
Hari mulai gelap, Daniel belum juga kembali, key mulai gelisah, dia bingung kalau di pulang bagaimana dengan Radit, siapa yang akan mengurus nya.
Dan yang key heran kenapa Radit tidak menelpon mama nya atau Aliya saja untuk bisa mengurus nya.
Key mondar-mandir, di dalam ruangan Radit, dia ingin cepat pulang, tidak ingin mami nya khawatir.
Key berjalan dan masuk ke kamar pribadi Radit lagi, Namun dia melihat Radit memejamkan matanya, mungkin karena dia masih pusing, key beranggapan begitu.
Key berjalan dan duduk , di kursi disamping tempat tidur, dia mencoba menghubungi Daniel namun belum juga di angkat nya, Key mengirim pesan kepada maminya kalau dia kan terlambat pulang dari kantor.
Sebetulnya key, ingin meminta bantuan mami untuk memberitahu kalau pak Rafit sakit kepada mama nya Radit, supaya mama nya bisa datang ke kantor.
Akan tetap Aliya khawatir kalau nanti malah mama pak radit khawatir, Key menyandarkan tubuhnya dengan kasar, dia kesal dalam kondisi seperti ini.
Radit membuka matanya, dan menatap ke arah key, Dan gadis itu bisa melihat kalau key sedang gelisah, ternyata key tak seperti yang Radit pikirkan, gadis itu Bernai menyatakan cintanya bukan karen dia Gadi yang murahan.
Mungkin kalau gadis lain yang menginginkan dirinya, dia tentu akan memanfaatkan kondisi mereka yang Hanya berdua saja ,namun lain hal nya dengan key, dia malah gelisah.
"Kamu kenapa?"
"Mas Daniel kenapa lama sekali ya pak?"
"Emang nya ada apa?"
"Saya ingin pulang, ini sudah malam, bagaimana pak Radit kalau saya pulang."
"Ya sudah tidak apa-apa, kamu pulang saja."
"Tapi pak, apa saya menghubungi mama bapak saja, atau Aliya?"
"Tidak usah Key, nanti biar Daniel yang kesini."
"Kalau gitu saya tunggu pak Daniel saja, Atau bapak ingin saya antar pulang saja kerumah?"
"tidak usah key."
"Dari pada naik disini, lebih baik saya antar pulang saja, Tapi apa bapak sudah mendingan?"
"Ya saya sudah baik-baik saja, Apa kamu bisa lepaskan infus ini?"
"Tapi ini sedikit sakit,pak Radit tahan ya!"
Radit menganggukkan kepalanya, dan key pun perlahan mencabut infus ditangan Radit, Key bisa melakukannya dengan baik, karena dulu saat sekolah menengah atas, key pernah mengikuti banyak kegiatan palang merah remaja, bahkan sampai sat ini dia suka dengan kegiatan seperti itu.
Setelah membereskan botol infus , key pun duduk disamping Radit, dia masih kekeh mau menunggu Daniel.
Sampai akhirnya, Radit lah yang tidak tega dengan key, dia memutuskan untuk pulang saja, namun karena memang kondisinya masih belum stabil ,dia meminta bantuan key untuk menelpon security untuk membantunya.
"pak Radit saya saja yang bantu pak Radit, saya juga ingin turun."
"Tapi key, apa kamu sanggup?"
"saya kan tidak perlu menggendong pak Radit kita menggunakan lift kan?"
"Tapi key!"
__ADS_1
"Pak Radit tunggu dulu disini ,saya mau ambil tas dulu."
Key pergi keruang nya yang bersebelahan dengan ruangan Radit, untuk mengambil tas nya dan kembali lagi keruangan Radit."
"Ayo pak Radit saya bantu."
Key membantu Radit untuk berdiri, dan saat itu memang Radit sedikit lebih baik, dia sudah bisa berdiri walupun masih sedikit lemas.
Perlahan key mencoba memapah Radit yang tubuhnya jauh lebih besar dari Key, Dan akhirnya sampai di lift, key menyandarkan tubuhnya ke dinding lift, supaya Radit lebih mudah berdiri.
Tak berapa lama pintu lift pun terbuka, key dan Radit berjalan menuju parkiran mobil, dan didepan ternyata ada security yang melihat dan langsung membantu key memapah Radit.
"Pak Radit, saya ambil mobil dulu, pak Rafit biar saya antar saja kerumah."
"Tidak usah key, saya pulang sendiri saja."
"Jangan pak, nampaknya pak Rafit masih lemas, biar saya saj ayang antar."
Key berlari kecil, menuju mobil nya dan mobil itu diberhentikan di lobi untuk menjemput Radit.
Key tidak turun lagi karena pintu mobil nya sudah dibukakan oleh security kantor Radit. Radit masuk disamping key, dan dia langsung menyandarkan tubuhnya kebelakang , dan memejamkan matanya.
"Pak." panggil key.
"Hmm.". jawab Radit tanpa membuka matanya.
"Saya tidak tahu rumah bapak, tolong bapak berikan alamat nya."
Radit pun menyebutkan alamat rumah nya, dengan lengkap, agar key bisa mengantarkan nya pulang.
Dan mobil key pun dipersilahkan masuk kedalam, key memarkirkan mobilnya dihalam rumah begitu saja, Karen kalau harus ke parkiran, Radit harus jauh berjalan.
Key turun lebih dulu Dan membukakan pintu mobil sebelah kiri, sambil membantu Radit untuk keluar dari mobil.
Key membantu Radit untuk duduk diteras rumah nya, key menekan bel rumah Radit, Bahakan Samapi berulang kali baru ada yang membukakan pintu.
Dan dari pintu nongol seorang wanita paruh baya, Key langsung memperlihatkan senyum nya.
"Assalamualaikum buk!" Ucapa key.
"Waalaikum salam." jawab nya.
"Bu, saya mengantar pak Radit pulang, kondisinya dengan tidak sehat, apa mama nya pak Rafit ada?" tanya key ramah."
"Ada non, sebentar saya panggil kan, o iya, non jangan panggil saya ibu, panggil bibik aj."
"Iya bik."
Key berjalan kesmping Radit yang terlihat menyenderkan kepalanya, key bisa melihat kalau Radit masih belum sehat.
"Dari pintu muncul seorang wanita yang mungkin berusia lima puluhan, dan key langsung menemui nya.
Namun belum sempat key bicara, perempuan itu langsung sumringah dan memeluk key yang berdiri didepan pintunya.
"Sayang, kamu rupanya yang datang."
__ADS_1
"Iya Tante, saya mengantarkan pak Radit Tante."
Mama pak Rafit mengalihkan pandangan nya ke arah kursi diteras, dan benar saja anak nya sedang bersandar.
"Sayang kamu bantu Tante ya, kita bawa Radit masuk."
"Iya Tante."
Key langsung saja membantu Radit berdiri dan memapahnya untuk masuk kedalam ,Radit terlihat memegang kepalanya, key membantu Radit untuk sementara tiduran di sofa ruang tamu.
"Key ada paa dengan Radit?"
"Tadi pagi saat key ke kantor pak Rafit sedang menggigil dan demam." jawab key.
mama Radit duduk disamping sofa yang saat itu digunakan Radit berbaring dan menyentuh dahi putra nya.
"Radit, kamu ini kan sudah dewasa Bukannya anak kecil lagi, kalau demam itu pulang kerumah jangan malah ke kantor."
"Ma, Radit itu dengan sakit kenapa malah di marahi ma."
"Kamu itu memang tidak pernah berubah, bagaimana kalau tidak ada key yang datang, entah apa yang akan terjadi dengan kamu."
"Kalau begitu mama harus berterima kasih dengan key, dari pagi dia mengurusi Radit, bahkan sampai lupa makan siang ma."
"ya Ampun sayang ,maaf kan Radit ya ,kamu sampai dibuat menahan lapar."
Key hanya tersenyum melihat drama kelurga itu, dan memang mama Radit adalah orang yang ramah dan baik.
"Tidak apa-apa Tante, key sudah makan kok, tadi pak Radit memesankan banyak makanan untuk key."
"Iya sayang, tapi kamu harus makan tidak tepat waktu."
"Kalau mama mau berterimakasih dengan key, mama ajak lah key makan malam, dia juga belum makan."
Key sedikit kaget dengan jawaban asal radit , kemang dia belum makan malam, tapi dia juga tak ingin Samapi harus makan disana.
"Paa benar begitu sayang?"
"Enggak apa-apa Tante, key memang belum lapar, Key juga mau izin pulang ya Tante."
"Sudah kamu makan dulu baru pulang."
"Tidak usah Tan."
"Jangan begitu, kamu tau key, sejak papa nya Rafit meninggal, ya Radit yang selalu menemani Tante."
Key tersenyum, ke arah mama Radit, pantas saja key tidak melihat sosok pria lain disana, ternyata papa Radit telah meninggal dunia.
"Dan malam ini Radit pasti tidak bisa menemani Tante, jadi kamu yang temani Tante makan."
"Tapi Tan."
Belum sempat key membantah, mama Radit sudah menarik pelan tangan key kemeja makan, Dan key tak dapat lagi menolak, karena nabati bisa di kira tidak sopan.
Entah kenapa disaat key mencoba menjauh dari Radit, ada saja hal yang membuatnya harus bertahan disamping pria itu
__ADS_1