
Episode 11
Dipta memperhatikan gerak- gerik pria bangkang itu, dia mulai me dekat ke arah perdebatan mereka. Dia merasa penuh dengan emosi, atas perlakuan pria bangkang itu kepada seorang wanita. Seharusnya tidak lah wajar, dimana pria itulah yang salah membuat keributan disana.
Ketika tangan pria itu terangkat hendak menampar wanita itu, saat itu juga Dipta segera menhentika tangan kotor tersebut. Dia mendorong pria bangkang itu sehingga terpental keras ke badan mobil di belakang nya.
"Jangan sekali- kali tangan kotor mu menyentuh istri saya. Jika kau tidak ingin menghilang ke kutub utara" ucap Dipta penuh dengan amarah. Dia ingin sekali menghajar lelaki itu. Jika saja dia tidak menyadari seorang wanita sedang ketakutan di sampingnya.
Pria bangkang itu merasa takut melihat sorot mata Dipta yang seakan ingin memangsanya pada saat itu juga. Dia pun bergegas masuk ke dalam mobil, menyelamatkan diri. Dari pada melayani mereka, dan itu akan menimbulkan masalah besar untuk dirinya sendiri nanti nya.
Dipta segera menarik tangan wanita itu dan mengantarkan nya ke dalam mobilnya. Dia membuka pintu mobil dan mendorongnya pelan masuk ke dalam mobil. Kemudian dia berlalu dari sana.
"Apakah aku sudah tidak waras lagi? Apa- apa itu tadi? Istri? Dari mana datang nya sebutan itu?" Dipta menyadari ada yang salah dengan diri nya. Aku mulai gila sepertinya. Begitu lah kesimpulan Dipta dengan perlakuan nya tadi.
Dia terus saja memikirkan apa yang telah dia lakukan tadi. Kenapa dia harus ikut campur dengan urusan orang lain. Kenapa itu sangat penting. Dan itu tadi kenapa dia harus mengatakan kalau perempuan itu adalah istrinya. Sementara dia tidak mengenali siapa wanita itu.
Sampai akhirnya dia pun memilih untuk berhenti memikirkan hal yang tidak penting itu, dan fokus pada jalanan itu. Sudah beberapa menit kemudia, jalanan pun mulai merenggang dan setiap mobil juga sudah mulai berjalan seperti biasanya.
Dia mulai melajukan mobilnya membelah jalanan disana dan dia menuju kantor nya, dia berusaha tenang dengan keadaan saat itu. Menganggap itu seperti tidak terjadi apa- apa.
Empat puluh lima menit kemudian dia pun telah tiba di kantor. Dia memasuki parkiran mobil khusus untuk orang penting di perusahaan itu. Kemudian dia menuju lif yang akan mengantarkan nya ke lantai di mana ruangan nya terletak.
__ADS_1
Setelah sampai di lantai yang dituju, dia pun segera mungkin masuk ke dalam ruangan nya. Dia mulai membalik- balik kan beberapa berkas yang terletak di atas meja, beberapa kertas proposal kerja sama terdapat disana.
Aarrrrkkkk
Terdengar erangan prustasi keluar dari muluk nya. Dia mengacak semua berkas itu, sehingga berjatuhan. Entah apa yang menyebabkan dia seperti nya tidak fokus kepada pekerjaan nya. Kenapa bisa seperti itu. Sedangkan dia adalah orang yang sangat profesional. Apa yang menbuat nya menjadi seperti orang gila.
Justin yang melihat dari jendela kaca tranparan ke ruangan Dipta merasa heran. Kenapa pria itu terlihat sangat buruk. Apakah terjadi sesuatu masalah perusahaan?. Justin merasa penasaran, dia pun memutuskan untuk menghampiri Dipta.
Dia membuka pintu ruangan tersebut dan dia masuk segera mendekati meja kerja Dipta, dan membereskan berkas- berkas yang terjatuh di lantai bawah meja. Dia meletakkan berkas itu kembali.
"Dude, kenapa kau terlihat seperti orang gila? Apa terjadi masalah saat pertemua klien tadi di luar?" Tanya Justin memastikan keadaan teman nya yang satu itu.
"Kerja sama itu berjalan lancar. Tetapi ada satu hal yang menggangu pikiran ku saat ini. Kenapa begitu sangat jelas, membuat ku begitu prustasi" jawab nya sembari menyandarkan tubuh nya ke belakang kursi ke bangsaan nya dan sedikit memijit keningnya.
"Kau tahu? Jantung ku saat ini terasa seperti ingin meledak saat mengingat kejadian di jalan menuju pulang tadi. Aku sunggu tidak sanggup lagi" Dipta sembari mengelus elus dada bidang nya, bermaksud untuk meredakan jantungnya yang ingin meledak tersebut.
Justin menjadi sangat panik, dia segera mendekati Dipta dan memutas badan pria itu memastikan tidak ada terjadi apa- apa dengan tubuh itu. Kemudia dia meletakkan tangan nya di kening dan leher Dipta memastikan bahwa dia tidak deman atau sakit.
"Suhu tubuh mu normal, di tubuh mu tidak ada luka atau semacamnya. Kenapa kau bilang jantung mu seperti ingin meledak? Ah apa kau telah menambrak orang dan orang itu meninggal kemudian kau melarika diri?" Justin mulai menebak- nebak apa yang terjadi saat Dipta di luar sana.
"Hei jangan gila dude, bagaimana bisa aku melakukan hal itu. Kau tahu tadi di jalan aku me......" Tiba- tiba Dipta menghentikan bicaranya. Seketika dia sadar, kalau saja dia menceritakan hal yang terjadi di tengah jalan tadi, dia akan kehabisan harga diri di depan Justin dan pria itu akan mengejek nya setengah mati dan menertawakan nya. Sehingga dia menghentika acara berceritanya.
__ADS_1
"Sudah lah tidak ada yang terjadi, mungkin aku akan perlu berkonsultasi dengan dokter terkait ini. Kau tidak perlu khawatir. Sepertinya itu di akibatkan karena kau masuk ke ruangan ku" jawab Dipta asal. Dan kemudian menyalahkan Justin. Pada hal sebenar nya Justin bermaksud baik peduli kepada nya.
"Sepertinya kau akan segera mati detik ini juga" Justin juga kesal dengan perkataan Dipta. Dia pun menuju sofa ruangan itu dan merebahkan tubuh nya di kursi itu. Dia menutup mata nya beristirahat sebentar dari banyak nya pekerjaan yang dia tangani hari ini.
"Hei kembali lah ke ruangan mu, jangan disini. Kau sungguh terlihat mengganggu berada di situ" Dipta melemparkan bantal kecil kursi itu. Dia mengikuti Justin juga tadi untuk duduk di sofa itu.
"Kalau kau merasa terganggu, maka kau saja yang keluar" jawab Justin, serasa dia lah yang mempunyai ruangan tersebut. Sementara ruangan nya berada di sebelah.
"Bagaimana kelanjutan dari pembukaan perusahaan baru yang telah kita bahas sebelumnya? Sudah berapa persen persiapa itu?" Dipta beralih membahas tentang rencana mereka yang sebelumnya untuk membuka cabang baru perusahaan HW.
"Sudah hampir 70 persen, itu akan selesai minggu depan, Lela sudah menyiapkan karyawan perusahan dari setiap cabang, yang ahli dalam bidang itu untuk bekerja disana. Tetapi dia mengatakan bahwa kita perlu juga untuk merekrut karyawan baru dari luar. Karena di perusahaan kita tidak banyak yang ahli dalam bidang itu" jelas Justin yang tetap dalam posisi semula, dengan memejamkan mata nya.
"Lakukan apa pun yang terbaik untuk itu, jangan sampai mengecewakan" ucap Dipta yang mengikuti Justin merebahkan tubuh nya di atas kursi dan memejamkan mata nya.
"Jika kau ingin yang terbaik maka bekerja sama lah dude, jangan asal keluar saja kata itu dari mulut mu" Justin melemparkan bantal kecil ke arah Dipta dan segera kembali ke dalam posisi semulanya.
Dipta yang menerima perlakuan itu hanya melirik sekilas dan kembali memejamkan mata nya. Mereka pun terlarut dalam keadaan itu, sehingga mereka tertidur dan pergi ke alam mimpi mereka sendiri.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga
__ADS_1
Ayo pra readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah