
Key melepaskan genggaman tangan Radit di pergelangan tangannya, dia tak ingin Daniel salah paham dengan dirinya.
"Mas Daniel dari mana, kenapa lama sekali?"
"Saya ada sedikit keperluan."
"Kalau begitu saya kebawah dulu, mas Daniel gantian ya jaga pak Radit."
"Kamu mau kemana?"
"Sebentar saja."
Key pergi meninggalkan Daniel dan Radit.
"Apa ada yang penting?"
"Tidak pak, Apa saya harus mengubungi mama nya bos?"
"Tidak perlu, saya baik-baik saja."
"Bos baik-baik saja, atau bos lebih senang dirawat oleh key?"
"Apa maksud kamu?" pertanyaan Radit sedikit menyelidik."
"Bos, apa bos tidak sadar kalau dari pagi key itu merawat bos, menunggui sampai bos sadar."
Dan Daniel terdiam sesaat.
"Apa jangan-jangan key belum makan siang?"
"Mungkin sekarng dia pergi untuk makan siang."
"Mungkin bos."
Namun yang sedang disebut-sebut namanya pun sudah datang, dengan membawa sebuah mangkuk yang berisi bubur untuk Raditya.
"Cepat sekali kamu makan key?" ucap Daniel.
"Saya cuma ambil bubur untuk pak radit, tadi saya sudah pesan kan."
"lebih baik kamu makan siang dulu key!"
"Tidak apa-apa pak, lebih baik bapak yang makan dulu, biar bisa minum obat." Key duduk dikursi yang tadi digunakannya untuk menunggu Radit sadar.
Key sebenarnya juga lapar, dia belum sarapan dan juga makan siang, tapi key juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Radit, coba kemarin dia tidak keras kepala pasti ini tidak terjadi.
"Saya tidak apa-apa, biara Daniel saja yang menemani saya, lebih baik kamu makan dulu."
"Tidak apa-apa pak, ini bapak makan dulu."
Radit sebenarnya masih sangat lemah, tapi dia juga tidak ingin merepotkan key."
"Biar saya saja yang menyuapi pak Rafit, kamu makan dulu key."
"Enggak apa-apa mas Daniel "
Dan secara bersamaan handphone Daniel pun berbunyi, dan ternyata klien yang menelpon, karena seharusnya ada pertemuan hari ini ,dan Daniel terpaksa menggantikan Radit
"Key, saya harus pergi, untuk. bertemu klien, Saya titip pak Radit ya."
"Iya mas." Kali ini Key tidak menolak.
Key mengambil kembali mangkuk yang sudah diletakkan diatas meja kecil disamping Radit, dan menyuapi Radit.Dan baru dua siap Radit sudah berhenti makan buburnya.
"Kenapa berhenti pak?"
"Saya sudah kenyang."
"Lebih baik bapak habiskan ,supaya cepat sehat."
"Sudah key."
__ADS_1
"Apa bapak ingin kamu buah, biar saya pesan kan?"
"tidak usah repot."
Key pun meletakkan mangkuk buburnya, dan mengambilkan obat untuk Radit.
"Key, apa boleh saya lepas infusnya, saya sudah sehat."
"sudah biarakan saja, nanti kalau bapak memang betul-betul sudah sehat, baru dilepas."
"Tolong ambilkan handphone saya."
Key mengambilkan handphone milik Radit yang berada dimeja, memberikan handphone nya dan kembali duduk di kursi disamping Radit.
key begitu lapar, tapi dia tidak berani meninggalkan Radit, karena masih terlihat lemah, key akhirnya mengambil segelas air putih dan menghabiskan nya.
Tak berpa lama ada Suara pintu ruangan diketuk, key langsung bangun untuk melihat siapa yang datang, dia berharap Daniel sudah Kembali.
Namun begitu membuka pintu, tidak ada Daniel disana, namun office girl kantor mereka yang datang
"Bu Key, ini ada pesanan untuk pak Radit."
"pak Radit?"
"iya Bu."
"Terimakasih ya!"
"iya Bu."
key membawa bungkusan yang tadi di antar ke ruangan Radit.
"Kamu bawa apa?" tanya Radit
"Ini tadi ,katanya titipan untuk bapak."
Radit yakin itu pesanannya yang barusan dipesan untuk key ,karena belum makan siang."
key membuka plastik yang barusan dibawanya dan berisi makanan dan juga buah-buahan.
"Tidak apa-apa pak."
"Itu saya pesankan untuk kamu, Bukannya kamu suka nasi goreng seafood kan?"
Key diam, ternyata dari sifat dingin pria dihadapannya, dia masih memiliki hati dan perasaan.
"Makan lah dulu, saya tidak ingin disalahkan jika kamu juga ikut sakit."
Key mengambil kotak nasi goreng dan mulai memakannya perlahan, namun dia sedikit risih karena terus diperhatikan oleh Raditya.
"Pak kenapa terus melihat saya, apa pak radit tidak ikhlas saya makan nasi goreng nya?"
"Tentu saja bukan itu, Key saya bingung dengan kamu."
"Memangnya kenapa pak?"
"Kamu tau, telinga saya sampai sakit gara-gara mendengar panggilan kamu."
"Memangnya ada yang salah dengan panggilan saya?"
"Tentu saja, banyak sekali, coba kamu pikirkan sendiri, kamu panggil Daniel dengan sebutan apa?"
"Mas Daniel."
"Memanggil saya?"
"Pak Radit."
"Apa saya terlihat sangat-sangat jauh lebih tua dari Daniel?"
Key terdiam, dia bahkan seakan begitu serius menanggapi pembicaraan Radit.
__ADS_1
"Ya kalau menurut saya , iya begitulah."
"Apa? kamu tau ,Daniel dengan saya itu lahir di tahun yang sama, Kenapa kamu bisa bilang kalau saya lebih tua dari Daniel."
"Ya ,itu menurut pandangan saya pak."
"Kamu begitu besok kamu harus periksa mata."
"Untuk apa? Mata saya baik-baik saja."
Radit, nampak kesal dengan key, namun key tetap pura-pura tidak tau, menghabiskan nasi gorengnya dengan santai, Dan tak perduli dengan tatapan Radit yang saat itu bisa menekan dirinya.
Setelah selesai makan, key keluar dari ruangan Radit untuk ke kamar mandi dan membuang sampah bekas tempat nasi goreng tadi.Namun itu tak lama key langsung kembali karena dia tau Radit pasti masih butuh bantuan dari dirinya.
"Pak Radit kenapa, apa ada yang sakit?"
"Iya ada."
Key nampak serius, dia jadi khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Radit saat itu, key mendekat dan memeriksa suhu tubuh Radit.
"Panasnya sudah turun."
"Iya ,tapi yang sakit ini." Radit menunjuk ke arah dadanya.
Key sedikit bingung, dan berpikir apakah dia harus memanggil Daniel.
"Pak radit sakit jantung?"
Karena sangat kesal, Radit menarik tangan key dan otomatis key yang sedang berdiri disamping Radit, langsung saja jatuh ke pangkuan lelaki itu, dan sesat keduanya saling menatap, jarak mereka yang tak sampai sejengkal itu ,membuat jantung key tak karuan.
Namun keduanya seakan larut dalam pikiran masing-masing, Radit saat itu juga hanyut oleh wajah cantik dihadapannya, Selama ini Radit seakan tak ingin mengakui kalau key itu jauh-jauh lebih cantik dari Aliya.
Radit seakan hilang kesadaran, tangannya perlahan mengelus pipi key, namun suasana itu tak berlangsung lama, semua buyar karena dering handphone Radit.
Key pun seakan tersadar dari hipnotis cinta pria tampan dihadapannya. Dia langsung bangun dari pangkuan Radit, dan dia baru teringat kalau Radit itu sedang sakit.
Dan Radit yang melihat layar handphone nya dan ternyata Daniel yang menelpon, mengabari kalau meeting hari ini berjalan dengan lancar.
Dan key saat itu, karena sedikit grogi ingin pergi dari ruangan Radit namun langsung ditahan oleh nya dengan alasan perut nya sakit.
"Kamu mau kemana?"
"Saya ingin keruangan saya pak, sebentar lagi sudah waktunya pulang kan."
"Jadi kamu mau pulang?"
"Iya pak."
"Kamu lupa saya bos kamu?"
"Enggak pak."
"Jadi kenapa kamu mau pulang, saya aja menginap disini."
"Kalau begitu pak Radit, harus pulang kerumah, disini tidak ada yang mengurus nya, dan saya juga tidak mungkin kan menginap disini."
"Bagaimana cara saya pulang, kamu tidak lihat ,infus ini masih bergantung."
"Nanti biar mas Daniel yang antar bapak."
" Saya mau kamu yang mengurus saya."
"Kenapa harus saya?"
"Kamu lupa kenapa saya sampai seperti ini, dan kamu baru saja terjatuh di atas tubuh saya, Perut saya menjadi sakit."
"Itu bukan kesalahan saya."
"Apa kamu tega ninggalin saya sendirian?"
"Saya akan tunggu sampai mas Daniel datang."
__ADS_1
Sepertinya, Radit memang tidak bisa membujuk key, dan entah kenapa Radit merasa nyaman bersama gadis itu, padahal baru beberapa hari yang lalu dia menolak pernyataan cinta dan menyakiti hati Kayra.
Apa saat ini dia sedang menjilat ludahnya sendiri?