
Mila berjalan di koridor kampus dengan sedikit tertatih karna kakinya akibat tabrakan kemarin masih sakit, ia melihat ramai orang - orang berkumpul depan mading.
"Ngapain mereka rame - rame di depan mading?" gumamnya
Di karnakan rasa kepo yang tidak terlalu tinggi, Mila tidak terlalu peduli dan kembali melanjutkan langkahnya. Baru saja bokongnya mendarat ke kursi, seorang gadis menghampirinya
"Hai"
Mila mendongak "Hai" balasnya
Di lihatnya gadis itu menyodorkan tangan dan ia pun membalasnya "Amelia"
"Mila"
"Lo bisa panggil gue Amel" ucap Amel yang mendudukkan dirinya di samping Mila dan di tanggapi anggukan dan senyuman
Tak lama Dosen masuk ke kelas dan mulai menyampaikan materi yang akan di pelajari.
Begitu pelajaran selesai semua yang berada di kelas mengemasi barang masing-masing dan keluar dari kelas.
"Mil, kantin yuk!!" ajak Amel
"Kamu duluan aja, aku mau ke perpus dulu" ucap Mila
"Yaudah, gue duluan, bye"
"Bye"
******
Mila menyusuri tiap-tiap rak untuk mencari buku yang di perlukan dengan jalan yang tertatih. Dengan susah payah ia menjangkau buku yang letaknya di atas, kalau saja kakinya tidak sakit pasti buku itu sudah ia dapatkan.
Masih berusaha meraih buku itu hingga kakinya terbelit satu sama lain menyebabkan hilangnya keseimbangan tubuh. Mila memejamkan mata untuk bersiap-siap menerima rasa sakit, tapi anehnya sang tubuh tidak merasakan apa-apa.
Perlahan Mila membuka mata dan melihat wajah seorang pria yang sangat dekat dengan wajahnya. Mila menatap mata tajam itu yang juga menatap mata hitamnya.
"Lo nggak papa?" tanya pria yang masih merangkulnya, yang tak lain adalah Azka
Mila yang tersadar langsung membenarkan posisinya "Nggak papa, makasih ya kak" ucapnya sambil menunduk malu
"Iya sama-sama" balas Azka "Lo mau ambil buku yang mana?"
"Yang itu" Mila menunjuk buku yang bertuliskan nama tokoh terkenal, Aris Toteles (mohon maaf kalo namanya salah:))
Azka mengikuti arah tunjuk Mila lalu mengambilnya dan memberikan buku itu pada gadis di depannya yang kembali menunduk "Nih, lain kali minta tolong sama orang"
"Sekali lagi makasih, maaf ngerepotin" ucap Mila setelah menerima buku tebal itu
"Nggak repot kok, gue malah seneng bisa bantu lo"
Mila mengangguk kecil, sedikit mendongak kemudian menunduk lagi "Ehm... Aku duduk dulu kak"
__ADS_1
"Iya" balas Azka, namun keningnya berkerut saat melihat jalan Mila yang sedikit pincang "Kaki lo kenapa?"
Mila melihta ke arah kakinya kemudian melihat Azka "Nggak papa kok, cuma keseleo"
"Udah di obatin?"
"Udah kemarin, di urut sama Ibu"
Mila tersentak saat seniornya itu merangkul kedua bahunya dan menuntun ke tempat duduk
"Jangan kelamaan berdiri, ntar tambah parah" ucap Azka
Mila menjawab dengan anggukan, ntah kenapa mulutnya tiba-tiba menjadi kaku, apa lagi mendapat perhatian dari pemuda yang di kaguminya.
"Mil!! Mila!!"
"Eh iya kak, kenapa?"
"Kok bengong?"
"Hah! Em.... nggak papa kok, kak"
Mila membuka buku yang ia pegang dan membacanya, ia melirik ke Azka yang tampak menahan tawa "Kenapa kak?"
"Mata lo hebat juga, bisa baca buku kebalik gitu" jawab Azka masih menahan tawanya
Mila melihat ke bukunya dan benar saja buku yang ia baca terbalik, sambil menyeringai malu ia memutar bukunya, mendekatkan buku ke wajahnya sambil merutuki kebodohannya.
******
"Kok nggak ke kantin?" ucap Kevin tiba - tiba yang membuat kekasihnya menoleh
Bintang menurunkan kaki yang sempat ia letakkan di atas meja "Nggak laper"
"Nggak takut di omelin bang Azka?"
"Kan aku nggak bolos"
Kevin mengangguk kemudian menatap Bintang dengan lekat membuat yang di tatap salah tingkah "Kamu kenapa sih? Ngeliatinnya gitu banget"
"Kamu cantik" ungkap Kevin
"Iyalah, aku kan cewek, nggak mungkin ganteng kan"
"Aku jadi nggak sabar buat cepet-cepet lulus, trus wisuda"
Bintang memiringkan kepalanya "Kenapa gitu?"
"Iya, biar cepet kerja, trus cepet ngelamar kamu"
Ucapan sang kekasih membuat Bintang tertawa "Emangnya yakin kita jodoh?"
__ADS_1
"Yakin dong, harus jodoh"
Lagi - lagi Bintang tertawa "Kok maksa!?"
"Biarin, pokoknya kita harus jodoh"
"Kalo seandainya jodoh aku orang lain?"
Kevin berfikir sesaat lalu berucap "Aku akan berdo'a sama Tuhan, supaya Dia panggil orang itu, trus jodohin kamu sama aku" tuturnya
"Iihh... Jahat banget kamu, masa do'ain orang mati"
"Ya abis aku kesel, masa aku yang jagain kamu, trus dia yang dapet, kan nggak adil"
Bintang kembali tertawa sungguh tingkah kekasihnya ini sangat lucu "Udah ah, omongan kamu mulai ngelantur"
"Tapi aku serius mau nikah sama kamu" ucap Kevin dengan menatap Bintang serius
"Iya, aammiinn!!"
Kevin tersenyum lalu mencium kening Bintang dengan lembut dan penuh rasa sayang "Aku anter kamu ke kelas, udah mau bel" yang di jawab dengan anggukan oleh kekasihnya
******
"Kevin!!"
"Iya, Do" sahut Kevin dan Bintang ikut menoleh pada pemuda yang ia kenal sebagai teman satu kelas kekasihnya
"Di cariin Dosen tuh" ucap Edo
"Ada apa"
Edo mengangkat bahu sebagai jawaban "Sekarang!! Gue duluan" sebelum pergi ia tersenyum pada gadis sebelah temannya sebagai sapaan dan di balas senyuman pula oleh gadis itu
"Kamu temuin aja Dosen kamu itu" ucap Bintang
"Tapi kan aku mau anterin kamu ke kelas" balas Kevin
"Nggak usah, aku bisa ke kelas sendiri"
"Kalo ada yang gangguin kamu gimana?"
"Ya nggak mungkin lah, ini kan kampus bukan jalanan"
Kevin menghela nafas dan memasang cemberut yang membuat gadis di hapannya tertawa pelan
"Udah sana, ntar nilai kamu jelek loh, karna Dosen nya kesel nungguin kamunya lama"
Kevin mencubit pipi kekasih dengan gemas "Yaudah kamu hati-hati yah"
Bintang terkekeh "Iyah, lebay banget deh kamu" ia menatap punggung pria yang berhasil menempati hatinya beberapa tahun ini semakin menjauh
__ADS_1
Mengingat awal - awal pertemuan mereka Bintang jadi tersenyum sendiri, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.