
Seusai makan dan membereskan meja makan serta mencuci piring Bintang berjalan menuju ruang keluarga, seperti biasa ia duduk sila di karpet di samping Azka. Bintang ingin menjaili Azka tapi tidak jadi karna bel rumahnya berbunyi.
Ting...tong...
Semua menoleh ke sumber suara
"Biar Bunda aja yang bukain" ucap Ajeng lalu berdiri berjalan menuju pintu
Ceklek...
"Assalamualaikum tante" salam seorang gadis cantik dengan rambut yang di kuncir dua, sambil tersenyum dan mencium punggung tangan Ajeng
"Waalaikumsalam, adek sama siapa ke sini?" tanya Ajeng tersenyum ramah
"Sendiri tante" jawabnya
"Ada urusan apa?"
"Kak Bintang nya ada?"
"Ada ayo masuk" ajak Ajeng dengan ramah
Ajeng mengajak Karin masuk menuju ruang keluarga, ya gadis kecil itu adalah Karin.
Setiba di ruang keluarga Ajeng menggelenggkan kepalanya melihat tingkah putra dan putrinya. Azka menjepit leher Bintang dengan tangannya.
Bintang : "Aduuuuh bang lepasin, sakit leher gue" teriaknya
Azka : "Siapa suruh lo cabut bulu kaki gue hah, rasain nih, lo pikir nggak sakit apa?" ucapnya kesal tetap menjepit leher Bintang
Bunda : "Aduh kalian berdua ini berantem mulu kerjanya, lepas....lepas...." lerainya, akhirnya Azka melepaskan tangannya dari leher Bintang "Bintang ada orang yang nyari kamu" sambungnya sambil menunjuk Karin, Bintang menoleh dan terkejut
Bintang : "Loh Karin, kok bisa ada di sini? Kamu sama siapa ke sini?" berdiri menghampiri Karin "Bang Kevinnya mana?" tanyanya lagi, Ajeng kembali duduk di sofa
Karin : "Karin kangen sama kak Bintang, bang Kevin nggak mau nganterin Karin, makanya Karin ke sini sendirian" jelasnya
Bintang : "Bang Kevin sama mama tau kalau Karin ke sini" Karin menggeleng "Loh kok nggak tau, trus kalo mereka nyariin gimana? Pasti mereka khawatir"
Karin : "Abisnya bang Kevin nggak mau nganterin Karin ke sini jadi, Karin pergi aja sendiri"
Bintang : "Tapi tetep aja nggak boleh kayak gitu"
Karin : "Maafin Karin ya kak Bintang" menunduk merasa bersalah
Bintang : "Iya nggak papa nanti biar kak Bintang yang kasih tau mama supaya dia nggak khawatir, tapi lain kali kamu harus kasih tau mereka dulu ya" Karin mengangguk, Bintang pun tersenyum "Ayo duduk" Bintang kembali duduk di samping Azka dan Karin di sebelahnya
Bunda : "Bintang ini siapa?" tanyanya setelah Bintang duduk
Bintang : "Ini Karin Bun adiknya Kevin, Karin ini Ayah sama Bundanya kak Bintang" ucapnya, Karin berdiri menyalami Adam dan Ajeng sambil tersenyum "Kalo ini namanya Azka abangnya kak Bintang" menunjuk Azka
Karin menyalami Azka sambil tersenyum, Azka membalas senyuman Karin
Karin : "Bang Azka ganteng, senyumnya juga manis" pujinya tersenyum
Azka : "Makasih kamu juga cantik" Bintang melengos "Tuh denger Karin aja ngakuin kalo gue ganteng, anak kecil itu nggak pernah bohong selalu jujur" ucapnya dengan bangga sambil mengusap rambutnya, Bintang mencibir
Bintang : "Terserah lo deh bang, oh ya Karin ke kamar kak Bintang yuk, kita main di kamar aja ya" ajaknya Karin mengangguk "Yah, Bun Bintang ajak Karin ke kamar dulu, sekalian mau kasih tau Kevin" Ajeng dan Adam mengangguk
Bintang dan Karin meninggalkan ruang keluarga berjalan menuju kamarny
Di rumah Kevin
__ADS_1
Mama : "Kevin....Kevin....Vin!!!" teriaknya
Kevin : "Kenapa ma pagi - pagi udah teriak" menghampiri Lina
Mama : "Vin....Karin Vin...Karin nggak ada di rumah" ucapnya panik
Kevin : "Hah!! Mama serius, di kamarnya kali atau di taman belakang" berusaha tenang
Mama : "Nggak ada Vin nggak ada, mama udah cari ke mana - mana tapi nggak ada" menitikkan air matanya
Kevin : "Aduuh ma...ma...mama tenang dulu ya, jangan nangis kayak gini kita cari sama - sama ya" menenangkan sang mama "Rin lo ke mana sih bikin khawatir aja deh" gumamnya,
Kevin teringat sesuatu
"Bintang!!!" ucap mereka bersamaan
Kevin mengambil ponsel di saku celananya mencari nomor Bintang dan menelponnya
Mama : "Gimana, gimana Vin?" tanyanya
Kevin : "Nyambung tapi nggak di angkat"
Mama : "Coba lagi Vin, coba lagi"
Kevin kembali menelpon tapi nihil tetap tak ada jawaban
Kevin : "Tetep nggak di angkat ma" kaki Lina melemas cairan kristal keluar dari pelupuk matanya "Ma tenang dulu ya, mama duduk dulu" menuntun Lina untuk duduk di sofa
Mama : "Karin kamu di mana nak? Jangan bikin mama khawatir dong sayang" gumamnya
Kevin : "Mama tenang ya" memeluk dan mengelus lembut bahu Lina
Ceklek...
Bintang membuka pintu kamarnya dan masuk, sedangkan Karin mematung di ambang pintu melihat setiap inci kamar Bintang yang penuh warna dan kartun.
Bintang mengambil ponselnya untuk mengabari Kevin
Bintang : "Loh Karin kenapa berdiri di situ, ayo sini masuk" ucapnya karna melihat Karin yang melongo.
Karin melangkah pelan melihat dinding demi dinding kamar itu. Bintang memaklumi sikap Karin, ia sudah terbiasa dengan orang yang pertama kali masuk kamarnya.
Bintang membiarkan Karin yang menjelajahi kamarnya. Ia melihat poselnya ada beberapa panggilan masuk dari Kevin "Pasti dia nyariin Karin" gumamnya
Bintang menelfon Kevin kembali
Kevin : "Hallo Bi, Karin ada sama lo nggak?" tanyanya dengan nafas ngos - ngosan seperti habis meraton
Bintang : "Lo kenapa ngos - ngosan gitu? abis meraton?"
Kevin : "Bi gue serius, Karin nggak ada di rumah"
Bintang : "Iya...iya lo tenang dulu, Karin aman dia ada di sini, di rumah gue" jelasnya, dapat ia dengar suara helaan nafas lega di sebrang telfon
Kevin : "Syukurlah kalo gitu, lo serius kan Bi?"
Bintang : "Iya serius gue, nggak percayaan banget lo sama gue"
Kevin : "Oke...yaudah ntar gue ke sana"
Bintang : "Hmm" jawabnya singkat
__ADS_1
Telfon terputus
Di rumah Kevin
Mama : "Gimana? apa kata Bintang? Karin di sana kan?" tanyanya masih dengan raut khawatir
Kevin : "Iya ma, Karin sekarang di rumahnya Bintang, mama tenang ya"
Lina bernafas lega
Mama : "Syukurlah kalo gitu"
Kevin : "nanti Kevin jemput Karin ke sana ya"
Mama : "Kalo kamu jemput Karin mama ikut ya, sekalian mama mau ketemu orang tuanya Bintang" pintanya, Kevin mengangguk
Di kamar Bintang
Karin : "Ini beneran kamar kak Bintang?" tanyanya masih menjelajahi kamar Bintang
Bintang : "Iya, emang nya kenapa? aneh ya?" Karin menggeleng
Karin : "Kakak suka kantun?"
Giliran Bintang yang menggeleng
Bintang : "Nggak semua, cuma yang ada di kamar ini aja, sama....nggak suka barbie" jelasnya, Karin mengangguk pelan.
Karin mengalihkan pandangannya pada lemari kaca yang berisi koleksi action figur milik Bintang.
Karin : "Waahh....kakak juga ngoleksi action figuran?" tanyanya, lagi - lagi Bintang mengangguk "Keren banget, Karin dulu juga mau koleksi tapi mahal, uang jajan Karin nggak cukup, kalo minta uang sama mama pasti nggak di bolehin" curhatnya masih memperhatikan koleksi Bintang
Bintang berjalan mendekati Karin.
Bintang : "Karin mau?" tawarnya dengan cepat Karin menggeleng
Karin : "Nggak ah, ini kan limitid edition, kak Bintang pasti susah payah dapetinnya apalagi harganya mahal" tolaknya Bintang tersenyum
Bintang : "Yaudah kalo karin nggak mau, oh ya ulang tahun kamu kapan?"
Karin : "Udah lewat kak, tanggal 5 Juni"
Bintang : "Nah kalo gitu anggep aja ini hadiah dari kak Bintang, eits nggak boleh nolak kan hadiah"
Karin : "Beneran kak?" tanyanya dengan mata berbinar, Bintang mengangguk "Makasih ya kak" sambil memeluk Bintang
Bintang : "Iya sama - sama ayo pilih kamu suka yang mana?"
Karin : "Yang ini aja, Karin suka banget sama wonder women" sambil mengambil action figure wonder women yang bergaya sedang berdiri, kedua tangan di pinggang dengan jubah yang melayang
Bintang : "Satu aja? nggak mau dua? atau tiga?"
Karin : "Nggak usah satu aja udah cukup"
Bintang : "Oke kalo gitu, Karin harus janji akan selalu menjaga wonder women ini dengan baik, jangan di rusak, di pajang di dalam kamar oke" titahnya
Karin : "Iya Karin janji akan selalu menjaga wonder women ini" ucapnya kemudian memeluk Bintang "Makasih ya kak, makasih banget"
Bintang : "Iya sama - sama Karin" mengelus rambut Karin "Kita main yang lain yuk" ajaknya di angguki dengan antusias oleh Karin.
Mereka bermain bersama mulai dari permainan jadul hingga yang modern. Mereka juga saling berbagi cerita apa saja yang mereka alami. Tapi Bintang tidak menceritankan masa lalunya, mana mungkin ia menceritakan itu pada Karin.
__ADS_1