
"Mas kenapa?"
Dan sontak pertanyaan Aliya membuyarkan tatapan Radit saat itu.
"Ada apa?" tanya Radit.
"Kok mas balik nanya, tadi aku nanya, mas kenapa ?"
"Tidak ada apa-apa." jawab Radit tenang.
"Tapi aku perhatikan mas melihat ke arah key terus dari tadi, ada apa?"
"Melihat key, tentu saja tidak itu hanya perasan kamu saja." jawab Radit menutupi semuanya.
"Mas jangan bohong sama aku."
"Sudah lah Aliya, kamu jangan berpikir macam-macam."
Dan Aliya diam, tak melanjutkan pertanyaan nya, dia tak ingin Radit menjadi marah.
Aliya sangat tau kalau dirinya dan Radit dijodohkan oleh kedua orang tua mereka namun Aliya tak pernah sadar kalau Radit tak pernah mencintai dirinya.
Radit setuju dijodohkan dengan Aliya hanya karena mamanya ,dia tak ingin menyakiti dan mengecewakan hati orang tuanya.
Padahal diamnya Radit akan menyakiti banyak hati, Namun Radit saat itu hanya berpikir untuk menjaga satu hati saja yaitu mamanya, bahkan dia sampai lupa menjaga hatinya sendiri.
setelah acara makan bersama itu selesai, mereka pun memutuskan untuk pulang, Kevin dan key berjalan menuju mobilnya yang ternyata juga berdampingan dengan mobil Radit.
Sepetinya takdir memang terus saja mempertemukan mereka berdua, baik secara sengaja atau pun tidak.
Key Yeng kenal betul dengan mobil disampingnya itu pun hanya menarik nafas pelan, key berpikir kalau memang mereka tidak bisa bersama kenapa merek terus dipertemukan.
Bahkan saat itu dia dan Radit berdiri berdampingan, pada saat Radit akan masuk kedalam mobilnya, dan key ingin masuk ke mobil kevin.
Radit dan key kembali saling bertatapan, netra hitam itu yang selalu membuatnya rindu, dan sulit untuk melupakannya.
Sesaat key larut dalam tatapan mata itu, Namun key pun tersadar setelah Kevin memanggil namanya.
Key pun mengalihkan pandangannya, dan masuk kedalam mobil, Menatap Radit yang masih berdiri disamping mobilnya.
"Key, apa kita Pulanh sekarang?" tanya Kevin.
"Iya mas, key ingin istirahat." Jawab key.
Mobil mereka pun meninggalkan parkiran hotel, dan Radit masih terpaku ditempat nya, menatap kepergian wanita yang beberapa hari ini, mengganggu hatinya.
Namun Radit Hanya bisa menatap kepergian key, andai saja saat itu dia bisa mengatakan pada dunia kalau dia begitu mencintai key, mungkin akan Radit lakukan.
Sepanjang perjalanan pulang Radit hanya diam, pikirannya larut kegalauan, Radit sedang berpikir bagaimana cara nya untuk bisa biacara dengan sang mama, dan bagaimana caranya biacara dengan Aliya.
Walau bagaimana pun, jika tetap dilanjutkan, Radit malah khawatir kalau dia akan menyakiti Aliya juga dirinya sendiri.
Dan menikah tanpa dasar cinta itu pasti akan menyakitkan, namun Radit belum Berani mengungkapkan semua itu kepada mama nya.
Aliya juga ikut diam saat itu, dia sedang merasa ada yang lain dari tatapan Radit kepada key, Namun Aliya tak ingin mengatakan apapun, Aliya tidak ingin Radit marah.
Radit terus melajukan mobilnya untuk mengantar aliya dan dia juga ingin pulang untuk istirahat.
__ADS_1
Dirumah key, sudah berada dikamar nya, Kevin pun langsung pulang setelah mengantarkan dirinya, Key berbaring ditempat tidurnya, menatap langit-langit kamarnya.
Mulai besok dia tak akan bisa bertemu Radit lagi, key menarik nafas berat, ada rasa yang hilang, Sulit sekali rasanya untuk dirinya bisa menerima kenyataan bahwa Radit sudah memiliki Aliya.
Key mencoba memejamkan matanya, karena besok dia berencana untuk ke kampus, key ingin mengurus beberapa hal yang berhubungan dengan skripsinya.
Keesokan pagi key sudah bersiap ke kampus, hari ini key tidak membawa mobilnya, dia membawa motor matic milik nya, key takut jalanan macet dan memperlambat dirinya untuk sampai ke kampus.
Key melajukan motornya menembus keramaian dan kemacetan jalanan pagi itu, Key ingin cepat sampai dikampus. dan begitu sampai Key belum sempat memarkirkan motornya. dia sudah dihampiri oleh seseorang.
"Maaf non!"
"Iya pak, kenapa?" tanya key lembut.
"Non key kan?" tanya nya lagi.
"Iya saya key pak."
"Non Sedang ditunggu."
"Ditunggu pak?" tanya key balik.
Key pun jadi berpikir apakah rektor atau dosen sudah datang sepagi ini, dan apakah dia sudah membuat kesalahan sampai dia dipanggil pagi-pagi begini?
Banyak pertanyaan dibenak key saat itu, namun belum dia temukan jawabnnya, Sejenak key masih terpaku ditempatnya.
"Maaf non key, apa bisa non ikut saya?"
"Oh, iya pak bisa" jawab key tergagap.
Key langsung masuk keruangan rektor yang saat itu ditunjukkan oleh pria tadi.
"Permisi pak!"
"Silahkan masuk!"
Key masih berdiri didepan rektor yang memanggil dirinya, dia belum berani membuka suara.
"Silahkan duduk kayra!"
"Iya pak ,Terimakasih!"
"Kamu tau kenapa kamu saya panggil?"
Key menggeleng kan kepalanya, karena memang dia tidak mengerti.
"Bagaimana magang kamu sudah selesai?"
"Sudah pak."
"Bagaimana hasilnya?"
"Alhamdulillah semua bagus pak."
"Kalau begitu kenapa Sampai pak Raditya datang ke kampus kita?"
"Pak Radit?" tanya key begitu terkejut.
__ADS_1
"Iya pak Radit."
"Saya merasa tidak ada yang salah pak, karena pak Radit sudah memberikan saya nilai yang bagus."
"Akan tetapi saya ragu dengan hal itu, karena pagi-pagi sekali pak Radit sudah Samapi dikampus kita."
"Tapi pak, saya memang tidak tau apa-apa dengan kedatangan pak Radit pak, kalau memang saya salah saya mohon maaf pak."
"Kamu jangan minta maaf dengan saya, lebih baik kamu minta maaf dengan pak Radit, saya tidak ingin reputasi kampus kita menjadi jelek."
"Iya pak, saya paham."
"Kalau begitu kamu bisa langsung ke Aula, pak Radit sudah menunggu kamu disana."
"Aula pak?"
"Apa perkataan saya kurang jelas?"
"Tidak pak maaf, kalau begitu saya izin pak untuk bertemu pak Rafit."
Key keluar dari ruangan rektor, namun dia tak habis pikir kenapa Radit harus bertemu dia di Aula kampus, dan key terus mencari kesalahan apa yang dia lakukan pada Radit
Rasanya tidak ada, key menggaruk kepalanya
yang saat itu tidak gatal, key mempercepat langkah nya, karena dia tidak ingin karena terlalu lama bertemu Radit akhirnya dia tidak bisa bertemu dosen pembimbing nya.
Aula terlihat sepi, key sudah berdiri dipintu aula yang saat itu tertutup rapat, key sedikit ragu untuk masuk, namun dia juga ingin cepat-cepat menyelesaikan permasalah nya.
Key membuka pintu, dan masuk perlahan kedalam aula, matanya menyusuri ruangan itu mencari keberadaan Radit, dan benar saja pria itu berada disalah satu kursi yang berada diruangan Aula tersebut.
Key berjalan perlahan, dan dengan ragu-ragu, menuju ke tempat Radit, key berdiri disamping Radit, namun pria itu masih menatap kedepan, seakan tak menyadari kehadiran key.
Namun mustahil dia tak menyadarinya, karena suara derap langkah aja menggema di ruangan itu.
Key masih berdiri disamping Radit, bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun saat itu, key hanya berpikir kenapa disaat dirinya sudah lepas dari Radit, harus ada lagi pertemuan seperti ini.
"Apa kamu akan berdiri selamanya disitu?" tanya Radit.
Key sedikit kaget, dan juga kesal, apa tidak bisa pak Radit ini bicara baik-baik, begitu pikir key.
Namun key tak ingin berdebat, dia menarik kursi yang berada disamping Radit dan duduk disana, sama-sama menghadap kedepan.
"Apa yang ingin pak Radit bicarakan? Dan kesalahan mana yang pak rektor maksudkan?" tanya key tanpa basa basi.
"Sepetinya kamu begitu terburu-buru?"
"Pak Radit, tolong jangan bertele-tele, Kalau memang saya punya salah, saya minta maaf."
"Saya sudah maaf kan."
"Lalu? hal apalagi yang ingin bapak bicarakan."
"Key, saat ini saya bukan lagi atasan kamu, tolong rubah panggilan kamu ke saya."
"Maaf pak, tapi bukannya bapak datang sebagai atasan magang saya?"
Radit memutar kursinya menghadap ke arah key, namun gadis itu masih menatap lurus kedepan, Apa sebenarnya rencana Radit datang ke kampusnya key?
__ADS_1