
Episode 61
Makan malam di kediaman Wijaya yang di rencanakan oleh Wijaya dan juga Martin saat ini sedang berlangsung. Mereka menikmati makanan malam mereka dengan seksama. Para orangtua sedikit bercada tawa dan sembari bercerita tentang masa lalu mereka. Sedangkan para anak di meja makan tersebut hanya bisa menebak- nebak apa yang sedang terjadi dan akan terjadi malam hari ini. Pikiran mereka terarah pada pembahasan orangtuanya sebelumnya tentang pernikahan dan juga jodoh mereka. Tetapi tidak ada yang mereka ketahui untuk malam ini.
Alle dan juga Dipta merasa bingung dengan keadaan ini. Ini tidak ada pada rencana mereka. Mereka hanya merencanakan untuk berpura- pura sebagai kekasih jika mereka ingin di pertemukan dengan pilihan orangtuanya. Tetapi malam ini berbeda, sungguh tidak ada yang mengetahuinya.
Alle dan Dipta saling beradu pandang, saling meminta penjelasan ada apa yang terjadi saat ini? Ini bukalah rencana yang di sepakati sebelumnya. Alle memelototi Dipta dan menaikkan kedua alisnya, seperti ingin meminta penjelasan, tetapi Dipta yang mengerti arti tatapan itu hanya menaikkan kedua bahunya yang berarti dia juga tidak tahu apa yang terjadi.
Makam malam mereka pun akhirnya berakhir, saatnya mereka membahas apa yang akan mereka bahas malam ini seperti pembicaraan Wijaya dan juga Martin sebelumnya.
"Ada baiknya jika kita berbincang di ruangan tamu, supaya lebih nyaman" ucar Wijaya yang sudah menyelesaikan makannya dan merasa bahwa di ruangan makan sungguh tidak tepat untuk membahas sesuatu yang serius.
"Mari,," ajaknya dan berdiri dari duduknya melangkah kearah ruang tamu.
Yang lainnya juga mengikutinya dari belakang. Sesampainya di ruangan tamu, diapun duduk di kursi utama ruangan itu bersama istrinya. Disebelah kanan Wijaya ada Dipta, Pricilya dan juga Justin. Di depan Mereka ada Alle dan juga Martin. Dan di samping mereka ada Pak Yusuf dan juga Bu Rusmi.
"Karena kita sudah berkumpul di ruangan ini, Pak Martin,ada baiknya anda yang memulai" ujar Wijaya mendahului berbicara.
"Kau berbicara seolah aku ini adalah orang lain" jawab Martin yang menyunggingkan senyum sinisnya kepada Wijaya. Mereka sudah terbiasa dengan sikap satu sama lain.
"Kau adalah tuan rumah disini, dan kami adalah tamu. Maka kau lah yang akan memulainya" lanjut Martin.
"Baiklah jika begitu. Kalian tahu, Martin ini adalah teman seperjuangan ayah waktu muda dulu, dan setelah memiliki perusahaan masing- masing, kami jadi tidak pernah bertemu seperti ini, karena sibuk dengan pekerjaan." Wijaya menjeda pembicaraannya sebentar.
__ADS_1
"Maka ayah mengundang mereka untuk makan malam di rumah kita" lanjut Wijaya. Kemudian dia mengalihkan padangannya pada Dipta.
Dipta yang menyadari pandangan dari ayahnya membelalakkan matanya. Dia menatapa curiga pada Wijaya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa ayah melihat ku seperti itu?" Begitulah arti tatapan Dipta. Dia sunggu tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Wijaya saat ini.
"Dipta. Dia adalah Alle anak pak Martin. Cantik bukan?" Ucap Wijaya memandang Dipta.
"Ya cantik, terus apa sekarang?" Batin Dipta memandang tajam Ayahnya.
"Mungkin kalian sudah pernah berjumpa dengannya atau bahkan sudah mengenalnya." Lagi- lagi Wijaya memberikan Jeda pada pembicaraannya. Membuat semua keluarganya bingung kecuali Martin dan juga Yusuf yang mengetahuinya.
"Iya dia adalah sekretaris ku. Ada apa sekarang?" Dipta juga berbicara dalam hatinya,dia tidak ingin menyela pembicaraan Ayahnya.
"Ayah dan pak Martin berencana untuk menikahkan kalian. Supaya hubungan keluarga kita semakin dekat dan kamu juga bisa menata masa depan mu bersama nya, dan memperhatikan mu setiap hari juga mengurus mu." Ucap Wijaya menjelaskan tujuan mereka mengadakan pertemuan ini.
Dipta dan juga Alle saling beradu pandang. Mereka merasa bingung. Kenapa dengan hari ini?. Sunggu di luar dugaan mereka. Dipta yang mendengar hal tersebut pun mulai meluap- luap, memanas dan akan meledak. Wajahnya memerah karena menahan emosi.
"Kenapa ayah merencanakannya? Kenapa ayah tidak membicarakannya kepada ku terlebih dahulu? Ini adalah urusan pribadi ku. Aku akan menata masa depan !!" Suara Dipta menggelegar di ruangan tersebut. Dia sunggu tidak mengerti dengan ayahnya, kenapa bisa menyimpulkan hal sebesar ini sendirian.
"Ayah tahu apa yang terbaik untuk mu. Dan juga sudah berapa bulan kau selalu saja mengatakan hal seperti itu. Tetapi sampai detik ini kau tidak pernah mnunjukkan bukti dari perkataan mu" jawab Wijaya dengan nada bicara yang tidak ingin di bantah.
"Tapi Ayah juga harus membicarakannya terlebih dahulu kepada ku. Bahkan ke semuanya. Atau cuman aku yang tidak mengetahui hal ini?" Teriak Dipta kepada Ayahnya, dia melihat bunda, Pricilyan dan juga Justin bergantian. Yang di tatap hanya mengangkat bahu, pertanda mereka tidak mengerti.
__ADS_1
Alle pun yang mendengar hal itu merasa tidak setuju dengan keputusan sepihak tersebut. Dia tidak terima, jika harus di paksa seperti ini. Dia juga mempunyai hak sendiri untuk dirinya, tidak seperti ini caranya. Bisa di bicarakan terlebih dahulu sebelum waktunya untuk di bicarakan oleh kedua belah pihak.
"Ayah!! Apa maksudnya ini?" Ucap Alle memandang ayahnya Martin meminta penjelasan darinya, bagaimana bisa seperti ini.
"Ayah sudah pernah membahasnya bersama mu sayang" ucap Martin dengan santai. Ya walaupun bukan sepenuhnya dibahas dan bahkan orang yang dimaksud pun tidak tahu siapa.
"Tetapi sudah Alle katakan kepada ayah, bahwa Alle akan mengurusnya sendiri. Dan aku yang akan memilihnya dan mengaturnya. Bukan seperti ini ayah" ujar Alle dengan penekanan. Dia sudah di ambang emosi. Tetapi dia tetap menahannya.
Semua yang ada di dalam ruangan itu pun terdiam. Tidak tahu apa yang akan mereka katakan lagi. Alledan juga Dipta masih menunggu penjelasan dari kedua orangtuanya. Sementara yang lainnya hanya menyimak kejadian di dalam ruangan tersebut.
"Ayah sudah mengaturnya semua. Dan juga Martin sudah menyetujui hal tersebut." Lanjut Wijaya menjelaskan,
"AYAH!!!" Sontak suara Alle dan juga Dipta menggelegar diruangan tersebut. Alle dan juga Dipta berusaha untuk meminta pengertian dari kedua orangtua merek.
"Kalian tahu, bahwa kami semua tidak lagi muda, dan mempunyai tenaga seperti kalian lagi.kami juga ingin meminang cucu, sebelum kami mengakhiri usia kami, kalian juga harus mengerti betapa malangnya kehidupan para orangtua yang sudah berusia ini" jelas Wijaya yang menyetel wajahnya menjadi sedih dan begitu malam. Begitu juga dengan Martin mereka berakting saat ini.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗
__ADS_1