
Episode 31
Alle saat ini sudah berada di kamarnya. Kamar yang sangat luas dan di dominasi dengan dua warna dimana perpaduan antara warna putih dan juga navy. Sangat nyaman dimata. Alle berbadi di tempat tidur king size miliknya. Dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan kaki yang menggantung ke lantai kamar.
Dia mengambil benda kecil dari nakas tempat tidurnya, kemudian menekan tombol on pada benda itu. Dia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan kepala. Dia memangdang kosong di atas kamar tersebut.
Dia memandangi langit diluar banyak bintang yang bersinar disana. Bintang tersebut bebas ingin bersinanr terang dan atau hanya memunculkan sedikit sinar mereka. Mereka bertaburan di langit itu secara bebas. Ingin rasanya Alle beralih kesana.
"Apa yang harus aku lakukan? Satu sisi aku masih ingin menikmati masa muda ku. Di sisi lain aku tidak ingin mengecewakan ayah" ucap nya lirih. Dia masih memikirkan perkataan ayahnya, yang meminta dia untuk menikah.
"Bukan kah itu terlalu cepat jiia aku menikah di usia 22 tahun? Masih banyak yang ingin aku lakukan," banyak pertimbangan yang Alle lakukan. Sementara dia masih baru saja bekerja. Dia ingin sukses seperti ayah nya dengan kemampuan dia sendiri.
"Aku akan menikah jika aku sudah menemukan orang yang tepat nantinya" itulah kesimpulan terakhir Alle. Dia akan menikah jika dia sudah menemukan lelaki yang baik untuk menjadi suaminya kelak, dia tidak ingin terlalu terburu- buru menikah.
Alle pun terlelap dalam tidurnya. Alle merasa kelelahan karena banyaknya kegiatan yang dia lakukan hari ini. Belum juga dia harus memikirkan permintaan ayahnya. Dia akan kembali memikirkan hal tersebut nantinya.
####
Dipta dan Justin sunggu ingin muntah ketika kedua orangtua dan adiknya memikirkan hal yang belum mereka pikirkan barang sedetik pun. Ketiga orang dekat nya itu merencanakan pernikahan yang untuk mereka berdua. Menebak- nebak tipe perempuan mana yang akan menjadi pendamping mereka. Dimana mereka akan melaksanakan bulan madu. Bagaimana nanti lucunya jika mereka mempunyai anak. Jenis kelamin apa yang akan mereka rencankan.
Sangat jauh sudah pemikiran mereka, orangtuanya merencakan semuanya, sementara yang berperan dalam cerita mereka entah dimana dan sedang apa.
Mereka memikirkan itu saja sudah merinding, apalagi jika mereka menikah? Apa yang akan terjadi nantinya? Mencitai perempuan pun mereka tidak ingin (keciali bunda dan adiknya) apalagi menikahi perempuan. Sungguh di luar dugaan
Dipta dan juga Justin memejamkan matanya, menundukkan kepala dengan tangan sebagai pangkuannya. Sedangkan tangan satunya lagi terlipat di dada bidang mereka. Memijat- mijat keningnya. Memikirkan apa yang sedang di lakukan ketiga manusia di depan mereka itu.
Menahan emosi dan kekesalan yang hampir meledak. Tidak sekali pin ketiga manusia itu menghiraukan mereka berdua yang memanggil- manggil mereka supaya menghentika ke konyolan itu.
__ADS_1
Akhirnya kesabaran Dipta sudah di ujung tanduk, dia tidak ingin mereka berharap lebih darinya, sementara pada kenyataan dia tidak sedang tertarik dengan wanita mana pun saat ini. Tidak tahu apa begitu kenyataannya.
"Stop!!! That's enought" teriak Dipta menggelegar di ruangan itu. Membuat empat manusia terkejut dengan teriakan itu. Sehingga mereka terdiam dan mengalihkan pandangan nya kepada orang yang berteriak itu.
"Bunda, Ayah, Pricil stop!!! Jangan membahas hal yang tidak penting" lanjutnya, akan menepis pikiran omong kosong mereka,
"Apa yang tidak penting nak? Itu baik untuk mu jika dalam waktu dekat ini menikah" jawab Bunda Mary
"Aku tidak akan menikah dalam waktu dekat ini. Usia ku masih muda bun,dan masih banyak yang harus aku lakukan" jawab Dipta menggebu- gebu.
"Aku akan menikah jika aku menginginkannya. Jika aku tidak menginginkannya, aku tidak akan menikah. Jadi berhenti berfikir yang tidak- tidak" keputusan akhir dari Dipta yang sudah dalam mood yang buruk.
Setelah itu dia pun berlalu dari ruangan itu. Dia hendak pergi ke kamarnya. Menghindar dari pembicaraan yang melantur kemana- mana. Tetapi sebelum dia berlalu dari sana, dia menyampaikan sesuatu.
"Akan lebih baik jika aku tidak menikah sepertinya" ucapnya berbalik melihat kedua orangtuanya itu. Dan kemudian segera menuju kamarnya.
Justin yang melihat orangtua dan adiknya memandanginya dengan penuh harap, dia hanya mengangkat kedua bahu dan tangannya. Dia juga sebenarnya tidak pernah terpikirkan kalau akan menikah.
"Ayah, Bunda. Justin juga belum menemukan orang yang tepat, yang cocok untuk menjadi pendamping hidup ku" jawab Justin menjelaskan kepada orangtuanya. Bahwa dia belum juga memikirkan perkara menikah.
"Bunda akan mencarikan nya untuk mu, anak teman ayah mu banyak yang cantik- cantik. Bunda akan mengatur kencan buta kalian" usul dari bunda Mary untuk mencarikan sendiri calon menantu.
"Bukan seperti itu Bun, Aku akan mencarinya sendiri. Yang akan menikah kan Justin, jadi aku akan mencari yang cocok buat ku" jawabnya.
"Tetapi mencoba dahulu tidak salah nak" timpal ayah Wijaya supaya Justin mau untuk menikah
"Wanita buka untuk di coba- coba ayah. Yah sudah Justin mau istirahat dulu, besok akan bekerja" Justin pun berdiri dan akan segera berlalu dari sana,
__ADS_1
"Sebaiknya kalian juga istirahat, jaga kesehatan kalian sudah berumur" ucap Justin sembari tersenyum dan kemudian berlalu dari sana.
"Kalau soal pernikah, biarkan kami sendiri yang menentukannya" lanjut nya kemudia dia juga berlalu ke kamar mereka.
Setelah kedua anak nya berlalu dari ruangan keluarga Mary dan juga Wijaya mengalihkan pandangannya kepada Pricilya. Pandangan itu berarti bahwa mereka juga menginginkan anak gadis mereka menikah.
Jika kedua anak nya tidak menginginkan pernikahan dalam dekat ini, maka masih ada satu lagi anak gadis mereka, dia juga sudah bisa menikah kan? Begitulah pemikiran orang tua tersebut.
Pricilya yang mengerti arti pandangan kedua orangtuanya, buru- buru menepis pikiran itu, sebelum akhirnya dia yang akan menjadi korbannya. Dia masih berusia sangat mudah dan belum menyelesaikan kuliahnya, juga belum bekerja, jadi itu tidak bisa sampai terjadi.
"Tidak,,, Tidak. Pricil tidak ingin menikah. Pricil masih kuliah dan masih muda" ucapnya menepis pikiran orangtua nya.
"Tidak masalah jika kamu menikah dan melanjutkan kuliah nak" jawab bunda Mary penuh harap
"Tidak, Tidak. Pricil tidak ingin mendahulu kaka, untuk menikah, jika mereka menikah Pricil akan memikirkan selanjutnya, dan jika tidak. Pricil juga tidak akan menikah" ucapnya.
Setelah mengucapkan kata tersebut, Pricil memilih untuk berlalu dari sana, sebelum orangtuanya memaksa dia untuk menikah dan akan seperti apa jadinya masa depan yang dia impikan nanti.
Dia masuk ke dalam kamar dan memilih untuk beristirahat karena dia akan berangkat bekerja pagi hari supaya dia tidak terlambat. Demikian juga hal nya dengan Dipta dan juga Justin memilih untuk beristirahat mengisi energi mereka.
Orangtua mereka yaitu Wijaya dan juga Mary memilih untuk beristirahat di kamar mereka, tetapi meraka masih memikirkan tentang pernikahan anak nya, dan berfikir untuk menjodohkan kedua anaknya nanti jika mereka tidak menikah. Begitu pun waktu telah berlalu, mereka pun terlelap dalam mimpi masing.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗