CEO TAMPAN ITU SUAMI KU

CEO TAMPAN ITU SUAMI KU
Episode 25


__ADS_3

Episode 25


Setelah Justin dan Lela meninggalkan klien proyek yaitu buk Nilam. Mereka pun berlalu dari restoran itu. Mereka berencana akan kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan mereka. Sebenarnya tidak ada rapat hari ini. Tetapi sepertinya Justin dan Lela menyadari sesuatu yang tidak bisa, itu kenapa mereka sepertinya saling memahami. Dan mereka pun sepakat menghindar dari klien itu.


Tiba- tiba di tengah jalan, ada sesuatu yang mengalihkan perhatian Justin. Sepertinya itu sangat penting sehingga dia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kantor. Dia menyuruh Lela terlebih dahulu ke kantor.


"Lela, kamu ke kantor duluan , kamu bawa saja mobil ku" Justin menyerahkan kunci mobilnya kepada Lela.


"Apa masih ada urusan lain pak?" Tanya Lela sembali menerima kunci mobil yang di berikan oleh Justin.


"Ada sedikit urusan yang harus saya kerjakan, saya akan segera kembali ke kantor setelah itu" jawab Justin


"Baik lah pak" Lela pun segera berlalu dari sana dan mengendarai mobil Justin untuk kembali ke kantor.


Sementara Justin segera berlalu dari restoran itu dan segera beranjak ke arah pendangan yang sempat mengalihkan perhatiannya sesaat tadi. Dia menjumpai seseorang yang sedang duduk di sebuah tokoh makan sederhana di sekitar restoran itu. Dia melihat seseorang itu sedang bersantai dan makan jajanan.


####


Di suatu tempat lainnya. Sepasang manusia sedang dalam suasana yang tidak bisa di jelaskan seperti apa saat ini. Kejadian itu masih belum bisa di selesaikan dengan kata- kata.


Tubuh yang saat ini masih bergetar yang di rasakan oleh Alle membuatnya membalikkan badan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sekarang mereka saling berhadapan dalam pelukan.


"Pak apa anda menangis?" Tanya Alle yang menangkup wajah lelaki itu dengan ke dua tangan nya. Yang di tanya hanya diam seribu bahasa, sepertinya dia merasa takut dengan apa yang baru saja di katakan oleh Alle.


"Pak apakah anda takut?" Alle masih memperhatikan Dipta yang berada di hadapannya. Alle jadi merasa bersalah telah mengerjai atasan nya itu. Dia pun menepuk pundak Dipta untuk menenangkan nya. Sementara Dipta meletakkan kepada nya di bahu Alle.


Setelah beberapa menit kemudian Dipta pun sudah merasa tenaberpdan dia melepaskan pelukannya dan berdiri tegak di hadapan Alle.


"Apa bapak sudah merasa baikan? Maafkan saya, saya ngak bermaksud untuk mengerjai bapak" ucap Alle merasa bersalah kepada Dipta.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Dipta dengan wajahnya yang masih di tekuk karena merasa kesal.


"Lagian bapak juga kenapa berteriak- teriak memanggil saya. Saya juga tidak tau kalau bapak takut dengan hal itu" Alle berusaha membela dirinya sendiri.


"Saya tidak takut, hanya terkejut saja" kilah Dipta yang merasa malu. Mau di taruh dimana muka nya jika dia terlihat lemah di depan wanita.


"Tapi nyatanya bapak tadk menangis ketakutan" jawab Alle tersenyum kepada dipta sembari mengedipkan salah satu mata nya.


" i- it- itu karna hal lain" kilah nya kembali


"Itu gantikan kursi itu dengan yang baru. Kamu bisa menghubungi petugas dalam itu nanti" lanjut Dipta yang tidak mau memakai kursi itu lagi.


"Kenapa harus di ganti pak? Itu masih bagus" jawab Alle.


"Tidak. Kau harus menggantinya" Dipta bersikeras untuk mengganti


"Baiklah saya akan menggubungi petugas properti nanti pak" jawab Alle, kemudian berlalu dari sana ke ruangan nya.


"Kau mau kemana?" Dipta menahan tangan Alle, sehingga menghentika langkah kaki Alle.


"Keruangan saya pak"


"Aku juga akan ke sana" jawab Dipta tidak ingin di tinggalkan sendiri.


"Pak ini siang bolong. Bapak bisa menunggu di ruangan bapak sendiri" jawab Alle, tetapi Dipta masih menggenggam tangan Alle.


"Ya terserah bapak saja" akhirnya Alle mengalah dan membiarkan Dipta menvikutinya ke ruangan kerja Alle.


Alle pun menghubungi orang yang bisa mengganti kursi Bos gila itu secepat mungkin. Setelah selesai, kemudian dia kembali fokus dengan pekerjaan nya. Sementara Dipta hanya duduk di depan Alle dan sesekali memangdang ke arah meja nya.

__ADS_1


Tiga puluh menit sudah berlalu, tetapi kursi Dipta belum juga di ganti. Sudah cukup lama. Tidak tahu apa penyebabnya, padahal Alle sudah mengatakan supaya cepat di kerjakan. Mungkin telah terjadi sesuatu.


"Kenapa lama sekali hanya untuk mengganti satu kursi saja?" Dipta sudah tidak sabar lagi kursinya di ganti.


"Sabar pak, mungkin sudah dalam perjalanan ke sini dan anda tahu jalanan macet" jawab Allet tetapi masih fokus ke komputer di depannya.


Dipta yang sedari tadi memandang meja kerjanya sesekali dia mengusap kedua bahunya merasa merinding. Karena dia takut, dia pun memindahkan kursi yang dia pakai saat ini ke samping Alle. Alle yang melihat itu hanya menggeleng.


"Anak- anak saja tidak akan percaya dengan hal yang begitu. Kenapa orang dewasa seperti anda merasa takut." Alle mulai curiga, apakah atasan nya itu adalah seorang laki- laki? Atau seorang b*nc*ng?


"Dengan sikap anda yang seperti ini membuat saya meragukan anda sebagai laki- laki pak" Alle memang sudah meragukan Dipta.


"Bodo Amat. Cepat hubungin kembali mereka dan katakan jika mereka tidak datang secepat mungkin, jangan harap mereka masih melihat hari esok." perintah Dipta sangat tegas. Kemudia Alle pun menghubungi kembali pihat yang bersangkitan dan menyuruh mereka supaya memlercepat untuj datang.


Dipta kembali mendekatkan kursi miliknya ke arah Alle dan memilih untuk menyandarkan kepala nya di meja kerja Alle. Dan belum lama dia pun akhirnya tertidur.


Alle memperhatikan Dipta yang sudah tertidur di meja nya. Dengan kedua tangannya yang di jadikan sebagI tumpuan kepala nya. Alle menjadi merasa bersalah telah mengerjai Dipta. Tetapi apa boleh buat, dia tidak mengetahui jika akhirnya akan seperti ini. Lagian juga Dipta yang memulai perkara terlebih dahulu, sehingga Alle ingin membalasnya sedikit saja. Tetapi malah begini jadinya.


"Apakah dia merasa begitu takut? Seharusnya dia tahu kalau aku hanya bercanda. Kenapa di buat menjadi serius" Alle memperhatikan lekat wajah lelaki yang di hadapannya itu.


"Dia juga takut akan hal itu seperti mu" ucap Alle lirih, ingatan nya telah terlintas sesuatu yang sangat berharga baginya. Dia hanya tersenyum sambil mengucapkan beberapa kata tersebut. Tetapi di balik senyum itu tersirat makna lain yang berbeda arti.


*Bersambung


Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄


Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍


Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗

__ADS_1


__ADS_2