
Bintang mempercepat langkah nya menuruni tangga begitu indra penciuman nya menghirup aroma sedap yang berasal dari dapur, seperti nya sang abang sudah selesai masak
Mata bulat itu berbinar menatap dua piring nasi goreng plus telur mata sapi di atas nya, hanya saja tampilan nya sedikit berbeda dari sebelum nya
"Tumben lo masak" Azka yang sedang memasang jam tangan mendekati sang adik
"Lah gue pikir lo yang masak"
"Gue aja baru keluar kamar"
"Selamat pagi semua"
Kakak beradik itu menoleh ke Bayu yang membawa sepiring lagi nasi goreng dan sepiring sosis bakar lalu meletakkan nya ke atas meja
"Pagi Bay" balas Azka kemudian mendudukkan diri
Bintang pun ikut mendudukkan diri yang berhadapan dengan Bayu "Lo yang masak Bay?"
"Iya lah, gue cukup sadar diri kok, masa iya gue cuma numpang doang, ya minimal gue masak lah"
"Gak perlu sih sebenarnya, tapi kalo lo mikir gitu ya bagus juga" ujar Azka yang setelah nya memuji masakan Bayu
"Gue baru tau kalo lo bisa masak"
Bayu mencebikkan bibir nya "Lo nya aja yang jarang ke rumah gue, makanya gak tau kalo gue bisa masak"
Bintang menyengir kemudian beranjak saat mendengar suara bel "Gue duluan"
"Mau ke mana lo?" tanya Azka
"Pergi sama Kevin, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Hati-hati lo"
Bintang menjawab dengan mengacungkan jempol nya, ia tersenyum pada pemuda yang juga tersenyum pada nya
"Assalamualaikum cantik"
"Waalaikumsalam, kita mau ke mana?"
__ADS_1
"Rahasia" Kevin mencubit pelan pipi chubby kekasih nya itu "Tumben Bayu ke sini pagi-pagi"
"Bayu lagi ada masalah sama orang tua nya, jadi dia tinggal di sini" jelas Bintang setelah nya memasuki mobil
"Selamanya?"
"Dia bilang sampe dapet kos-an, tapi bang Azka bilang dia boleh sampe kapan pun, kamu gak papa kan?"
Kevin memasangkan Bintang sealbelt terlebih dahulu "Kenapa nanya gitu, aku tau hubungan kamu sama Bayu kayak apa, aku percaya kok sama kamu"
"Makasih ya sayang"
"Aku seneng deh kalo kamu panggil aku sayang" Kevin tersenyum lebar dan senyum itu menular pada Bintang "Emang masalah Bayu sama orang tua nya apa?"
"Papa nya nyuruh dia pindah kuliah ke Amerika, karna Bayu gak mau jadi semua fasilitas nya di ambil termasuk rumah, emang dari dulu hubungan mereka kurang baik sih, aku kadang kasian sama Bayu, dia sering di tinggal sama orang tua nya"
"Semoga aja hubungan mereka membaik kedepannya"
Bintang mengangguk pelan "Semoga aja"
"Udah sampe, ayok kita turun"
Bintang mengucap kan terima kasih pada kekasih yang membukakan pintu, ia mengikuti langkah Kevin menuju bangku taman di bawah pohon besar, sangat sejuk "Tempat yang bagus, adem" komentar nya
"Aku mau jujur sama kamu" Kevin memejamkan mata kemudian menghela nafas panjang
"Tentang apa?"
"Tapi aku minta kamu dengerin penjelasan aku sampe selesai, oke"
Meski bingung namun Bintang mengangguk "Oke"
"Seperti yang aku ceritain kemaren tentang perusahaan mama yang lagi ada masalah dan butuh investor besar buat bantu, akhir nya ada yang mau bantu, nama nya Bara, nah om Bara mau bantuin perusahaan mama tapi dengan satu syarat yaitu" lagi dan lagi Kevin menghela nafas panjang, ia bahkan tidak berani menatap wajah cantik di hadapan nya ini
"Syarat nya apa?"
"Dia punya anak nama nya Amel, kuliah di kampus kita juga, persyaratan nya aku harus nikah sama Amel"
"Apa?" bak di sambar petir di siang bolong, berita apa ini?
Termenung seperti patung dengan tatapan kosong, berusaha mencerna setiap kata yang di lontarkan sang kekasih, kekasih nya, orang yang amat sangat ia cintai menikah dengan gadis lain
__ADS_1
Gadis yang masih shock itu tersadar saat merasa tubuh nya terguncang, menatap wajah pemuda yang beberapa detik lalu mengatakan ingin menikah, bukan ingin tapi akan di nikah kan
"Jangan ngelamun, aku belom selesai ngomong, dengerin aku baik-baik ya, jangan berfikiran yang aneh-aneh dulu, hey sayang liat aku" Kevin menangkup wajah yang masih shock itu untuk menatap mata nya, terlihat mata indah itu mengerjap yang artinya si pemilik nama tersadar
"Aku sayang kamu, aku cinta kamu dan aku cuma mau nikah sama kamu, begitu pun dengan Amel, dia cuma sayang, cinta dan cuma mau nikah sama pacar nya, jadi aku sama Amel berencana untuk menggagalkan perjodohan itu"
Kening mulus Bintang berkerut "Trus mama kamu?"
"Aku akan cari cara apa pun itu, untuk nyelesain masalah perusahaan mama, dengan begitu aku gak akan di nikahin sama Amel"
"Apa pun? termasuk cara yang menyimpang? ngerampok?"
"Gak dong sayang aku yang cantik, dengan cara yang baik dan benar, kamu mau kan bantuin aku"
Bintang menggenggam tangan kekasih nya dengan erat "Aku mau, aku pasti bantu untuk nyelesain semua masalah kamu, harus nya kamu cerita dari awal supaya aku gak mikir yang aneh-aneh tentang kamu, apa lagi beberapa hari lalu aku liat kamu pulang bareng cewek"
"Kamu liat aku pulang bareng Amel?" Kevin sedikit panik mendapat sebuah anggukan "Sayang kamu jangan salah paham yaa, aku sama Amel lagi ngerencanain buat ngebatalin perjodohan itu, please"
"Iya sayang aku percaya sama kamu, tapi jangan di ulangi ya, kalo seandainya aku tau dari orang lain yang cerita nya udah di ubah sedemikian rupa, mungkin aku akhir nya gak akan kayak gini, mungkin terjadi kesalah pahaman antara kita"
"Aku minta maaf yaa, aku takut sama reaksi kamu, aku takut kamu marah, kamu putusin aku trus kamu benci sama aku, sumpah ya aku ngebayangin nya aja gak sanggup"
"Kamu kenal aku hampir 3 tahun, aku bukan orang yang kayak gitu"
Kevin menertawai kebodohan nya "Ternyata aku orang bodoh, bisa-bisa nya aku mikir kayak gitu, aku baru sadar kalo aku adalah laki-laki yang paling beruntung sedunia, aku mau kamu yang jadi pendamping hidup aku"
"Maksa?"
"Iya maksa, aku akan paksa Tuhan lewat do'a supaya jodohin kamu sama aku"
Bintang menguyel pipi Kevin dengan gemes nya "Aku mau es krim"
"Es krim terus, nanti kamu sakit"
"Aku belom makan es krim dalam minggu ini"
"Bener?" Kevin memincingkan mata nya dan saat gadis di depan nya itu mengangguk dengan puppy eyes nya ia pun berucap "Yaudah, ayok beli es krim, satu aja gak boleh banyak-banyak"
Bintang yang ikut berdiri mengacung kak dua jari nya "Aku mau dua"
"Gak boleh, satu aja"
__ADS_1
Masih dengan perdebatan berapa es krim yang di beli sepasang kekasih itu melangkah ke arah mobil yang siap mengantarkan mereka ke kedai es krim