
Di luar ruangan Bintang berjalan menyusuri lorong koridor dengan langkah gontai. Ia terus berjalan sampai di lorong yang sepi. Bintang bersandar pada dinding putih itu, merasakan sesak pada dadanya.
Kristal bening yang sedari tadi di tahan akhirnya keluar dari mata indahnya dan mengalir membasahi pipi mulusnya.
Bintang terduduk memegangi dadanya yang semakin sesak, saat melihat Karin ia teringat pada Nadin sepupunya. Satu - satunya sepupu wanita yang dekat dengannya dan yang sangat ia sayangi seperti saudara kandung.
Ia tidak bisa lagi melihat orang di sekitarnya menjadi sasaran manusia brengsek seperti Danu.
Dadanya semakin sesak, nafasnya tertahan di lehernya. Ia menangis sejadi - jadinya saat ingantan tentang kejadian yang menimpa Nadin 2 tahun yang lalu kembali.
Bintang sudah lelah menangis, badannya lemas, kepalanya menjadi sakit dan matanya sudah tidak sanggup lagi untuk menerima cahaya, penglihatannya buram. Dinding putih itu seakan bergoyang ke sana - ke mari. Bintang akhirnya terbaring dan pingsan tak sadarkan diri.
*****
Di ruangan Karin
Lina sudah kembali dari mengurus administrasi, sekarang ia menyuapi putri bungsunya bubur, sedangkan Kevin duduk di sofa sambil sesekali melihat ke arah pintu masuk.
Karena Bintang tidak kembali dari toilet membuat Kevin menjadi resah, gelisah, sekaligus khawatir.
Kevin keluar dari kamar Karin untuk mencari keberadaan Bintang. Ia berlari ke toilet wanita tapi tidak masuk, hanya bertanya pada wanita yang ke luar dari toilet tersebut tapi Bintang tidak ada.
Ia kembali berlari menuju taman rumah sakit, kantin, dan parkiran tapi hasilnya nihil. Bintang tidak ada di mana - mana. Ia mengusap kasar wajahnya dan mengacak - ngacak rambutnya.
Kevin berjalan dengan gontai menyusuri lorong koridor, ia tidak tau harus berbuat apa.
Kevin merogoh saku celanannya mengeluarkan benda pipih dan mengotak - atiknya.
*Tut....tut....tut....
Kring....kring....kring*....
Suara handpone yang sudah tidak asing lagi di telinganya, Kevin mengedarkan matanya mencari sumber suara.
Sampailah mata tajamnya bertemu dengan sosok yang ia cari sedari tadi tergeletak di lantai.
__ADS_1
Kevin membulatkan matanya dan berlari ke ke sumber suara untuk memastikan. Betapa kejutnya ia melihat Bintang yang sudah tidak sadarkan diri. Ia mengangkat kepala Bintang meletakkan di pahanya kemudian menepuk - nepuk pipi Bintang.
"Bi!!!.... Bintang...... Bintang bangun Bi!!!" ucapnya dengan raut cemas
Tanpa menunggu lama ia langsung mengangkat tubuh mungil Bintang dengan tangan kanan di leher dan tangan kirinya di tengkuk leher Bintang.
Kevin berlari dengan mengendong tubuh Bintang menuju kamar inap Karin. Saat di dalam kamar, ia membaringkan tubuh Bintang di atas sofa, dan meminta dokter yang sedang memeriksa Karin untuk memeriksa Bintang.
Kevin : "Gimana dok keadaannya?" tanyanya dengan raut wajah cemas saat dokter selesai memeriksa Bintang
Dokter: "Dia baik - baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia hanya lelah dan sedikit tertekan, sepertinya dia baru sudah menangis" jelasnya "Saya permisi dulu, kalau ada sesuatu langsung melapor, mari"
Kevin : "Makasih Dok" ucapnya Dokter itu mengangguk lalu pergi dari kamar tersebut
Mama : "Kamu nemuin dia di mana?, kenapa bisa kayak gini?" tanyanya seraya mengelus rambut Bintang
Kevin : "Kevin juga nggak tau Ma di kenapa? Tadi waktu Kevin nemuin dia, dia udah pingsan" jelasnya lirih
Kevin terduduk di lantai sambil menatap wajah Bintang yang pucat.
Ia berfikir apa yang membuat Bintang menjadi tertekan. Ini pasti ada hubungannya dengan Danu.
Bintang : "Aww....sakit" lirihnya sambil memegang kepala "Gue di mana?"
Mama : "Kamu di rumah sakit sayang, di ruangannya Karin, tadi kamu pingsan" jelasnya
Bintang : "Oh...maaf ya tante jadi ngerepotin" ucapnya tersenyum kikuk
Mama : "Nggak ngerepotin kok" ujarnya tersenyum "Oh ya Vin mendingan kamu antar Bintang pulang, mungkin dia kecapean" pintanya, Kevin mengangguk kemudian berdiri mengambil kunci motor yang ia letakkan di atas nakas sebelah ranjang Karin.
Bintang dan Lina ikut berdiri dan mendekat ke ranjang Karin.
Bintang : "Karin kakak pulang dulu ya, besok kakak ke sini lagi" ucapnya seraya tersenyum lalu mencium kening Karin "Cepet sembuh ya Karin, supaya kita bisa main lagi"
Karin : "Iya kak, Karin janji, Karin akan cepet sembuh dan main sama kak Bintang lagi" tersenyum manis, Bintang mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya pada Lina
__ADS_1
Bintang : "Tante Bintang pamit dulu" mencium tangan Lina
Kevin : "Kevin nganter Bintang dulu Ma" pamitnya dan mencium tangan Lina
Mama : "Iya, kalian hati - hati ya, Vin kamu jangan ngebut bawa motornya, jagain Bintang" peringatnya
Kevin : "Siap ibu negara" ucapnya memberi hormat
"Assalamualaikum" salam mereka bersamaan
"Waalaikumsalam" jawabnya
Mereka berjalan keluar dari ruangan tersebut
*****
Ketika motor Kevin tidak terlihat lagi, Bintang masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam. Setelah bertegur sapa dan berbasa - basi dengan keluarganya, ia masuk ke kamarnya.
Selesai dengan ritual bersih - bersih, Bintang menghempas tubuhnya ke kasur ternyamannya. Ia menatap langit - langit kamar nya yang berwarna abu - abu itu.
Bintang mendudukkan tubuhnya kemudian berdiri mengambil handpone di atas nakas samping tempat tidurnya.
'Temuin gue ntar malem di cafe XXXX' ~Send
*****
Bintang keluar rumah menggunakan mobilnya menembus angin malam yang dingin.
Kini mobilnya sudah terparkir rapi di depan sebuah cafe. Ia keluar dari mobil dan memasuki cafe tersebut. Bintang mengedarkan pandangannya mencari orang yang di ajak bertemu.
Akhirnya bertemulah mata indahnya dengan sosok pria. Bintang menghampirinya dan duduk di hadapannya. Pria itu tersenyum ke arah Bintang namun hanya di balas dengan senyuman kecut. Pria itu memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Tidak ada yang bersuara satu pun antara Bintang dan pria itu sampai pesenan mereka datang. Pria itu terus saja memandangi wajah cantik Bintang, tapi tidak dengan Bintang, ia memalingkan wajahnya.
Like, komen, tip nya ya kak
__ADS_1
Makasih
Maaf typo