CEO TAMPAN ITU SUAMI KU

CEO TAMPAN ITU SUAMI KU
Episode 46


__ADS_3

Episode 46


Saat Alle tiba di depan rumah kediamannya, dia mematikan mesin mobil yang sudah trrparkir disana. Kemudian dia membereskan belanjaan yang ada di dalak mobil tersebut. Sementara buk Rusmi mengambil belanjaan yang ada di jok mobil sehingga bu Rusmi terlebih dahulu keluar dari dalam mobil.


Alle sedikit lama keluar menyusul bu Rusmi, tiba- tiba saja dompet yang dia bawa terjatuh di lantai mobil, dia pun mengambil dompet tersebut dan kemudian keluar dari mobil.


"Bu, apa belanjaannya sudah di bawa semua?" suara Alle terdengar nyaring, dlsehingga bu Rusmi dapat mendengarnya yang berada di belakang mobil.


"Sudah nak" jawab bu Rusmi, Alle pun menutup pintu jok mobil dan dia segera melangkah ke arah rumah.


####


Betapa terkejutnya dia saatmelihat Dipta ada di depan rumahnya. "Kenapa dia ada disini? Darimana dia mengetahui rumah ku?" pikir Alle, dia mengerutkan dahinya menatap Dipta seakan meminta penjelasan.


Tatkala dengan Dipta yang melihat Alle keluar dari mobil dan sampai akhirnya berada di hadapannya. Dia sudah khawatir setengah mati kepada orang yang ada di hadapannya itu, tetapi yang di khawatirkan malah berbelanja dan seolah tidak terjadi apa- apa. Dipta terdiam merutuki kebodohannya yang memutuskan untuk menjenguk Alle, tanpa tahu yang sebenarnya. Dia terlalu menghawatirkan orang yang tidak perlu di khawatirkan.


"Kenapa anda disini pak?" tanya Alle, ingin meminta penjelasan kepada Dipta.


"Alle, dia siapa? Kenapa tidak di ajak masuk" ucap buk Rusmi yang baru saja menghampiri mereka.


"Atasan Alle buk, mari masuk pak" jawab Alle kepada bu Rusmi, dan sekalian mengajak Dipta untuk masuk.


Setelah menyapa Dipta bu Rusmi pun masuk kedalam rumah membawa belanjaan yang mereka beli tadinya. Alle pun hendak masuk mengikuti bu Rusmi masuk kedalam rumah, tetapi terhalang, karena Dipta terlebih dulu menarik tangan Alle, sehingga dia berhenti.


"Kita perlu bicara" ucap Dipta dingin, berusaha menahan kekesalan yang dia rasakan saat ini. Alle pun menitipkan belanjaan yang berada di tangannya pada bibi yang membukakan pintu tadi.


"Bi, tolong bawa ke dalam dan tolong antarkan minuman ke pondok nanti yah" ucap Alle pada bibi pelayan di rumahnnya.

__ADS_1


Alle mengajak Dipta ke taman rumahnya, dan mereka duduk disana, karena disana terdapat sebuah pondok untuk bersantai.


Sekarang mereka pun sudah duduk disana. Mereka hanya terdiam sambil beradu tatap.


Sampai akhirnya bibi mengantarkan minuman kepada mereka. Mereka masih saja diam, tidak bergeming sama sekali. Alle berusaha membuka pembicaraan. Jika di biarkan begitu, Alle akan membuang waktunya hanya untuk meladeni pria di hadapannya itu.


"Silahkan di minum pak" ucap Alle memulai percakapan mereka, menyuruh Dipta mencicipi sajian dari bibi, dan juga minuman disana. Alle bersandar pada kursinya dan melipat kedua tangannya di dadanya.


"Kenapa bapak datang ke rumah saya? Dan dari mana bapak tahu rumah saya?" tanya Alle, menyelidiki atasannya itu.


"Saya tahu dari Juny, dia mengatakan kau sakit. Ceh, ternyata kau bersenang- senang" balas Dipta mencibir, dia berusaha setenang mungkin,


"Saya hanya kurang fit pak, sehingga ijin bekerja, lagian saya hanya berbelanja, apanya yang bersenang- senang?" Alle memicingkan tatapannya kepada Dipta.


"apa anda tidak melihat saya sedang berbelanja? bukan bersenang- senang. Lagian bapak ngapain ke rumah saya segala?" lanjut Alle masih belum senang dengan kedatangan bos gila tersebut.


"hhmm kau adalah sekretaris ku, berarti aku harus menjenguk mu kalau sedang sakit. Tidak ada alasan lain" ucap Dipta terbata karena tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Saya rasa bukan itu alasannya" ucap Alle dengan senyuman yang tidak bisa di artikan.


"Hanya itu. Emang kenapa lagi?" ucap Dipta, dia kepanasan sendiri, tidak tau apa yang akan fia katakan. Semuanya terjadi begitu saja. Dia juga tidak tahu alasan kenapa dia ada disini. Dia hanya mendengar Alle sedang sakit dari Juny, tanpa pikir panjang dia langsung bergegas mendatangi rumahnya. Dia juga bingun kenapa sebenarnya dengan dirinya, tidak seperti biasanya.


Mereka pun kembali hening satu sama lain, sedang beradu dengan pikirannya masing- masing. Tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan sekarang. Karena sedang beradu dengan pikiran, Dipta tidak sengaja mengajukan pertanyaan kepada Alle,


"Kapan kau akan masuk bekerja" pertanyaan itu lolos dari mulut Dipta tanpa sadar. Kenapa aku menanyakan itu? Apa untungnya bagiku? Batin Dipta meretjki kebodohannya yang menanyakan hal yang tidak penting.


"Besok saya akan masuk bekerja pak" jawab Alle, dengan santai,

__ADS_1


"Benarkah?" jawab Dipta secepat kilat dengan mata yang berbinar. Alle menyeritkan dahinya. Ada apa dengan si gila ini? Batinnya.


"Hhmm, OH!!" jawab Dipta meralat jawaban yang pertama kali dia ucapkan, karenamelihat tatapan Alle yang bingung dengan tindakannya.


"Saya akan pulang. Kau terlihat baik- baik saja" ucap Dipta dan memalkngkan wajahnya, diapun beranjak dari duduknya dan akan segera pergi dari sana.


Alle yang melihat tingkah Dipta yang menjadi salah tingkah di buatnya. Dia pun menyeringai licik, dia memikirkan sesuatu hal yang menurutnya menyenangkan.


"Ah, aduh sakit,, kepala ku sakit sekali sssttt" rancau Alle memegangi kepalanya sayang seolah sedang sakit. Padahal dia hanya berpura- pura ingin melihat reaksi Dipta.


Betul saja, Dipta langsung berbalik dan secepat kilat menghampiri Alle, dia memeriksa kepala Alle seperti terjadj sesuata hal yang besar saja.


"Alle, kamu sakit? Bagiaman mana yang sakit? Apa perlu ke dokter? Tidak,, kita harus ke dokter ayok" ucap Dipta yang akan segera menggendong Alle dari tempat duduknya. Tetapi Alle segera menghentikannya.


"Tidak, tidak, tidak perlu ke dokter, hanya saja aku...." ucap Alle menggantung


"Kenapa? Dimana yang sakit? Atau aku akan menghubungi dokter supaya segera kesini" ucapnya sembari merogoh kantung celananya untuk mengambil poselnya.


"Jangan lakukan apa pun" ucap Alle memberhentikan aktivitas kebodohan Dipta dia berusaha sekuat tenaga supaya tidak tertawa. Dia mengulum bibirnya yang ingin tertawa saat ini melihat reaki Dipta.


"Kenapa?" ucap Dipta yang mengerutkan dahinya. Bagaimana dia tidak akan memanggilkan dokter sementara Alle dalam keadaan sakit?.


*Bersambung


Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄


Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗


__ADS_2