
"Kakek rasa pemuda itu bukan Kevin, Vi. Tapi Lucas, karena sejak kecil Kevin tidak bisa berenang. Karena seingat Kakek, hanya Lucas yang pernah melompat ke dalam danau itu untuk menyelamatkan gadis kecil yang nyaris tenggelam."
Kata-kata Kakek Xi masih terus terngiang di telinga Vivian. Wanita itu tidak bisa melupakan apa yang disampaikan oleh sang kakek mengenai siapa pemuda yang menolongnya 20 tahun yang lalu. Ternyata pemuda itu bukan Kevin, melainkan Lucas.
Kenapa Vivian bisa berpikir pemuda itu adalah Kevin, karena dia memiliki saputangan miliknya, saputangan yang Vivian pakai untuk membalut luka di lengan kiri pemuda penolongnya tersebut.
Pantas saja Kevin tidak tau menahu mengenai insiden yang membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Dan Vivian menganggap jika Kevin sudah lupa dengan kejadian itu, karena kejadiannya memang sudah sangat lama sekali.
"Kau sudah kembali?" Tegur seseorang dari arah belakang.
Sontak Vivian menoleh dan mendapati Lucas berjalan menghampirinya. Wanita itu langsung berdiri dan berlari menghampiri Lucas lalu menerjang tubuh suaminya. Membuat Lucas terkejut juga kebingungan dengan sikap istrinya ini.
"Ada apa?" Tanya Lucas sambil membalas pelukan Vivian.
"Bagaimana bisa aku salah mengira dan berpikir jika yang menolongku saat itu adalah Kevin. Betapa bodohnya diriku, karena tidak bisa mengenali pria penolong ku." Ujar Vivian sambil mengeratkan pelukannya.
"Apa yang kau katakan, Vi?" Ucap Lucas kebingungan.
Vivian melepaskan pelukan Lucas, kemudian dia mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sedari tadi telah ia simpan di dalam saku dress-nya, lalu menunjukkannya pada pria di depannya ini. "Apa kau masih mengingat sapu tangan ini, Ge?"
"Sapu tangan ini? Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Lucas kebingungan.
"Kevin, aku mengambilnya dari dia. Karena sapu tangan ini memang milikku. Pada saat itu, aku memberikan sapu tangan ini pada seorang pemuda yang telah menyelamatkanku ketika aku nyaris saja tenggelam. Lengannya terluka ketika dia menolongku, lalu aku mengikat lukanya itu dengan sapu tangan ini."
"Saat aku melihat Kevin memilikinya, aku pikir dia adalah pemuda itu. Tapi hari ini kebenaran itu terungkap, saat Kakek memberitahuku jika yang menolongku hari itu bukan Kevin, tapi kau. Karena Kevin tidak pernah bisa berenang. Apakah aku benar?" Vivian mengunci manik kanan Lucas yang juga menatap padanya.
Alih-alih menjawab, Lucas malah mencium bibir Vivian. Dan dengan senang hati, Vivian menyambut dan membalas ciuman suaminya.
__ADS_1
Ciuman Lucas yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Sebelah tangan Lucas menekan tengkuk Vivian, dan sebelah tangan lagi memeluk pinggang rampingnya dengan posesif. Lucas terus mel*mat bibir Vivian, atas dan bawah bergantian.
Tau apa yang diinginkan suaminya. Vivian membuka mulutnya dan mempersilahkan lidah Lucas untuk masuk ke dalam. Lucas mulai mengobrak-abrik mulut Vivian, menyapu dinding-dinding rongga mulutnya dan mengabsen satu persatu gigi putihnya.
Vivian mencoba membalas ciuman suaminya sebisa mungkin, karena ciuman itu sepenuhnya di kuasai oleh Lucas.
Mereka saling menggerakkan kepala, dan sesekali saling bertukar Saliva. Dan ciuman mereka baru berakhir ketika Lucas merasakan pukulan pada dadanya.
"Kau tau, aku selalu memperhatikan mu sejak hari itu. Melihatmu dari kejauhan, bahkan ketika kau bersama Kevin. Aku ingin sekali memberitahumu, jika pemuda yang menolong mu adalah aku. Tapi melihatmu bahagia bersama Kevin, jadi aku pikir tidak ada gunanya lagi mengungkapkan kebenaran itu."
Vivian menghapus air matanya. "Dasar bodoh, bagaimana bisa kau membiarkan aku terus berpikir jika orang itu adalah Kevin. Dan mungkin saja orang yang bersamaku saat itu adalah kau, bukan dia." Tutur Vivian.
"Untuk apa disesali lagi, bukankah sekarang orang yang bersamamu adalah aku." Ucap Lucas sambil mengunci sepasang biner mata Hazel Vivian.
Vivian memukul dada Lucas kemudian berhambur ke dalam pelukan suaminya ini. Entah Vivian harus merasa sedih atau bahagia. Perasaannya membuncah, dan yang dia inginkan saat ini hanya menangis keras dalam pelukan suaminya.
Tapi Vivian tidak mungkin melakukannya. Harga dirinya sebagai CEO bisa ternodai, jika ada orang lain yang melihatnya menangis."Bersiaplah, kita akan pulang siang ini." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
-
Adela dan Andien meninggalkan pusat perbelanjaan. Sambil menenteng banyak belanjaan ditangan masing-masing. Andien baru saja mendapatkan banyak sekali uang dari Sugar Daddy nya, sedangkan Adela mendapatkan uang dari pria yang berhasil ditipunya.
Ibu dan anak itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan banyak uang. Mereka tidak tahan jika harus hidup menderita setelah di depak dari rumah dan perusahaan oleh Vivian.
"Ma, bagaimana kalau malam ini kita bermalam di hotel bintang 5? Sudah lama kita tidak memanjakan diri dengan kemewahan."
"Ide yang bagus, Ndien. Mama setuju, lagipula uang kita tidak akan habis untuk sekedar membeli kamar hotel satu malam." Ucap Adela yang kemudian di balas anggukan oleh Andien.
__ADS_1
Ckitt...
Langkah mereka berdua harus terhenti karena sebuah mobil mewah yang menghadang keduanya. Seorang wanita keluar dari mobil tersebut, diikuti dua pria yang sepertinya adalah bodyguard nya.
Wanita itu menghampiri Andien dan langsung menamparnya dengan keras. Dan apa yang wanita itu lakukan langsung menyita perhatian banyak pasang mata yang ada di sana. Orang-orang seketika berkumpul untuk melihat apa yang terjadi.
Adela yang tidak terima putrinya di tampar oleh wanita asing itu berniat untuk membalas tamparannya, tapi segera dihentikan oleh salah satu dari dua pria bertubuh kekar itu.
"Sebaiknya kau tidak ikut campur, karena urusanku bukan denganmu, tapi dengan anakmu ini. Karena dia, rumah tanggaku berada di ujung tanduk, dan aku ingin agar dia mempertanggung jawabkan perbuatannya!!'
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Tanyakan saja pada putrimu yang tidak tau malu itu!!! Segera seret wanita ini ke dalam mobil, ikat tubuhnya dan gunting habis rambutnya!!"
"Baik, Nyonya!!!"
"Jangan bawa putriku. Lepaskan Andien, lepaskan putriku!!" Adela mencoba menghalangi mereka agar tidak membawa Andien pergi.
"Arrrkkhh!! Dasar wanita menyebalkan!!"
Pria itu mendorong tubuh Adela hingga tersungkur di jalan yang padat kendaraan. Dan diwaktu yang bersamaan, sebuah truk melaju kencang ke arah Adela. Melihat hal itu membuat mata Andien membelalak, begitu pula Adela.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah tragedi bagi Andien dan Adela. Tubuh Adela terhantam bagian depan mobil dan terhempas sejauh 5 meter, sebelum akhirnya terlindas truk lain yang sedang melintas dengan kecepatan tinggi.
Adela pun meninggal di tempat, sedangkan Andien langsung jatuh pingsan melihat sang Ibu meninggal dengan cara mengenaskan. Orang-orang langsung berkumpul di lokasi kejadian. Sementara mobil sedan hitam itu sudah melaju pergi, meninggalkan Andien yang terkapar tak sadarkan diri.
Hari ini adalah mimpi buruk bagi Andien. Karena dia harus kehilangan Adela dengan cara yang sangar mengenaskan.
__ADS_1
-
Bersambung.