
Episode 41
Sesampainya di gedung besar yang bernama group HW tersebut, Dipta terlihat parkir di depan perusahaan itu. Pemilik mah bebas ya kan?. Dipta merogoh ponselnya dari kantung jas yang dia pakai, mencari nomor yang akan dia hubungi, dan menyambungkannya via telepon.
"Aku sudah di bawah, segeralah turun dude," ucap Dipta yang ternyata telepon tersebut sudah tersambung kepada kaka angkatnya tersebut.
"Iya, tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu" Jawab Justin yang sedang berada di dalam lift sedang turun menuju lobby.
"Aku akan meninggalkan mu dalam waktu dua menit saja kau tidak keluar" jawab Dipta yang kesal karena Justin bukan bersiap turun untuk menemuinya malah masih bekerja.
Dia mematikan sambungan telepon tersebut dengan sepihak dia melemparkannya sembarangan. Dia melirik ke arah pintu lobby dan terlihat Justin sudah berjalan mendekat ke arah mobil yang dia pakai.
"Suka sekali mengerjai ku, awas saja kau" gerutu Dipta di dalam mobil dengan seringaian yang licik pada bibirnya. Dia mengunci pintu mobil bermaksud supaya Justin tidak bisa masuk dam menunggu di luar mobil selama dua menit. Haha haha haha haha haha begitulah dia tertawa dalam hatinya.
Justin sudah mendekat ke arah mobil tersebut, dia terlihat memasukkan tangan ke kantung jas yang dia pakai dan tangan yang satunya di masukkan ke dalam kantung celananya.
Sekitar lima langkah dari mobil ke arah Justin, pintu mobil otomatis terbuka. Dipta ternganga di buatnya, bagaimana bisa pintu itu terbuka sementara dia tadi menguncinya?
Justin pun masuk ke dalam mobil dan mendudukkan tubuhnya dengan santai di kursi tepat di samping Dipta. Dia menarik pintu mobil untuk menutupnya. Justin pun mengalihkan pandangannya ke arah Dipta.
"Bisa masuk serangga ke dalam mukut mu" ucap Justin tersenyum sambil menutup muluk Dipta yang terngaga karena terheran- heran.
"Hhmm, bagaimana bisa kau membukanya?" tanya Dipta penasaran.
"Aku sudah mengetahui ide licik mu" jawab Justin dan menunjukkan remote mohil tersebut kepada Dipta.
"Bagaimana kau memelikinya? Sementara aku juga memilikinya?" Dipta memastikan bah dia juga mempunya remote yang sama, cuman berbeda warna.
"Tidakkah kau tahu siapa yang membeli mobil ini?" jawab Justin.
Dipta tersedar, ya Justin lah yang mengurus semuanya, selama dia berada di luar negeri dia yang menjadi anak kesayangan ayah bundanya, jadi tidak heran lagi jika dia mempunyai cadangan.
__ADS_1
"Sepertinya tiga tahun ini kau sepenuhnya menggantikanku" jawab Dipta sudah melajukan mobilnya menelusuri jalanan.
"Tidak sepenuhnya" jawab Justin yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil.
Dia menatap kosong jalanan disana. Dipta yang memperhatikannya seraya mengerti, mungkin perkataannya menyinggung perasaan Justin, dia tahu kenaoa dia merasa sedih. Dipta mengingatkannya kembali pada mendiang orangtuanya.
"Hei dude!! Aku hanya bercanda," Dipta memukul bahu Justin dengan tangan kirinya,
"Ya aku tahu" jawab Justin sembari tersenyum. Mereka pun hening seketika.
####
Tring tring tring
Suara pinsel Dipta berbunyi pertanda ada seseorang yang menghubunginya. Dia pun mencari- cari dimana dia melemparkan ponselnya tadi.
"Kau dengar dimana ponsel itu?" tanyanya pada Justin.
"Kau tahu itu" jawab Dipta.
Akhirnya Justin menemukan benda yang mereka cari, segera dia melihat siapa yang menghubungi mereka. Dan terlihat bahwa bunda Mary lah yang menghubungi. Serega Justin mengangkatnya dan menyapa wanita yang dia cintai itu.
"Ada apa bunda?" jawab Justin. Mary yang mengenali suara itu langsung menyadari siapa yang menjawab telpon nya.
"Justin kenapa ponsel mu tidak bisa di hubungi? Tadi bunda menghubungi mu" ucap bunda Mary kepada Justin,
"Aku tidak memperhatikannya bunda, maaf. Ada apa bunda?" tanya Justin.
"Tolong belikan bolu kacang untuk bunda nak, dari tempat kamu membelinya saat pertama kali" ucap bunda Mary
"Hanya itu bunda?" tanya Justin memastikan titipan bunda Mary,
__ADS_1
"Ya, sebenarnya ada lagi" Mary sedikit memberi jeda pada percakapan itu. Dipta dan Juga Justin saling bertatapan, sepertinya mereka mengerti apa yang akan bunda mereka katakan,
Segera Dipta memberikan kode kepada Justin supaya dia mengakhiri panggilan tersebut. Tidak tau apa jadinya jika mereka mendengarkan ocehan bundanya yang akan menyuruh mereka menikah.
"Ah, bunda sepertinya sinyalnya tidak bagus" ucap Justin berpura- bura tidak mendengarkan bunda Mary yang benar saja membahas soal pernikahan.
"Bunda, Justin matikannya, sinyalnya buruk" ucap Justin dan segera menekan tombol merah pada ponsel tersebut.
Dua manusia di dalam mobil itu pun menghela napas panjang, karena mereka bisa menghindar dari ocehan- ocehan tentang pernikahan mereka. Sungguh mereka pusing di buatnya. Bukankah pernikahan itu tidak bisa asal- asalan? Mereka harus memikirkan matang- matang tentang itu. Lagian juga mereka belum menemukan orang yang tepat untuk mereka jadikan pendamping hidup.
Pernikahan bukan masalah berapa banyak umur seseorang yang menentukan mereka harus menikah, tetapi sudah siapkah seseorang itu untuk membina rumah tangga?. Karena banyak orang di luar sana yang menikah tetapi akhirnya meraka bercerai begitu saja. Dan Dipta dan juga Justin tidak menginginkan hal tersebut.
"Untung saja kau langsung mematikannya, sungguh tidak terpikir ku jika bunda akan menyuruh kita menikah" ucap Dipta
"betul juga, sudah berapa kali bunda membahas itu, sungguh tidak habis pikir, kenapa mereka hanya memikirkan pernikahan saja" tibal Justin menyetujui perkataan Dipta.
"Kenapa kau tidak menikah saja, kau yang lebih dahulu menikah. karena kau yang lebih tua dari ku. dan sekarang usia mu, sudah kepala tiga" usul Dipta menyarankan supaya Justinlah yang terlebih dahulu menika.
"Apa kau pikir menikah hal yang mudah? Menikah bagi ku hanya sekali, dan itu hanya pada wanita yang aku cintai. Dan saat ini aku juga belum memikirkannya. Masih banyak urusan perusahaan yang harus aku urus dan lebih penting" Ucap Justin. Dia harus menyiapkan seluruh hati dan juga hidupnya jika akan menikah. karena menikah bukan Hal yang main- main.
"Aku akan menggantikan mu mengurusnya, jika kau akan menikah" jawab Dipta yang melirik Justin dan menaik turunkan alisnya.
"Perhatikan saja jalan mu, Kau masih kecil tidak mengerti soal itu" jawab Justin yang menurutnya Dipta masih terlalu muda jika di ajak berbicara tentang pernikahan.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗
__ADS_1