
Episode 43
Alle terkekeh melihat tingkah Dipta yang tidak menyukai anak kecil. Padahal wajah Hans sangatlah imut dan juga menggemaskan, siapa pun yang melihatnya akan suka kepada anak kecil tersebut. Tetapi lain cerita dengan Dipta yang malah tidak menyukai Hans.
"Tante kenapa paman itu sangat jelek sekali, juga sangat pemarah, Hans tidak suka" ucap Hans kepada Alle yang menggendongnya.
"Dia menyuruh mu supaya tidak menggendong ku, apa dia pacar tante?" tanya Hans memastikan, bagaimana bisa lelaki itu tidak suka kepadanya hanya karena Alle menggendongnya.
"Dia adalah bos tante dan juga mami jika di kantor. Tante juga tidak tahu kenapa dia tidak suka. Ah lupakan saja, mari kita bermain lagi" ajak Alle, supaya Hans tidak menghiraukan perkataan bos gilanya tersebut.
Sungguh di luar pikiran, bahwa seorang bosnya yang sudah tua tidak menyukai anak kecil karena Alle menggendongnya. Apa dia cemburu pada anak kecil itu? Apa dia menyukai Alle, sehingga dia merasa cemburu?. Pertanyaan itu pun tidak terpikir oleh Alle. Alle memilih untuk mengabaikannya.
####
Setelah selesai membantu Juny di tokoh kuenya, Alle pun permisi untuk ijin pulang, karena sudahsudah akan tiba saatnya makan malam, dan dia tidak ingin melewatkannya dengan ayahnya sendiri.
"Kak, Alle akan pulang terlebih dahulu, sebentar lagi akan makan malam" ucap Alle menghampiri Juny di dapur pembuatan kue.
"Iya ,Alle, terimakasih sudah membantu ku" ucap Juny yang memberhentikan aktivitasnya sebentar untuk menjawab Alle.
"Kakak juga pulang lah, sudah malam juga, jangan terlalu kecapean" ucap Alle menghampiri Juny dan memijik bahu Juny dari belakang.
"Iya setelah jni aku akan pulang Alle, jangan khawatir" jawab Juny yang tersenyum pada Alle, sudah biasa baginya Alle bersikap seperti itu. Dan dia sangat beruntung mempunyai teman seperti Alle.
"Baiklah, aku pulang dulu kak, jangan terlalu malam pulangnya, Hans akan kesepian" ucap Alle dan segera berlalu dari dapur dan mengambil barangnya kemudian dia pun melajukan mobilnya untuk pulang.
Hans sore tadi sudah di jemput oleh pak Budi dari tokoh, segera pulang dan mandi atau kegiatan lainnya, seperti biasa, supaya dia tidak terlalu kelelahan untuk sekolah besoknya kembali.
Juny masih mempunyai karyawan di tokoh tersebut. Juny mempekerjakan mereka dari pagi sampai sore setelah dia pulang bekerja. Dan mereka akan masuk kembali setelah malam, dan Juny sudah waktunya pulang ke rumahnya.
####
__ADS_1
Sementara di kediaman wijaya, setalah mereka makan malam dan juga sudah berberes, terlahat Dipta dan juga Justin di ruangan baca untuk bekerja sejenak menangani masalah perusahaan.
Tidak ada habisnya untuk mereka mengurus setiap perusahaan yang dipeercayakan kepada mereka berdua. Walaupun Justin menjawab sebagai direktur utama, tetapi Dipta tidak luput ikut juga membantu setiap pekerjaan Justin di kantor maupun dari rumah.
"Huh" Dipta menghela napas panjang, setelah dia menyelesaikan pekerjaannya. Sedetik dia menyandarkan tubuhnya di kursi yang dia duduki saat ini. Tiba- tiba tatapan tajam anak yang dia jumpai tadi sore terlintar di pikirannya. Bagaikana anak itu mencium pipi Alle dengan bebasnya. Dia pun mengeram, menggertakkan giginya, begitu kesal dengan hal itu.
"****, pers*t*an dengan anak itu" ucapnya melemparkan berkas di tangannya tadi ke atas meja kerjanya. Justin yang mendengar itu pun, berhenti sejenak melihat Dipta.
"Kau kenapa" tanyanya heran. Tidak biasanya anak itu terlihat sekesal itu.
"Kau tahu, anak itu mencium pipinya denga begitu leluasa, sungguh mwnjengkelkan" ucapnya masih menggertakkan giginya, mengepat sandaran tangan di kursi tersebut.
"Anak siapa yang kau maksud?" tanya Justin masih belum mendapat inti dari cerita Dipta.
"Aku tidak tau entah siapa namanya, tadi di tokoh kue itu, ada anak mencium pipi Alle" ucap Dipta menjelaskan.
"Haha haha haha, kau cemburu pada anak kecil?"
"Iya" jawab singkat Dipta dengan nada kesal
"Jangan bilang kau menyukai sekretaris mu itu? Kau cemburu pada anak kecil itu?" selidik Justin menyeringai kepada Dipta.
Dipta pun seketika tersadar akan kebodohannya. Siapa bilang dia cemburu? Suka pada Alle? Huh tidak mungkin.
"Jangan berhayal, siapa yang menyukainya, hanya saja anak itu menyebalkan" jawab Dipta yang langsung berlalu dari ruangan itu.
"Jangan menyesal nanti di akhirnya nanti Dude, segera pastikan" ucap Justin yang masih tertawa dengan tingkah Dipta.
"Bagaimana Bisa aku menyukai gadis itu?. Dia sangat galak dan tidak patub kepada ku." jawab Dipta menghentikan langkahnya.
"Kita tidak tahu, yang namanya jodoh" jawab Justin mengangkat kedua bahunya menandakan dia hanya berasumsi tentang itu.
__ADS_1
"Jangan harap aku menyukai gadis galak itu. Dan pikirkan lah, dirimu sendiri, kau yang akan terlebih dahulu menikah" Ucap Dipta tersenyum.
"jangan sampai Aku mengambilnya Dude" ucap Justin dengan sedikit mengeraskan suaranya, karena dipta sudah berjalan untuk keluar dari ruangan itu.
Dipta bisa mendengar apa yang di katakan oleh Justin, tetapi dia memilih mengabaikannya, dan berlalu ke kamar tidurnya.
Dia membaringkan tubuhnya, di ranjang king size tersebut. Dia memikirkan kembali perkataan Justin.
"Tidak. Itu hanya saja anak kecil itu yang menyebalkan" sangkalnya kembali, bahwa dia tidaklah menyukai Alle.
Kemudia dia memejamkan matanya, dan segerah beralih ke alam mimpi.
####
Diruangan kerja tersebut Justin menghentikan pekerjaannya sejenak. Dia memikirkan perkataan Dipta tadi. Apakah dia yang akan menikah terlebih dahulu. Sebenarnya dia juga merasa tidak enak hati terus- terusan menolak permintaan ayah dan bundanya.
Sudah banyak pengorbanan mereka membantu Justin di hidupnya, Bahkan sudah mau menjadi orangtuanya dan juga keluarganya. Bagaimana dia juga harus membalasnya. Tetapi menikah bukanlah hal yang mudah untuk di putuskan.
Dia juga belum pernah sama sekali tertarik dengan perempuan selama ini. Setelah dia di hianati oleh kekasihnya dulu waktu masih sekolah menengah atas. Mulai saat itu, dia tidak pernah membuka hati dengan perempuan mana pun.
Sementara harus menikah? bagaimana dia akan memutuskannya. Mencari wanita yang akan menjadi pendampingnya bukan hal mudah. Akan membuka hati kepada wanita lain sepertinya tidak mudah. itulah yang dipikirkan oleh Justin.
terbesit sepenggal ingatan di hari lampau, saat dia bertemu seseorang. Dia mengingat kejadian itu. seketika lengkungan sempurna terlihat di bibirnya. entah apa yang membuatnya tersenyum seperti saat ini.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗
__ADS_1