menurutku itu lebih baik."


Lucas terdiam selama beberapa saat. Tiba-tiba pria itu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Marisa begitu saja. Dia ingin bertanya tapi Lucas sudah lebih dulu menghilang dibalik pintu.


Marisa membaringkan tubuhnya pada sofa. Baru saja Marisa hendak menutup matanya, tapi suara pintu dibuka dari luar membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk tidur sejenak.


Terlihat Lucas menghampirinya sambil membawa sebuah paper bag yang kemudian dia berikan pada wanita itu. Marisa mengangkat wajahnya dan menatap Lucas penasaran.


"Apa ini?"


"Segera ganti pakaianmu dengan gaun ini. Aku akan menikahi mu saat ini juga!!"


Sontak saja kedua mata Marisa membelalak saking kagetnya. Apa dia tidak salah dengar, Lucas akan menikahinya detik ini juga? "APA?! SAAT INI JUGA?!" Lucas mengangguk. "Kau serius? Lu, ini bukan permainan dan pernikahan adalah hal yang sakral."


"Bukan hanya serius, tapi seribu kali rius. Aku akan menikahi mu saat ini juga. Untuk itu segera ganti pakaianmu dengan gaun ini, aku juga akan bersiap-siap."


Marisa membawa paper bag itu ke kamar mandi. Rasanya dia masih sulit untuk percaya jika Lucas akan menikahinya saat ini juga. Sungguh, hal ini seperti sebuah lelucon anak-anak.

__ADS_1


Selang beberapa saat Marisa kembali dengan balutan gaun pemberian Lucas. Gaun itu memang tidak terlalu mewah tapi terlihat sangat cantik dan elegan, membuat aura kecantikan Marisa semakin terpancar.


"Lucas, menurutmu bagaimana? Aku cantik tidak?"


Lucas mengangkat dagu Marisa kemudian mengecup singkat bibir ranum tipisnya. "Kau adalah pengantin tercantik yang pernah ada. Dan aku sangat beruntung karena bisa menjadi mempelai pria mu!!" Ucap Lucas sambil mengurai senyum tipis.


Marisa tersenyum lebar. Jawaban Lucas membuat hatinya berbunga. Wanita itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Lucas, dan balik menciumnya. Namun ciuman Marisa lebih singkat dari ciuman Lucas.


"Kita sudah hampir terlambat, ayo." Lucas mengulurkan tangannya pada Marisa yang kemudian diterima olehnya.


Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar hotel tempat mereka menginap. Marisa merasakan jantungnya berdebar hebat, ada dua perasaan yang dia rasakan saat ini. Antara bahagia dan sedih.


Entah apa yang membuat Marisa merasa sedih, mungkinkah karena pernikahannya tidak dihadiri oleh orang tuanya? Atau karena hal lain yang terpendam jauh dihatinya, entahlah, Marisa juga tidak memahaminya.


Prosesi pernikahan mereka berjalan sangat lancar, apalagi jika ada uang yang berbicara. Ya demi menikahi Marisa hari ini, tentu tidak sedikit uang yang Lucas keluarkan, tapi tentu saja itu bukan masalah baginya. Karena uang bukanlah segala-galanya bagi Lucas.


Saat ini pasangan yang telah resmi menjadi suami-istri itu tengah mengambil foto. Karena tidak ada prewedding, mengingat jika pernikahan mereka dilakukan secara mendadak.


"Astaga, Lu. Kenapa semua hasil fotomu seperti ini? Apa kau benar-benar tidak bisa tersenyum di depan kamera? Sekalinya ada malah terlihat mengerikan!!"


Marisa memprotes semua foto yang ia ambil bersama Lucas, dari semua foto yang telah mereka ambil, tidak ada satupun foto Lucas yang tersenyum. Dan sekalinya tersenyum malah terlihat mengerikan.


"Kau tau sendiri bukan jika aku paling anti dengan yang namanya kamera, salahmu juga kenapa malah memaksaku berfoto. Apa perlu kita set ulang? Aku akan mencoba untuk tersenyum kali ini."


Marisa menggeleng. "Tidak perlu!! Nanti hasilnya juga akan sama saja!! Kita simpan beberapa dan satu saja yang kita pajang di kamar. Yang ini sepertinya tidak buruk."


Bukan salah Lucas juga, jika hasil fotonya tidak seperti yang Marisa harapkan. Karena Lucas bukanlah tipe pria yang hobi apalagi suka bergaya di depan kamera.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2