
Azka berdiri di depan kelas Ekonomi sedang menunggu seorang gadis yang mungkin telah mencuri hatinya "Hai!" sapa pemuda itu saat gadis yang sedari tadi di tunggu keluar kelas
"Hai kak" balas Mila plus senyum menawannya
"Hari ini lo ada waktu nggak?"
Tanpa berfikir lama Mila langsung mengangguk "Ada, kenapa?"
"Em... gu-gue... mau... mau" Azka merutuki lidahnya sendiri yang tiba-tiba terasa sangat berat
"Kak Azka mau apa?" Mila mengerutkan dahinya menatap sang senior yang terlihat gugup ntah karna apa
Pemuda itu menghirup nafas kemudian menghelanya pelan "Gue... gue mau ngajak lo pergi ntar malem"
Mila mengerjap beberapa kali mencerna kalimat yang keluar dari bibir pemuda yang masih terlihat gugup itu
"Lo mau kan?"
"Aku nggak bisa jawab sekarang, harus tanya Ibu dulu"
"Oh... nggak papa kok, gue tunggu jawaban lo ntar sore ya, kalo gitu gue pergi dulu, bye"
Belum sempat Mila membalas pemuda yang mengajaknya pergi itu sudah lari dari hadapannya, lagi-lagi ia mengerutkan dahi "Kak Azka kenapa sih aneh banget, nggak kayak biasanya, ah.. udahlah pulang aja" sepertinya gadis itu melupakan sesuatu
****
"Gimana dia nya mau?"
Azka mengatur nafas lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan dari pemuda yang berstatus sebagai kekasih adiknya "Katanya dia mau tanya Ibu nya dulu"
Kevin bertepuk tangan 1 kali "Bagus, itu tandanya dia mau pergi sama lo"
"Lo yakin dia bakal nerima ajakan gue"
"Yakin 1000 persen gue, percaya deh"
Azka terdiam sejenak "Kalo dia beneran mau kenapa nggak langsung jawab 'iya' aja?"
"Itu... mungkin... karna dia gugup, makanya dia nyari alasan, sebenarnya dia mau"
"Ribet banget tinggal ngomong 'iya gue mau' " komentar Azka
"Cewek emang gitu Bang" balas Kevin "Gue duluan ya"
"Eh tunggu" cegat Azka "Trus ntar malem gue harus gimana?"
"Gampang itu mah, ntar gue kasih tau, sekarang gue harus pulang, bye"
"Oke, hati-hati lo"
Kevin yang mulai melangkah mengacungkan jempolnya di sertai ucapan sip sebagai balasan
****
Bintang menutup kedua telinganya sambil berlari menuju kamar sang Abang saat pemuda itu terus-terusan memanggilnya "Apa sih? berisik tau nggak" omelnya
Ia mengerutkan dahi melihat banyaknya baju yang berserakan di atas kasur "Ini kenapa nih? lo mau pindahan?"
"Bukan, gue mau ngedate, jadi gue minta tolong sama lo pilihan baju yang cocok buat gue" jelas Azka
Bintang mendekati pemuda yang sedang bingung ingin memakai baju apa "Lo mau ngedate?" dan si Abang pun mengangguk "Sama siapa?"
"Sama Mila"
__ADS_1
"Seriusan lo?"
Azka menghela nafas merasa geram dengan Adiknya "Iya, dari pada lo nanya mulu lebih baik lo bantuin gue pilih baju"
"Oke" dengan antusias Bintang membantu sang Abang memilih baju
****
Azka menghela nafas beberapa kali sebelum mengetuk benda persegi panjang di depannya
tok.. tok.. tok..
Pemuda itu semakin gugup saat mendengar derap langkah kaki mendekati pintu. Ia terpaku ketika pintu berwarna coklat itu terbuka dan menampakkan seorang gadis cantik. Seperti terencana saja baju yang mereka kenakan, Azka dengan kemeja putihnya dan Mila dengan dress putih yang sederhana namun tetap terlihat sangat cantik.
"Cantik"
Mila tersenyum simpul mendengar pujian itu, pipinya sampai memanas dan mungkin sudah memerah, ia menundukkan kepalanya "Makasih, kak Azka juga ganteng" balasnya gugup
Keduanya saling tatap dan saling melempar senyuman hingga terdengar suara deheman "Mau sampai kapan di sini, hm?"
Azka menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kikuk "Tante, Azka mau izin bawa Mila pergi"
Ningsih menatap putrinya yang juga menatapnya penuh harap "Iya boleh, tapi... pulangnya nggak boleh larut banget"
"Iya Tante, makasih"
"Makasih ya Bu" timpal Mila "Kalo gitu kita pergi dulu"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Kedua remaja itu mencium punggung tangan Ningsih "Kalian hati-hati ya" di balas dengan kata 'iya'
*****
"Lo cantik banget malem ini" puji Azka yang kesekian kalinya
Mila menutup kedua pipinya "Kak Azka udah dong, pipi aku udah tomat nih" keluhnya tapi pemuda itu malah tertawa
Azka menggenggam tangan Mila untuk masuk ke dalam restoran
"Tempatnya bagus banget" Mila berkomentar sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat makan itu
"Untuk orang spesial harus bagus" ucap Azka, terlihat gadis di sampingnya itu tersenyum simpul
*****
Bintang meletakkan segelas teh hangat di atas meja depan rumahnya, teh itu di buat untuk kekasihnya yang datang
"Makasih"
"Iya sama-sama, makasih juga ya kamu udah mau ke sini"
Kevin kembali meletakkan cangkir teh setelah menyeruputnya "Masa aku biarin pacar aku sendirian di rumah" ia meraih kedua tangan Bintang saat kekasihnya itu meniup dan menggosok-gosoknya, udara memang dingin saat malam "Kenapa nggak duduk di dalam aja sih"
"Kan lagi nggak ada Bang Azka"
"Kamu nggak percaya sama aku, aku nggak akan apa-apain kamu kok"
"Bukan gitu maksud aku, aku cuma nggak mau jadi omongan tetangga, kamu tau sendiri mulut tetangga pedesnya kayak apa"
Kevin mengangguk, bener juga yang di katakan kekasihnya itu, sudah banyak kejadian tetangga yang berdatangan ke rumah untuk menggrebek pasangan yang sedang berduaan dengan status masih pacaran seperti mereka, pemuda itu bergidik ngeri, kalau hal itu terjadi sekarang pasti mereka akan di nikahkan saat itu juga
__ADS_1
"Jam berapa Abang kamu pulang"
Bintang menggeleng "Nggak tau namanya juga ngedate"
"Jadi sampe kapan aku di sini?"
"Kami nggak betah ya"
"Nggak gitu, kan kamu sendiri yang bilang tadi, mulut tetangga pada pedes melebihi cabe rawit, aku nggak mau aja kamu di omongin sama mereka" jelas Kevin
"Kamu bener, Yaudah pulang sana"
"Kok kesannya kayak ngusir ya"
Bintang tertawa begitupun dengan Kevin
*****
Gadis berdress putih itu hanya menatap makanan di depannya, ia mendongak memperhatikan pemuda yang sedang melahap makanannya dan kembali menatap garpu serta pisau di tangannya, bahkan sepotong daging pun belum masuk ke mulutnya.
Mila melihat cara seniornya itu makan, ia pun mencoba dengan menancapkan garpu ke daging dan berusaha mengirisnya dengan pisau.
Azka menoleh sampai dua kali pada gadis di depannya yang terlihat kesusahan mengiris daging, ia pun mengukir senyum 'lucu' "Susah ya?"
Gadis itu menghela nafas "Banget, ini sebenarnya Mateng nggak sih, kenapa keras kayak gini, chef-nya nggak niat kali masak daging" keluhan Mila membuat Azka terkekeh
"Sini gue ajarin" pemuda itu berpindah duduk di sebelah Mila
Tiba-tiba Mila merasa gugup saat Azka merangkulnya untuk mengajari cara mengiris daging, ia menggerakkan wajahnya ke kanan menatap pemuda itu yang juga menatapnya, dengan jarah sedekat ini membuat detak jantung dari keduanya derdetak dengan keras, jika saja suasana tidak terlalu berisik mungkin suara itu akan terdengar
"Bisa kan?"
Mila mengangguk sebagai jawaban ntah mengapa mulutnya sulit sekali mengeluarkan kata-kata.
*****
Azka mengantar Mila sampai ke depan pintu rumah gadis itu "Makasih ya, lo udah mau pergi sama gue"
"Aku yang harusnya bilang makasih karna kak Azka udah mau ngajak aku pergi"
Azka tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya "Sama-sama, kalo gitu gue pulang dulu"
"Nggak mau masuk?"
"Lain kali aja, udah malem juga, nggak enak sama tetangga, kasian Bintang sendirian di rumah, titip salam sama nyokap lo"
Mila mengangguk "Iya nanti aku sampein"
"Gue pulang dulu, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, kak Azka hati-hati"
*****
Sesampai di rumah Azka langsung menuju kamar sang Adik dan merebahkan diri ke kasur milik gadis itu
"Lancar?"
Pemuda itu menoleh pada Bintang yang sebelumnya sedang menelfon, ntah lah siapa Azka tak tau mungkin pacarnya "Ternyata gini rasanya" ungkapnya
Bintang tersenyum mendengar pengakuan itu "Rasa apa?"
"Nano-nano" jawaban itu membuat keduanya tertawa
__ADS_1