
Key langsung beranjak dari duduk nya, agar dokter bisa memeriksa Radit.Doketr langsung mendekat ke arah Radit, key dan Daniel memperhatikan apa yang dokter lakukan.
"Sudah berapa lama pak Rafit dalam keadaan seperti ini?"
"Saya tidak tau dokter, Karena saya baru tiba di kantor, Dan saat itu kondisinya sudah seperti ini dok." jawab key.
"Sebaiknya tuan Radit segera kita bawa ke rumah sakit, dia seperti nya habis kehujanan"
"kehujanan dokter?"
"Iya, banyak air dibawah jas nya pak Radit ."
Dan benar saja ,banyak air yang mungkin dapat dipastikan dari tetesan jas nya Radit, dan key memang ingat kemarin Radit menggunakan jas itu saat kerumah nya.
"Kamu begitu lebih baik, kita seger bawa pak Radit kerumah sakit, karena memang setau saya pak Radit itu paling tidak bisa kehujanan, sejak kecil dia rentan kalau terkena air hujan."
Key masih berdiam ditempatnya, dalam hati apa separah itu hanya Karana kehujanan, apa pak Radit itu punya penyakit, key terus bicara dengan dirinya mencari jawaban untuk rasa penasarannya.
"Tapi bagaimana cara kita membawa pak Radit sampai ke bawah dokter, kita sama sekali tidak membawa kursi roda, apalagi kondisinya seperti ini." Ucap Daniel.
"Dokter, mas Daniel maaf sebelumnya, bagaimana kalau dokter memberikan infus disini saja? saya rasa itu cara terbaik."
"Bagaimana dokter?"
"Ya sudah, tapi lebih baik baju nya diganti terlebih dahulu."
Daniel menatap ke arah key, dengan maksud meminta membantu menggantikan baju Radit.
"Kenapa mas Daniel menatap saya, enggak saya enggak mau " Ucap key sebelum disuruh.
"Jadi saya?"
"Tentu saja, mas Daniel kan asisten pribadi nya pak Radit, jadi cepat ganti bajunya supaya bisa segera di obati."
Daniel terlihat tidak rela, karena memang selama bersama Radit dia belum pernah sampai harus mengganti bajunya, karena Radit selalu bisa menjaga dirinya.
key keluar agar Daniel bisa mengganti baju Radit, dan dokter bisa segera memasang infus ditangan Radit, dan key mengambil telpon di atas meja Radit menghubungi, office girl ,dia yakin kalau meraka sudah datang karena sudah jam 07.00 pagi.
Key meminta untuk membawakan pel, dia ingin membersihkan kamar Radit yang masih basah oleh air yang menetes dari bajunya, Dan pastinya baju itu sudah hampir kering karena sudah dari kemarin sore Radit kehujanan.
Tak berpa lama yang dipanggil pun tiba diruangan Radit.
"Maaf Buk, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak apa-apa mbak biar saya saja."
"Tapi buk."
"Sudah tidak Maslah, kamu boleh lanjutkan pekerjaan yang lain."
"Baik buk, saya permisi."
Dan tak berpa lama office girl itu pergi ,Daniel dan dokter pun keluar dari kamar pribadi Radit.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya?"
"Ya dia masih belum membuka matanya, tapi jangan khawatir saya sudah menyuntikkan obat di infusnya." jawab dokter.
"Terimakasih dokter!"
"Iya sama-sama, sepertinya kamu sekretaris yang cukup cekatan."
Key hanya tersenyum ,dan mengangguk tanda terimakasih ke arah dokter tersebut.Dan setelah dokter pergi, Daniel terlihat mengeluarkan handphone nya.
Daniel bicara dengan seseorang, dan bertanya tentang kapan Radit datang ke kantor.
"Mas Daniel menelpon siapa?"
"Satpam kantor ini, kenapa bisa mereka tidak tau kalau pak Radit sakit."
"Tentu saja bisa, tugas dia kan menjaga kantor bukan menjaga bos."
Daniel mengalihkan pandangannya, menatap ke arah key, yang memberikan jawaban ngasal, tapi ada benar nya juga dalam hati Daniel, dan ternyata satpam yang berjaga kemarin sore sudah ganti shift.
Tapi key yakin kalau Radit belum pulang kerumah sejak dari rumah nya, karena jas yang bergantung dikamar pribadi Radit adakah yang digunakan pas dia kehujanan.
Daniel berjalan keluar dari kamarnya Radit, dan sebelum pergi dia berpesan pada key untuk menjaga Radit.
"Key, tolong tungguin pak Radit sampai sadar ya!"
"Kenapa harus key?"
"Kan kamu sekretaris nya."
"Sudah jangan bawel, dia itu bis kamu."
"Emang nya tugas sekretaris menjaga bos yang sakit apa?"
Namun bukannya mendengar protes dari Key, Daniel malah pergi meninggalkan key dikamar Radit dan pergi ke bawah.
Key sedikit kesal, dia dari rumah sudah berencana untuk menghindar dari Radit, dan hanya fokus pada pekerjaan nya saja, tapi kenapa malah lelaki itu jatuh sakit.
"Dasar Cemen , kehujanan dikit malah demam, ngalah-ngalahin bayi aja." Ucapa key pad tadi yang masih terpejam.
Karena melihat kondisi Radit yang lemah, dan belum juga membuka mata ,key juga jadi iba, karena Radit sepeti ini Karena dirinya.
Tapi Key malah seperti tersadar, dia tidak mau disalahkan untuk itu, bukannya dia tidak meminta Radit kehujanan. dia malah menyuruhnya pulang sebelum hujan.
Key dengan sedikit kesal tetap duduk disamping ranjangnya Radit, menatap pria dihadapannya, mungkin lebih tepat pria yang dicintainya.
Key mencoba menyentuh dahinya Radit, dan ternyata masih belum turun juga demam nya, key pun memutuskan untuk mengompres nya.
Dengan sabar key menunggui Radit padahal hari sudah menunjukkan jam makan siang, dia belum juga pergi karena dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Radit yang belum membuka matanya.
Mungkin itu pengaruh obat yang disuntikkan oleh dokter, tapi sudah sangat lama Radit tertidur, dan Daniel pun belum juga kembali.
Key mengambil kursi diruangan kerja Radit, agar di bisa duduk dengan nyaman, Dan bisa Menganti kompres di dahi Radit.
__ADS_1
Dan tak berapa lama Radit pun menggerakkan tubuhnya ,dan membuka matanya, Key menarik.kursinya lebih dekat.
"Pak Radit, bapak sudah sadar?"
"hmm" suara Radit begitu lemas, bahkan matanya belum terbuka sempurna.
"Alhamdulillah pak, Akhirnya bapak sadar." Key memindahkan kain yang digunakan untuk mengompres kepala Radit.
"Kamu disini key?"
"iya pak."
Dan Radit terlihat sedikit kesakitan ,ketika menggerakkan tangannya yang sebelah kiri, akibat di pasang infus.
"Apa yang terjadi ,Dan siapa yang pasangkan infus ditangan saya?"
"Tadi dokter pribadi bapak datang kesini, Mas Daniel yang memanggil nya."
"Sekarang dimana Daniel?"
"Saya juga tidak tau, lebih baik bapak istirahat dulu, saya akan pesan kan bubur untuk bapak."
"Tidak usah, terimakasih."
"Enggak apa-apa pak, apa bapak ingin minum?"
Radit menganggukkan sedikit kepalanya, key langsung bangun dan mengambilkan air putih untuk Radit, dan membantunya untuk minum, karena kondisi Radit masih begitu lemas.
Terpaksa key, membantunya untuk bersandar ditempat tidur.
"Bapak sudah tau tidak bisa kehujanan, kenapa malah berdiri ditengah hujan deras?"
"saya tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, tapi sampai menggigil begini, Dan kenapa tidak pulang kerumah saja."
"Saya masih banyak pekerjaan, dan pekerjaan itu tertunda karena sesuatu hal." jawab Radit.
"Karena bapak ahrus kerumah saya ,dan membuang-buang waktu disana."
"Sudah lah tidak perlu dibahas Maslah itu, terimakasih sekali lagi kamu sudah Kembali ke kantor."
"Saya minta maaf karena ke keegoisan saya bapak sampai sakit begini."
"Saya yang harus minta maaf, karena telah berbuat kasar sama kamu key."
"Sudah lah pak, walau apapun yang terjadi ,memang seharusnya saya tetap profesional kan."
" Tapi saya tetap salah, saya telah berlaku kurang ajar sama kamu."
Sudah lah pak lebih baik istirahat saja."
Key, mencoba memaksakan senyumnya, walupun memang rasa kecewa itu ada, dan pada saat key ingin bangun dan keluar dari ruangan Radit, Radit menahan tangan key.
__ADS_1
Dan pada saat yang bersamaan, Daniel pun datang, melihat adegan dihadapannya, membuat Daniel bertanya-tanya ada paa dengan mereka berdua.