CEO TAMPAN ITU SUAMI KU

CEO TAMPAN ITU SUAMI KU
Episode 39


__ADS_3

Episode 39


Lela sudah berada di ruangannya dengan rapi dan sedang memberekas berkas yang sudah dia kerjakan sebelum nanti mereka akan menghadiri rapat di perusahaan cabang. Dimana Dipta yang sebagai direktur disana. Lela sedang menunggu Justin dan setelah itu mereka akan berangkat.


Tiba- tiba ponsel Lela berbunyi, membuatnya mengalihkan perhatiannya kepada dering ponsel yang berada di dalam tasnya. Dia pun mengambil ponsel tersebut dan segera menjawa panggilan dari atasannya yaitu Justin.


"Iya pak?" jawab Lela yang sudah memastikan bahwa itu adalah Justin,


"Lela kamu keluar sekarang, bawakan setiap berkas untuk rapat, saya bersama Dipta" ucap Justin diseberang, yang menyuruh Lela segera menjumpai mereka.


"Baik pak" ucap Lela dan kemudian mengambil tasnya dan segera menuju lift yang akan membawanya ke lobby.


Setelah memasuki mobil yang di bawa Dipta, mereka pun melajukan mobil tersebut menelusuri jalanan sampai ke perusahaan HJ. Sekitar 45 menit kemudian mereka pun tiba di perusahaan cabang HJ.


Mereka terlebih dahulu beristirahat di ruangan Dipta, karena belum saatnya untuk rapat, masih ada beberapa menit lagi mereka akan memulai rapat sehingga mereka beristirahat dulu. Sembari itu Justin dan Lela juga menyaksikan perdebatan antara Dipta dan sekretarisnya. Seperti sedang jatuh cinta. Haha haha haha


Saat mereka ingin memasuki ruangan rapat. Dipta memimpin jalan mereka di depan, di ikuti dengan sekretarisnya. Kemudian di belakang mereka ada Justin dan juga Lela.


Justin yang memasuki ruangan paling akhir, mengedarkan pandangannya, pandangan pertamanya tertuju pada wanita yang berdiri menyambut mereka, diantara tiga laki- laki lainnya. Justin cukup lama memperhatikan wanita itu, sebelum akhirnya tatapan mereka bertemu, dan Justin pun mengalihkan pandangannya, seperti sedang tertangkap basah.


"Kenapa dia ada disini? Bukankah dia penjaga tokoh?" batin Justin sesekali melirik kepada wanita yang pertama dia perhatikan sejak masuk ruangan, dia adalah Juny.


Mereka pun melanjutkan rapat dengan penuh keseriusan dan juga fokus. Terjadi perdebatan antara Dipta dan juga Alle, seperti biasanya. Justin yang tidak fokus karena wanita yang satu lagi (Juny). Alle yang bersekukuh mengubah sedikit rancangan dari beberapa design yang mereka diskusikan. Dipta yang tidak setuju akan hal itu. Sementara Justin hanya melirik sesekali pada Juny.

__ADS_1


Juny yang tidak nyaman akan sikap direktur utama, yang dia kenal juga. Karena Juny sadar dia sedang di awasi.


"Apa dia masih dendam dengan ku? Karena pernah menuduh dia sebagai penculik anak? Itulah yang di pikirkan oleh Juny. Tetapi tidak membuatnya menjadi tidak fokus.


Rapat pun telah selesai, sudah waktunya makan siang. Mereka semua memutuskan untuk makan siang di ruangan rapat, mereka sudah memesan makanan dari luar, itu adalah ide Alle yang di tolak mentah oleh Dipta. Tetapi karena tidak ada yang setuju dengan Dipta sehingga dia terpaksa mengikuti keinginan Alle.


Saat makan siang, Justin pun permisi untuk ke pantri karena ada yang harus dia lakukan, dia sudah selesai makan terlebih dahulu, sehingga dia permisi dan akan kembali lagi. Juny yang melihat hal itu, dia juga permisi keruangannya setelah beberapa menit Justin keluar, dia ijin dengan alasan mengambil ponselnya.


Tetapi lain hal lagi, setelah Juny keluar dari ruangan rapat, Juny malah menuju pantri. Juny melihat Justin sedang duduk di kursi disana dengan sesekali menyerup teh di cangkirnya.


Juny masuk ke dalam pantri, dia juga mengambil air minum di cangkir, kemudian dia duduk di dekat dengan Justin. Justin yang menyadari Juny masuk, dia hanya melirik, hanya dia yang mengetahuinya.


"Hm,, maaf pak menganggu, apa saya boleh bertanya?" ucap Juny dengan terbata karena segan kepada Justin. Justin hanya melirik pertada dia mempersilahkan Juny untuk bertanya.


"Apa bapak masih dendam dengan saya?" perlahan tapi pasti Juny menanyakan kenapa Justin memperhatikannya sejak tadi.


"Maaf sebelumnya jika saya salah pak. Bapak sejak rapat tadi saya kira anda memperhatikan saya. Saya berfikir bahwa anda masih dendam dengan tuduhan saya sebelumnya." ucap Juny dengan hati- hati supaya tidak terjadi salah paham


"Apa dia memperhatikan ku tadi sejak rapat" batin Justin karena meraza tertangkap basah oleh orang yang dia perhatikan tadi saat rapat. Sekarang keadaan jantungnya sedang lari maraton. Ada rasa senang, deg degan disana, merasa malu pun tercampur aduk.


"Tidak. Saya tidak memperhatikan anda. Saya hanya fokus dengan presentasi kalian" jawab Justin berkikah, "ada apa dengan jantung ku? Kenapa seperti ini? Apa aku sakit?" pikiran Justin berlari- lari di buat jantungnya.


"Ah, mungkin saya yang salah pak, maafkan saya. Maafkan juga kesalahan saya karena menuduh anda" jawab Juny, yang merasa bersalah telah terlalu mengartikan lebih dari maksud Justin.

__ADS_1


"Lupakan saja itu tidak masalah. Saya juga sebelumnya tidak mengenal anda. Wajar saja jika anda menuduh saya" ucap Justin berusaha untuk tenang dengan kondisinya yang saat ini.


"Terimakasih pak, saya permisi dulu" ucap Juny yang berdiri dari duduknya dan akan segera berlalu dari sana. Tetapi Justin menghentikan niatnya.


"Ah iya siapa nama anda tadi?" tanya Justin yang lupa dengan nama Juny.


"Juny Andita pak" jawab Juny dengan penuh hormat.


"Apa kau yang mempunyai tokoh itu" tanya Justin. Sebenarnya dia tidak ingin menanyakan apa pun saat ini, tetapi itu di luar kendalinya, pertanyaan itu keluar dengan sendirinya.


Juny pun mengurungkan niatnya untuk berlalu dari pantri tersebut. Dan kembali duduk di kursi dimana sebelumnya dia duduk.


"Ya, itu milik saya pak" jawab Juny, sembali mendudukkan tubuhnya.


"Apa kau yang membuat kue semua kue itu?" tanya Justin ingin mengetahui,


"Saya hanya membuat kue saat sore pak, setelah pulang bekerja, disana ada dua orang karyawan saya yang membuat kue dan menjaga tokoh, tetapi hanya zampai sore, karena saya akan bekerja disana setelah itu pak" jawab Jujy dengan mantap.


"Ooh" Justin hanya ber oh ria. Mereka pun hening seketika, sebelum akhirnya Juny permisi untuk kembali keruangan rapat. Justin pun masih berada di pantri tersebut. Dia sedang memikirkan sesuatu, yang menurutnya itu menyenangkan. Dia memilih untuk terakhir datang ke ruangan rapat karena takut terjadi kesalah pahaman, sehingga Justin memilih untuk melayangkan pikirannya untuk hal yang menyenangkan dia pikirkan saat ini.


*Bersambung


Terima kasih banyak untuk para readers yang telah mampir dan nge like, vote dan meninggalkan komentar di novel ini yah dan jangan lupa nantikan eps terbarunya juga 😄😄😄

__ADS_1


Ayo para readers yang berbaik hati mari vote kembali novel ini 🤗😍


Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar supaya author makin semangat menulisnya. Tekan tombol like juga dan tambahkan ke kolom favorit kalian yah😍😍🤗


__ADS_2