
Episode 47
"Kenapa? Kenapa tidak memanggilkan dokter, kamu sakit, harus diperiksa oleh dokter" ucap Dipta mengerutkan dahinya. Posisi Dipta saat ini sudah berada di hadapan Alle berjongkok dan memegang tangan Alle. Dipta benar- benar sangat khawatir dengan keadaan Alle saat ini. Apa benar dia sakit atau tidak, sekarang yang ada dalam pikiran Dipta adalah bagaimana Alle dapat sembuh secepatnya dan akan kembali bekerja.
Alle sekuat tenaga menahan tawanya melihat tingkah Dipta saat ini. Sikap bosnya itu seolah dia sedang menghawatirkan istrinya yang sedang sakit. Sementara yang ada di depannya adalah Alle, bukan istrinya. Haha haha haha haha bodohnya dirimu" batin Alle.
"Aku tidak lerlu ke dokter, hanya saja..." Alle kembali menggantung ucapannya membuat Dipta semakin penasaran. Dipta mengeratkan genggamannnya di tangan Alle saat ini.
"Hanya saja aku tidak sakit" ucap Alle dengan santainya. Dia tersenyum manis setelah mengerjai Dipta. Haha haha haha haha
Tawa Alle menggelegar di pondok tersebut. Dia sangat senang melihat Dipta tertipu akan triknya.
Dipta yang menyadari kebodohonnya telah terperdaya oleh wanita di hadapannya itu, mengalihkan pandangannya dan segera mungkin beranjak membelakangi Alle.
Alle yang melihat itu masih tersenyum dan menghampiri Dipta dari belakang, Alle memiringkan kepalanya memeriksa raut wajah Dipta yang saat ini sedang di landa malu setengah mati.
"Aku hanya bercanda pak. Sikap bapak seperti menghawatirkan istri yang sedang sakit saja" ucap Alle menyeringai melihat wajah Dipta dari balik badan laki- laki itu dengan kepala yang di miringkan.
Dipta yang saat itu sedang melihat ke sembarang arah pun memalingkan wajahnya ke arah sumber suara, dia menundukkan kepalanya supaya dia bisa menatap Alle. Tetapi saat hendak berbalik menatap Alle,........
####
Di dalam kantor cabang besar HJ terlihat Juny yang masih mematung melihat reaksi Dipta yang berlebihan saat mendengar Alle sakit. Sebenarnya dia belum menyelesaikan informasinya. Tetapi Dipta sudah lebih dulu ingin memangsanya sehingga dia tidak berani membantah saat itu.
__ADS_1
"Apa diantara mereka ada sesuatu? Kenapa pak Harry terlihat begitu kawatir sekali. Seperti sedang melihat istri yang sakit saja" gerutu Juny.
"Bagaimana bisa Alle betah dalam satu ruangan dengan pria yang terperamennya seperti itu, seperti singa lapar saja" ucapnya mengelus jantungnya yang hampir copot karena kemarahan Dipta.
"Apa aku perlu menyarakan kepada Alle supaya pindah kerja? Atau pindah posisi? Jika berlama- lama dengan pak Harry aku rasa dia tidak akan bisa. Hhm aku perlu berbicara dengan Alle nanti" ucap Juny memikirkan bagaimana nasip Alle.
Juny pun segera pergi dari sana dan menuju ruangannya. Dia mengurus semua pekerjaannya dan juga pekerjaan Alle yang di titipkan kepadanya, walau tidak banyak tetapi dia juga tidak keberatan dengan hal itu. Karena mereka saling membantu.
####
Saat jam makan siang, sudah tiba Justin membereskan berkas yang sudah selesai dia kerjakan. Dia membawa berkas tersebut ke keluar dan menyerahkannya kepada Lela supaya di periksa kembali.
"Lela ini berkasnya, Saya akan keluar sebentar, jika ada keperluan tolong segera hubungi saya " ucap JUstin menyerahkan berkas yang dia bawa tadinya.
"Baik pak," jawab Lela,
" Tidak, tidak. Aku hanya akan keluar sebentar, tolong urus hari ini" jawab Justin dan dia pun segera berlalu dari sana. Dia akan pergi ke suatu tempat, dimana dia akan menemui seseorang.
Justin melajuka mobilnya dari perusahaan besar HW ke arah jalanan, dia menelusuri jalanan dengan kecepatan sedang, dia akan sampai di tujuan sekitar 30 menit kemudian, sehingga tepat waktunya dia bertemu dengan seseorang itu.
Justin sudah terlihat di depan gerbang sebuah sekolah di Amertha, sekolah elit untuk anak- anak. Ya siapa lagi kalau bukan Hans, Justin sudah meminta ijin kepada pak Budi untuk menjemput Hans di sekolah.
Sebelum Justin melaju ke sekolah Hans, dia terlebih dahulu mampir ke tokoh pak Budi untuk meminta ijin darinya. Kebetulan saja pak Budi sedang ada disana, jadi ia tidak perlu susah untuk hal menjemput Hans.
__ADS_1
Justin mengedarkan pandangannya ke setiap siswa yang keluar dari dalam sekolah menemui setiap orangtua yang menjemput mereka. Pandangannya tertuju pada anak yang masih kecil dan sangat menggemaskan itu. Justin tersenyum lebar menyambut Hans.
Hans berjalan dengan santai, tidak ada yang perlu dia pikirkan, hanya akan menemui kakeknya yang akan menjemputnya seperti biasa. Dia tidak mempunyai banyak teman di sekolah, sehingga dia berjalan sendirian. Karena terpaut usia yang masih muda dia memasuki sekolah dasar, sulit baginya untuk menyesuaikan diri bersama orang lain. Dia hanya mempunyai tiga teman itu pun hanya saat di kelas saja.
Hans berjalan dengan santai, dia mengedarkan pandangannya mencari kakeknya yang menjemputnya hari ini. Tetapi dia tidak menemukan tanda- tanda keberadaan kakeknya disana. Hans tidak menyadari kalau sekarang ini Justin ada di dekatnya. Hans terlalu fokus pada kakeknya.
"Apa kamu mencari seseorang?" tanya Justin pada Hans yang pada saat itu tidak menyadari keberadaan Justin disana. Dia harus menjongkokkan tubuhnya untuk menyetarakan tingginya dengan Hans yang masih kecil.
Hans langsung memalingkan pandangannya ke arah sumber suara yang sangat dia kenal, dan sudah dia rindukan. Sudah lama dia tidak bertemu dengan si pemilik suara itu.
"Paman" ucap Hans sangat senang dengan kehadiran Justin disana.
Hans melihat Justin berada di sampingnya. Dia segera memeluk Justin, yang sudah merentangkan kedua tangannya di samping Hans ingin juga segera memeluknya.
Sudah sangat lama mereka tidak bertemu saat terakhir kalinya mereka bermain bersama. Karena Justin harus sibuk dengan pekerjaan kantornya yang hampir setiap hari mwnghadiri rapat dan bertemu dengan para Klien yang sudah bekerja sama dengan perusahaan yang dia jalankan saat ini sehingga dia tidak memiliki waktu luang di siang hari.
Dia mempunyai sedikit waktu luang di malam hari, tetapi jika dia menggunakan waktu malam untuk bertemu dengan Hans itu akan mengganggu waktu istirahat Hans karena dia masih kecil dan saat pagi akan berangkat sekolah. sehingga Justin sulit untuk meluangkan waktunya.
Hari ini dia mempunyai waktu luar di siang hari, sehingga dia berkunjung ke sekolah Hans langsung, untuk menjemputnya dan mengajaknya untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama untuk melepas rindu diantara mereka.
*Bersambung
Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄
__ADS_1
Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍
Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗