
Bintang duduk menyila di sebelah Azka dengan menghadap pemuda yang di panggil Abang itu "Kalo seandainya gue nolak ikut study tur gimana?"
"Kenapa?"
"Iiihh... gue tuh nanya, bukannya jawab malah balik nanya" omelnya
Azka menyilang kan kedua tangannya "Ya.. lo harus kasih alasan yang tepat, yang masuk akal gitu" jawabnya "Emang kenapa? kenapa lo nggak mau ikut?"
Bintang memutar posisi duduknya menghadap tv dengan menekuk kedua lututnya ke atas sofa
pletak...
"Aw... sakit Bang"
"Lagian lo, gue tanya bukannya jawab malah diem" pemuda itu berbalik mengomel
"Gini loh Bang, Kevin itu kan nggak suka sama kak Rey"
"Bagus dong, itu tandanya Kevin normal"
pletak...
Giliran Azka yang mengaduh
"Bukan itu maksud gue"
"Trus apa?"
"Kevin itu nggak suka gue deket-deket sama kak Rey, kalo gue ikut study tur otomatis gue deket dong sama kak Rey" jelas Bintang "Jadi gue harus apa?"
"Kasih tau aja Kevin, apa susahnya"
"Kalo dia nggak boleh"
"Nggak usah di kasih tau"
"Kalo ketauan, double dong gue kenanya
Azka menggosok-gosok dagunya dengan jari telunjuk seperti orang yang sedang berfikir "Akh... au ah.. bikin pusing aja"
"Mau kemana?" tanya Bintang saat Abangnya itu berdiri "Kasih solusi dulu"
"Ogah bikin pusing, mending gue telponan sama Mila" ucap Azka kemudian pergi begitu saja
"Bang!! trus gue gimana?!!" teriak Bintang namun tak di hiraukan "Iiishh.. punya Abang bukannya bantuin malah pergi gitu aja, aakkh.... inikan gara-gara dia, coba aja dia nggak cerita pasti gue nggak di tawarin ikut study tur, au ah pusing" gerutunya, ia memutuskan untuk kembali ke kamar
*****
Azka menoleh saat pintu kamarnya terbuka "Mau kemana?" tanyanya pada sang Adik yang terlihat rapi
"Mau pergi sama Kevin" jawab Bintang sambil mendekati tempat parfum milik Abangnya itu "Plus nyari alasan yang tepat untuk nggak pergi study tur itu" imbuhnya lagi
"Sebenarnya gue bisa sih bikin lo nggak ikut"
Pernyataan sang Abang membuat Bintang menghentikan aktifitasnya yang sedang memilih aroma parfum untuk di pakai "Caranya?"
"Gampang, gue kan ketua BEM" Azka mengangguk kecil "Bisalah gue urus"
Bintang mendekat "Seriusan Bang, lo mau bantuin gue?"
"Yap" pemuda itu menyilang kan kedua tangannya sambil berkata "Tapi ada syaratnya"
__ADS_1
"Apa?"
"Lo harus mau jadi anggota BEM"
Nyaris saja Bintang melayangkan tinjuannya pada pemuda yang berdiri tegap di hadapannya itu "Sama aja dong, udah ah gue pergi dulu"
Azka menghadang sang Adik pergi, berdiri di hadapan gadis itu "Lo beneran nggak mau jadi anggota BEM, jadi anggota BEM itu seru tau"
"Seseru apapun itu gue nggak minat, minggir gue mau pergi"
Azka menghela nafas panjang sepeninggalan Adiknya yang sudah hilang di balik pintu "Susah juga ternyata"
*****
Kevin meletakkan garpu dan pisaunya kemudian melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap gadis yang sedang menusuk-nusuk daging steak miliknya.
Ntah apa yang ada di pikiran gadis itu sekarang, pasalnya sejak ia menjemput gadis di hadapannya ini hanya diam yang ia terima bahkan suara deheman pun tidak.
"Bintang" tak ada sahutan "Bintang" masih tak ada sahutan dari si punya nama hingga ia menyentuh tangan kekasihnya
praang...
Bintang menjatuhkan pisau yang ia pegang, hal itu mengundang perhatian pengunjung lain, pasangan itu melihat sekitar sambil menunduk-nunduk kecil pertanda meminta maaf
"Kamu kenapa sih? ada apa? aku perhatiin dari tadi kamu diem terus, ada masalah?" tanya Kevin lembut
Bintang menghela nafas kemudian tersenyum kecut di sertai gelengan kepala tanpa mengeluarkan suara
Kevin frustasi akan hal itu ia mengacak rambutnya "Aku sedih liat kamu kayak gini, kamu anggap aku ini apa? kalo ada masalah itu cerita sama aku, aku siap kok dengerin apapun cerita kamu" ucapnya panjang lebar
Bintang menggeleng "Aku nggak papa"
Jawaban itu membuat Kevin menghela nafas panjang, ia berdiri "Ayok kita pulang aja"
"Aku udah kenyang"
"Tap-"
"Aku tunggu di luar"
Kevin lebih dulu keluar dari cafe di susul Bintang di belakangnya dan langsung menahan tangan kekasihnya itu "Kamu marah?"
"Kita pulang sekarang, udah malem"
"Bukan itu yang aku tanya"
"Besok ada kuliah pagi, ayok pulang" Kevin melepaskan pegangan Bintang, saat ia ingin membuka pintu mobil, di lihatnya sang kekasih masih berdiri di tempatnya "Ayok masuk, aku antar kamu pulang"
Bintang menggeleng "Aku bisa pulang sendiri" ia melangkah namun dengan cepat di halangi oleh Kevin
"Kamu pergi sama aku pulangnya juga sama aku"
"Nggak mau, aku mau pulang sendiri"
Kevin melepaskan cengkeramannya "Yaudah, pulang aja sana sendiri"
Bintang membulatkan mata tak percaya jika kekasihnya itu membiarkannya pulang sendiri "Oke, aku pulang sendiri"
Kevin menyenderkan tubuhnya pada mobil sambil memperhatikan kekasihnya yang mulai melangkah, dalam hati ia berhitung 1... 2... 3... ia menyungging senyum saat gadis itu menghentikan langkahnya, berbalik dan berjalan mendekat
"Kamu kok nggak ngejar aku sih? kamu tega biarin aku pulang sendiri" omel Bintang
__ADS_1
Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya "Itu kan mau kamu sendiri" jawabnya acuh
Bintang menyipitkan matanya kemudian meninju perut Kevin "Nyebelin" selanjutnya ia benar-benar pergi
Serasa sedikit jauh dari cafe tempat ia makan bersama kekasihnya sekaligus meninggalkannya di sana, Bintang berhenti melangkah kemudian menoleh ke belakang
"Dia beneran nggak ngejar, iih... nyebelin banget sih" ia berencana kembali ke cafe, namun "Gengsi ah, gue kan udah ninggalin dia, masa balik lagi" gumamnya "Udah ah pulang aja, liatin aja besok nggak akan gue ajak ngomong, gue cuekin biar tau rasa" gerutunya sambil kembali melangkah
Gadis yang berjalan sambil menggerutu itu menoleh saat merasakan ada yang mencekal tangannya "Ngapain kamu ke sini?"
"Masuk mobil"
Bintang menghempas tangan Kevin "Nggak mau, aku bisa pulang sendiri"
"Bahaya Bintang, ini udah malam"
"Kamu lupa kalo aku bisa bela diri, kalo pun ada preman aku bisa lawan mereka"
Kevin membuang muka dan menghela nafas "Masuk mobil"
"Nggak mau, lepasin! lepasin tangan aku" Bintang berontak saat pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya itu menarik dan memasukkannya ke dalam mobil
Kevin melirik gadis yang duduk di kursi penumpang sambil menyilang kan tangan di dada dengan wajah di tekuk, hampir beberapa meter lagi sampai ke rumah kekasihnya ia menghentikan laju mobilnya
"Kenapa berenti?" tanya Bintang "Kamu mau nurunin aku di sini, nggak usah nganterin pulang kalo nggak sampe rumah" cerocosnya, saat hendak membuka pintu mobil dengan cepat pemuda itu menguncinya "Kevin buka" Bintang meninggikan suaranya "Mau kamu apa sih?"
"Aku mau tanya sama kamu" Kevin menatap Bintang dengan serius "Sebenarnya kamu masih anggap aku pacar kamu atau nggak sih?"
"Kok kamu nanyanya gitu"
"Ya abis kamu, setiap ada masalah nggak pernah mau cerita sama aku sebelum aku tanya, itu pun harus di desak dulu baru mau cerita" ucap Kevin
"Aku nggak punya masalah apa-apa"
"Bohong, aku tau kamu, aku kenal kamu hampir 3 tahun, aku tau kamu kalo lagi seneng, sedih, ada masalah, aku tau semua"
Bintang diam sambil menunduk menatap jari jemarinya yang bertautan tanpa membalas ucapan Kevin
"Sekarang kamu mau cerita atau nggak?" tanya Kevin
"Mau tapi kamu jangan marah gitu dong, aku jadi takut" jawab Bintang dengan suara pelan
Kevin menyandarkan kepalanya kemudian menghela nafas "Aku nggak marah cuma kesel aja, sekarang cerita masalah kamu apa" ucapnya mulai melunak
Bintang menoleh takut pada Kevin, ia memperbaiki posisi duduknya dan mulai menceritakan yang di bicarakan nya bersama anggota BEM beberapa hari lalu yang mengajaknya ikut study tur ke Bandung serta alasannya tidak menceritakan hal itu pada Kevin.
"Jadi karna itu kamu diem selama beberapa hari ini?" tanya Kevin setelah Bintang selesai bercerita dan gadis itu mengangguk, ia menghela nafas "Kenapa kamu nggak cerita dari awal?"
"Aku takut kamu marah, dan ngelarang aku pergi"
"Kenapa harus marah?"
"Kamu kan nggak suka aku deket-deket sama kak Rey"
Kevin meraih tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya "Aku emang nggak suka kamu deket-deket sama senior itu, tapi kalo kayak gini kan beda cerita"
"Jadi?"
"Kamu boleh pergi study tur ke Bandung"
Bintang mengembangkan senyumnya "Makasih ya"
__ADS_1
"Iya sayang, makanya lain kali apapun masalahnya kamu harus kasih tau aku"
"Iya, aku janji akan cerita"