
Episode 36
Bunda Mary memperhatikan gelagat tiga orang siswa yang mengepung satu siswa lainnya di antara mereka.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Guman bunda Mary, dia melihat bahwa ketiga siswa itu memojokkan siswa yang satunya.
Mary memperhatikannya dari kejauhan, dia perlahan berjalan mendekati mereka untuk memastikan ada apa sebenarnya yang terjadi. Dia pun melihat salah satu dari mereka mendorong siswa yang satunya hingga terjatuh. Membuat Mary terkejut dan mempercepat langkahnya menghampiri mereka.
"Hei,, apa yang kalian lakukan? Kenapa mendorongnya?" Ucap bunda Mary sedikit meninggikan suaranya, supaya anak itu tidak ketakutan.
Mary membantu anak yang terjatuh itu untuk berdiri, dan sembari membersihkan seragam yang dia pakai kotor karena terjatuh.
"Kenapa kalian mendorong teman kalian sampai terjatuh?" Tanya bunda Mary dengan lembut, dia mengira bahwa mereka berteman. Mungkin hanya bercanda, pikiran Mary.
"Dia bukan teman kami" ucap salah seorang dari mereka,
"Dia tidak mempunyai Ayah" lanjut yang satunya,
"Dia hanya diantarkan taksi ke sekolah" ucap yang satu lagi.
Seketika Mary tercengang, kenapa anak sekecil mereka sudah memikirkan hal yang jahat seperti itu, usia mereka baru sekitar 6 tahun atau kurang. Siapa yang menodai pikiran mereka. Bunda Mary prihatin dengan sikap anak- anak sekarang.
"Dengarkan bunda, kita tidak bisa berteman hanya dengan anak yang mempunyai ayah, mempunyai mobil mahal. Kita juga harus berteman dengan yang lainnya." Ucap Mary memcoba menyingkirkan pikiran negatif anak- anak tersebut.
"Kalian tahu, jika kalian berteman dengan semua anak- anak disini, kalian akan bisa berbagi permainan, saling memberitahu permainan yang kalian tidak tahu, belajar bersama," jelasnya kembali,
"Jadi kalian tidak boleh melakukan ini. Jika kalian di lihat oleh buk guru, akan dimarahin loh,"
"Kata ibu guru kalau kalian membeda- bedakan teman, nanti nya jadi tidak punya teman bermain. Apa kalian mau? Ucap bunda Mary yang sudah mulai melunak.
"Kami tidak mau" jawab mereka bertiga,
"Yah udah sekarang salam, dan berteman,"
Mereka pun bersalaman dan mengucapkan kita berteman pada satu sama lainnya. Setelah itu pun mereka bertiga pergi.
__ADS_1
####
Mary melihat anak yang di pangkuannya itu menangis setelah di tinggal bergi oleh ketiga siswa tadi. Mary merasa kasihan dengan anak itu, sehingga dia menggendongnya dan membawanya ke tempat duduk di taman bermain itu dan sedikit jauh dari keramaian anak- anak.
Mereka pun duduk disana, Mary menunggu sampai anak itu berhenti menangis, setelah berhenti, Mary pun mengajaknya berbicara.
"Kenapa kamu menangis nak?" Tanya Mary melihat anak itu sudah menyeka air matanya,
"Apakah semua orang yang tidak mempunyai ayah, tidak mempunyai teman sepertiku?" Ucap Anak itu, Mary terkejut dengan pertanyaan anak itu,
"Siapa nama mu nak?" Tanya bunda Mary,
"Hans.......hhmmm....." Anak yang bernama Hans itu menggantung ucapannya,
"Kamu bisa memanggilku bunda," ucap Mary yang mengetahui jika Hans tidak tahu harus memanggil apa supaya dia terlihat sopan,
"Hans bunda" ucap Hans yang mengikuti permintaan bunda Mary. Hans memperhatikan lekat wajah bunda Mary, dan kemudian dia tersenyum manis memikirkan sesuatu,
"Mami ku terlihat canti, sama seperti bunda,, tetapi bunda sangat tua dari mami ku" ucap Hans tertawa,, sebenarnya dia tidak terlalu mengerti dengan yang dia ucapkan.
Mendengar perkataan Hans, bunda Mary tertawa terbahak- bahak hingga bahunya berguncang karena itu, dia merasa gemas dengan anak itu, bagaimana anak itu sempat- sempatnya membandingkan dirinya kepada maminya. Haha haha hah haha
"He'em" jawab singkat Hans.
"Aahh,,, berarti kamu harus memanggilku Oma," ucap bunda Mary. Memang dia merasa sudah cocok untuk di panggil nenek atau Oma.
"Baiklah Oma" ucap Hans tersenyum dan itu terlihat sangat menggemaskan.
"Oma, apa semua anak yang tidak mempunyai ayah tidak mempunyai teman juga?" Tanya Hans kembali,
"Tidak seperti itu nak, mereka mempunyai teman, mungkin teman yang tadi tidak mengetahuinya" ucap bunda Mary
"Mereka mempunyai banyak teman, karna mereka mempunya ayah dan mami" ucap hans lagi,
"Berarti kamu harus mencari ayah untuk mu supaya kamu mempunyai lebih banyak teman dari mereka" ucap bunda Mary supaya Hans tidak berkecil hati.
__ADS_1
"Betul, aku akan mengatakannya pada mami nanti" ucap Hans
"Semoga kamu berhasil" semangat bunda Mary berhasil membuatnya jauh dari kesedihan yang tadinya.
Bunda Mary pun membawa Hans pergi dari taman itu dan mengantarkannya ke ruang kelasnya. Hans menunjukkan dimana dia akan belajar, sehingga bunda Mary tidak terlalu kewalahan untuk bertanya kesana sini. Setalah sampai di ruangan kelas Hans, Bunda Mary pun menurunkannya.
"Hans kamu harus belajar yang giat, dan carikan ayah untuk mu dan mami mu"pesan Bunda Mary sembari memberikan semangat kepada Hans. Mary mengelus puncak kepala Hans dan dia teringat dengan masa kecil anaknya yaitu Dipta dan juga Pricilya.
" Baik Oma aku akan mencarinya secepatnya, supaya aku mempunyai banyak teman" ucap Hans memberikan hormat kepada bunda Mary, seperti angkatan saja. haha haha haha
"Semoga kita berjumpa lagi Hans," bunda Mary pun menyuruhnya masuk
"bye bye Oma" ucap Hans melambaikan tangannya dan masuk ke ruangan kelasnya, duduk di meja tempat dia belajar.
Setelah memastikan itu Mary pun teringat kembali dengan kata- kata ke tiga anak- anak tadi kepada Hans, terbesit di hati Mary untuk menghindari hal yang demikian kembali terjadi.
Mary pun melangkahkan kakinya ke ruangan kepala sekolah disana. Mary cukup terkenal karena dia berinvestasi banyak di sekolah itu. Dia supadah seperti pemilik sekolah itu hanya saja dia menyembunyikannya.
Setelah sampai di ruangan sekolah, dia pun di sambut dengan sopan oleh kepala sekolah. Menanyakan maksud kedatangan Mary ke sana, seperti basa- basi. Mary menjelaskan semua cerita yang dia lihat tadi di taman.
"Mohon pak, supaya lebih di disiplinkan anak- anak disini, saya tidak ingin sekolah ini di cap karena pembulian seperti itu" ucap Mary mengingatkan semua yang mengambil alih mendidik para anak murid disana.
"Mohon maaf buk akan kelalaian kami. Kami akan lebih memperhatikannya" ucap pak kepala sekolah itu.
"Tolong di beritahu juga, jika perbedaan dalam segala hal itu tidak penting dan tidak perlu di permasalahkan. Semua manusia itu sama tidak perlu di beda- bedakan." ucap Mary sedikit kesal karena kejadian itu.
"Baik buk, saya akan mengajarkan mereka. Saya akan memberskannya. Maafkan kami yang lalai buk" ucap kelapa sekolah begitu segan. Karena orang yang berinvestasi paling besar di sekolahnya menyaksikan hal yang seperti itu. Itu membuatnya merasa malu dan tidak becus dalam mengawasi setiap perkembangan anak murid disana.
"Baiklah. Saya harap anda mempertimbangkannya. Saya akan memantau setiap perkembangannya pak" jawab Mary,
"Saya permisi dulu" ucap Mary dan berlalu dari ruangan itu. Kemudian dia bergegas ke tsmpat lainnya yang akan dia kunjungi.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
__ADS_1
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍😍