
Episode 55
Dipta memutuskan untuk menerima tawaran ayahnya untuk menetapkan perusahannya sebagai perusahaan utama di bidang design intertaiment dan Justin tetap berada di perusahaan yang menjadi bisnis management,. Itu tidak akan ada masalah baginya, dia akan mengurus semuanya.
Lain halnya jika dia akan di jodohkan saat ini, dia tidak mengetahui siapa yang akan menjadi jodohnya, itu sungguh tidak adil baginya. Mereka tidak pernah membahas soal perjodohan sebelumnya. Orangtuanya memutuskan sepihak tetang kehidupan pribadinya, dia tidak menyukai hal tersebut. Dia akan memikirkan bagaimana solusinya, Dipta pun tidak ingin berlama- lama bersama mereka, dia kembali ke kamarnya dan disana dia dapat berfikir dengan jernih.
Di ruangan keluarga masih terdapat Wijaya, Mary, Justin dan juga Pricil yang masih mengobrol seputar pembicaraan mereka sebelumnya. Justin memikirkan bagaimana dengan nasip Dipta jika dia di jodohkan dengan sepihak. Bukankah kehidupan pribadi mereka, hanya diri merekalah yang bisa menentukan hal tersebut.
"Bukan kah ayah terlalu keras kepadanya? Dia tampak sangat kacau saat ini" ucap Justin yang memperhatikan kepergian Dipta, tidak biasanya dia bersikap seperti itu, ketika membahas soal pernikahan.
" itu juga berlaku untuk mu, jika kau tidak menemukan wanita pilihan mu" ucap Wijaya juga memberikan perlakuan yang sama kepada Justin.
Justin yang mendengarnya menjadi merinding, dia harus menjawa apa sekarang, jangan sampai dia bernasip sama dengan bedebah malang itu (Dipta).
"Hahahaha aya bercandanya tidak lucu" Justin tetawa kaku karena ketakutannya tidak bisa di sembunyikan
"Itu tidak bercana, semua hal ayah samakan untuk kalian berdua" ucap Wijaya yang tidak bermaksud untuk membuat lelucon hari ini.
"A.. Ak..aku, sudah menemukannya ayah, akan ku kenalkan pada mu di lain waktu" ucap Justin yang berbohong sudah mendapatkan pilihan sendiri,
"Bodoh, wanita mana yang kau maksud dude" batin Justin menangis, mengeluarkan kata tersebut seperti keluar dari lubang buaya masuk lubang serigala sangat apess, dia menepuk jidatnya merutuki dirinya.
"Bagus segera bawa dia ke rumah ini" ucap ayah wijaya yang sedikit lega dengan perkataan Justin yang sudah menemukan wanita pilihannya.
"Ya ya, aku akan segera membawanya" ucap Justin pasrah pada ke adaan. Saat ini yang lebih penting adalah meyakinkan ayahnya, untuk masalah wanita akan di urusnya nanti. Begitulah pikirannya.
__ADS_1
"Pricil bagaimana dengan kukiah mu?" tanya Wijaya mengalihkan pembicaraan ke arah Pricil. Pricil yang sedang asyik dengan cemilannya menjadi tidak fokus dengan pertanyaan Wijaya.
"Iy,,, iya ayah?" jawab Pricil terbata karena terkejut, akan kah di juga menjadi korban perjodohan hari ini?
"Pricil, apa kau sudah menyelesaikan skripsi mu?" lanjut bunda Mary untuk mengalihkan perhatiaan Pricil,
"Sudah di serahkan bun, tetapi masih belum ada kabar dari pembimbing Pricil," ucap Pricil dengan penjelasannya.
"Apa rencana mu setelah wisuda nanti?" tanya pak Wijaya memastikan kepada anak gadisnya tersebut
"Aku sudah mempunyai rencana ayah. Nanti ayah akan tahu" ucapnya yang tidak ingin menjadi korban seperti kakak- kakaknya, sebenarnya dia masih belum mempunyai tujuan setelah wisuda, akan di pikirkan nanti, saat ini dia hanya ingin selamat dari monopoli ini. Haha haha haha
"Bagus, kamu pikirkan dengan matang, " ucap Wijaya,
Pricil yang tidak ingin di interogasi semakin dalam dan banyak oleh ayahnya memilih untuk mengundurkan diri pergi ke kamar tidurnya menghindar. Dia tidak akan tahu bagaimana lanjutannya jika dia harus bertahan lebih lama lagi disana. Justin juga mengundurkan diri mengikuti Pricil, dia juga wanti- wanti dengan keadaan sekarang ini, banyak serangan yang akan di berikan oleh ayahnya, jika dia tetap berdiam diri disana.
"Ini masih belum larut malam" ucap bunda Mary, memastikan jam ni tangannya,
"Iya bunda, tetapi aku ngantuk sekali, aku akan istirahat duluan" pamit Pricil dan di iyakan oleh mereka,
"Sepertinya aku juga sangat lelah, aku akan ke kamar duluan" sambung Justin yang mengerti dengan situasi saat ini, melihat adiknya menyelamatkan diri, dia juga harus ikut menyelamatkan dirinya.
"Baiklah jika kalian memang sudah lelah, istirahat lah" ucap bunda Mary. Dia juga kasihan kepada anaknya yang sudah menghabiskan tenaga hari ini untuk bekerja sehasian, sehingga mereka juga lerlu istirahat.
"Kita juga butuh istirahat" ucap ayah Wijaya, setelah melihat kedua anaknya tersebut memasuki kamar mereka masing- masing. Ini waktunya untuk beraksi.
__ADS_1
"Tidak aku belum ngantuk" jawab bunda Mary dingin, sepertinya dia tau apa maksud dari perkataan suaminya,
"Tetapi aku hutuh asupan gizi" ucap Wijaya berusaha menggoda istrinya supaya mereka beristirahat juga.
"Maka kau pergi saja ke rumah sakit untuk mendapatkan obat penambah gizi" jawab Bunda Mary,
"Jangan mengharapkan yang lain, aku tahu apa yang ada di pikiran mu," Lanjut bunda Mary dengan ketus karena dia cukup mengerti apa tujuan suamijya itu,
"Itu ada pada mu sayang" jawab Wijaya, sudah menarik tangan Mary berdiri dari kursi mereka dan menuju kamar mereka. Mereka pun menghabiskan malam yang panjang.
Sementara di kamar yang bernuansa Abu- abu tersebut, Dipta menyibukkan dirinya untuk membaca buku yang ada pada salah satu koleksi di kamarnya. Mungkin itu dapat membantunya supaya tidak terlalu pusing untuk memikirkan tentang pernikahan yang selalu di desak oleh orangtuanya itu. Bukan niat hati yang tidak ingin membahagiankan orangtua, tetapi hati yang belum siap berlabuh pada hati wanita, itu sangat sulit dia lakukan. Dia akan lebih memilih untuk mengurus perusahaan daripada harus berurusan dengan wanita.
Bosan dengan buku yang ada di tangannya, Dipta pun menutupnya dan meletakkannya di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya, dia menggantikan buku tersebut dengan posel yang terletak disana. Dia sibuk mengotak atikkan ponsel tersebut. Niat hati pertama, dia akan memeriksa email dari perusahaannya, dan lama kelamaat dia membuka sesuatu di sana.
"apa dia mau?" ucapnya lirih setelah dia menemukan apa yang sedang dia cari,
"aku akan membicarakannya nanti saja" lanjutnya kembali, kemudian dia mematikan ponsel tersebut dan membaringkan tubuhnya.
Dipta cukup lelah memikirkan pekerjaan dan juga keinginan orang tuanya hari ini, dia pun terlelap dalam tidur dan berjelajah di alam mimpinya. Keinginannya semoga besok datang dan berpihak kepadanya.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗