CEO TAMPAN ITU SUAMI KU

CEO TAMPAN ITU SUAMI KU
Episode 52


__ADS_3

Episode 52


Setelah selesai rapat bulanan perusahaan utama di laksanakan, Justin kembali lagi ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaan kantor lainnya. Dia masih di selimuti rasa kesal karena Dipta tidak mengikuti rapat tersebut. Dia akan mengadukannya kepada ayah Wijaya. Mereka seperti anak kecil saja, saling mengadu, jika Justin akan ada di pihak bunda Mary maka Dipta akan ada di pihak sang ayah Wijaya. Tetapi malangnya Dipta jika Justin berada di pihak sang ayah Wijaya, maka tidak akan ada yang membelanya. Maka itulah salah satu cara Justin untuk melawan sikap kekanak- kanakan Dipta.


Sekarang jam menunjukkan bahwa sudah jam pulang kerja, Justin pun sudah berberes untuk segera pulang ke rumah, dia sudah mentekadkan bahwa dia akan mengadu kepada sang ayah supaya dia di pindahkan kedudukannya menjadi Dipta. Semoga berhasil itulah yang masih di pikirkan oleh Justin.


Dia keluar dari ruangannya dan langsung menuju lift untuk turun, saat sedang di dalam lift terdengar bunyi ponsel di kantongnya, menandakan bahwa ada yang sedang menghubunginya. Dia merogoh ponsel dari kantong celana tersebut dan melihat siapa yang sedang menelponnya.


"B*j*ng*n gila ini menelpon ku lagi? Apa yang dia inginkan sekara?" Gerutunya saat melihat nama yang menghubunginya adalah Dipta.


Dia pun menekan tombol hijau dan menggesernya ke arah kanan ponsel.


"Ada apa kau menghubungi ku?" Tanyanya langsung kepada point karena tidak ingin berbasa basi.


"Kau tahu aku tidak membawa mobil, kenapa kau tidak kunjung menjemput ku?" Teriak Dipta dari seberang sana. Kenapa mereka sering tidak membawa mobil sendiri? Bukankah mereka orang kaya? Apakah mobil di rumahnya sudah tidak ada? Kenapa mereka hanya menggunakan mobil sendiri?. Ahhhh itu adalah permintaan sang bunda dan ayah Wijaya. Jika mereka membawa mobil masing- masing, Dipta tidak akan lergi ke kantor mengurus perusahaan cabang, dia akan kembali ke luar negeri dan menjalani hidup disana. Kenapa seperti itu? Saya juga tidak tau.


"Aku sudah sampai di rumah, kau naik taksi saja" jawab Justin dengan santai karena dia akan segera menjemput Dipta setelah dari kantornya. Dia tidak lupa akan hal itu.


"Kau mau mati?" Teriak Dipta karena merasa kesal, sebenarnya naik taksi juga tidak terlalu buruk.


"Aku sedang di perjalanan , kenapa kau tidak bisa sabar sedikit?" Ucap Justin kesal dan ucapan itu terdengar dingin.


"Kenapa tidak bilang dari tadi, aku tidak akan menghabiskan suara ku" jawab Dipta yang sudah merendahkan nada suaranya.


"Itu karena kau bodoh" jawab Justin. Dia tidak ingin menambahakan perdebatan lagi di antara mereka.


Sudah beberapa menit kemudian, sekitar 35 menit Justin sudah berada di depan perusahaan HJ saat ini. Dia melajukan kendaraannya dengan kecapatan tinggi tetapi tetap hati- hati, supaya tidak menunggu lama dia akan sampai untu menjemput Dipta. Dia membunyikan Klakson mobilnya danDipta pun mendekat karena sudah berada di lobby perusahaan itu.

__ADS_1


"Kau sangat lama" ucapnya memasuki mobil yang sudah di bukakan pintu oleh Justin.


"Lama kelamaan kau seperti bunda, sangat cerewet sekali" ucapnya tanpa menoleh dan sudah melajukan mobilnya kembali


"Aku akan mengadukan mu kepada bunda, kau mengatainya" jawab Dipta yang tersenyum licik melirik Justin yang di sampingnya.


"Kau akan kembali menjadi anak SD, maka aku akan merasa senang untuk bisa menendang mu lagi" jawab Justin tidak mau kalah. Apa mereka tidak sadar berapa usia mereka saat ini? Astagah bagaimana mereka bisa melupakannya.


Mereka memilih untuk fokus pada kesibukan mereka, Justin fokus pada jalanan, membawa mobilnya dan Dipta fokus pada ponsel di tangannya. Dipta tersilah senyim- senyum sendiri dengan memandangi ponselnya, ketika Justin melihatnya, dia mulai merinding, kenapa anak ini tersenyum sendiri?


"Apa kita perlu ke rumah sakit?" Tanya Justin kepadanya hanya menoleh sebentar saja.


"Kenapa kita harus ke rumah sakit?" Tanya balik Dipta yang tidak mengerti arah pembicaraan Justin.


"Kau tersenyum sendiri dengan memandangi ponsel mu, apa itu tidak terlihat aneh?" Ucap Justin.


"Ahk sepertinya benar kita perlu ke rumah sakit, aku akan menelpon bunda untuk itu" ucap Justin yang ingin mengambil ponselnya


"Aku hanya melihat foto di ponsel ku dan itu terlihat lucu" Dipta pun menjelaskan kenapa dia tersenyum sendiri.


"Foto apa yang membuat mu sampai tersenyum huh?" Nada bicara Justin sudah menunggi.


"In.... Ahk kau tidak bisa melihatnya, jika kau melihatnya itu akan berbahaya untuk ku" jawabnya yang terhenti memberikan ponselnya untuk Justin.


"Kenapa berbahaya? Apa yang ku lakukan rupanya?" Jawab Justin penasaran.


"Kemarikan tunjukkan pada ku" lanjutnya kembali,

__ADS_1


"Tidak, tidak, sebaiknya kau fokus mengendarai, aku akan menyimpannya" ucap Dipta yang sudah menyimpan ponselnya.


"Seperti anak kecil saja, pakai rahasia" ucap Justin kesal


"Terserah mu" ucap Dipta dan mengalihkan pandangannya ke luar kaca menikmati jalanan di sana.


"Apakah foto seorang wanita?" Justin mencoba menebaknya, karena bukankah seperti itu jika seseorang menyukai wanita, akan senyum sendiri jika mengingatnya? pikiran Justin.


"Tidak, itu adalah rahasia, kau tidak boleh mengetahuinya" cerocos Dipta mengibaskan tangannya pada Justin tanpa berpaling melihatnya.


Apa sebenarnya yang di lihat oleh Dipta di ponselnya. Gambar apa yang dia perhatikan? Kenapa Justin tidak bisa melihatnya? Dan kenapa juga akan berbahaya untuknya jika sampai Justin melihat isi foto yang ada di ponsel Dipta tersebut?.


Aku saja tidak tahu kenapa bertanya kepada ku?" Justin.


Sebenarnya Dipta melihat poto Alle yang memakai traning dengan karakter kelinci yang dia sempatkan mengambil gambarnya tadi waktu mereka sedang di studio pemotretan. Senyumannya tidak pudar walau pun poto Alle hanya biasa saja, karena sedikit di halangi oleh beberada staff yang sedang lalu lalang.


Apakah Dipta sesenang itu karena melihat foto candid Alle di pinselnya? Dipta kembali merogoh ponselnya dari kantung celana yang sempat iya simpan tadi, dia membuka kembali foto itu, dan sepertinya dia mengatur foto itu sebagai walpaper ponselnya. Bukankah itu terlihat seperti anak remaja? tidak sebanding dengan umurnya yang sudah tua.


Siapa yang akan melihat walpaper tersebut nantinya? akankah Justin melihatnya? dan menjadi bahan ejekan dalam perbincangan malam keluarga mereka, dan mengusulkan bahwa Dipta lah yang akan menikah terlebih dahulu?


*Bersambung


Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄


Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍


Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗

__ADS_1


__ADS_2