
"Key, lebih baik kita pulang ya!" kakak key bicara sambil memeluk tubuh adiknya.
Namun key terlihat enggan meninggalkan pemakaman kedua orang tuanya , key masih setia duduk di bawah rintiknya hujan.
Sesekali Isak tangisnya masih terdengar, Radit yang melihat kondisi key saat itu tak kuasa menahan kesedihannya , key yang selalu ceria namun hari ini senyum itu seakan sirna Di wajahnya.
" Key, ikhlaskan mami dan Papi pergi jangan seperti ini karena mereka pasti akan sedih." ucap kakak key.
"Tapi key, masih belum siap mas. Key tidak bisa berpisah dengan mami dan rapi secara bersamaan."
"Mas tau, tapi ini sudah jalan takdir key, lebih baik kita pulang, dan mempersiapkan untuk acara tahlilan malam pertama papi dan mami."
Namun key masih memeluk nisan kedua orang tuanya, belum sanggup rasanya key beranjak dari sana.
"Key, apa yang dikatakan kakak kamu ada benarnya, sekarang kita pulang ya!" Radit mendekat ke arah key.
Namun key hanya terlihat menatap lurus kedepan, separuh jiwanya seakan telah pergi menjauh yang key rasakan saat itu hanya hampa dan kosong.
Mama Radit ikut mendekat , dia merangkul tubuh key, yang masih duduk di tanah pemakaman yang mulai basah oleh rintik hujan.
"Key, kita pulang ya! key jangan sedih masih ada Tante, Radit , buk Minah dan juga kakak kamu."
Key menatap ke arah mama nya Radit, dan memeluk nya dengan erat, key kembali terisak dalam dekapan mama dari Radit.
Sampai akhirnya key pun bersedia untuk di ajak pulang, namun mama Radit terus memeluk key saat itu, dia paham bagaimana rasanya kehilangan, pasti sangat sedih, apalagi kehilangan dua orang sekaligus ,pasti benar-benar membuat key terluka.
Sesampai di kediaman key ,ternyata rumah key masih dipenuhi oleh pelayat dan juga tetangga-tetangga yang sedang membantu mempersiapkan acara tahlilan malam pertama yang akan digelar malam nanti.
Key berjalan perlahan, menatap ke sekeliling rumahnya, tubuh key terasa bergetar sendi-sendi nya kembali terasa melemah, dan key kembali jatuh pingsan.
Radit langsung dengan sigap, menangkap tubuh key ,dan membawanya ke kamar. seperti nya key memang belum bisa menerima semuanya.
Semua persiapan untuk tahlilan pun sudah selesai, key yang sudah sadar masih duduk termenung di kamarnya, pipinya masih terus dibasahi oleh air mata.
__ADS_1
memeluk foto papi dan mami nya, kakak key yang saat itu sudah berada dipintu kamar, hanya bisa menatap iba kepada adiknya
Dia juga terluka dan sedih, tapi dia tau pasti key jauh lebih terluka, karena selama ini key lah yang terus menemani hari-hari kedua orang tua nya.
"Key, kita kedepan ya! sudah banyak tamu yang datang."
key hanya menganggukkan kepalanya,tatapannya kosong, Radit yang melihat key sudah berada diruang tamu pun tak kuasa rasanya , melihat gadis yang dicintainya, seakan kehilangan semangat hidup.
Acara tahlilan pun digelar, begitu banyak orang yang datang untuk mendo'akan orang tua key, dari berbagai kalangan. dan malam itu Rita yang juga baru saja datang dari luar kota langsung memeluk key.
"Key, kamu yang sabar ya!" ucap Rita.
Namun tak ada jawaban yang didapat kan hanya tatapan kosong, dan air mata yang membasahi pipi sahabatnya itu.
Rita benar-benar sedih melihat kondisi key, tapi mungkin kalau itu menimpa dirinya, dia tidak akan mampu menghadapi ini semua.
Acara malam itu berjalan lancar, satu persatu para tamu mulai meninggalkan rumah duka, key masih duduk bersandar ditempatnya, menatap lurus kedepan.
"Key, jangan seperti ini, mami pasti sedih key!" ucap Rita.
Rita tak kuasa melihat keadaan key saat ini, bahkan Radit saat itu terlihat belum pulang, mencoba bicara sama key, namun tak ada jawaban sama sekali.
Akhirnya Radit dan mama juga ikut pulang, karena sudah sangat larut, malam ini hanya tinggal Rita, bik Minah, kakaknya key dan key dirumah itu.
Suasana begitu sepi dan hening, tak ada canda tawa lagi dirumah itu, Rita dan bik Minah, membantu key untuk ke kamar, namun key meminta bik Minah untuk mengantar kan dirinya ke kamar orang tuanya .
Key duduk disudut tempat tidur, menatap semua isi ruangan tersebut, key menata sebuah foto keluarga mereka yang lengkap, key berjalan mendekat , dan mengambil foto tersebut yang diletakkan tidak jauh dari tempat tidur.
Setelah mengambil foto itu, key memeluknya begitu erat, dia seakan sedang memeluk kedua orang tuanya .
"Mi, Pi Kenapa mami dan Papi meninggalkan key sendirian? Apa mami sedang marah sama key mi? apa papi juga marah?"
Bik Minah, yang masih berdiri tidak jauh dari tempat key duduk saat ini, tak lagi kuasa menahan air mata, bik Minah ikut meneteskan air mata, begitu juga Rita.
__ADS_1
Dia tidak sanggup melihat sahabatnya yang begitu terluka hatinya, kehilangan orang yang dicintai ,bahkan secara bersamaan.
"Pi, key janji akan menggantikan papi dikantor, papi bisa istirahat dirumah." key kembali bicara pada bingkai foto Papi dan mami nya.
Dan sampai akhirnya, key kembali menangis ,dia terlihat begitu rapuh, key tidak kuat kehilangan orang tuanya, andai saja waktu bisa berputar, namun itu tidak mungkin .
Dan sampai saat ini key belum tau apa penyebab dari kecelakaan yang menimpa papi dan mami nya, dia bahkan tidak tahu di mana kecelakaan itu terjadi.
Malam itu semua larut dalam perasaan masing-masing, bik Siti dan Rita pun meninggalkan key dikamar maminya, yang terlihat tertidur.
Sepertinya key tertidur karena terlalu lama menangis, Dan tengah malam key yang sedang terlelap pun terbangun, key melihat dimana dirinya.
"Kenapa aku tidur dikamar mami?" key bertanya pada dirinya sendiri.
Sesaat, seakan key lupa dengan apa yang terjadi, key menatap bingkai foto yang masih ada di pelukannya, dan dirinya yang masih mengenakan jilbab.
Saat itu key seakan mengingat apa yang dilewatinya seharian ini, namun didalam lubuk hatinya, key masih berharap kalau itu hanya mimpi belaka.
Key keluar meninggalkan kamar orang tuanya, dia berjalan keluar, melihat suasana begitu sunyi, Namun hati key saat itu masih menepis kenyataan kalau apa yang terjadi itu tidak nyata .
Key berjalan ke ruangan depan, membuka pintu utama dan menatap keluar , ternyata dia tidak bermimpi, masih berdiri tenda yang begitu luas diluar sana. key yang saat itu berpegangan di pintu depan pun merosot ke lantai.
air mata pun tak lagi dapat dibendung nya, bik Minah yang mendengar suara berisik dari luar pun langsung terbangun.
Bik Minah ingin melihat apa yang terjadi, dia pun berjalan kedepan, dan melihat key yang sedang terduduk di pintu utama rumah nya.
Bik Minah berlari ke arah key, dan memeluk putri dari majikannya saat itu.
"Ya Allah non key, non jangan seperti ini, istighfar non, kasihan bapak sama ibu." ucap bik Minah.
Dan terdengar suara key pelan mulai beristighfar, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri, mencoba menerima semua kenyataan pahit ini.
Tapi akankah key mampu melewati ini semua, ketika orang tuanya pergi secara tiba-tiba dan bersamaan?
__ADS_1