CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Welcome Back Diaz *


__ADS_3

Banyak sekali pekerjaan Lian hari ini, ada beberapa proposal yang harus Ia pelajari dan membaca ulang proposal nya. Karena Lian harus menandatangani proposal itu. Sudah hampir dua pekan Lian menikmati pekerjaan nya.


Semua berkat Aleena yang berusaha merubah sifat tertutupnya. Kali ini Lian bertemu dengan wanita yang tepat. Aleena tidak pernah membatasi Lian dan memberikan kebebasan.


Tiba-tiba terlintas dalam benak Lian tentang Raya, entah bagaimana keadaan Raya di sana? Raya sudah tidak pernah menghubungi nya lagi.


Sifat Raya memang bertolak belakang dengan Aleena. Raya selalu melarang Lian untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan siapapun.


Raya hanya ingin hari-hari Lian hanya untuk bersamanya bukan untuk yang lain.


Sejak awal Raya meninggalkan Jakarta dan tiba di London, hanya beberapa kali Raya menghubungi nya. Setelah itu Raya menghilang tidak ada kabar.


Ada rasa rindu terhadap Raya, hanya saja Lian tidak bisa berbuat apa-apa. Nomor ponsel yang terakhir Raya gunakan sudah tidak aktif lagi.


Lian berfikir Raya sengaja menghilang dari kehidupan Lian. Selama dalam penantian nya Lian hanya menutup diri, menjauh dari keramaian.


Tiap harinya setelah jam kuliah usai Lian menghabiskan waktu nya di Danau belakang Kampus nya. Terus saja setiap hari seperti itu. Hingga kuliah Lian selesai dan Lulus dari kampusnya.


Sampai akhirnya Aleena junior di kampus nya diam-diam memperhatikan Lian, dan beberapa kali Aleena mencoba menyapa. Lian hanya bersikap dingin terhadap Aleena.


Namun Aleena tidak menyerah, terkadang Aleena mengikuti Lian ke Danau untuk sekedar mencari perhatian dari Lian. Aleena ingin mendekati atau sekedar ngobrol dengan Lian, Lian selalu pergi meninggalkan Aleena.


Kalau ingat waktu itu Lian sedikit menyesal karena sikap nya. Akhirnya Lian mencari tau tentang Aleena, hal mudah bagi Lian untuk mencari data para mahasiswa di kampus nya.


Tapi jauh di dalam hati Lian, Dia masih merindukan Raya. Entah apakah rasa ini akan tetap ada dan selalu ada meski ada Aleena saat ini.


Jika suatu hari nanti Raya kembali, entah apa yang akan Lian perbuat. Haruskah kembali bersama Raya atau tetap bersama Aleena.


Lian makin terhanyut dalam lamunan nya, bayangan Aleena dan Raya menari-nari di pikiran Lian. Membuat Lian tidak fokus dengan pekerjaan.


Lian beranjak dari tempat duduknya, lalu meraih kunci mobilnya. Hari ini seperti nya Lian akan pulang lebih awal. Lian melajukan AUDY Q7 nya ke arah Taman Langit.


Kali ini Lian hanya seorang diri, tanpa Aleena. Lian ingin menenangkan pikiran nya, Lian ingin menikmati suasana Taman Langit sendiri.


Roda terus berputar dengan cepat, Lian ingin segera tiba di sana. Lian selalu saja ke Taman Langit jika suasana hati nya seperti ini. Jika sudah berada di sana suasana hati Lian akan kembali tenang.


Tiba di Taman Langit Lian keluar dari mobilnya. Lalu Lian duduk di atas kap mobilnya.


Menikmati ribuan bintang di atas langit, malam ini cerah Bintang-bintang di sana menampakkan dirinya.


Hanya saja Aleena tidak mau muncul , bintang itu bersembunyi.


"Mungkin The Real Aleena tidak disini, makanya Bintangnya bersembunyi" Ucap Lian sambil menatap Langit.


"Aleena Myesha Tanu cantik dan menggoda, Hiraya Zoya Zenata cantik dan Sexy" Ucap Lian dalam hati. Lian terjebak dengan perasaan nya saat ini.


Lian melirik jam tangannya, sudah pukul 10.00 malam. Lian kembali masuk ke dalam mobil nya. Untuk kembali pulang. Dan berharap saat tiba di rumah pikiran nya sudah tenang.


"Tookk ,,, Tookk ,,, "


Terdengar suara ketukan pintu.


"Mas Lian, bangun sudah siang Mas" Panggil Bik Nina dari luar.


Lian membuka perlahan kedua matanya.


"Sekarang jam berapa Bik" Seru Lian dari dalam kamar.


"Sudah jam 9 mas, hayo bangun. Mas Lian harus pergi ke kantor" Ucap Bik Nina.


"Iya Bik, Lian mandi dulu" Seru Lian kembali.


"Bibik siapin sarapan dulu yahh Mas" Ucap Bik Nina berlalu.


Lian beranjak dari atas kasur dengan langkah gontai melangkah menuju kamar mandi.


Setelah mandi Lian menghampiri Bik Nina yang sudah menunggu nya di meja makan.


"Mas Lian dari mana semalam?" Tanya Bik Nina.


"Biasa Bik cari angin segar" Jawab Lian santai.


"Sama Non Aleena?" Ucap Bik Nina ingin tahu.


"Lian sendiri Bik, jenuh aja sama kerjaan di kantor" Ucap Lian.


"Dikira Bibik sama Non Aleena" Ucap Bik Nina sambil tersenyum.


"Lian pergi ya Bik, udah telat nihh. Takut kena macet" Ucap Lian meninggalkan Bik Nina.


"Sarapan nya Ndak di habiskan Mas?" Seru Bik Nina.


"Udah hampir telat Bik" Ucap Lian.


@Office.


Lian melirik ke atas mejanya, ada sebuah Lunchbox


Berwarna putih.


Lian menghampiri meja untuk melihatnya. Lian membuka Lunchbox nya lalu tersenyum melihat isinya.


Ada sebuah kartu ucapan terselip di bawah Lunchbox nya, Lian meraihnya lalu membaca nya dan tersenyum.


Lian meraih ponsel dari saku Jas nya, untuk menghubungi Aleena.


" Have a good day ,,,  " 


"Tuuutttt ,,, Tuuutttt ,,, "


Telpon tersambung.


"Heeiii, thanks Lunchbox nya. Lucu aku suka banget" Ucap Lian.


"Di makan yahh. Jangan sampe telat makan" Seru Aleena.


"Mau di makan gak tega, visualnya lucu kasian" Ucap Lian.


"Hehehe ,,," Aleena tertawa.


"Ya udah Aku kerja dulu yahh" Ucap Lian. Sambil menutup telpon nya.


Lian kembali menatap Lunchbox nya.


Lalu menutup nya kembali, Aleena benar-benar membuat Lian bahagia. Dengan perhatian sekecil.


Lian meraih tumpukan dokumen yang sudah di atas meja kerja. Lian buka satu persatu dan mulai mempelajari nya.


"Kriiinngggg ,,, kriiinngggg ,,,"


Ponsel Lian berdering.


Lian meraih ponsel nya terlihat nama " Diaz Bro "

__ADS_1


Lian segera menjawab panggilan nya.


"Mas, gue udah di Airport,  jemput gue Mas" Seru Diaz memberi tahu.


"Serius udah di Jakarta?" Tanya Lian.


"Iya" Ucap Diaz.


"Oke, otw" Jawab Lian.


Lian melajukan AUDY Q7 dengan cepat menuju Airport.


Dengan Penuh semangat Lian melajukan Mobilnya. Lian rindu Diaz adik satu-satunya.


Lian tersenyum mendengar Diaz akan kembali. Lian rindu dengan adik satu-satunya.


"Tinggal Raya yang belum kembali" Pikir Lian dalam hati.


"Kenapa masih saja Aku berharap Raya kembali" Keluh Lian kesal dalam hati.


Begitu sulit untuk melupakan Raya, mungkin bagi Lian Raya cinta pertamanya.


Mungkin juga karena Lian dan Raya sudah melangkah terlalu jauh, seperti ada ikatan batin dari mereka.


Mereka sama-sama melakukan hubungan itu untuk pertama kalinya. Jadi sulit untuk melupakan Raya.


Dengan Penuh semangat Lian melajukan Mobilnya. Lian rindu Diaz adik satu-satunya.


Sudah kebayang jika Diaz kembali.


Lian tidak lagi kesepian di rumah.


Tiba di Airport, Diaz sudah menunggu nya. Diaz melambaikan tangan ke arah Lian. Lian menghampiri Diaz, lalu memeluk nya.


"Kangen gue sama Lo Mas" Seru Diaz.


"Gue juga kangen berantem sama Lo" Balas Lian.


"Yukk Mas cabut, capek nih Gue" Ucap Diaz. Lian mengangguk tanda setuju.


Kembali Lian melajukan Mobilnya menuju Rumah nya. Sepanjang perjalanan mereka terlibat obrolan ringan.


"Mas, Gue denger dari Mama Lo udah kerja di Anak Perusahaan Papa?" Tanya Diaz.


"Iya, belum lama sih. Masih bingung gue" Ucap Lian.


"Kalo belum di coba gak akan tau gimana Mas" Ucap Diaz sambil menepuk pundak Lian.


"Iya sihh" Ucap Lian.


"Terus kata Mama, Lo juga lagi deket sama cewek yahh?" Seru Diaz ingin tahu.


"Ihhh Mama" Ucap Lian tersenyum.


"Akhirnya bisa Move on juga dari Raya" Seru Diaz. Lian diam tak bereaksi.


Diaz melirik ke arah Lian, Diaz tau jika raut wajah Lian seperti itu Lian tidak suka.


"Jadi penasaran gue sama tuh Cewek" Ucap Diaz.


"Weekend gue kenalin sama doi, kita ke Skye Bar" Ucap Lian.


"Yess, setuju. Udah lama banget gue gak sana" Ucap Diaz setuju.


Tiba di rumah, Diaz bergegas masuk menuju dapur untuk menemui Bik Nina.


Bik Nina terkejut mendengar suara Diaz.


"Oalah Mas Diaz toohh" Seru Bik Nina.


"Bik Nina, Diaz kangen" Ucap Diaz sambil memeluk Bik Nina.


"Bibik juga kangen Mas Diaz" Ucap Bik Nina pelan, lalu air mata nya menetes.


"Bibik kenapa nangis?" Tanya Diaz haru.


"Bibik kangen Mas Diaz, kalian itu udah Bibik anggap seperti anak Bibik" Ucap Bik Nina.


"Bik, Diaz sama Mas Lian juga udah anggap Bibik jadi Orang Tua kedua kita Bik. Iya kan Mas" Ucap Diaz. Lian mengangguk. Mereka saling berpelukan.


"Mas Lian dan Mas Diaz mau makan apa? Bibik masakin sepesial buat Mas berdua" Ucap Bik Nina.


"Bebas Bik, yang penting kenyang. Kangen juga sama masakan Bibik" Ucap Diaz.


"Siap Mas, nanti Bibik masakin yah" Ucap Bik Nina.


"Ya udah, Diaz masuk kamar dulu" Ucap Diaz.


"Ya Mas, Selamat beristirahat" Ucap Bik Nina. Diaz dan Lian meninggalkan Bik Nina.


Kedua Kakak beradik ini tengah asik berbincang-bincang di taman belakang rumah.


Lian membawa sebotol Wine untuk mereka berdua. Merayakan kepulangan Diaz, jadi harus di rayakan pikir Lian.


Lian menuangkan Wine ke dalam gelas mereka.


"Cheers ,,, Welcome Back Brother" Seru Lian sambil mengarahkan gelasnya ke arah Diaz.


"Thanks My Bro" Ucap Diaz.


"Diaz, gue seneng banget Lo udah pulang" Ucap Lian.


"Gue juga kangen Mas" Ucap Diaz.


"Gue harap Lo stay di Jakarta" Ucap Lian memohon.


"Kuliah Gue belum beres Mas, Gue harus beresin dulu" Ucap Diaz.


"Ehh Mas, btw cewek Lo siapa nama nya? Kepo Gue" Ucap Diaz.


"Aleena, Aleena Myesha Tanu" Ucap Lian.


"Sebenernya Gue belum ada komitmen sama Aleena, semua berjalan begitu aja" Jelas Lian.


"Kenapa? Lo masih ragu?" Tanya Diaz ingin tahu.


"Belum yakin sama hati Gue, di saat Aleena di dekat Gue. Masih kepikiran Raya" Ucap Lian.


"Jangan gitulah Mas, Lo harus punya sikap. Siapa yang bener-bener Lo cinta" Ucap Diaz.


"Lo harus punya sikap Mas" Ucap Diaz lagi mengingatkan.


@Skye Bar.

__ADS_1


Diaz sudah lebih awal berada di sana, Lian sengaja mengatur ini. Karena Aleena tidak tau kalau Diaz sudah kembali. Lian ingin memperkenalkan Aleena pada Diaz.


Diaz memesan Minuman dan beberapa makanan ringan. Sambil menunggu kedatangan Sang Kakak dan Aleena.


Hampir 30 menit Diaz menunggu, akhirnya dari kejauhan Diaz melihat Lian datang sambil menggandeng seorang gadis cantik.


Lian dan Aleena menghampiri Diaz yang sudah menunggu nya.


"Aleena, ini Diaz Adik ku" Ucap Lian memperkenalkan Diaz pada Aleena.


"Kamu gak bilang kalo adik kamu udah balik" Ucap Aleena.


"Surprise dong" Seru Diaz.


"Hello, Gue Diaz" Ucap Diaz sambil mengulurkan tangannya.


"Aleena" Balas Aleena.


Diaz menatap wajah cantik Aleena. Diaz benar-benar terpukau melihat Aleena.


"Bodoh banget kalo Mas Lian sampe ninggalin Aleena demi seorang Raya" Bisik Diaz dalam hati.


"Kamu kapan datang?" Tanya Aleena.


"Dua hari lalu" Jawab Diaz.


"Aleena, Aku udah denger cerita kamu dari Mama dan Papa" Ucap Diaz.


"Oya, jadi malu" Ucap Aleena.


Diaz benar-benar mengagumi kecantikan Aleena. Andai saja Aleena bukan milik Lian, pasti Diaz ingin memiliki Aleena.


"Mas, abis ini kalian mau kemana?" Tanya Diaz.


"Belum tau, kenapa? mau ikut?" Tanya Lian.


"Ihhh Ogah, jadi obat nyamuk doang nanti" Ucap  Diaz tertawa.


"Gue balik aja deh Mas, lagian bingung mau kemana?" Ucap Diaz.


"kenapa gak gabung aja sama kita" Ucap Aleena.


"Gue gak akan ganggu acara kalian, enjoy aja kalian" Ucap Diaz sambil senyum.


Diaz beranjak dari duduknya.


"Mas Gue cabut yah, have fun ya" Ucap Diaz berpamitan. Lalu melangkah meninggalkan Aleena dan Lian.


"Kita juga pergi yuk!" Bisik Lian.


"Kemana?" Tanya Aleena.


"Taman Langit" Ucap Lian, sambil menuntun Aleena.


Seperti biasa Lian melajukan AUDY Q7 ke arah Taman Langit, tempat yang selalu Lian rindukan. Hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai di sana.


Lian keluar mobil, di ikut Aleena. Lian memeluk Aleena.


"Miss you so much" Bisik Lian pelan.


"Miss you too" Balas Aleena.


Mereka saling bertatapan, lalu tersenyum.


"Boleh tanya ?" Ucap Aleena.


Lian mengangguk pelan.


"Kamu pernah bawa Raya kesini?" Tanya Aleena ingin tahu.


"Aku pernah bilang, kamu orang pertama yang Aku ajak kesini" Ucap Lian jujur.


"Kenapa? Bukankah Raya lebih dulu dari Aku?" Tanya Aleena.


"Raya itu beda dengan Kamu, Dia gak suka di ajak ketempat seperti ini" Jawab Lian.


"Tempat seindah ini Raya tidak suka?" Ucap Aleena.


"Iya, maklum Dia itu gadis Modern yang lebih suka tempat ramai. Club atau Bar" Jawab Lian.


"Sedangkan Aku suka tempat seperti ini, tenang, menyatu dengan alam" Jelas Lian lagi.


"Kamu masih berharap Raya kembali?" Tanya Aleena pelan, sambil menatap wajah Lian.


Lian hanya diam tak bereaksi.


Dari raut wajah Lian terlihat kalau Lian tidak nyaman dengan pertanyaan Aleena.


"Sorry kalo kamu gak nyaman dengan pertanyaan ku" Ucap Aleena sambil menggenggam jemari Lian.


"Jujur Aku suka kamu yang sekarang, kamu bisa menerima orang-orang baru di sekitar kamu" Jelas Aleena.


Lian menatap wajah Aleena, lalu mengusap rambut Aleena.


"Kamu yang telah merubah Aku, thanks" Ucap Lian tulus.


"Satu hal Lian, Jika suatu hari nanti Raya kembali. Aku harus terima kenyataan, Apapun itu nantinya" Ucap Aleena.


"Kamu akan pergi tinggalkan Aku?" Tanya Lian.


"Aku bukan Anak kecil Lian, yang marah jika sesuatu miliknya hilang atau di rebut orang" Jelas Aleena.


Lian mengeratkan genggaman nya.


"Kita masih bisa berteman baik" Ucap Aleena kembali.


"Entahlah, Aku sendiri bingung dengan hati ku" Ucap Lian.


"Hati tidak pernah memilih, Hati dipilih karena tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana ia harus berlabuh " Jelas Aleena sambil mengusap kepala Lian.


"Entah kenapa jika berada di dekat kamu Aku merasa nyaman" Ucap Lian.


"Kamu hanya perlu waktu untuk melabuhkan dimana kamu akan berlabuh" Ucap Aleena bijak.


Lama mereka saling diam, sudah cukup lama mereka berada di sini.


"Kita pulang, sudah hampir pagi" Ajak Lian.


Lian mengulurkan tangannya ke arah Aleena. Aleena menyambutnya lalu beranjak dari duduknya.


"Kita ke rumah ku, Aku gak akan Antar kamu pulang sekarang. Aku akan jaga kepercayaan Orang Tua kamu" Jelas Lian. Aleena mengangguk pelan.


Mereka meninggalkan Taman Langit untuk kembali pulang.

__ADS_1



* Ardiaz Chandra Pratama *


__ADS_2