Cewek Tomboy Pujaan Hati

Cewek Tomboy Pujaan Hati
70. Mengurung Diri


__ADS_3

"Bi, kita makan dulu ya, gue laper" ucap Azka sembari fokus menyetir, namun sesaat menoleh pada sang adik yang tidak merespon dan tampak melamun "Woy!!"


Bintang yang tersentak reflek meninju lengan Azka kuat membuatnya mengaduh "Eh sorry-sorry, gue nggak sengaja, lagian lo ngagetin" omelnya saat pemuda itu mengatakan sakit


"Lo nya yang ngelamun, lagi ada masalah?" mendapat jawaban sebuah gelengan kepala Azka jadi mencibir "Muka lo kebaca kalo lagi ada masalah, berantem sama Kevin? Dia nggak ngasih kabar lagi?"


Mendengar berbagai pertanyaan dari sang abang membuat kepalanya semakin pusing "Gue nggak punya masalah apapun, cuma lagi pengen ngelamun aja"


"Kalo ada masalah itu cerita, jangan di pendem"


"Di bilangin nggak ada masalah apa-apa"


"Okey" Azka memilih untuk mengalah, ia bisa saja melanjutkan debatannya dengan sang adik seperti biasa, tetapi perut tidak mengizinkan rencananya kali ini "Sekarang kita makan dulu, gue laper" yang di ajak bicara berdehem sebagai jawaban


******


Bintang memperhatikan cafe yang menjadi pilihan pemuda di sampingnya, ia sedikit menyungging senyuman "Lo mau ngisi perut? Atau mau modus?"


"Maksud lo?" tanya Azka sedikit menoleh pada kegiatannya mencari dompet di dalam tas


"Alah, gue tau kok Mila kerja di sini"


Mendengar itu Azka mendongak "Tau dari mana lo?"


"Orang gue yang rekomendasiin dia kerja di sini, ya awalnya gue mau rekomendasiin di perusahaan Ayah, tapi untuk lulusan SMA, paling jadi Cleaning Service" jelas Bintang


"Di sini dia juga jadi Cleaning Service"


"Tapi kan cafe ini nggak segede perusahaan, dan juga pasti Cleaning Service nya banyak"


"Iya juga sih, yaudah yuk masuk"


Azka dan Bintang memilih duduk di pojok deket jendela dengan kursi yang saling berhadapan, orang-orang yang tidak mengenali mereka akan mengira mereka adalah sepasang kekasih.


Seorang pelayan wanita mendekat melihat Azka mengangkat tangan pertanda memanggilnya "Silahkan Mas, Mbak" ucapnya sembari menyerahkan buku menu


Bintang membaca dengan teliti daftar menu tersebut dan pilihannya jatuh pada steak daging dan jus alpukat


"Saya paket ayam bakar dan tambahan minum jus mangga" ucap Azka


"Ada lagi?"


"Itu aja dulu, nanti kita pesen lagi" jawab Bintang


"Baik, tunggu sebentar" ucap pelayan tersebut kemudian berlalu pergi


"Bang!!"


"Hm" sahut Azka tanpa mengalihkan pandangan dari benda pipih di tangannya


Bintang berdecak "Liat gue, gue mau ngomong sesuatu"


Azka mematikan dan meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap sang adik yang terlihat gugup "Apa?"


"Em... Em... Kalo misalnya... Em..."


"Apasih?"

__ADS_1


Bintang menghela nafas, sedikit berdehem "Kalo misalnya nih, seandainya, berandai-an-"


"Intinya aja, nggak usah berbelit-belit" sela Azka tak sabaran


"Misalnya nih, tapi janji dulu lo jangan marah"


Azka mengangkat kotak tisu di depannya "Ngomong atau gue lempar nih" ancamnya


Bintang reflek mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya "Tuh kan belom apa-apa lo udah marah"


"Lagian lo bikin kesel" ucap Azka sambil mengembalikan kotak tisu ke tempatnya "Apaan?"


"Kalo seandainya Danu nemuin lo, trus minta maaf, gimana?" ucap Bintang cepat


Mendengar itu Azka jadi tertegun, dengan tatapan yang sulit di artikan di arahkan pada sang adik yang ntah kenapa bisa bertanya tentang itu, kedatangan pelayan mengalihkan suasana yang sedikit tegang.


Keduanya menyantap makanan masing - masing tanpa suara, sesekali Bintang melirik pemuda di hadapannya. Melihat perubahan wajah sang abang saat di tanya, ia tau jawaban yang akan terlontar dari pemuda itu.


Hingga selesai makan pun tak ada yang mengeluarkan suara di antara keduanya.


Azka menyandarkan tas ke bahunya, berdiri untuk memasukkan ponsel ke dalam saku "Ayok pulang" ucapnya datar


"Lo belom jawab pertanyaan gue"


Pemuda yang masih berdiri itu sedikit mencondongkan tubuhnya "Gue nggak akan maafin dia"


"Kenapa?" tanya Bintang dengan menatap lekat pemuda yang kembali memundurkan badannya


"Gue rasa lo nggak amnesia"


*****


Ntah sudah berapa kali Azka turun naik tangga untuk menghampiri kamar sang adik yang masih tertutup rapat, sejak kejadian tadi siang adik kecilnya itu mengurung diri di kamar bahkan gadis itu melewatkan makan malam.


Tok… Tok… Tok…


"Dek!!"


"Bi!!"


"Bintang, makan dulu, gue udah masak ayam goreng kesukaan lo"


"Dek, perut lo harus di isi"


Azka menghela nafas "Gue hitung sampe tiga, kalo lo nggak buka juga, nih pintu gue dobrak" ancamnya dan masih tak ada jawaban


"Oke kalo itu mau lo, satu… Dua… Ti-"


Ting… Tong…


Ting… Tong…


"Siapa sih yang dateng malem-malem?" gumamnya sambil melangkah meninggalkan pintu yang tak mau terbuka


Ceklek...


"Ngapain lo ke sini?" tanya Azka "Lari lo ke sini?" tanyanya lagi melihat pemuda di hadapannya itu tengah mengatur nafas, tapi bukannya mendapat jawaban dirinya malah mendapat pertanyaan

__ADS_1


"Bintang ada Bang?"


Azka mencibir "Ada di kamar"


"Syukurlah, gue khawatir banget sama dia, gue telfon nggak di angkat, gue wa nggak di balas, gue takut dia kenapa-napa" curhat Kevin sambil bernafas lega


"Dari pulang kampus dia ngurung diri di kamar" jelas Azka melangkah masuk di ikuti oleh Kevin dan saat abang dari kekasihnya itu menyerahkan nampan berisi sepiring nasi beserta lauk juga segelas air putih, dengan sigap di terima "Dia belom makan, gue ke kamar dulu, jangan macem-macem lo"


"Iya Bang" balas Kevin


Setelah calon kakak iparnya itu masuk kamar, barulah ia melangkah menaiki tangga menuju kamar kekasih


Tok... Tok... Tok...


Tak ada jawaban, mungkin penghuni kamar masih mengira dirinya adalah Azka, ia teringat ucapan pemuda itu tadi


"Sayang, ini aku Kevin, pacar kamu yang ganteng nya tiada tara dan nggak ada tandingan nya!!"


masih tak ada jawaban


"Bintang sa-


Ceklek....


Bintang menatap pemuda di depannya dengan datar, tanpa berkata ia berbalik dan melangkah masuk ke arah sofa, tentu saja Kevin ikut masuk dan ikut duduk di sebelah Bintang.


"Kamu kenapa? Bang Azka bilang kamu ngurung diri di kamar, ada masalah?" tanya Kevin setelah meletakkan nampan yang di bawanya tadi ke atas meja, melihat Bintang hanya menggelengkan kepala, ia menghela nafas kemudian meraih tangan kekasih untuk di genggam dan gadis itu menoleh


"Punya masalah itu jangan di pendem, kalo kamu nggak mau cerita sama Bang Azka, kamu bisa cerita sama aku, aku kan pacar kamu"


Bintang menarik tangannya berganti memeluk dan bersandar pada dada Kevin. Ia menceritakan obrolan tadi siang dengan sang abang tentang tujuannya untuk mendamaikan pemuda itu dengan Danu.


"Hm... Baik banget sih pacar aku, makin cinta deh" puji Kevin mengusap lembut kepala Bintang yang nyaman bersandar di dadanya "Nggak semua orang dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain, abang kamu salah satunya, aku yakin suatu saat nanti dia mau maafin Danu, mungkin butuh waktu" tambahnya


"Sampe kapan? Aku nggak mau di antara orang-orang yang aku sayang ada permusuhan lagi"


"Kamu harus berusaha untuk yakinin Bang Azka, kalo Danu itu udah berubah, nggak kayak dulu lagi"


"Caranya?"


Kevin menggaruk tengkuknya "Aku juga nggak tau"


"Iih... Kamu mah, ngasih solusi setengah - setengah" dengus Bintang


"Iya maaf, tapi aku akan bantuin kamu untuk ngeyakinin Bang Azka"


"Bener mau bantuin?"


"Iya dong, apapun untuk pacar aku yang cantik ini"


Bintang menatap Kevin dengan senyuman "Makasih"


"Sama-sama sayang" balas Kevin juga tersenyum "Udah dong meluknya, ntar aku khilaf"


"Mesum" cibir Bintang melepas pelukannya


Kevin menyeringai "Sekarang kamu makan ya, biar nggak sakit"

__ADS_1


__ADS_2