
Episode 38
Hari ini adalah hari terakhir Pricil bekerja sebagai anak magang di perusahaan Rhendra Martin, setelah seminggu terakhir ini Pricik menyusun semua berkas- berkas penyelesaian magangnya.
Pagi ini adalah jadwal Pricil untuk bertemu dengan direktur utama perusahaannya menyerahkan berkas yang akan di tanda tangani dan juga untuk berpamitan.
Pricil sudah berada di ruang tunggu pagi ini. Setelah mengonfirmasi kepada sekretaris pribadi pak Yusuf, dia pun di ijinkan untuk menunggu pak Yusuf datang. Dan setelah pak Yusuf datang Pricil pun di persilahkan masuk ke ruangan direktur utama.
"Nona Pricil, silahkan masuk untuk menemui pak Yusuf" ucap sekretaris itu kepada Pricil dan segera Pricil menemuinya.
"Iya, terimakasih buk" Pricil pun berlalu dari sana dan di antarkan oleh sekretaris tersebut ke ruangan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar ruangan. Pak Yusuf yang mendengarnya pun segera menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan. Pricil pun dipersilahkan juga untuk masuk.
"Permisi pak, ini adalah mahasiswa magang yang akan menemui anda. Hari ini adalah hari terakhir untuknya pak dan akan menyerahkan berkas kepada anda" ucap sekretaris itu.
"Ya, silahkan tunggu sebentar di kursi tersebut" ucap Pak Yusuf. Sekretaris tersebut membawa berkas Pricil ke meja pak Yusuf dan menyerahkannya untuk di tanda tangani. Sementara Pricil menunggu di tempat yang sudah di sediakanm
Saat ingin berjalan ke arah kursi tersebut, betapa terkejutnya Pricil melihat ada seseorang disana juga. Dia mengerutkan keningnya mencoba menerka- nerka untuk apa lelaki itu berada di ruangan pak Yusuf. Siapa lagi kalau bukan Kevin.
Pricil pun tidak memperdulikannya, dia menunggu pak Yusuf menyelesaikan berkasnya dan dia pun duduk di kursi sofa tersebut, berseberangan dengan Kevin. Pricil fokus pada pikirannya.
"Hari ini terakhir kamu di perusahaan?" tanya Kevin kepada Pricil. Tetapi Pricil bingung kepada siapa laki- laki itu bertanya.
"Saya?" Pricil memastikan, apakah laki- laki itu bertanya kepada dirinya.
"Bukan. Aku bertanya pada Ariana Pricilya" ucap Kevin yang menyebut nama lengkap perempuan di hadapannya itu.
Pricil hanya menutar bola katanya merasa jengah dengan sikap kevin.
"Ya, saya datang kesini untuk beberapa urusan berkas" ucap Pricil dan di angguki oleh Kevin.
"Aku tidak bisa lagi melihat mu disini" lanjut Kevin yang membuat wajahnya dalam mode sedih
"Ya???????" Pricil memastikan apa dia tidak salah dengar.
"Tidak ada lagi bidadari yang akan menyegarkan pemandangan di pedusahaan ini" ucap Kevin
Belum sempat Pricil menjawabnya, pak Yusuf sudah datang menemui mereka. Yusuf membawa berkas kedua orang yang menunggu tersebut, yaitu Kevin dan juga Pricillya.
"Nona Ariana Pricilya, terimakasih sudah mempercayai perusahaan kami sebagai tempat anda magang" ucap Pak Yusuf menyerahkan berkas milik Pricil
__ADS_1
"Saya juga berterimakasih banyak pak, sudah mengijinkan saya untuk menempuh pelajaran perusahaan bapak" jawab Pricil juga berterimakasih karena bisa berada disana.
"Berkasnya sudah saya siapkan semuanya, semoga studi mu berjalan dengan lancar" ucap pak Yusuf menjabat tangan Pricil. Dan Pricil pun resmi sudah menyelesaikan magangnya.
####
Pagi ini Alle harus berangkat pagi, karena mereka mengadakan rapat dengan perusahaan atasan mereka yaitu perusahan HW, terkait dengan pempublikasian produk baru mereka. Karena produk design baru yang akan mereka keluarkan sekaligus dari empat devisi, sehingga direktur utama perusahan atas mereka mengadakan rapat pemeriksaan.
Alle pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, supaya dia lebih dahulu sampai di perusahaan untuk menyiapkan segala sesuatu yang perlu untuk rapat hari ini. Selang beberapa menit kemudian Alle pun sudah berada di parkiran perusahaan. Dia menuju lobby dan menunggu lift yang akan membawanya ke lantai dimana ruangannya berada.
Saat menunggu lift terbuka, Juny juga sudah terlihat datang pagi ini ke perusahaan. Dia mendekati Alle yang juga sedang menunggu lift du lobby perusahaan.
"Alle, pagi sekali kau datang hari ini?" Tanya Juny menghampiri Alle dan juga menunggu lift mereka terbuka. Lift pun terbuka dan mereka masuk,
"Alle perlu menyiapkan bahan- bahan bahasan untuk rapat kak, supaya tidak terlambat" jawab Alle,
"Oh, akan ku bantu, karena aku juga sudah menyiapakn bahan dari devisi busana" ucap Juny. Dia juga mengikuti rapat tersebut karena dia adalah direktur devisi busana.
"Baiklah kak" ucap Alle.
Beberapa saat Juny pun sudah sampai di lantai dimana ada ruangannya.
"Alle aku duluan, nanti aku akan menyusul secepatnya" ucap Juny berpamitan untuk keluar terlebih dahulu,
"Iya kak" jawab sopan Alle dan dia pun menuju ruangannya di atas.
Alle juga di bantu oleh Juny untuk membereskan semua keperperluan rapat mereka. Setelah selesai Alle kembali keruangannya dan Juny tetap berada disana dan juga direktur dari devisi lainnya.
Alle permisi untuk kembali keruangannya karena dia akan terkena semprotan dari bos gila jika dia tidak menemukan Alle berada di ruangan, dan itu akan mengakibatkan kegagalan untuk rapat hari ini.
Alle menunggu di ruangan kerjanya sembari menyelesaikan berkas pekerjaan yang bisa dia selesaikan sebelum rapat dimulai. Asyik berkutat dengan laptop di hadapannya membuat Alle tidak menyadari bahwa Dipta sudah datang.
"Alle, Alle!!!" Teriak Dipta dua kali karena Alle tidak menjawab penggilan pertamanya sehingga dia harus mengeraskan suaranya.
"Astagah, apakah tidak bisa suaranya di perkecil sedikit pak?" Jawab Alle keras dari ruangannya.
Alle pun menemui Dipta di ruangnya, Alle membawa berkas yang akan di presentasikan oleh pihak divisi untuk di lihat oleh Dipta dan juga Direktur utama nantinya.
"Selamat pagi pak Justin, Buk Lela" Alle menyapa Justin dan Lela dengan senyum manisnya, yang sudah duduk di kurai tunggu ruangan itu, tetapi tidak dengan Dipta. Alle hanya melirik sekilas dengannya dan kemudian beralih kembali pada Justin dan Lela.
"Mari pak, buk, kita langzung ke ruangan rapat, karena sudah siap semua untuk rapat" ajak Alle sopan tanpa menghiraukan Dipta yang memandangnya dengan tajam.
"Siapa yang sebenarnya atasanmu?" cerocos Dipta karena merasa di acuhkan oleh Alle
__ADS_1
"Saya hanya mempersilahkan orang penting dalam rapat untuk segera memulainya pak, apa ada masalah? Tanya Alle juga menajamkan tatapannya pada Dipta.
Justin dan Lela yang memperhatikan perdebatan mereka menahan diri untuk tidak tertawa. Mereka melihat seperti dua anak kecil yang berebut satu mainan baru pemberian orangtua mereka.
"Kenapa kau mempermasalahkannya?" tanya Alle kesal sudah tidak ada lagi embel- embel pak disana.
"Sepertinya kau harus di pecat" kesal Dipta
"Silahkan saja, jika anda ingin sendirian di ruangan ini" jawab Alle dengan mantap.
"Mari Pak, Buk saya antarkan" ajak Alle kepada Justin dan Lela meninggalkan Dipta yang memikirkan ancamannya kembali.
Kemudia dia pun berjalan cepat menyusul Alle, Justin dan juga Lela yang sudah keluar dari ruangan itu, menuju ruangan rapat yang telah disiapkan sebelumnya. Setelah sampai di dalam ruangan, seperti tujuan meraka untuk rapat pempublikasian design baru pun mereka jalankan dengan lancar dan seksama.
####
Arianna Pricilya Wijaya. Usia 20 tahun. Mahasiswa. Sudah menyelesaikan magang. Tinggi 153 cm. Berat badan 52 kg. Putih, cantik. Sikapnya cuek. Manja jika bersama kakak- kakaknya.
Hans Julio. Usia kurang lebih 5 tahun. Sudah sekolah. Anak dari Juny. Ceria dan tegar. Imut sumpah.
Kevin. Tinggi 187 cm. Berat badan 68 kg. Di jumpai di perusahan Rhendra Martin. Orangnya ceria, suka menggoda wanita, tetapi hanya orang yang menurutnya menarik. Bukan playboy. Sedang melirik wanita yang dia temui di perusahaan Rhendra Martin.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
__ADS_1
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗