CEO Pujaan Hatiku

CEO Pujaan Hatiku
Khawatir


__ADS_3

Radit, keluar untuk menemui dokter, dan membicarakan kepulangan key kerumah, dan setelah beberapa saat dokter dan Radit datang ke ruang rawat key.


Dokter langsung memeriksa Key , dan memastikan kondisinya sudah stabil, Dan akhirnya key diperbolehkan untuk pulang sore itu.


Karena kedua orang tua key belum datang, maka Radit lah yang mengantarkan key pulang.


"Key, kamu pakai kursi roda saja!" pinta Radit.


"Tidak perlu pak, saya bisa jalan saja."


"Key, jangan membantah, kondisi kamu masih belum benar-benar membaik."


"Tapi!"


Belum selesai key melanjutkan kata-katanya, suster sudah datang dan membawakan kursi roda untuk key.Dan key dengan cemberut akhirnya duduk di kursi roda.


"Sudah jangan cemberut begitu, ini demi kebaikan kamu." ucap Radit.


Key Hanya diam, sebenarnya key bahagia diberikan perhatian oleh Radit, dan andai bisa key ingin terus seperti ini, namun itu hal yang tidak mungkin bisa terjadi.


Key menahan rasa sesak di dada nya karena tak sanggup rasanya, untuk membayangkan kalau Radit hanya akan menjadi bayang-bayang untuk hidupnya dan semua perhatian itu hanya sesaat, dan akan sirna seiring waktu.


Radit mendorong kursi roda menuju parkiran, dan menuju mobilnya, membantu key masuk kedalam mobil, mereka bertiga pun masuk ke mobil untuk pulang kerumah key.


Key Hanya diam saja, dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil, memejamkan matanya, bukan karena dia ngantuk, tapi karena ada rasa beban dihatinya saat itu.


"Kamu kenapa key, apa ad yang sakit?" tanya Radit khawatir.


Key membuka matanya, dan menatap Radit, dalam hati dia sedikit kesal kenapa juga Radit harus sok perhatian dengan dirinya.


Dan Radit tiba-tiba saja menyentuh kepala key, Rita yang melihat itu hanya diam, namun didalam hati, Rita merasa apa yang dilakukan Radit itu sebenarnya tidak pantas , malah membuat key terlalu berharap.


Namun lain hal nya dengan key, dia terdiam, jantungnya berdegup kencang, menatap ke arah Radit, namun laki-laki disampingnya itu tetap santai menyetir, bahkan Radit tak menatap ke arah dirinya.


Radit menurunkan tangannya dari kepala key, dan menatap gadis yang saat ini mengisi hatinya, Bahkan Radit merasakan ketenangan saat berada disamping key.


Radit tersenyum getir, mengingat hubungan nya dengan key. yang mungkin hanya bisa saling menyimpan perasaan, agar tak ada perasaan atau hati orang lain yang tersakiti.


Mobil Radit terus melaju dengan kecepatan sedang, dan akhirnya mobil itu berbelok masuk ke pekarangan rumah key.


Radit langsung turun dan membukakan pintu untuk key dan membantunya turun, Radit berniat memapah gadis pujaan hatinya, namun key menolak, dengan alasan bisa sendiri.


Dan Rita yang saat itu juga berada disana langsung membantu key masuk, Dan bik Minah terlihat membukakan pintu dan membantu key untuk masuk.


"Alhamdulillah non sudah pulang kerumah."


"Iya bik, terimakasih ya bik." ucap key dengan tulus.


Key duduk disofa ruang tamu begitu juga dengan Radit dan juga Rita.

__ADS_1


"Mami sama papi dimana bik?" tanya key.


"Nyonya sama tuan, ada acara non, mungkin pulangnya agak malam."


"Key, kalau begitu gue nginap Disni aja, biar loe ada yang temani."


"Terimakasih ya Ta, loe emang sahabat gue yang terbaik."


Bik Siti terlihat datang lagi keruang tamu dengan membawa nampan berisi tiga gelas oranye juicy.


"Silahkan diminum duku den Radit, non Rita."


"Terimakasih bik." jawab Rita.


Bibik juga memberikan key segelas oranye juicy, yang tidak dingin.Karena key baru keluar dari rumah sakit.


Setalah menghabiskan minuman nya, Radit pun pamit pulang, karena memang sudah jam enam sore.


"Saya pulang dulu ya key, besok saya akan kesini lagi untuk melihat kondisi kamu."


"Terimakasih pak, dan pak Radit tidak usah repot, nanti biar dokter yang mengecek kondisi saya " jawab key.


"Apa dokter Kevin yang akan mengecek kondisi kamu?" tanya Radit


Radit terlihat cemburu saat menyebut nama Kevin, dan key pun bingung kenapa Kevin yang dibawa-bawa namanya.


"Kok jadi mas Kevin seh pak?" tanya key heran.


Dan Radit keluar dari rumah key, tanpa mendengar alasan atau penjelasan apapun lagi dari key. Key masih saja bingung dengan sikap Radit saat itu.


"Key!" panggil Rita.


Key mengalihkan pandangannya, ke arah sahabatnya saat itu.


"Seperti nya ada yang sedang terbakar." ucapa Rita sambil tersenyum.


"Terbakar? apanya Ta?" Tanya key belum paham


"Hati key."


"Apaan seh Ta, enggak ngerti gue, loe ngomong apa."


"ish, loe Key".


" Habisnya, gue emang enggak ngerti loe ngomong apa seh Ta."


"Ya udah deh key, malas gue bahas nya."


Key Hanya geleng-geleng kepalanya, melihat sahabatnya kesal dengan dirinya, namun key hanya tersenyum.

__ADS_1


Rita pun berjalan ke dapur ,meninggalkan key sendirian diruang tamu, Rita kedapur untuk melihat bibik yang sedang memasak untuk makan malam.


Key yang ditinggal sendirian pun berjalan menuju tangga untuk ke lantai dua rumahnya, key ingin istirahat, menenangkan dirinya yang sebenarnya masih trauma dengan kejadian malam tadi.


Tapi yang tidak key habis pikir, key tak berniat untuk menghubungi Radit, namun kenapa nomor Radit yang malah ditelpon oleh nya.


Kenapa takdir seakan tak ingin memisahkan mereka berdua , Namun tak juga takfir memberi jalan untuk mereka bersatu.


Key menarik nafas berat, ada perih yang dirasakan dihatinya , namun tak dapat key menghindari perasaan nya saat itu.


key menyandarkan kepalanya, mencoba memejamkan mata, untuk menghilangkan rasa yang tak dapat dia gambarkan saat ini.


Lain halnya dengan Radit, yang saat itu ingin pulang kerumah, namun Radit berniat untuk singgah dan makan malam terlebih dahulu di restoran yang tak jauh dari rumah nya Aliya saat itu.


Radit memarkirkan mobilnya dan masuk ke restoran, mengambil tempat yang agak sepi, Radit langsung memesan makan malam untuk nya.


Dan sambil menunggu makanan datang Radit mengambil Handphone nya dan memeriksa pekerjaannya hari ini. Namun tanpa sengaja Radit melihat sosok yang mirip dengan Aliya.


Radit mencoba memperjelas apa yang dia lihat, dan benar saja saat itu ada Aliya di restauran yang sama dengannya.


Saat itu Aliya sedang bersama seorang pria, namun Radit tak ingin ambil pusing, dengan siapa Aliya akan pergi.


Namun lama kelamaan, Radit seakan penasaran siapa pria yang bersama Aliya saat itu, Radit akhirnya, memberikan isyarat kepada waiters untuk mengantar makan malam nya ke meja yang berada dibelakang Aliya saat itu.


Dan posisi Aliya berada tepatnya dibelakang Radit , Namun Aliya tidak menyadari kehadiran Radit disana, dia sedang asyik menikmati makanannya.


"Aliya!"panggil pria dihadapan Aliya yang tidak Radit kenal siapa.


"Hmmm." jawab Aliya.


"bagaimana hubungan kamu dengan tunangan kamu?" tanya pria tersebut.


"Ya begitulah mas, aku saat ini bingung dengan hubungan ku dan juga mas Radit."


"Kok bisa begitu Al?"


"Ya karena sejujurnya, aku tidak pernah mencintai mas Radit, kami dijodohkan." jawab Aliya.


Dan pernyataan Aliya itu, sontak membuat Radit kaget, dia tak menyangka kalau Aliya ternyata memiliki rasa yang sama dengannya, sama-sama terpaksa untuk dijodohkan.


"Lalu kenapa kamu memaksakan diri untuk bertunangan Al?"


"Karena, aku dan keluarga butuh mas Radit untuk menopang perusahaan kami, dan aku juga butuh mas Radit untuk memberikan ku modal dalam usaha ku saat ini." jawab Aliya.


"Tapi Al, Aku juga bisa melakukan hal itu, walupun mungkin aku tak sekaya Radit, yang jelas kita saling mencintai."


"Aku paham mas, tapi aku tidak Berani mengatakan apapun kepada mama." jawab Aliya.


Dari nada suaranya, Radit bisa mendengar kalau Aliya sedang menahan kesedihannya, sebenarnya Radit bahagia mendengar kenyataan itu, tapi dia juga kecewa dengan Aliya yang ternyata hanya menggunakannya untuk memenuhi materi dalam hidupnya.

__ADS_1


Namun tidak mungkin saat itu Radit, bicara pada Aliya, dia meninggalkan uang diatas meja dan pergi dari sana, Bahkan Radit tak jadi melanjutkan makan malam nya.


Namun Radit tidak tau bagaimana kelanjutan pertunangannya dan Aliya setelah malam ini.


__ADS_2