
Episode 21
Di kediaman Wijaya, semua keluarga sudah berkumpul bersiap untuk makan malam. Mereka sedang berada di ruangan utama untuk menunggu ke dua anak mereka yang belum sampai di rumah.
Dipta dan juga Justin pun akhirnya sampai di rumah utama mereka. Bunda Mary yang mendengar deruan mobil anak nya pun akhirnya berjalan cepat keluar rumah untuk menyambut kedatangan mereka.
Mary sudah membuka pintu rumah dan melihat bahwa Dipta dan juga Justin baru saja sampai dan memarkir kan mobil nya di halaman rumah tersebut. Dipta yang melihat bunda nya di ambang pintu merasa senang, akhirnya rencana nya pun berjalan sesuai harapan.
"Begitu tega nya anak mu yang satu ini bunda membuat mu menunggu di depan pintu. Padahal dia hanya akan mengantar kan anak mu yang satu lagi. Dan dia akan pulang ke rumah kecil nya" ucap Dipta menyindir Justin. Supaya dia singgah terlebih dahulu di rumah.
Mendengar perkataan Dipta. Justin sejenak memandang wanita yang berada di ambang pintu itu. "Tidak biasanya bibi Mary akan menunggu di luar hanya untuk menunggu Dipta pulang?" Pikir Justin. Kemudian dia melihat kue yang di belikan nya tadi, dan mengalihkan kembali pandangan nya ke arah Mary.
Seketika dia sadar. "Ternyata si bodoh ini sudah mengerjai ku, kenapa aku tidak sadar kalau bolu kacang itu adalah kue kesukaan bibi Mary" batin Justin. Dia baru menyadari nya setelah melihat Mary dan perkataan Dipta tadi memancing nya supaya singgah di rumah utama.
"Siapa yang ingin pulang. Aku akan tidur disini. Terasa lelah jika harus kembali ke apartemen. Sudah malam juga" jawab Justin mencoba berpura- buru sudah mengetahui rencana Dipta jauh lebih dulu. Dia pun mendahului Dipta untuk keluar dari mobil.
Justin melemparkan senyum manis nya kepada Mary ,dia berjalan mendekati bibi nya sekaligus sudah seperti ibu bagi nya. Mary merentang kan ke dua tangan nya mengatakan bahwa Justin harus memberi nya pelukan.
Justin pun tersenyum dan memberikan pelukan pada Mary.
"Kenapa tidak memberi tahukan bibi jika kamu ke rumah? Apa anak bunda sejahat itu?" Tanya Mary yang memeluk hangat Justin.
"Suprise bibi, aku membawakan kue kesukaan mu" Justin melepaskan pelukannya dan menunjukkan bungkusan kue yang di bawa oleh Justin.
"Dari wangi ini sepertinya bunda tau ini kue kacang" ucap Mary yang mengendus aroma kue tersebut.
__ADS_1
Sementara di belakang mereka seorang manusia yang merencakan ide tersebut. Terlupakan oleh keharmonisa mereka. Sebenarnya Dipta merasa senang akan kehadiran Justin telah menemani keluarganya selama dia berada di luar negeri selama ini. Maka dari itulah dia tidak ingin karna kehadiran nya di kota dan rumah ini, Justin merasa harus menjauh. Mereka adalah keluarga.
"Nasip anak yang tidak di anggap. Sunggu begitu malang nya hidup mu Dipta tidak di anggap" ucapan Dipta bukan nya mendapatkan perhatian tetapi Justin dan Bundanya malah mentertawakan nya.
"Sudah ku duga akan di lupakan" ucap nya kembali dengan wajah yang di buat pura- pura sedih dan malang.
"Berhentilah bersikap seperti itu. Kamu tidak di lupakan nak. Kemari lah peluk bunda" Mary mengalihkan tangan nya untuk memeluk anak nya yang satu lagi. Dan Dipta pun memeluk bunda nya itu. Sungguh harmonis sekali.
"Seperti anak kecil saja" sindir Justin yang kemudian masuk ke rumah untuk menemui Wijaya dan juga Adik manis nya Pricilya. Mereka terlihat duduk di ruang tamu. Dia pun menyapa mereka.
Sementara Dipta dan bunda Mary mengikuti dari belakang.
"Kak Justin, kamu harus tidur disini yah. Jangan langsung pulang, Pricil juga kangen sama kaka" ucap Pricilya yang memeluk Justin setelah tiba disana.
"Iya kaka akan tidur di sini" jawab Justin.
Setelah makan malam selesai keluarga Wijaya pun berkumpul di ruangan keluarga. Mereka pun bercerita kesibukan sehari- hari mereka. Bercanda tawa dengan bahagia. Dan saat ini mereka berbicara serius.
"Hei dude, apakah kamu akan menganggap kami orang lain? Kau selalu saja menyendiri di apertemen kecil mu itu?" Ucap Dipta memulai percapakan serius mereka.
"Bukan begitu, aku hanya tidak mau merepotkan kalian lebih banyak lagi. Sudah sangat banyak kalian membantu ku. Saat nya aku akan mandiri." Ucap Jistin melemah. Dia akan seperti itu jika yang di bahas tentang keluarga. Dia seakan mengingat kembali keluarga yang sudah meninggalkan dirinya sendirian untuk selama nya.
"Kamu tidak merepot kan kami nak. Kamu sama saja dengan Dipta dan Pricilya sudah menjadi anak bagi kamu. Jadi apa pun itu yang berurusan dengan mu akan menjadi urusan kami juga" jawab Bunda Mary yang sudah duduk di samping Justin dan menggenggam tangan nya.
"Ya Justin. Kenapa kamu menganggap kami keluarga jauh mu. Kami sudah memutuskan mu untuk membawa nama Wijaya di nama mu. Jadi kamu harus juga seperti itu. Jangan menolak lagi. Bunda akan merasa sedih jika kamu menolak nya." Jawab Wijaya menjelaskan betapa penting nya Justin untuk mereka.
__ADS_1
"Kak Justin sudah seperti kaka kandung bagi Pricil, seperti kak Dipta sama saja. Tinggal lah di rumah ini. Jangan pergi lagi. Pricil tidak akan kesepian seperti dulu" ucap Pricilyan yang berusaha menahan air matanya jatuh. Dia juga memeluk Justin.
"Ayah tidak mau penolakan Justin. Sudah cukup menyedihkan jika bunda mu memarihi ayah nanti nya. Kau sungguh tahu bagaimana jika bunda marah" ancam Wijaya. Memang istrinya itu akan seperti singa lapar jika saat sedang marah bahwa melebihi dari itu.
"Dengarkan lah itu dude, aku akan rela jika mereka lebih memperhatikan mu dari pada aku. Aku sungguh siap akan hal itu" lanjut Dipta yang mendramatisi keadaan saat ini. Padahal kasih sayang yang orangtua nya berikan sama saja kepada mereka bertiga.
"Ya aku akan merebut seluruh nya dari mu. Jadi kau harus sopan kepada ku, jika kau ingin berbagi" jawab Justin.
"Berarti kau menyetujuinya?" Tanya Mary yang menangkup wajah Justin dengan ke duatangan nya. Mencoba mencari jawaban di mata Justin. Mata itu pun sangat tulus dengan ungkapan nya.
"Kamu harus memanggil ku bunda, jangan bibi lagi" Mary begitu antusias dan memeluk Justin erat- erat
"Iya bunda" jawab Justin dan kemudian memeluk kedua wanita di samping nya itu. Mereka pun menangis haru tanda mereka sangat bahagi. Begitu juga Wijaya di tempat duduk nya. Dia tersenyum bahagia. Tetapi satu manusia di sebelah nya berbeda menunjukkan ke bahagian nya.
"Jika kau menyetujui nya. Pinpinlah semua perusahaan ayah. Aku akan menyerahkan semuanya pada mu. Dan aku akan bersantai di rumah" jawab Dipta. Dia juga merasa bahagia. Justin akan tinggal di rumah itu dan tidak akan kembali lagi ke apartemen kecil nya.
"Kenala kau curang. Aku menyetujui nya bukan berarti akan mengambil alih semuanya" Justin merasa kesal kepada Dipta.
"Jika kau tidak mau. Maka jual lah apertemen kecil mu itu dan tinggal disini" jawab Dipta mantap dan memasang senyum jahat nya.
Dan akhirnya Justin harus mengalah. Karna dia akan sangat kelelahan jika menangani semua nya.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga
__ADS_1
Ayo pra readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah