
Episode 72
Dipta dan juga Alle sudah menyetujui permintaan dari orangtua mereka bahwa pernikahan akan dilakukan seminggu kedepannya. Mereka akan melakukan prewedding dan juga fiiting baju pengantin mereka. Kemudian undangan akan disebarkan kepada pihak keluarga dan juga orang terdekat.
"Baiklah Alle terserah pada ayah saja. Jika pernikahannya akan dilaksanakan seminggu lagi Alle akan mengitunya. Seperti yang kalian katakan bahwa lebih cepat lebih baik" ucap Alle menerima keputusan tersebut.
"Tapi Alle punya satu permintaan, apakah bisa ayah?" Lanjut Alle menatap Ayahnya penuh dengan harap. Berharap permintaan Alle yang satu ini akan di penuhi oleh orangtuanya tersebut.
"Apa itu sayang?" Ucap Martin sembari mengelus puncak kepala Alle dengan sayang,
"Alle ingin, pernikahan Alle hanya di hadiri oleh kerabat dekat saja, tidak usah di publikasikan ayah," ucap Alle sembari menundukkan kepalanya,
"Kenapa harus di sembunyikan sayang?" Timpal bunda Mary yang memang sedikit terkejut dengan permintaan calon menantunya itu.
"Apakah kamu tidak senang menjadi keluarga kami?" Ucap bunda Mary dengan suara yang begitu memelas karena merasa sedih dengan permintaan Alle bahwa penikahan tersebut tidak perlu untuk di publikasikan.
"Bukan seperti itu bun" ucap Alle. Kini Alle memanggil Mary dengan sebutan Bunda karena atas permintaan dari Mary sendiri, karena Alle akan menjadi menantunya, maka sudah seharusnya dia memanggil Mary dengan sebutan Bunda seperti Dipta.
"Alle bukan tidak suka, tetapi Alle hanya ingin pernikahan Alle sesederhana mungkin dan tidak perlu di publikasikan saja bunda" ucap Alle mengangkat kepalanya untuk menjangkau memperhatikan bunda Mary,
__ADS_1
"Tidak masalah bun,, biarkan seperti apa yang di kehendaki Alle, yang penting adalah kebahagian anak kita" timpal Wijaya yang begitu senang dengan permintaan Alle,
Benar. Jika dipublikasikan maka tidak akan terhitung banyaknya wartawan dan juga pembawa pemberitaan di media yang akan menyiarkan pernikahan mereka. Itu akan merepotkan mereka, sehingga apa yang di katakan Alle tersebut adalah benar. Dan itu solusi yang sangat bagus.
"Ayah akan mengabulkan permintaan calon menantu ayah. Ah ralat, buka lagi calon menantu tetapi menantu ayah" lanjut Wijaya dengan senang,
Mereka pun semua yang ada diruangan keluarga tersebut tertawa lepas dengan perkataan Wijaya. Mereka berbincang dan menyelipkan candaan sesekali di sana. Sampai waktu menunjukkan bahwa sudah sore.
"Dipta, Alle, bunda tadi sudah membuat janji akan bertemu dengan teman bunda yang membuat baju pengantin kalian. Kita bisa berangkat bersama nanti untuk sekedar melihat apakah gaunnya cocok untuk mu atau kau bisa memilihnya sendiri" ucap bunda Mary,
"Hhmmm,,, bu..bunda, apa bisa gaun pengantin Alle, nantinya adalah gaun rancangan Alle?" Tanya Alle dengan begitu hati- hati.
"Tidak masalah sayang, kenapa kau begitu takut. Malahan itu akan semakin bagus jika gaun yang akan kau pakai adalah design mu sendiri. Baiklah kita akan memberikan design itu kepada teman bunda, supaya dia menjahitnya" ucap Mary dengan begitu senang melihat Alle.
"Dan apakah tidak apa- apa bunda, jika baju Dipta juga adalah design Alle?" Tanya Alle yang masih terbata- bata karena dia takut salah,,,
"Itu semakain bagus sayang" ucap Bunda Mary yang begitu girang,
"Mari kita berangkat sekarang saja kalau begitu" lanjut bunda Mary mengajak Alle dan Dipta segera ke butik teman Mary.
__ADS_1
"Baik bun,,, Alle ke kamar dulu mengambil design bajunya bun" ucap Alle, dan segera berlalu ke kamarnya untuk mengambilkan buku design baju pernikahan rancangannya.
Ketika Alle masih berada di kamar mencari rancangan buatannya, mereka yang berada di ruang keluarga melanjutkan perbincangan mereka kembali.
"Tidak salah, aku memilih putri mu sebagai menantuku Martin" ucap Wijaya yang menyerut teh yang sudah tersediakan sejak mereka berada disana.
"Kamu harus bersyukur nak, mempunyai istri seperti dia" lanjut Wijaya menepuk bahu Dipta sebagai syarat untuk menyemangati anaknya tersebut.
Dipta hanya diam memperhatikan kamar dimana Alle tadi memasukinya, ada rasa bahagia dan juga bangga tersendiri di hatinya setelah mengenal Alle selama ini. Dan dia bahagia jika dia akan menikah dengan sekretarisnya tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian, Alle pun keluar dari kamarnya segera menemui bunda Mary supaya mereka segera berangkat ke butik yang telah dimaksud oleh Mary tadi.
Dipta, Alle dan juga bunda Mary pun melajukan mobilnya yang dikendarai oleh Dipta ke tempat butik dimana bunda Mary dan juga temannya membuat janji temu sebelumnya. Dipta yang mengendari mobil tersebut membelah jalanan kota itu dengan kecepatan sedang di jalanan yang tidak terlalu ramai kendaraan. Empat puluh menit kemudian mereka pun telah tiba di butik yang dimaksud oleh bunda Mary.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗