
Episode 29
Waktunya makan malam pun tiba. Alle yang baru saja sampai di rumahnya harus mandi terlebih dahulu dan berganti baju, dan akan dilanjutkan dengan makan malam bersama keluarnya. Sekitar 30 menit kemudian dia sudah menyelesaikan ritual mandinya dan saat ini dia sudah menuju ke ruang makan.
Sesampainya disana, Ayah, pak Yusuf dan juga bu Rusmi sudah menunggunya.
Dia pun menghampiri mereka, dan duduk di sebelah ayahnya. Kemudian bu Rusmi menyiapkan makan malam Alle, dan mereka pun makan bersama.
Setelah selesai mereka berkumpul di ruangan keluarga untuk sekedar berbagi cerita pengalaman mereka saat sedang bekerja dan pengalaman sehari- hari mereka.
"Alle apa kamu menikmati pekerjaan mu nak?" Tanya ayah Martin kepadanya untuk memulai percakapan diantara mereka.
"Alle menikmatinya ayah" jawab Alle
"Ayah tidak perlu khawatir Alle bisa melakukannya, dan kan Alle sudah pernah belajar sama pak Yusuf ayah" lanjutnya.
"Apa kamu sudah pernah memikirkan untuk menikah?" Tanya ayah Martin. Sontak Alle terkejut dengan pertanyaan ayahnya itu. Baru kali ini pertama kalinya ayah Martin membahas soal pernikahan dan tentang hidupnya. Sebelumnya ayah Martin akan menyerahkan semuanya kepada Alle.
"Ayah,,," Alle mendekati ayahnya dan menggenggam kedua tanaman lelaki paruh baya itu,
"Alle masih muda, dan ingin menikmati semua hal yang belum pernah Alle nikmati di masa muda ini"
"Alle belum terpikir untuk menikah ayah" jawab Alle penuh dengan harapan supaya ayahnya mengerti tentang keinginan Alle saat ini.
"Ayah tahu sayang, tapi ayah sudah tua dan ayah ingin sekali menggendong cucu dari kami nak" jawab ayah Martin mengutarakan keinginan yang sudah lama dia pendam.
"Iya ayah, Alle akan memikirkannya, tetapi tidak sekarang yah" jawab Alle.
Mereka menjadi hening dengan pikiran mereka sendiri, pak Yusuf yang menyadari kecanggungan diantara mereka mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Alle apa kamu mengenal pak Harry Pradipta Wijaya?" Tanya Yusuf, entah apa yang sedang dia rencanakan saat ini,
"Bukan kah itu direktur umum di perusahaan Alle bekerja pak?" Tanya Alle memastikan jika yang di sebut oleh pak Yusuf adalah bos gila nya.
"Iya betul sekali, apa kamu tidak tertarik kepadanya?" Tanya pak Yusuf yang sudah menggoda Alle
"Astagah pak, Alle tidak akan pernah suka dengan lelaki seperti itu, sungguh buka tipe yang Alle idamkan" jawab Alle penuh penekanan penolakan di setiap kata- katanya.
__ADS_1
"Jika dilihat dari penampilan dan wajahnya,dia sangat tampan nak, dan dia juga kaya dan pintar. Sangat cocok kepada mu yang cantik" lanjut bu Rusmi yang mendukung ide dari pak Yusuf.
"Bukan kah dia anak Sam Wijaya Yusuf?" Tanya Martin yang meyakinkan bahwa tebakannya tidak salah.
"Betul sekali" jawab pak Yusuf.
"Alle sayang,," tiba- tiba saja ayah Martin menggenggam tangan Alle dan menatapnya penuh harap,
"Apa kamu ingin ayah nikahkan dengan dia? Sepertinya anak itu akan sempurna untuk mu, Ayah yakin itu" Martin sudah menyetel wajah nya seperti wajah yang sangat ingin di kasihani
Alle linglung di buatnya. Bagaimana ini, apa yang harus Alle katakan kepada mereka. Alle mengedarkan pandangannya kepada ketiga orangtua yang bersama nya, semua wajah mereka sama, wajah memelas. Alle tidak mampu melihat itu lama lagi.
"Ayah Alle akan mencari sendiri, siapa yang cocok untuk Alle, dan Alle akan mengenalkannya kepada kalian"
"Jadi bersabar lah, lagian Alle juga masih mudah ayah" jawab Alle yang sudah mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Sungguh Alle tidak mampu melihat wajah memelas orangtuanya.
####
Di dalam rumah Juny Andita terlihat dirinya yang sedang menemani Hans belajar dan pak Budi yang sedang menonton televisi di ruangan keluarga mereka.
"Hans apa kamu bersenang- senang hari ini?" Tanya Juny kepada anaknya tersebut. Hans masih sibuk dengan tugas dari sekolahnya yang hampir selesai.
"Iya mami, hari ini Hans sangat senang" jawab Hans yang sudah menutup bukunya dan langsung beranjak ke pangkuan mami Juny.
"Coba ceritakan kepada mami" Juny ingin mengetahui apa saya yang dilakukan Hans hari ini,
"Hans di jemput sama kakek dari sekolah, dan kami ke tokoh kakek" jawab Hans yang masih memenggal ceritanya,
"Ya ,,,,iti sudah biasa kau lakukan sayang" Juny mencubit kecil ujung hidung Hans sehingga dia tertawa,,
"Hans juga bermain dengan paman, dia sangat baik, dia mengajak hans bermain ke taman bermain dan membelikan Hans es cream dan juga gulali mami" cerita Hans sudah dia ceritakan sesingkat mungkin,
"Paman?" Juny mengingat- ingat siapa paman yang di maksud oleh Hans
"He'em" jawab Hans yang sudah beralih menonton bersama kakeknya,
Juny masih memikirkan siapa yang di sebut paman oleh Hans, karena pengalaman sebelumnya sangat banyak yang di sebut anaknya itu sebagai paman karena membelikan permen saat di tokoh ayahnya.
__ADS_1
Juny pun tidak ambil pusing dengan paman yang di sebit oleh Hans. Karena jika Hans bermain dengan seseorang, sudah berarti ayahnya mengijinkan, jadi dia tidak perlu khawatir.
Mereka pun menonton televisi, sebelum akhirnya Hans tertidur dan akan di gendong oleh Juny ke kamarnya, dan mereka pun akan tertidur juga malam itu.
####
Di kediaman Wijaya, baru saja Justin tiba di rumah, dia sudah di sambit oleh Pricilya di depan pintu. Ada apa gerangan sehingga adiknya itu menunggunya disana?
"Kakak,,," panggil Pricilya setelah melihat Justin sudah turun dari mobilnya
"Apa kaka membeli pesanan bolu karang itu? Tanya Pricilya yang sudah menghampiri Justin.
Justin yang melihat Pricilya mendekat, dia pun memeluk adiknya itu dan mencium puncak kepalanya.
" sepertinya bukan bunda yang memesan kue ini," ucap Justin yang mencurigai Pricilya sebagai pelakunya,
"Hehehe, tadi kebetulan saja memegang ponsel bunda, jadi sekalian saja" jawab Pricilya memeluk kakak nya dan mengambil alih bungkusan kue di tangan Justin
"Apa kak Dipta sudah pulang?" Tanya Justin,
"Sudah kak, tapi sepertinya dia ada masalah kak, tadi saja saat aku pulang bekerja (magang) aku melihatnya tersenyum sendiri melihat ponselnya" ucap Pricilya.
"Benarkah begitu, sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit" jawab Justin dan membuat mereka saling tertawa menceritakan hal- hal yang tidak masuk akal tentang Dipta. Mereka berjalan beriringan menuju ruang utama.
Dipta yang kala itu berada di ruang utama tiba- tiba saja bersin tanpa alasana.
Hhuuuaaaccciiikkkk
"Sepertinya ada orang gila yang mengumpati ku" ucapnya, dia tidak sadar bahwa kedua manusia yang baru saja menghampiri nya saat ini yang mengumpatinya.
Hahaha hahaha hahaha
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗